
"Hehe mau pergi? tidak segampang itu pak tua..." ucap Ye Chen kembali melempar pisau kecilnya.
"Tuan muda, tunggu... ini aku!" Teriak orang ini yang ternyata adalah pria tua yang memberikan gulungan peta kepada Ye Chen.
Tapi bukan jawaban yang Ia terima, melainkan pisau terbang yang mendarat mulus di paha kirinya.
Belum sempat berteriak, kembali pisau terbang melesat, kali ini dua pisau Qi yang sangat panas menancap di bahu dan kakinya.
Ye Chen mengibaskan tangan menghilangkan pisau Qi-nya.
Saat ini Ia telah berdiri tepat dihadapan pria tua yang kini terduduk di tanah menahan rasa sakit dan panas pada lukanya.
"Nah bicaralah!" kata Ye Chen dingin.
Sambil mengernyit kesakitan, pria tua ini lalu berbicara, menceritakan semuanya.
"Begitulah tuan muda, aku sama sekali tidak ikut campur masalah ini."
"Sial kenapa luka ini sangat panas." ucap nya dalam hati sembari melihat luka di kakinya yang memerah.
"Tuan muda, tunggu dulu..., aku, ...."
"Apa lagi, harusnya kau bersyukur aku membiarkanmu pergi."
"Biarkan aku mengikutimu, melayanimu." ucapnya mantap.
Ye Chen awalnya tidak tertarik sama sekali tapi setelah berpikir lagi, apa salahnya mengambil seorang yang bisa membantunya di hari depan.
"Apa kau serius?"
"Aku Chu Xiong, bersumpah akan mengabdi dan melayani tuan muda sepenuh hati, rela berkorban nyawa demi tuan muda." Pria yang bernama Chu Xiong ini berkata sambil berlutut dan menangkupkan tinjunya.
"Chu Xiong..., hm nama ini seperti tidak asing." gumam Ye Chen sambil berpikir mencoba mengingat-ingat dimana Ia pernah mendengar nama ini.
"Baiklah." Hanya ini saja yang Ye Chen katakan, kalo boleh jujur Ia juga bingung buat apa menambah pengikut lagi. Meskipun sempat berpikir mungkin bisa membantunya nanti.
Ye Chen kemudian kembali ke pemukiman pemburu, sementara Chu Xiong yang ditinggal sendiri akhirnya mengikuti Ye Chen.
Di dalam kamar, Ye Chen terus mengamati benda kecil di tangannya yang mengeluarkan aura mencekam.
__ADS_1
"Huff nanti saja, sekarang lebih baik pergi dari sini." ucap Ye Chen sembari menyimpan benda kecil di tangannya.
"Oh Song Fei kau di sini? dan, eh Chu Xiong anda juga di sini? wah kebetulan sekali. Apakah kalian sudah saling kenal?" kata Ye Chen yang melihat mereka duduk berdua.
"Aku berencana pergi dari sini." Lanjut Ye Chen tanpa basa basi.
"Aku ikut...." sahut Chu Xiong.
"Bagaimana denganmu, Song Fei?
"Tapi kemana tuan muda akan pergi?
"Entahlah, aku belum mutuskan hendak kemana." kata Ye Chen menjawab pertanyaan Song Fei.
Song Fei lalu bertanya lagi. "Apa tuan muda tidak ingin kembali ke desa Ye...?
Mendengar pertanyaan Song Fei, Chu Xiong tiba-tiba saja berkata. "Tunggu dulu, apa tuan muda berasal dari desa Ye yang itu?"
"Tentu saja, tuan muda adalah pemimpin desa." Yang menjawab ini adalah Song Fei, ia sudah tau karena sebelumnya Ye Chen menceritakan semua padanya.
Chu Xiong lagi-lagi berlutut. "Tuan muda, apa anda mengingat dulu pernah mengobati seorang pria yang terluka parah? hambalah orang itu, Chu Xiong."
Ye Chen yang memang samar-samar masih mengingat kejadian itu hanya manggut2. "Oh sepertinya aku ingat, pantas saja aku merasa tidak asing dengan namamu, lalu?"
"Tapi ingat ini terakhir kalinya kau berlutut. Nah bangunlah dan bersiaplah, kita berangkat."
Song Fei juga ikut berkemas, niatnya untuk segera bertemu kakeknya Song Yi harus di tunda karena perjalanan ke sana sangat jauh.
Ye Chen memutuskan untuk pergi ke benua barat, baru kemudian mengantar atau kembali bersama Song Fei ke desa Ye.
Di benua barat, menurut Chu Xiong, terdapat kota yang menyewakan siluman burung tipe angin yang bisa di sewa untuk bepergian jauh.
Tapi tidak semua bisa menyewanya karena harga tiketnya terlalu mahal bagi orang biasa dan hanya bisa membawa enam orang saja termasuk orang yang bertugas mengarahkan siluman burung ini.
"Bagaimana dengan artefak perahu terbang, apakah benar-benar tidak ada yang menggunakannya lagi?" tanya Ye Chen yang penasaran karena meskipun tidak secepat siluman burung tapi kecepatannya stabil dan bisa menampung banyak orang sekali terbang.
"Aku belum pernah mendengar lagi ada yang bisa mengoperasikan artefak terbang ini sejak berakhirnya perang besar," jawab Chu Xiong. Ia lalu menambahkan bahwa perjalanan ke kota terdekat memerlukan waktu sekitar tiga bulan dan hanya sebulan jika menggunakan siluman kuda bertanduk dua seperti milik Ye Chen.
Waktu tidak masalah bagi Ye Chen, kalau Ia mau, Ia bisa menaiki Rajawalinya dan terbang dengan cepat tapi tidak mungkin membawa mereka bertiga.
__ADS_1
"Apa aku berikan saja tehnik pedang terbang pada mereka." pikir Ye Chen.
"Song Fei ada apa, katakan saja, jangan sungkan." Ye Chen bertanya ketika melihat Song Fei ragu-ragu untuk berbicara.
"Itu... ...
"Katakan saja." Ye Chen memotong tidak sabar.
"Baiklah tuan muda," sahut Song Fei. "Tuan muda bisa membeli siluman kuda bertanduk dua yang lain sebagai tunggangan."
"Kupikir apa, ya sudah beli saja kalau begitu. Apakah di pemukiman ada yang menjualnya?" tanya Ye Chen, tapi melihat Song Fei mengangguk kecil, Ia berkata lagi. "Harga tidak masalah tenang saja."
Chu Xiong ikut tersenyum dan berkata. "lima puluh keping emas untuk setiap kuda. Harga ini sudah termasuk murah karena membeli di sini."
Ye Chen yang semula menganggap harga tidak masalah menjadi sedikit pusing ketika tiga pemburu dari desa Bunga ingin ikut pergi bersama, tidak
mungkin membiarkan mereka berjalan sementara Ia naik kuda.
Dua ratus lima puluh keping emas untuk lima ekor siluman kuda, awas saja jika nanti kalian tidak memasak makanan enak di desa kalian nanti, pikir Ye Chen.
Setelah Chu Xiong dan tiga pemburu dari desa Bunga pergi membeli siluman kuda, Ye Chen bertanya pada Song Fei. "Saudara Song, aku sedikit penasaran. Saat kalian berburu hewan siluman, bagaimana cara kalian berkomunikasi agar bisa menangkapnya?"
"Tentu saja menggunakan telepati," jawab Song Fei.
"Bukannya hanya tingkat Suci ke atas saja yang bisa menggunakan tehnik ini? aku liat kalian semua hanya di tingkat Emas."
Song Fei lalu menjelaskan, para pemburu secara turun-temurun mewarisi tehnik ini. Keadaan dan situasi perburuan menyebabkan hanya para pemburu saja yang bisa menguasainya tanpa harus menunggu kultivasi mencapai tingkat Suci.
Kultivator biasa tidak mungkin bisa menguasainya.
Biarpun tidak bisa terlalu sering menggunakannya, tapi ini sudah cukup untuk sekedar saling memberi tanda. Terutama saat mengepung siluman hewan liar.
"Apa kau menguasainya?" tanya Ye Chen.
"Tidak sebaik pemburu lain, aku hanya bisa berbicara sedikit saja. Kenapa, apa tuan muda tertarik?" Song Fei bertanya balik.
Tentu saja Ye Chen tertarik, bahkan ketua Song saja belum bisa menggunakan tehnik ini meskipun tau secara teori.
Song Fei menemui pemburu dari desa Bunga ketika mereka datang dan mengatakan keinginan Ye Chen yang hendak mempelajari tehnik telepati pemburu. Tanpa ragu, pemburu ini mengambil sebuah gulungan dan memberikannya pada Ye Chen yang menerimanya dengan senang, tentunya Ia tidak menerimanya secara gratis. Masing-masing pemburu ini Ia berikan kantung penyimpanan.
__ADS_1
Ye Chen memutuskan menunda perjalanan dan meminta untuk tidak mengganggunya.
Tiga hari kemudian, Ia tersenyum sendiri di dalam kamar sembari memandang sebuah gulungan yang tampak baru di tangannya.