
"Tuan putri, kita juga bergerak."
"Baik."
Putri Jia mengangguk mengerti, Ia memalingkan pandangannya dan mulai berperang menghabisi musuh.
"Tuan muda, bertahanlah."
Giro tak bisa berbuat apa-apa, Ia menggertakkan gigi. Semakin cepat Ia menghabisi musuh semakin cepat Ia bisa membantu Ye Chen dan menggunakan trik yang mereka rencanakan sebelumnya.
"Giro, tetaplah di sini. Aku akan ke sebelah sana." tanpa menunggu Giro, putri Jia berlari ke bagian yang Ia tunjuk. Ia melihat sosok yang dikenalnya sedang tersudut.
"Tuan putri jangan gegabah!" Giro hanya bisa menggertakkan rahang mengingatkan putri Jia agar tidak memaksakan diri.
"Kakak Lin!' putri Jia menghampiri Lin Yungtao yang terdesak, dia dikepung oleh Kunlao dan pembantunya. "Putri kenapa kau di sini, dimana Giro?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya, ayo kita habisi musuh ..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, terdengar suara yang juga tak asing. "Akhirnya, aku menemukan mu, apa kabarmu tuan puteri? hehe."
"Kunlao! bajingan, dasar kau pengkhianat! masih berani kau muncul di hadapanku?"
Putri Jia yang biasanya tidak pernah sopan dan halus itu tidak tahan untuk tida memaki ketika melihat Kunlao yang berdiri di hadapannya.
"Hahaha tuan putri, kalau tidak muncul di hadapan mu lalu aku harus muncul dimana?" balas Kunlao, matanya tak berhenti menyapu tubuh putri Jia.
"Istana akan menghancurkan mu!"
"Tuan putri, lihat sekeliling mu, dari sisi mana Istana bisa menghancurkan aku? lebih baik kau menyingkir, aku tak mau calon ratuku tergores hahaha." balas Kunlao.
Tak mau meladeni ucapan Kunlao, putri Jia yang sudah sangat marah tiba-tiba bergerak, memukuk Kunlao dengan tinju bekunya.
Kunlao bukanlah lawan putri Jia setelah berhasil menyerap inti Naga Air, sayangnya terlalu cepat jika mengira Kunlao akan tewas dalam satu serangan. Segera setelah putri Jia melepas tinjunya, para pembantu Kunlao maju untuk menahan dan meredam tingju putri Jia.
"Bunuh mereka semua tapi jangan melukai tuan putri, dia milikku." kata Kunlao, Ia lalu mundur dan menyerang pasukan Lin Yungtao yang lebih lemah.
Putri Jia terkejut. pukulan tadi bukan pukulan biasa tapi para pembantu bisa menahannya. "Tuan putri, hati-hati." Lin Yungtao yang tadi terlihat payah kini sudah mulai pulih kembali karena kedatangan putri Jia, "Ingat rencana yang sudah kita atur, akan sia-sia kalau tuan putri terluka."
__ADS_1
Bicara memang mudah tapi kenyataannya menjadi sangat sulit, rencana Lin Yungtao dan putri Jia adalah mencari celah untuk menggunakan trik yang telah di atur sebelumnya namun kedatangan Kunlao dan para pembantunya yang kuat membuat mereka sangat sulit bergerak.
Lin Yungtao kembali terdesak, pasukan yang di pimpinnya tewas satu persatu sementara putri Jia juga tidak bisa berbuat banyak, bahkan kultivasi tingkat Dewanya tidak banyak membantu.
"Putri Jia... ah tidak, bukan, Ratuku Jia Jia, menyerahlah jangan sampai kau terluka." Kunlao kembali berteriak dari belakang pembantunya. Kali ini Ia menyebutkan langsung nama putri Jia.
Putri Jia tidak mengatakan apa-apa namun pandangan matanya menyiratkan kemarahan. Ia akan bertarung sampai akhir.
"Kabut es..." ucapnya.
kali ini area cakupan kabut tidak terlalu luas sehingga kekuatannya begitu kuat dan lebih dingin dari sebelumnya.
Melihat ini, Kunlao bukan takut tapi malah senang. "Jadi kabut sebelumya itu atas kehendakmu? bagus! memang ratuku harus kuat hahaha."
"Cepat! singkirkan dia tapi ingat jangan sampai Ia terluka."
"Tapi tuan kabut ini sangat kuat, mustahil dia tidak akan terluka."
Salah satu pembantu Kunlao protes, menurutnya mustahil melawan putri Jia ditengah kabut es tanpa melukainya.
"Persetan! lakukan apa yang kuperintahkan."
"Lakukan!" teriak Kunlao tanpa peduli keluhan pembantunya.
Di tempat lain, Ye Chen yang berhadapan langsung dengan Sirio dan para pembantunya dikagetkan dengan aura yang Sirio pancarkan. Kekuatannya tidak lebih lemah dari lima raja Iblis. "Siapa sebetulnya orang ini?" ucap Ye Chen dalam hati, Ia mulai sedikit meragukan informasi yang dimilikinya.
Sayangnya Ye Chen tak sempat berpikir lama, Sirio membuka serangan, dia maju dengan memukul keras. Tinjunya mengarah dengan deras, membawa angin yang kuat.
Ye Chen bergerak cepat, tapi bukan menghindar melainkan menyambut tinju Sirio.
Dua tinju bertemu, menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat. Siapa pun yang berdiri terlalu dekat langsung tewas akibat gelombang ini.
Ye Chen dan Sirio terpental, "Tak kusangka kau cukup kuat." kata Sirio, Ia mengusap punggung tangannya dengan kasar ke mulutnya, menghapus garis merah tipis yang mengalir di sana.
Keadaan Ye Chen juga sama, hanya saja Ye Chen tak menghapus jejak darah di mulutnya, Ia hanya tersenyum tipis, dalam hati Ia berkata, "Masih bisa."
"Mencoba terlihat kuat? hahaha apakah kini kau sudah sadar kekuatan seperti apa yang coba kau usik ha!"
__ADS_1
"Anak-anak bereskan tikus ini."
Sirio sendiri melompat mundur setelah memberikan perintah. Sementara Ye Chen yang hanya diam, namun perlahan pedang hitam terlihat di tangannya. Saat pedang hitam muncul sempurna, semburat merah mengalir pada bilah pedang seiring kekuatan spiritual yang keluar dari tangan yang memegang pedang.
Untuk pertama kalinya, Ye Chen memaksimalkan kekuatan pedang hitam.
"Tarian Pedang...." gumam Ye Chen.
"Teknik Langkah Cahaya...."
Dua teknik digunakan, Ye Chen bergerak sangat cepat, mencoba menyerang dan menahan para pembantu Sirio sambil terus melihat ke arah Sirio, target utamanya. Dalam pikirannya, Sirio tak boleh sampai memulihkan diri, kalau tidak konsekuensi nya bisa sangat besar.
"Mencoba mengejarku? tidak semudah itu." batin Sirio yang menyadari gerakan Ye Chen.
"Kabut hitam keluarlah...." Seru Sirio, Ia kemudian mengatupkan kedua tapak tangannya. Dari sana kemudian muncul kabut hitam yang lebih tebal, menutupi area pertarungan mereka.
"Bagus," ucap Ye Chen dalam hati.
"Teknik Tubuh Bayangan...."
"Belati kecilku, saatnya bertugas."
Ye Chen mengklon tubuhnya dan meninggalkannya ditengah pertarungan bersama belati Iblis. Tubuh aslinya sendiri bergerak cepat dalam kabut hitam, pergi dari sana.
Bukan kabur atau takut bertarung sampai akhir, tapi ini adalah perang, strategi dalam sebuah pertempuran besar sangatlah penting. Tidak peduli seberapa kuat kultivasi dan teknik yang digunakan. Tetap saja tidak berguna karena lawanmu juga berada di level yang sama dan bukan hanya satu. Kecuali kultivasimu yang tertinggi maka membunuh semuanya semudah menginjak semut.
"Tuan putri, saudara Lin, tinggalkan pertempuran. Sudah hampir waktunya."
Giro yang berhasil membuka celah, segera menyusul putri Jia dan Lin Yungtao dan mengingatkan mereka.
"Jangan khawatir, aku akan membuka jalan." sambung Giri lagi.
Situasi yang sama terjadi di tempat Paman, panglima besar Lin dan Kaisar, mereka dengan gelisah menunggu.
Paman memandang jauh ke timur, "Sebentar lagi." gumamnya.
Sementara panglima besar Lin mengingatkan Kaisar untuk pergi lebih dulu.
__ADS_1
Tepat ketika semburat merah muncul di ufuk timur, sebuah suar menyala dengan terang. Inilah tanda yang ditunggu dari Ye Chen.