
Jiang Kun hanya menatap Ye Chen dalam diam. Dalam pikirannya, Ia kagum dengan langkah yang Ye Chen buat, semua selesai dalam satu waktu tapi di sisi lain Ia juga merinding, bayangkan jika orang seperti Ye Chen menjadi musuhnya, mungkin Ia akan tewas tanpa tahu bagaimana prosesnya. "Fiuh untung saja aku bersamanya." batinnya sambil menghela nafas.
Baru terbang dua hari, Ye Chen menurunkan Rajawali di sebuah hutan liar. "Tuan, kenapa kita turun? bukan Rajawali bisa terbang berhari-hari tanpa lelah?" tanya Jiang Kun tidak mengerti.
"Iya betul tapi masalahnya aku yang tidak kuat, aku lapar." jawab Ye Chen lalu melompat turun. "Rajawali kau terbanglah cari dimana hewan buruan itu."
Kwaakk...
"Tuan, di sana!" seru Jiang Kun mengikuti tanda dari Rajawali.
"Hoho kalau begini kita bisa pesta." Ye Chen sangat senang melihat banyak hewan buruan, Ia juga bisa menambah stok hewan buruan di dalam dimensi cincinnya.
Setelah menyantap hewan buruannya, Ye Chen dan Jiang Kun melanjutkan perjalanan. Mereka hanya berhenti sesekali saat melihat kumpulan hewan buruan yang lain, memasuki hari ke-empat, pusat kota telah terlihat.
"Tuan, itu pusat kota."
"Baik, kita turun. Rajawali, kau istirahat di dalam." Ye Chen melambai dan membiarkan Rajawali masuk ke dimensi cincin.
Pusat kota.
Seperti halnya sebuah kota besar, pusat kota ini juga sangat ramai. Sekte Pedang Langit adalah sekte terbesar dan terkuat, memiliki ribuan murid yang berlatih di akademi Pedang Langit. Murid-muridnya berasal dari seluruh wilayah alam atas, jika dibandingkan dengan sekte Teratai, sekte Pedang Langit masih jauh di atasnya.
Patriark sekte Pedang Langit berada di puncak tingkat Suci, bersama dengan beberapa tetua yang menjadi kepala pelatih akademi dan tetua urusan luar dan dalam sekte. Tetua yang lain hanya berada di tingkat Suci tahap awal sampai menengah.
Kekuatan lain yang diperhitungkan adalah perkumpulan alkemis yang bernama sekte Pil Dewa. Patriarknya juga di tingkat Suci puncak, sama seperti patriark sekte Pedang Langit. Sekte ini khusus memproduksi pil yang tersebar di seluruh wilayah alam atas. Meskipun muridnya tidak sebanyak sekte-sekte yang ada tapi tak satupun yang berani menyinggung mereka.
Acara lelang biasanya di adakan oleh sekte Pil Dewa.
Ye Chen dan Jiang Kun yang memasuki kota segera mencari penginapan untuk bermalam. Seharian penuh Ye Chen terus mempelajari peta di tangannya sambil mencocokkannya dengan peta lokasi akar abadi yang Ia dapat dari pemimpin dimensi.
Sayangnya sangat sulit menemukan lokasinya, dua peta di tangannya memang samar-samar bisa menunjukkan tempatnya tapi Ye Chen tak mau mencarinya sebelum hal itu pasti. Lalu pintu diketuk, tampak Jiang Kun datang membawa kabar mengenai pelelangan.
__ADS_1
"Tuan, tiga hari lagi pelelangan akan dibuka, dari yang aku dengar, kali ini banyak item langka dan sumber daya yang akan dilelang." kata Jiang Kun yang juga menerangkan syarat untuk ikut serta dalam lelang.
Jadi harus mendaftar sebelum lelang dibuka, Ye Chen menganggukkan kepalannya. "Baiklah, kita sekte Pil Dewa, aku harus mendaftarkan artefak ini." ucap Ye Chen sambil tersenyum penuh arti.
Di sekte Pil Dewa.
Karena Ye Chen mendaftarkan artefak yang berisi peta yang dulu sempat hilang, penatua sekte Pil Dewa yang bertugas menangani pelelangan turun tangan sendiri.
"Tuan Ye, aku Xiao Cenpi," penatua Xiao memperkenalkan diri. aku dengar anda ingin mendaftar di acara lelang kami, boleh aku lihat dulu."
Ye Chen melambaikan tangan, mengeluarkan artefak. "Silahkan." ucapnya ramah.
"Tuan Ye, bukan hak kami menanyakan darimana asal benda ini, aku hanya penasaran saja, darimana anda mendapatkannya." tanya Xiao Cenpi setelah memastikan artefak di tangannya.
"Apa ada masalah?"
"Oh tidak, tidak ada, dari hasil pengamatanku, ini asli."
"Aku mengerti," jawab penatua Xiao lalu memberikan plakat khusus untuk Ye Chen sebagai peserta khusus acara lelang. "Kami akan menyimpan ini." lanjutnya , kemudian menawarkan Ye Chen untuk keliling sekte, barangkali ada yang menarik minatnya.
"Oh tentu saja." sahut Ye Chen. Penatua Xiao menyuruh seorang anggota membawanya melihat-lihat namun dengan sopan Ye Chen menolak karena ingin melihat ditemani Jiang Kun.
Sementara itu penatua Xiao masuk ke ruang dalam, menemui patriark Sekte.
"Ayah, apa anda ingat ini?"
Patriark Xiao Yang, ayah dari Xiao Cenpi mengernyit mencoba mengingat. "Ayah, ini artefak berisi peta, aku ingat kita pernah melelangnya dan dimenangkan oleh seorang gadis. Entah bagaimana bisa sampai kesini lagi."
Xiao Yang bangkit dari kursinya. "Coba lihat, apakah itu asli dan masih tersegel?" ucapnya penasaran. "Tentu saja aku sudah memeriksanya dan sudah memastikan keasliannya. tapi aku heran, sepertinya segelnya agak berbeda dari yang dulu."
"Kau benar, apakah seseorang sudah membukanya dan mengganti segelnya?"
__ADS_1
"Entahlah ayah, bahkan ahli formasi sekte Pedang Langit juga tidak bisa membukanya waktu itu."
"Rahasiakan tentang ini, dan masukkan artefak ini di item utama lelang."
Tok.. tok
Suara ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka. "Tuan, ada masalah di bagian sumber daya." seorang penjaga melapor ke dalam.
Menurut keterangannya, ada pengunjung yang ingin membeli sumber daya dalam jumlah besar tapi dihalangi oleh pengunjung lain. Penatua hendak marah dan menyuruh panjaga ini pergi menyelesaikannya tapi mengurungkannya setelah penjaga menceritakan siapa yang sedang berselisih.
"Kau pergilah, aku akan menyusul," penjaga pergi. "Ayah, ini tuan Ye, aku akan kesana."
"Ayo kita lihat, aku juga ingin melihat seperti apa orang yang melelang artefak ini." patriark Xiao Yang dan penatua Xiao Cenpi pergi bersama.
Di tempat penjualan sumber daya.
Ye Chen tampak berdiri tenang, di depannya seorang pria berdiri dengan angkuh. "Kami menginginkan sumber daya ini, sebaiknya kau pergi dari sini."
Pria ini adalah murid inti sekte Pedang Langit, menjadi murid inti membuatnya memandang rendah orang lain apalagi yang kultivasinya berada di bawahnya. Meskipun sekte sangat ketat tapi tak mungkin bisa mengatur sikap semua muridnya.
"Tuan," penjaga yang tadi melapor telah kembali. "Berbagilah dengannya, mereka dari sekte Pedang Langit, lagipula ini hanya sumber daya rendah."
Ye Chen tetap diam.
"Heh apa kau tuli? kurang ajar, tunggu sampai aku menghajarmu, baru kau tau dengan siapa kau mencari masalah." tanpa menunggu, pria ini bergerak cepat, melayangkan tinjunya ke dada Ye Chen.
Ye Chen akhirnya tersenyum, tangan pria ini dengan mudah Ia tangkap lalu... Kraak... terdengar suara tulang patah. Terakhir, Ye Chen juga melayangkan tinjunya ke dada pria ini sampai Ia terlempar membentur tembok. Mukanya pucat menahan sakit dan marah.
"Tuan, sudahlah ini hanya salah paham." dari samping, Jiang Kun yang tidak ingin ada masalah mencoba mengingatkan Ye Chen ketika melangkah mendekati pria ini.
"Tu, tuan...."
__ADS_1
Jiang Kun tanpa sadar melangkah mundur, tatapan Ye Chen saat menoleh membuat kepalanya gatal, tubuhnya merinding.