
Waktu berlalu berlalu dengan cepat, tidak terasa dua hari telah berlalu sejak Ye Chen memasuki kabut darah dan menyerap esensi di dalamnya. Esensi ini sebenarnya tidak terlalu banyak karena tersegel begitu lama dan hanya sebagian kecilnya saja yang aktif karena menyerap esensi beberapa orang yang tewas di tempat itu.
Meski begitu, manfaat yang dapat diraih Ye Chen sangat besar. Penghalang yang membatasi peningkatan kultivasinya kini hanya setipis lembaran kertas.
Kalau saja masih ada esensi ini tidak terlalu sedikit, pasti Ye Chen saat ini sudah berhasil menembusnya.
"Lanlan, masuklah." ucap Ye Chen sambil memandang Lanlan dengan sedikit kesal.
"Tapi kak, aku masih mau, sedikit lagi ya."
"Masuk! apa kamu tidak tau kamu makan terlalu banyak?"
Jadi di dalam kabut darah, Lanlan merengek, meminta Ye Chen mengeluarkan nya untuk ikut menyerap esensi kabut darah. Esensi sangat cocok untuknya.
Awalnya Ye Chen tidak tahu dan mengiyakan saja permintaan Lanlan tapi segera dia menyesalinya karena ternyata kecepatan Lanlan dalam menyerap esensi kabut darah jauh lebih cepat darinya.
"Baik kak." Lanlan pun menjawab patuh dan membiarkan Ye Chen memasukkannya ke Cincin Semesta.
Sudahlah, bagus juga kalau Lanlan bertambah kuat karena bisa banyak berguna. Kultivasi Lanlan sekarang sudah stabil dan kokoh di tahap menengah alam Dewa Kaisar.
Ye Chen pun keluar dan berpikir akan keluar dari makam. Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya, terdengar suara Lanlan yang mengingatkan Ye Chen tentang mutiara yang belum diambilnya.
"Aku tahu, tapi kamu lihat sendiri, di sini tidak ada apa-apa lagi."
"Kakak, kenapa kakak tidak mengikuti kemana leluhur Iblis itu pergi? mungkin saja dia tahu dimana mutiara itu berada."
Ye Chen berpikir cepat mendengar ucapan Lanlan, sangat masuk akal. Rasanya mustahil leluhur Iblis itu melarikan diri, lebih mustahil lagi kalau dia takut padanya. Ye Chen pun melompat tanpa ragu ke arah dimana leluhur Iblis sebelumnya pergi.
Sebelumnya dia tidak ragu menghadapi leluhur Iblis dan sekarang, setelah kekuatan nya meningkat, Ye Chen bahkan tidak menganggap leluhur Iblis di matanya, dengan catatan, leluhur Iblis masih belum kembali ke kondisi puncak nya.
Jalan Yang Ye Chen masuki sangat berbeda dengan sebelumnya, di lorong ini, tidak ada Qi jahat atau aura kematian yang menekan, semua tampak biasa saja.
__ADS_1
"Di sana!" Ye Chen merasakan fluktuasi tidak biasa di depannya. Ketika tiba di tempat itu, Ye Chen melihat leluhur Iblis duduk bersila di sebuah altar kecil. Di sekitarnya berserakan banyak sekali kristal-kristal berbagai ukuran.
Setiap waktu, kristal-kristal ini akan pecah dan sejumlah besar Qi spiritual mengalir dari pecahan ini. Kalau diperhatikan, ini adalah kristal yang menyegel Qi spiritual di dalamnya. Qi spiritual ini tidak akan habis sampai kapan pun selama kristal penyegel ini tidak rusak.
Ini berbeda dengan kristal roh yang dipakai sebagai mata uang di dunia. Kristal roh terbentuk secara alami dan menyerap esensi alam sedangkan kristal penyegel dibuat dengan menyegel Qi spiritual di dalamnya dan ditandai dengan formasi kecil.
Dibutuhkan artefak lain yang bisa meresonansi dengan kristal penyegel dan pecah, dan artefak itu adalah altar yang ada di belakang leluhur Iblis.
Dengan kata lain, leluhur bukan melarikan diri tapi berlari karena ingin mengembalikan kekuatan nya. Dia tiba-tiba teringat tentang altar ini ketika ingatannya kembali, dan bergegas masuk lalu memasang formasi pemecah kristal penyegel.
"Wah wah, kelihatannya ada yang sedang sibuk memulihkan diri di sini." Ye Chen melangkah lebar, mendekati luluhur Iblis sambil terus mengamati altar di belakangnya.
"Na-namaku Jing." ucap leluhur terbata, dia belum bisa berbicara dengan lancar.
"Aku tidak peduli, minggir sana!" tidak mungkin Ye Chen memukulnya saat ini karena ada fluktuasi energi yang sangat besar di sana. Kalau tidak, Ye Chen akan terluka karena daya tolak energi ini tapi Ye Chen bukan tidak berani memukulnya hanya saja dia merasa sayang kalau altar ini ikut hancur.
Situasi Jing juga tidak baik. Kalau dia menghentikan proses pemulihannya, maka bukan saja dia bisa terluka tapi dia benar-benar tewas kali ini. Ribuan tahun dia menyegel diri nya sendiri, dia tidak mau mati saat dia baru saja terbangun.
Kalau saja Jing tidak melihat Ye Chen membunuh pangeran itu dengan mudah, Jing tentu saja berani berkorban sedikit untuk menyerang Ye Chen, paling-paling dia hanya terluka, lagipula dia bisa menyembuhkan lukanya di dalam altar. Hanya masalah waktu sampai dia pulih kembali.
Sementara itu Ye Chen yang juga bingung dengan keputusan yang akan dia ambil hanya berjalan mengelilingi altar. Altar itu berada di tengah-tengah ruangan sehingga Ye Chen bisa mengamatinya dari berbagai sudut. Dia ingin membandingkan altar ini dengan altar yang sebelumnya dia lihat, altar yang biasa digunakan ras Iblis untuk pengorbanan.
"Kakak, aku mau keluar." saat Ye Chen sibuk membandingkan altar di depannya, Lanlan mulai merengek lagi minta dikeluarkan.
Anak ini, menyusahkan saja. "Untuk apa? bukankah kamu sebelumnya takut padanya?"
"Hehe sekarang tidak lagi. Dia tidak mungkin menyerang dalam kondisi seperti itu."
"Jangan harap kamu bisa makan lagi. Kali ini aku mau menerobos."
Lanlan cemberut, memang benar dia juga sangat ingin berkultivasi di dalam altar tapi Lanlan entah kenapa tidak berani membantah Ye Chen. Mungkin karena Lanlan masih kecil polos atau memang takut.
__ADS_1
Satu yang pasti, dia benar-benar menganggap Ye Chen kakaknya. Perasaan itu meningkat saat Ye Chen membiarkan nya keluar untuk menyerap esensi kabut darah bersamanya.
"Aku hanya akan melihat-lihat, tenang saja kak. Lagipula tidak mungkin akan menyerap esensi terus menerus, aku juga perlu mengokohkan pondasiku."
"Oke, jangan nakal."
Wuss!
"Terima kasih kak." ucap Lanlan saat berada di luar. Dia berdiri si samping Ye Chen ikut mengamati altar.
"Raja Mayat? apa-apaan ini. Sebenarnya siapa orang ini?" Jing yang sedari awal tidak tenang menjadi makin tidak nyaman. Apalagi saat melihat Ye tiba-tiba saja mengeluarkan pedang hitam nya.
"Apa kakak akan menghancurkan altar ini?"
"Bukan, aku merasa bosan saja, lebih baik aku potong saja kakek tua itu." kata Ye Chen acuh.
"Tapi kakak akan terluka."
"Tidak masalah, alu toh tidak akan mati." kembali Ye Chen berkata.
Di sisi lain, Jing yang mendengar obrolan ini berwajah suram. Dia senang ketika Lanlan mengingatkan Ye Chen akan terluka tapi jawaban Ye Chen kembali membuatnya kaget.
Memang benar Ye Chen tidak akan mati tapi dia pasti.
"Haha bagus, bagus, begitu juga bagus kak. Tapi nanti biarkan aku yang melahapnya ya." kata Lanlan lagi dengan senyum polosnya.
"Tidak bisa, aku akan membuatnya menjadi pil."
"Kakak, paling tidak sis akan separuh tubuhnya untukku."
Dua orang ini berbicara tentang melahap orang di depan orang itu sendiri? apa-apaan, siapa yang sebenarnya Iblis di sini? pembicaraan ini seperti obrolan saat sarapan dengan santai.
__ADS_1
Jing sudah tidak bisa menahan lagi, saat ini rasanya dia ingin menangis. Dia adalah leluhur Iblis yang dihormati dan ditakuti tapi di depannya ada dua orang aneh yang berebut ingin melahapnya? dunia ini benar-benar kacau.