
"Teknik ini... "
Semakin lama Ye Chen melihat teknik di tangannya, semakin terkejut dan senang hatinya.
Teknik Menciptakan Api adalah sebuah teknik yang dapat memanggil api di tempat mana pun yang dia inginkan. Bukan seperti membuat api di tangan lalu melemparnya, teknik lebih dari itu.
Jika sudah dikuasai dengan sempurna, hanya dengan jentikan jarinya saja, Ye Chen mampu menciptakan api pada target yang dia inginkan.
Kalau sebelumnya dia menggunakan sebuah artefak dan formasi untuk menciptakan api, sekarang itu tidak diperlukan lagi. Cukup fokus ke suatu objek lalu jentikan jari atau lambaian tangan dapat membakar objek tersebut.
"Bukankah ini termasuk hukum api?" gumam Ye Chen sambil terus memahami isi kitab.
Seminggu kemudian, Ye Chen telah berhasil menguasai lebih dari lima puluh persen dari teknik ini dan dengan banyak latihan, dia yakin penguasaan nya bisa mendekati sempurna atau mungkin akan sempurna.
Ketua Bong juga telah selesai dalam pelatihannya, saat ini paling tidak dia sudah mulai bisa menggunakan tahap pertama dari Teknik Debu Api.
"Ini semua berkat senior."
"Ketua Bong, aku ingat dulu kau mengatakan harus mempelajari teknik Sekte, bisa jelaskan apa maksud nya?"
"Anda tau, sesuai namanya, Sekte Api Abadi. Dari sana sudah jelas kalau elemen utama sekte adalah elemen api, penguasaan elemen api kami adalah yang terkuat."
Ye Chen mengangguk, ini juga alasan kenapa hampir semua kitab teknik di perpustakaan adalah teknik elemen api, bahkan ada satu teknik yang tak sengaja Ia temukan yang menurutnya sangat kuat.
"Lalu apa hubungannya dengan menjadi murid dalam dengan menguasai teknik-teknik itu? Lagipula, jujur saja aku tidak tertarik menjadi murid dalam, kecuali pimpinan sekte muncul."
Ketua Bong sangat paham maksud Ye Chen, dengan tingkatnya yang sekarang, memang hanya buang-buang waktu saja jika dia harus mengikuti kompetisi menjadi murid dalam.
"Senior, saya tidak menyalahkan anda karena tidak tau. Akan ku jelaskan lagi."
Di alam ini ada lima sekte yang masing-masing mewakili setiap elemen.
Sekte Api Abadi mewakili elemen api.
Sekte Lautan Air mewakili elemen air.
Sekte Kayu Langit mewakili elemen tanah.
__ADS_1
Sekte Benteng Besi mewakili elemen logam dan
Sekte Pusaran Angin mewakili elemen angin.
Setiap lima tahun sekali, setiap sekte akan mengirim wakilnya untuk mengikuti sebuah turnamen untuk menentukan yang terkuat.
Syarat utama untuk menjadi peserta adalah menguasai teknik elemen yang menjadi kekuatan masing-masing.
Ye Chen yang tidak masih tidak mengerti kembali berkata, "Kalian ini sungguh aneh, setiap elemen itu menang dan kalah atas masing-masing elemen, kalian pasti hal ini. Lalu untuk apa saling mengalahkan? hidup saja dengan baik-baik, bukankah itu jauh lebih enak?"
"Aku setuju dengan itu."
"Lalu, kenapa harus ada kompetisi segala?"
"Hais, senior dengar dulu." sahut Ketua Bong. "Baik, katakan. Tapi aku tetap berpendapat itu salah dan tidak ada gunanya." Ye Chen kembali menegaskan ucapannya.
Tujuan sebenarnya adalah untuk mengambil inti dari setiap elemen. Inti itu berada di dalam sebuah dimensi dan syarat untuk masuk ke dalam dimensi itu harus berusia di bawah lima puluh tahun dan dengan kultivasi berada di ranah Dewa.
"Ada sedikit cerita bahwa benda itu adalah kunci untuk menyatukan alam ini, jadi tujuan kompetisi ini sebetulnya bukan untuk saling mengalahkan tapi untuk bersatu menjadi lebih baik."
Ketua Bong menghela nafas sebelum berkata lagi, "Awalnya memang seperti itu, tapi lama-kelamaan itu berubah menjadi ajang menunjukkan kekuatan. Setiap sekte berusaha mengalahkan yang lain untuk mengklaim benda itu sendiri."
"Baiklah, baiklah. Sekarang pertanyaan ku selanjutnya adalah, apakah ada peserta yang kembali dari dimensi itu? kalau tebakanku tidak salah, pasti tidak ada yang kembali lagi."
"Anda menebaknya dengan benar."
Ambisi, itulah yang terjadi pada diri manusia yang selalu mengedepankan ego. Selalu merasa paling benar sendiri dan menganggap diri sendiri lebih kuat, lebih penting dan lebih segalanya dari manusia lain.
Dan itu juga yang terjadi pada orang-orang di alam ini, demi ambisi sebuah benda yang tidak jelas ada atau tidak, rela saling mengalahkan satu sama lain.
"Senior, peserta yang berhasil lolos akan mendapat pelatihan di masing-masing sekte sebelum masuk ke dalam dimensi kuno."
"Eh? ada yang seperti itu juga?" Ye Chen yang sedari awal tidak tertarik akhirnya mulai merespon.
"Tentu saja, kalau tidak, tidak mungkin setiap sekte akan berjuang sampai akhir. Ini memang sudah menjadi aturan."
"Berapa orang yang berhak masuk ke dalam dimensi kuno?"
__ADS_1
"Hanya sepuluh orang, dua dari masing-masing sekte dan kesepuluh nya berhak mendapat teknik dari sekte lainnya. Lalu jika ada yang ingin ikut masuk juga boleh hanya saja tidak mendapat pelatihan terlebih dahulu."
"Jadi siapa pun yang ingin mencoba peruntungan nya boleh masuk tapi tanpa bekal teknik dari lima elemen."
Ye Chen mengangguk, lepas dari sentimen dari setiap sekte. Turnamen juga tetap tidak mengesampingkan tujuan awalnya.
"Kalau begitu aku akan ikut." Ye Chen seketika merubah keputusannya, mempelajari teknik rahasia sekte lain sangat menarik. Teknik yang baru saja diambilnya merupakan bukti nyata, bukankah bagus kalo dia bisa menguasai semua teknik-teknik itu? pikir Ye Chen.
"Anda pasti berhasil." ujar ketua Bong.
"Oh ya aku ingin meminta bantuanmu, apa kah mengenal Yue? dia datang bersamaku. Saat ini sepertinya dia sudah menjadi murid dalam."
"Yue... " ketua Bong berpikir sebentar lalu berkata, "Apakah wanita yang mempunyai bakat di angka delapan itu?" Ye Chen mengangguk mengiyakan. "Kalau tidak salah dia diasuh oleh wakil tetua, bakat sepertinya cukup langka. Aku dengar dia juga memiliki inti api yang langka."
"Tidak salah lagi, pasti itu dia. Bisakah kau membantuku menemuinya?"
Ketua Bong tidak mengiyakan tapi tidak menolak juga, ini sulit, kalau benar yang Ia dengar bahwa Yue memiliki inti api yang langka, sudah pasti dia menjadi prioritas sekte dan tentu sangat sulit untuk menemuinya.
"Aku akan mencobanya tapi aku juga tidak berjanji."
...
"Kakak Chen...!"
Ye Chen tersenyum, suara siapa lagi bukan suara Yue. "Adik Yue, di sini." Ye Chen membalas panggilan Yue sambil melambai, memanggilnya untuk mendekat.
"Kak Chen, ah kamu keterlaluan, untuk apa menjadi murid terluar? apa kamu tau menjadi murid dalam sangat enak, banyak hal bisa dipelajari tapi aku selalu ingin keluar kau tau?"
"Keluar?"
"Tentu saja, aku selalu ingin keluar untuk mencarimu. Nah sini, sini, aku perlihatkan apa yang aku pelajari."
"Tapi tunggu dulu, apa kamu merindukan aku? aduh aku sampai tak sabar bertemu lagi hehe."
"Kakak Chen... sini, jangan jauh-jauh."
Yue memang begitu, dia selalu bersemangat dan dia tidak pernah malu-malu untuk menunjukkan ketertarikan nya terhadap Ye Chen.
__ADS_1