Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kembali Ke Desa Bunga


__ADS_3

Tiga hari kemudian. Seperti yang Lu Ping katakan tempo hari, Ye Chen, Ma Dong dan Lu Jia Li bersiap kembali bersama menuju kota Kenanga.


Dari sana, Ye Chen akan berangkat sendiri ke desa Bunga, desa yang kini menjadi haknya.


Kepergian mereka di antar langsung oleh panglima Cia, bersama Cia Sun, Lu Jiao dan Gu Xia.


Lu Ping melompat ke atas siluman burung, diikuti Lu Jia Li. "Baiklah saatnya berangkat."


Lu Jia Li dan Gu Xia mendekati Ye Chen. "Kak Chen, hati-hati di jalan, ayah kaisar menitipkan Ibu juga menitipkan salam."


Ye Chen tersenyum, "Sampaikan salamku juga untuk kaisar dan Ibumu."


"Kak Chen, datanglah berkunjung kalau ada waktu nanti," kata Gu Xia. Ayah menitipkan ini padamu." lanjutnya lalu menyerahkan sebuah bungkusan kecil.


Giliran Cia sun yang mengucapkan salam perpisahan, "Saudara Chen...." Ye Chen mengangguk kecil menerima salam ini.


"Panglima, terima kasih untuk kebaikan anda. Sampai jumpa lagi." kata Ye Chen lalu melompat ke atas siluman burung yang lain.


Hanya Ma Dong yang belum naik. "Bagus yah, tidak ada yang mengucapkan salam padaku." ucapnya dengan wajah dibuat sedih.


Sayangnya Lu Ping berteriak menyuruhnya segera naik, sehingga tidak ada drama-drama lagi.


"Sampai jumpa lagi." ucap Ma Dong melompat dan pergi.


Sebenarnya peserta dari kota Kenanga ada lima, tapi yang dua orang lagi terpaksa dipulangkan karena terluka oleh perkelahian dengan Ye Chen.


...


Di kediaman panglima Cia.


"Cia Sun, apa keputusanmu sudah bulat?"


"Iya ayah."


"Aku tidak akan memaksamu, usiamu juga sudah cukup untuk bertualang sendiri. Hanya pesanku, berhati-hatilah diluar sana."


"Oh ya ayah, tadi saudara Chen menitipkan ini untuk ayah." Cia Sun lalu memberikan sebuah gulungan dan kotak kecil pada ayahnya.


Panglima Cia membuka gulungan dan kotak di tangannya, mulutnya terbuka lebar melihat gulungan di tangannya.

__ADS_1


Di situ tertulis jelas Tehnik Telepati.


Cia Sun yang heran melihat reaksi ayahnya ingin bertanya tapi dihentikan oleh panglima Cia yang menyuruhnya bersiap.


Sepeninggal Cia Sun, panglima Cia membuka kotak yang titipan Ye Chen. Aroma herbal kuat dari dua pil di dalam kotak membuat energi panglima Cia bergejolak.


"Ini... mustahil, siapa sebenarnya anak itu? bukan saja tehnik yang kuat, tapi juga alkemis hebat, belum tingkat Kultivasinya yang terus saja naik." gumam panglima Cia melihat dua pil Langit di tangannya.


"Dengan pil ini rasanya aku bisa naik ke tahap puncak." batin panglima Cia.


Cia Sun muncul lagi di depan pintu. "Ayah, aku siap berangkat sekarang."


Panglima Cia bangun dari duduknya dan memeluk anaknya. "Sesampainya di kota Bunga nanti, jangan lupa melaporkan keadaan di sana sebelum kau pergi."


"Baik ayah."


Panglima Cia menyampaikan beberapa pesan lagi kepada anaknya sebelum pergi. "Nah pergilah, sampaikan salamku pada Ye Chen dan berikan ini. Katakan padanya, jangan pernah menemuiku lagi jika Ia menolak."


Cia Sun kemudian berangkat meninggalkan istana, tujuannya adalah desa Bunga.


Secara rahasia, panglima Cia mengutus untuk menyelidiki keadaan desa Bunga yang kini tak berpenghuni karena tak mungkin mengirim pasukan sebelum mengetahui keadaan dan situasi di sana.


Panglima Cia menatap kepergian anaknya, "Pilihanmu tidak salah nak. Dengan mengikuti Ye Chen, aku yakin kau akan bertambah kuat." ucapnya dalam hati.


Cia Sun tidak mengambil arah yang sama dengan rombongan Ye Chen, Ia berputar arah dan langsung menuju desa Bunga. Menggunakan tehnik pedang terbang yang sudah Ia kuasai.


"Saudara Chen tunggu aku."


...


Di kota Kenanga, di kediaman Lu Ping.


Lu Jia Li dan Ma Dong kembali ke kediamannya masing-masing.


"Ye Chen apa kau yakin tidak ingin tinggal lebih lama di sini?"


Ye Chen mengangguk. "Kakek Lu, aku harus memastikan keadaan desa Bunga secepatnya, barangkali masih ada yang bisa kulakukan di sana."


"Tunggulah sebentar, ayah Jia Li dan Gu Liang sebentar lagi datang. Mungkin ada informasi yang bisa bermanfaat untukmu."

__ADS_1


"Salam tuan pelindung, saudara Chen." sapa Gu Liang yang baru saja tiba disusul oleh Lu Zengguan tidak lama kemudian.


Setelah beramah tamah sebentar Gu Liang pamit mengundurkan diri. "Saudara Chen, aku minta maaf secara pribadi atas kejadian di paviliun pusat."


"Ketua Gu anda terlalu sungkan, masa lalu biarlah berlalu."


"Terima kasih, aku pamit dulu. Hati-hatilah dijalan."


Sepeminuman teh berlalu, Lu Zengguan lalu pamit pulang setelah menceritakan situasi kota Bunga secara detail dan memberikan sebuah peta wilayah.


"Saudara Chen, ini peta wilayah desa Bunga. Di sana sudah tertera dengan jelas batas wilayah desa dan kekaisaran Lu." ucap Lu Zengguan sembari menyerahkan sebuah gulungan.


Lu Zengguan juga menambahkan bahwa batas itu hanya dengan kekaisaran Lu saja. Untuk wilayah yang lebih jauh ke arah selatan, tidak ada batas karena wilayah itu tidak berpenghuni.


Ia juga mengucapkan selamat untuk Ye Chen yang saat ini bisa dibilang sebagai pemimpin desa dan meminta maaf karena tidak bisa membantu atau mengirim pasukan karena desa Bunga bukan bagian kekaisaran Lu lagi.


Ye Chen tidak mempermasalahkan sikap Lu Zengguan. "Terima kasih, sisanya akan aku urus nanti."


"Ye Chen," ucap Lu Ping setelah Lu Zengguan pergi. "Apa kau ingin membiarkan desa Bunga tak berpenghuni lagi? bagaimana kalau aku meminta menghubungi para pengungsi untuk kembali?"


Ye Chen memang sempat memikirkan ini, tapi ada rencana lain yang juga Ia pikirkan. "Untuk sementara biarkan saja dulu. Kakek Lu, menurutku kalau pengungsi kota Bunga sudah merasa nyaman ditempat baru mereka, maka biarkan saja."


"Aku setuju denganmu, apalagi situasi desa Bunga belum dipastikan aman."


"Sebaiknya aku berangkat sekarang," kata Ye Chen. "Sampaikan salamku untuk adik Jia Li dan saudara Ma Dong."


"Apa ini...?" Lu Ping penasaran ketika Ye Chen memberikan sebuah gulungan dan dua botol pil.


"Gulungan dan botol pil ini untuk kakek dan yang satunya lagi untuk Adik Jia Li dan Ma Dong."


Karena Penasaran, Lu Ping membuka botol pil. "Ini...?" apa mungkin?!" ucapnya heran bercampur senang. lalu dengan cepat berlari ke dalam dan keluar lagi. "Jangan menolak, ambil ini atau aku tidak akan mau mengenalmu lagi." ucapnya tegas.


Ye Chen hanya menggeleng menatap kantung penyimpanan di tangannya. "Kalau begitu terima kasih sekali lagi, aku berangkat." Ye Chen mengepalkan tinju di depan dada lalu berbalik, berangkat ke desa Bunga.


Lu Ping yang menatap kepergian Ye Chen hanya bisa menggeleng. "Belum genap delapan belas tahun kau sudah sehebat ini, entah perubahan apa yang akan kau lakukan di masa depan." gumamnya lalu berjalan menuju kediaman Lu Zengguan.


Lu Jia Li yang sedang asyik duduk bersama Ma Dong menyambut kedatangan Lu Ping. "Kakek kenapa sendiri? kemana kakak Chen? kami baru saja mau berkunjung ke tempat kakek."


"Dia telah pergi, jangan mencarinya lagi."

__ADS_1


__ADS_2