
Ye Chen hampir tak mengeluarkan tehniknya, Ia hanya menyerang He Liang menggunakan jarinya dan menotok beberapa bagian tubuhnya.
Kalau diperhatikan dengan baik, Ye Chen sengaja membuka syaraf He Liang untuk membiarkan Qi mengalir dengan lancar. Tapi jangan berpikir He Liang tidak merasakan sakit, setiap kali jari Ye Chen menyentuh kulitnya, Ia merasa seperti tersengat listrik. Rasanya sakit karena totokan ini seringkali berulang-ulang di tempat yang sama.
Saat merasa cukup, Ye Chen melompat ke belakang. Memanggil belati hitamnya. "Saatnya bertarung serius. Berhati-hatilah kalau tak mau terluka."
Masih menggunakan tehnik langkah angin kedua, Ye Chen kembali menyerang. Kali ini dengan niat membunuh yang membuat kaget penonton. Sampai-sampai membuat penatua Xiao hendak menghentikannya tapi dicegah patriark Xiao. "Dia tidak akan membunuhnya." cegahnya.
He Liang dibuat tak berdaya, jurus apapun yang Ia keluarkan tidak ada yang sanggup membuat Ye Chen yang melepas kekuatannya sampai tingkat Langit puncak terdesak.
"Tehnik Teratai Bermekaran."
He Liang mengeluarkan tehnik andalan sektenya, mula-mula Qi berbentuk teratai yang besar muncul lalu perlahan berubah menjadi teratai kecil dan melesat bagai hujan.
"Terlalu lambat." gumam Ye Chen yang kembali bergerak cepat mendahului teratai kecil yang menghujaninya.
"Tapak Jiwa...."
Blaarr...
He Liang terpental, memuntahkan darah segar. tubuhnya yang penuh sayatan terkulai lemas. Ye Chen menghampirinya, memberi sebuah pil lalu berbisik pelan.
"Senior He, jangan mati."
He Liang mendengarnya dengan jelas, tak begitu mengerti maksud ucapan Ye Chen. Ia baru mengerti saat rasa panas membakar di dantiannya terasa. "Apa aku akan mati?" batinnya, Ia tetap memaksa agar tidak kehilangan kesadaran dan memutuskan untuk menikmati rasa sakitnya.
"Jiang Kun, bisa kau bawa senior He ke dalam? nanti kalau sudah sadar berikut pil ini padanya."
"Baik tuan."
"Tuan Ye, metode apa yang anda lakukan tadi?" tanya patriark Xiao yang tampak tertarik.
"Oh itu, aku memaksanya melewati batasnya saja tidak lebih."
"Apa ada efek sampingnya?" tanya patriark Xiao lagi.
__ADS_1
"Tidak ada, tapi kemungkinan meridian senior He akan hancur, syarafnya terluka dan terakhir tewas dengan tubuh memberi karena darahnya tak bisa keluar." jawab Ye Chen santai.
Patriark Xiao bukan tidak tau cara yang digunakan Ye Chen, memang betul seseorang akan mengeluarkan kemampuannya jika berada dalam hidup dan mati. Hanya Ia sendiri tidak pernah mencobanya dan tidak akan pernah mencobanya setelah tau akibat yang ditimbulkannya jika gagal.
Pengrajin Mingdi, penatua Xiao dan patriark Hauw yang ikut mendengar merinding, Ye Chen ini sangat berani, bagaimana kalau sampai gagal? He Liang pasti tewas bukan? pikir mereka.
"Jangan melihatku seperti itu, senior He sudah setuju sebelumnya. Apa kalian mau mencobanya hehe." Ye Chen tersenyum manis, tapi entah kenapa ini terlihat sangat menakutkan.
Hanya patriark Xiao yang bertanya lagi, "Apakah bisa?"
"Dengan metode barusan? tidak bisa, karena aku lebih lemah tapi aku punya metode lain." Kemungkinan bisa berhasil.
"Benarkah... bagaimana?"
Mereka bertanya dengan semangat kecuali patriark Xiao.
Sebelum menjawab, Ye Chen tersenyum. "Caranya, aku akan mengeluarkan sebagian darahmu lalu meminumkanmu racun, setelah vitalitas menurun, baru kita bisa mulai prosesnya.
Masing-masing memandang dengan mulut terbuka, apa orang ini manusia? bisa-bisanya dia punya metode yang sadis.
Baru mendengarnya saja muka mereka sudah berkerut, membuat tersenyum saja sudah tidak mungkin.
"Aku tidak akan mencobanya."
"Lebih baik aku mencari sumber daya yang cukup."
"Dan aku cukup puas dengan tingkatku sekarang."
Masing-masing dari mereka mengeluarkan pendapatnya, kecuali patriark Xiao. Ia hanya menggeleng.
Degg...
"eh? mungkinkah...."
Tiba-tiba Ye Chen merasa ada getaran dari luar wilayah Ye, perahu terbangnya yang masih berada di luar mengirim sinyal, ada yang mencoba menembus array yang Ia pasang.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar, ada yang ingin aku urus. Silahkan beristirahat." Ye Chen melangkah pergi tanpa menunggu persetujuan.
"Apa yang terjadi? apakah ada sesuatu yang penting?" pengrajin Mingdi.
Patriark Xiao juga bertanya-tanya, tapi raut muka Ye Chen yang biasa saja mengatakan tidak ada apa-apa, hanya urusan kecil. Bahkan Ia yang berada di tingkat Suci puncak saja tak bisa merasakan gejolak aura dari Ye Chen. Biasanya, hanya kultivator yang sudah ahli saja yang mampu menyamarkan auranya tapi itupun sangat sulit dilakukan di hadapan kultivator yang lebih kuat.
Di luar wilayah Ye.
Wakil patriark sekte Teratai yang membawa dua orang bawahan bertemu dengan wakil tetua luar yang hanya membawa murid tunggalnya saja.
Karena merasa mempunyai tujuan yang sama, mereka memutuskan untuk melakukannya bersama. Tampak salah satu bawahan wakil patriark mencoba menembus perahu terbang tapi belum mampu menembusnya. Sampai akhirnya mereka semua bergabung menghantam perahu terbang.
"Bagus! ada ada pencuri kecil di sini." Ye Chen yang sudah sampai sedikit kaget dan mengira ada yang ingin mencuri kapalnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Ye Chen langsung saja menyerang orang yang paling lemah di antara mereka. Tiga orang murid yang sama-sama di tingkat Langit puncak bukanlah lawan Ye Chen.
Tiga orang itu roboh bersimbah darah, luka sayatan memanjang menghiasi tubuh mereka. Satu kesamaannya adalah sebelah tangannya yang terpotong.
Mereka belum tewas, masih mengerang kesakitan.
"Oh kuat juga, pantas saja kalian berani mencuri milikku." gumam Ye Chen dan sekali lagi bergerak menusuk mereka dengan kasar sampai tewas.
"Ah dia lolos." lagi-lagi Ye Chen bergumam sambil terus tersenyum melihat wakil tetua luar yang berhasil menyelamatkan muridnya dari kematian.
"Kau... aku mengenalmu, beraninya kau...."
"Ya, aku juga mengenalmu hehe." sahut Ye Chen tetap berdiri tenang sambil memanggul pedang hitam di pundaknya.
"Tunggu saja...
Ucapannya terhenti, Ia harus memeriksa muridnya yang terluka dan melakukan pertolongan pertama. Dengan menahan amarah, wakil tetua luar itu meminumkan pil pemulih pada muridnya.
Khasiat pil langsung terlihat, secara perlahan vitalitas muridnya mulai membaik tapi ada yang aneh, lukanya tidak juga mengering, darah segar masih terus menetes. Ia mencoba berbagai cara untuk menutup luka. Setelah kembali nanti, baru akan mencari solusi lain pikirnya.
Sementara itu wakil patriark sekte Teratai masih berdiri memandangi dua muridnya yang tewas, Ia merasa menyesal tidak bisa melindungi mereka.
__ADS_1
Semua telah terlambat, yang tinggal hanyalah penyesalan. Ia juga sama sekali tak menyangka Ye Chen akan begitu berani membunuh orangnya, bahkan di depan matanya sendiri.