Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ma Dong Mulai Berlatih


__ADS_3

Ye Chen meninggalkan ketua bandit begitu saja, "Hanya sisa satu, terserah kalian mau berbuat apa padanya."


"eh eh tunggu dulu," ucap Ye Chen lalu kembali. Dengan cepat, Ye Chen mengambil cincin ketua bandit, tentu saja Ia juga mengambil semua cincin yang ada termasuk cincin dan kantung penyimpanan murid-murid akademi yang ketua bandit ambil sebelumnya.


Ye Chen tidak mengambil senjata para bandit ini karena semuanya telah rusak akibat beradu dengan pedangnya.


Murid-murid akademi yang melihat ini hanya memandang tidak percaya. Mulanya mereka mengira cincin atau kantung penyimpanan yang Ye Chen ambil akan dikembalikan pada mereka tapi harapan mereka sia-sia karena Ye Chen mengambil semua untuk dirinya sendiri.


Mau bagaimana lagi, meminta begitu saja tidak mungkin, mereka takut Ye Chen marah dan membantai mereka semua.


"Nah aku pergi, berhati-hatilah." Ye Chen lalu melesat pergi meninggalkan murid-murid akademi.


Nasib ketua bandit sudah dipastikan akan sama dengan anak buahnya. Bedanya Ia tewas di tangan murid akademi yang marah.


"Tuan putri, apa anda pernah melihat orang itu?"


"Tidak pernah, aku juga penasaran. Usianya tidak jauh dengan kita." jawab gadis yang Ye Chen lihat yang ternyata adalah puteri dari kaisar sendiri.


"Atau jangan-jangan dia adalah salah satu peserta turnamen?" sahut murid yang lain.


"Sudah sudah jangan mengobrol lagi, kita sebaiknya lekas meninggalkan tempat ini." kata seorang pemuda yang tadi bertarung sengit


"Benar kata kakak Cia Sun, sebaiknya kita pergi." kata sang putri.


Sepanjang perjalanan, sang putri terus saja mengingat Ye Chen. Ia begitu terkesan dengan sikap Ye Chen.


Caranya bertarung, gayanya yang cuek tak mengenal takut dan yang lebih penting adalah ketika Ye Chen melihatnya, tidak seperti laki-laki lain yang pasti akan langsung terpesona dan memujanya.


Ye Chen yang kembali berkeliling dengan Rajawalinya, berhenti dan turun di sebuah sungai kecil.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Ye Chen memanggang seekor ayam hutan sambil melihat-lihat isi cincin dan kantung penyimpanan hasil sitaannya.


"Banyak juga harta bandit-bandit itu," gumam Ye Chen "Tapi ini lebih banyak." gumam Ye Chen lagi ketika memeriksa satu cincin berwarna ungu.


...


Hari yang di tunggu telah tiba, hari dimana dimulainya turnamen di kekaisaran untuk memilih wakil kekaisaran menuju benua Utara tempat turnamen terbesar di selenggarakan, yakni turnamen antar benua.


Ye Chen juga hadir di sana, tapi tidak berusaha mencari Ma Dong atau yang lain. Ia hanya berbaur dengan peserta yang lain.

__ADS_1


"Selamat datang para peserta turnamen, silahkan memisahkan diri sesuai tingkat kultivasi. Tingkat Bumi di sebelah kanan dan tingkat Emas di sebelah kiri." Panitia turnamen lalu menjelaskan secara singkat aturan turnamen dan hadiah turnamen.


Aturannya sederhana, peserta yang tidak kuat menerima tekanan aura di nyatakan gagal dan untuk hadiahnya adalah langsung diterima menjadi murid inti di akademi kekaisaran, dan mendapat pil kultivasi sebanyak sepuluh pil dan bebas memilih tanah di ibukota untuk dijadikan tempat tinggal pribadi. Semua biaya ditanggung kekaisaran.


Di turnamen ini juga banyak hadir guru-guru akademi atau sekte besar. Tentu saja harapannya adalah dapat menemukan jenius untuk di ajak bergabung.


"Baiklah, saatnya penilaian pertama" harap peserta yang di sebelah kanan turun terlebih dahulu.


Di atas arena, dua ratus lebih kultivator tingkat Emas bersiap menerima ujian.


Yang bertindak sebagai penguji adalah pemimpin akademi kekaisaran. Tidak banyak yang lolos untuk kultivator tingkat Emas, hanya ada sepuluh orang saja.


Di tingkat Bumi, hanya ada lima orang yang lolos ke tahap selanjutnya.


Di tingkat emas, yang lolos adalah Lu Jia Li dan sembilan orang dari akademi kekaisaran sementara di tingkat Bumi ada Ye Chen, Ma Dong, Gu Xia, Cia Sun dan putri kaisar bernama Lu Jiao.


Lu Jiao adalah putri kaisar dari seorang selir, jadi Lu Jia Li memanggilnya bibi tapi karena usia mereka sama dan Lu Jiao enggan dipanggil bibi maka Lu Jia memanggilnya kakak Jiao.


Cia Sun adalah anak seorang jenderal kekaisaran yang sangat di segani.


Keluarga Cia di sebut sebagai pilar kekaisaran.


Tepuk tangan riuh menggema di seluruh arena, mereka puas dengan hasil ini.


"Saudara Chen tunggu sebentar," Ma Dong berlari mengejar Ye Chen yang sudah turun lebih dulu. "Kau kemana saja, aku pikir kau tidak akan ikut turnamen ini."


"Aku hanya keliling saja."


"Eh ayo kita ketempat gedung peserta." ajak Ma Dong.


Tapi Ye Chen menolak, "Aku bermalam di luar saja."


"Kalau begitu aku ikut denganmu saudara Chen."


"Hei aku ini masih normal, kau tau?" ucap Ye Chen yang membuat Ma Dong serasa ingin melempar Ye Chen.


"Hais saudara Chen, bukan begitu. Jujur aku ada satu hal yang sangat penting yang harus kukatakan padamu."


Menyerah karena terus di desak, Ye Chen akhirnya mengajak Ma Dong ke penginapannya.

__ADS_1


"Oh namanya Chen," gumam sebuah suara yang tidak lain adalah Lu Jiao.


"Kakak Jiao, kau di sini. selamat yah sudah lolos tahap pertama," sapa Lu Jia Li.


"Kau juga adik Jia, selamat." balas Lu Jiao tapi tatapan matanya terus mengarah ke Ye Chen, Ia melihat sampai Ye Chen hilang dari pandangannya.


"Eh kak Jiao, apa kau kenal dengan saudara Chen atau mungkin pemuda di sebelahnya?" tanya Lu Jia yang penasaran melihat Lu Jiao yang terus memandangi kepergian Ye Chen.


"Ah sudahlah ayo kita ke asrama." ajak Lu Jiao.


"Tunggu sebentar, tunggu kak Gu Xia."


Setelah Gu Xia datang bergabung, mereka bertiga lalu pergi bersama.


...


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ye Chen heran ketika Ma Dong memintanya mengajarkan tehnik tapak jiwa.


"Saudara Chen, ayolah tehnik itu sangat hebat."


"Bukan begitu, bukan aku tidak mau tapi untuk mempelajarinya bukanlah hal yang mudah."


"Tidak masalah, aku pasti siap dan berlatih dengan sungguh-sungguh."


Karena melihat semangat Ma Dong dan memang Ye Chen tidak pernah sayang berbagi ilmu, akhirnya Ia menyetujui untuk melatih Ma Dong tehnik tapak jiwanya.


"Ayo berangkat." ajak Ye Chen.


"Eh, bukannya kau mau mempelajari tehnik tapak jiwaku? aku akan mengajarkannya padamu, tapi tidak di sini."


"Siap senior!" ucap Ma Dong memberi hormat dengan kedua tangan di depan dada.


Ye Chen hanya menggeleng, "Apanya yang senior, tingkat kultivasi kita ini sama, lagipula kau ini lebih tua dari pada aku."


"Hehe...." Ma Dong hanya terkekeh kecil, dalam hatinya Ia memang menganggap Ye Chen seniornya.


Ye Chen mengajak Ma Dong sampai jauh dari tembok ibukota, ke salah satu tempat yang memang sudah Ia tandai.


Mulai hari itu, penderitaan Ma Dong di mulai.

__ADS_1


__ADS_2