
"Rasanya sudah cukup, apa kau masih belum mau kembali?" tanya Ye Chen pada Lin Yungtao pada suatu hari.l!
Lin Yungtao mengangguk, dengan senang IaKakek Songap berkata, "Entah berapa banyak poin yang bisa dikumpulkan dari perolehan ini."
"Baiklah, kau pergi dulu. Aku akan menyusul nanti."
Lin Yungtao sama sekali tidak curiga, Ia menghancurkan tokennya begitu saja dan kembali.
"Giro, bersiaplah. kumpulan tenagamu dan usahakan membuat jejak yang tebal."
"Tunggu tuan, apa anda sudah yakin?"
"Tentu saja, tapi tunggu sampai aku melatih beberapa tehnik dulu. Kalau tidak sekarang, aku khawatir celah itu akan hilang."
"Satu lagi tuan, apa rencana anda terhadap Lin Yungtao?"
"Tidak ada, aku hanya membantunya melatih tehnik bertarungnya saja. Aku rasa di juga mengerti."
Beberapa hari berlalu, Ye Chen dengan giat melatih tehnik langkah cahaya. Ini sangat penting karena Ia harus mengikuti jejak aura yang ditinggalkan potongan jiwa Giro nanti.
Sementara itu di luar dimensi, Lin Yungtao yang telah kembali masih berdiri di depan dimensi itu, menunggu Ye Chen keluar dari sana.
"Terima kasih saudara Chen." ucapnya pelan saat menyadari Ye Chen tak pernah keluar dari sana. Dia bukan orang bodoh, Ia sadar Ye Chen berusaha membantunya meningkatkan tehnik bertarungnya selama beberapa hari di dalam sana. Ia juga tau Ye Chen akan melakukan sesuatu tanpanya namun Ia tidak kecewa karenanya, Ia cukup tau diri dengan kekuatannya sendiri.
"Saudara Chen, berhati-hatilah. Kembalilah dengan selamat." batinnya dan beranjak dari sana.
Baru beberapa langkah pergi, Lin Yungtai mendengar seseorang memanggilnya dan ternyata itu adalah puteri Jia. "Puteri Jia? kau mencariku?"
"Sudah kukatakan, jangan panggil aku puteri. Di sini kita semua sama. Aku cuma mau tanya dimana kakak Chen?"
"Baik adik Jia, maaf. Saudara Chen? sepertinya dia belum bisa keluar untuk saat ini."
__ADS_1
"Tapi jangan khawatir, dia baik-baik saja." sambung Lin Yungtao lagi karena melihat puteri Jia yang mulai panik. "Apakah hubungan mereka sudah sangat dekat?" batinnya.
"Tidak khawatir bagaimana? di dalam sana itu sangat berbahaya, kau juga, kenapa tak membawanya keluar? kau malah keluar sendiri."
Lin Yungtao menjadi bingung sendiri, "kenapa jadi aku yang disalahkan?" batinnya.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan hubungan puteri Jia dan Ye Chen. Puteri Jia tampak sangat dekat, Ia ingat dengan berani meminta belati Ye Chen sebagai syarat Ia keluar dari dimensi belum lagi Ye Chen yang selalu melindunginya saat bertarung dengan kawanan Iblis.
Puteri Jia sangat mempercayai Ye Chen yang ada di sampingnya, waktu itu Ia bertempur tanpa memikirkan pertahanan dirinya sendiri dan benar saja, puteri Jia sama sekali tak terluka karena Ye Chen memblokir semua serangan yang mengarah kepadanya.
Belum lagi Ia melihat gelang yang Ye Chen kenakan, gelang yang ia tau betul adalah milik puteri Jia dan sekarang puteri Jia mengkhawatirkan dirinya.
Lin Yungtao adalah salah satu dari banyak pria berbakat yang menyukai puteri Jia, namun melihat kenyataan di depannya ini, Ia mundur. Bukan hanya karena Ye Chen yang menurutnya dipilih oleh puteri Jia tapi juga karena puteri Jia yang telah menetapkan pilihannya. Ini dapat terlihat jelas dari sikap puteri Jia sendiri.
"Tidak usah khawatir, saudara Chen baik-baik saja. Kalau menemukan jalannya, pasti Ia akan kembali." puteri Jia tersenyum senang mendengarnya, hatinya lega. "Terima kasih, aku tau kakak Chen pasti bisa."
"Oh ya apa tempat penukaran poin misi masih terbuka? lihat, aku mendapat banyak sekali harta di dalam sana." Lin Yungtao mulai melupakan perasaannya dan dengan senang memperlihatkan hasil yang Ia dapat bersama Ye Chen. Senjata tingkat tinggi, sumber daya langka dan inti siluman jumlahnya sangat banyak.
Puteri Jia tidak menjawab pertanyaan Lin Yungtao, Ia malah dengan heran menatapnya. "Ada apa, apakah ada yang salah dengan wajahku?" tanya Lin Yungtao bingung.
"Aku tau dan batas waktunya adalah lima hari." kata Lin Yungtao dengan yakin.
"Justru itu, dan hanya lima hari itu saja yang tercatat, lewat dari itu yang tidak karena bukan harinya lagi."
Lin Yungtao baru sadar, "Oh iya benar juga hehe, aku lupa."
"Makanya buku panduan dan arahan dari tetua itu didengar baik-baik." kata puteri Jia lagi sebelum pergi.
"Bukankah kalimat itu hanya untuk saudara Chen saja?" Lin Yungtao pun pergi dari sana dengan langkah gontai.
Di dalam dimensi, Ye Chen melesat terus berpindah-pindah dengan cepat. Tehnik Langkah Cahaya sudah dikuasainya, tinggal mematangkannya saja agar terbiasa nantinya. Kalau sudah pada tahap sempurna, Ye Chen seperti berteleportasi saja saking cepatnya.
__ADS_1
"Selamat tuan, anda berhasil." Giro menatap Ye Chen kagum.
"Belum, ini masih belum cukup. Aku butuh sesuatu untuk melindungi tubuhku dari gesekan udara di dalam ruang hampa." kata Ye Chen.
"Apa kau pernah melihat siluman Badak, Buaya atau siluman berkulit keras lainnya?"
"Rasanya tidak ada tuan, tapi aku pernah melihat siluman yang seperti kadal di bukit sana." ayo kita kesana." Ye Chen artefak pelindung dan yang paling cocok adalah kulit siluman berkulit keras.
"Giro! menyingkir dari sana!" Giro bergerak cepat.
Blaarr...
Bukit kecil itu hancur terkena serangan tapak Ye Chen yang kuat. Tiba-tiba dari reruntuhan bukit melesat sebuah bayangan yang sangat besar, hampir sebesar kerbau.
Bayangan besar ini langsung menyerang Ye Chen dengan ekornya yang besar dan panjang. "Huff, hampir saja." kata Ye Chen yang tak menyangka aura yang Ia deteksi di bawah bukit itu adalah seekor siluman yang kuat.
"Siluman Trenggiling Batu, hahaha ini bahkan jauh lebih baik dari yang lain." seru Ye Chen senang tapi tawanya segera berhenti melihat perubahan yang terjadi pada siluman Trenggiling itu.
Secara perlahan tubuh siluman Trenggiling itu bersinar terang berwarna Ungu keemasan, tingkat tertinggi dari jenis siluman.
"Sial, ini terlalu kuat." gumam Ye Chen, pedang hitam di tangan kanannya Ia genggam dengan erat.
"Heh manusia, rupanya kau sudah bosan hidup, berani menghancurkan rumahku." kata siluman Trenggiling. Ia bahkan bisa bicara, ini menandakan tingkatannya yang tinggi. Dengan ciri-ciri seperti itu, dia setara dengan kultivator tingkat Dewa. Sangat kuat.
Siluman Trenggiling itu lalu membungkuk dan menekuk tubuhnya menjadi sebuah roda besar dan berputar cepat menyerang Ye Chen dari segala sisi, meninggalkan jalur besar di tanah.
"Giro, jangan mendekat." Ye Chen yang masih sempat mengingatkan Giro kembali menghindar. Untungnya Ia sudah mengusai tehnik langkah cahaya sehingga bisa mengimbangi putaran cepat siluman Trenggiling.
Triingg...
Trakk... trakk...
__ADS_1
Pedang hitam menghantam kulit keras yang tebal dari siluman Trenggiling, namun sama sekali tidak berpengaruh. Ye Chen juga mencoba menggunakan Api besar dan kristal es tapi hasilnya sama saja.
"Bagus! sesuai harapan," seru Ye Chen puas. "Nah bersiaplah, serahkan kulitmu padaku." lanjut Ye Chen lagi.