Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Tehnik Tapak Teratai v Tehnik Pedang Petir


__ADS_3

"Tuan Ye...."


Jiang Kun menyadari kehadiran Ye Chen saat melihat perahu terbangnya.


Ye Chen melompat turun mengarah tepat di tengah-tengah area. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin.


Prang...


Perisai arena pecah, hancur diterpa kaki Ye Chen yang memang mengincar titik pusat formasi dari atas.


Blaarr...


Suara keras disertai hancurnya lantai arena terdengar begitu Ye Chen mendarat. Secara sengaja Ia mengumpulkan Qi di kakinya untuk menghancurkan arena.


Ketika kabut debu tebal menghilang, di sana telah berdiri sosok Ye Chen yang memandang Jiang Ji dengan iba.


"Siapa, siapa itu?"


"Berani sekali Ia muncul dan menghancurkan arena."


Semua mata memandang Ye Chen, tak sedikit yang mengatakannya sangat bodoh dan ceroboh tapi tak sedikit juga yang kagum padanya, terutama para wanita yang hadir.


"Duh tampannya."


"Hebaat... wahai pemuda gagah, ajak aku berasamamu."


Ye Chen tidak menghiraukan semua, Ia berjalan pelan menghampiri Jiang Ji dan memeriksa keadaannya, memastikan tidak ada luka serius.


"Tuan, bagaimana keadaannya?" Jiang Kun baru berani turun setelah ada Ye Chen.


"Hanya kelelahan, mana yang lain?" Ye Chen dengan tenang bertanya sambil tetap memasang senyumnya. Tapi bagi Jiang Kun, ini adalah senyuman kematian, Ia sudah cukup mengenal siapa tuannya yang sekarang.


"Penatua Xiao dan pengrajin Mingdi kembali, katanya ingin membereskan barang setelah itu akan langsung ke sini untuk kembali bersama."


Hanya senior He yang tetap tinggal, dia mengawasi pekerja yang masih menyelesaikan tahap akhir pembangunan.


"Kita pulang, tinggalkan saja mereka."


Tapi baru saja Ye Chen dan Jiang Kun hendak pergi, tetua yang tadi masuk ke arena datang lagi dan berdiri di samping wasit. "Kalian tidak bisa pergi begitu saja."


"Tuan, biar aku yang bicara." Jiang Kun yang tidak mau mencari masalah berusaha menenangkan Ye Chen yang Ia lihat akan bergerak.


"Tidak apa, biar aku saja." bantah Ye Chen. "Katakan, apa maumu." tanyanya tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


"Aku protes hasil pertandingan ini, orangmu menggunakan tehnik sekte lain... ...


"Terserah! aku tak peduli. Dan kau wasit sampah, begitukah sikapmu pada peserta? kenapa kau diam saja dan membiarkan peserta lain dan tidak menolongnya?"


Ditodong begini, wasit pertandingan hanya diam, Ia juga dilema sebetulnya. Antara takut dan ingin bersikap adil.


"Hah lupakan, Jiang Kun bawa puteramu." Ye Chen tampak gusar, bagaimana tidak, kalo Ia tak datang mungkin Jiang Ji akan terluka. Tidak masuk akal hanya karena Ia menang dengan lawannya yang berasal dari sekte besar maka keselamatannya tidak dijaga.


Ye Chen tak akan membiarkan orangnya terluka, jangan ganggu orangku kalau masih sayang kepalamu, kira-kira begitu prinsipnya.


"Saudara Jun, itu Ye Chen, pemimpin wilayah Ye."


Patriark Jun hanya mengaggukkan kepalanya sambil mengelus janggutnya. "Menarik, dia terlihat cukup kuat."


"Apa anda tak ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini?" tanya patriark Xiao yang melihat patriark Jun mendiamkan masalah ini.


Saat ini Ye Chen telah melayang menggunakan pedangnya, berniat meninggalkan arena, kembali ke perahu terbang sebelum tetua sekte Pedangnya Langit menahannya.


"Jangan kira kau bisa meninggalkan tempat ini sebelum meminta maaf telah menggunakan tehnik orang lain."


"Eh, kau masih keras kepala juga? apa kau pikir tehnik sampahmu itu bisa mengalahkan tehnikku?" tanya Ye Chen yang membuat tetua ini bertambah marah.


Ia mengirim sebuah pedang Qi.


Syuuut...


"Tuan, anda datang? bagaimana pertandinganku, apa tuan melihatnya, aku mengalahkannya dengan tehnik kita." Jiang Ji yang sudah siuman dari pingsannya sangat senang melihat Ye Chen.


"Tentu saja, tehnik sampah mereka tak akan mungkin mengalahkanmu. Kau baik-baiklah di sini, aku akan menghajar tetua mereka untukmu."


Lalu Ye Chen sekali lagi melompat dari atas perahu. Sengaja melompat di atas tetua dari sekte Pedang Langit, tapak mengarah langsung padanya dengan kekuatan yang besar dan menekan.


"Tehnik Tapak Teratai."


Wuss...


Tapak Qi menekan tetua, di hiasi teratai Kevin yang terlihat cantik. Aura dingin seketika menyebar ke seluruh arena sampai dapat dirasakan semua yang hadir di sana. Bagi yang tidak kuat, pasti akan menggigil kedinginan sementara yang lain berusaha melawannya.


"Apa ini?


"Kenapa bisa begitu dingin?


"Cepat, menyingkir dari sana...

__ADS_1


Penonton mulai panik, yang tadinya termakan omongan tetua tentang mencuri tehnik dan meremehkannya kini terdiam, ini bahkan jauh lebih kuat dan tinggi dari tehnik sekte Teratai sendiri.


Sama seperti yang lain, patriark Jun di atas tribun utama juga tak bisa tidak memuji tehnik ini. "Saudara Xiao, apa kau yakin kultivasi anak muda itu di tingkat Langit puncak?"


"Daripada itu, lebih baik kau mengkuatirkan muridmu itu." patriark bukan tidak alasan berkata begini, Ia ingat betul saat Ye Chen tanpa ragu sedikitpun membunuh wakil tetua luar dari sekte orang di sampingnya ini. Hal yang sebetulnya masih mengganggu pikirannya, kenapa patriark Jun seperti tidak tau masalah ini.


Sementara itu, tetua yang diserang tidak tinggal diam. Ia mengangkat pedangnya dan memainkan tehnik andalannya.


"Tehnik Pedang Petir."


Awan tebal perlahan menggulung, angin lembab seketika menyelimuti arena membuat hawa dingin yang sebelumnya menjadi lebih. Berbeda dengan muridnya, tetua ini langsung melepas pedang dari petir, langsung menyerang Ye Chen yang sedang turun.


Ye Chen hanya tersenyum, Ia sama sekali tidak khawatir.


Ia meluncur dengan mengurangi kecepatannya, malah semakin bertambah kuat karena dorongan daya luncur ke bawah.


Blaarr...


Aura tapak Qi yang besar menghancurkan arena, jauh sebelum tapak itu sendiri tiba.


Arena bergoyang keras, membuat posisi tetua goyah dan otomatis serangannya sendiri jadi melemah. Ye Chen sendiri hanya mengontrol teratai Qi untuk melindunginya dari serangan pedang petir.


Blaarr...


Bummm...


Aaaaaa...


Tubuh tetua terkena hantaman tapak Qi, menghancurkan bumi yang Ia pijak sampai menjadi cekungan yang besar. "Hebat juga perisai orang ini." batin Ye Chen yang melihat tetua masih berdiri meski tubuh penuh luka.


Tapi dengan senyum khasnya, Ye Chen melambai membuat teratai kecil yang masih terus mengelilingi tetua berubah menjadi ratusan helai daun yang siap mencabik tubuhnya.


"Gawat!"


Suara risau patriark Jun terdengar, Ia melesat cepat berusaha menghadang serangan mematikan Ye Chen.


"Tuan Ye, apa yang akan kau lakukan sekarang?" gumam patriark Xiao. Seperti menikmati pertunjukan yang akan terjadi selanjutnya.


Sedangkan Ye Chen yang sudah memprediksi gerakan patriark Jun kembali tersenyum, "Akhirnya kau turun juga."


"Tehnik Tapak Jiwa, Tarian Teratai."


Ini adalah kembangan dari tehnik tapak teratai.

__ADS_1


Helai daun teratai yang semula hanya puluhan berkembang lebih banyak sampai ratusan bahkan ribuan. Berputar di seluruh arena pertandingan.


Begitu juga dengan pedang-pedang petir, itu bermunculan sangat banyak di udara.


__ADS_2