
Semua duduk dalam diam dalam sikap lotus, menyerap energi rembulan yang lembut. Tidak ada suara lain selain suara helaan nafas pelan ditemani suara binatang malam
"Sama seperti saat menyerap energi mentari, tarik nafas panjang, pelan sampai mengisi seluruh rongga dada, busungkan perut dan tahan. Hembuskan nafas pelan, habiskan semua udara dalam dada, kempeskan perut dan tahan.
Rasakan kelembutan energinya, jangan disimpan, biarkan mengalir melewati setiap pembuluh darah.
"Bahaya..!!" Ye Chen melompat ke arah salah satu kultivator dan menotok bagian perutnya. Mengalirkan energi hangat, melepaskan energi rembulan yang terperangkap.
"Ayo coba lagi, ingat jangan disimpan." Ucap Ye Chen.
Lebih dari satu bulan Ye Chen dan rombongannya tinggal dsini, selama ini pula kemampuan Sum Yi dam yang lain meningkat pesat.
"Tuan muda, sepertinya nona Xiao mengambil atah yang sala." Kata Sun Yi yang duduk di dekat Ye Chen.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya," Balas Ye Chen. "Bereskan semuanya, siang nanti kita lanjutkan perjalanan.
Satu minggu kemudian rombongan Ye Chen memasuki sebuah desa, desa yang berbatasan langsung dengan benua Timur wilayah kekaisaran Ye.
Ye Chen memutuskan bermalam di desa ini sekalian mencari informasi.
Desa ini cukup ramai. Sebagai wilayah terluar, tempat ini banyak dikunjungi oleh mereka yang melalukan perjalanan, baik itu pedagang maupun kultivator. Sedangkan pengungsi sudah sangat jarang terlihat, situasi yang sudah mulai membaik membuat jumlahnya menurun drastis.
Sebagai tempat persinggahan, tentu saja arus informasi di sini sangat baik dan ini di manfaatkan dengan baik oleh Ye Chen.
Rombongan memasuki sebuah penginapan yang tidak terlalu besar. Ye Chen ditemani Sun Yi duduk satu meja menunggu Sun Li yang memesan kamar untuk mereka semua.
"Tuan-tuan hendak memesan apa?" Tanya seorang pelanyan yang datang.
"Bawakan semua makanan yang ada." Jawab Ye Chen singkat.
Tidak butuh lama pelayan datang lagi membawa semua hidangan yang di atur di dua meja yang digabung menjadi satu, saking banyaknya hidangan yang Ye Chen pesan.
Tadinya si pelayan mengira hidangan ini untuk mereka semua mengingat mereka datang bersama dalam jumlah cukup banyak.
"Hidangkan juga untuk mereka semua." Kata Ye Chen yang melihat pelayan menatapnya aneh.
"Ba... baik tuan..." Ucap si pelayan yang menggeleng pelan lalu pergi menyediakan hidangan untuk rombongan Ye Chen. Sungguh seorang tuan muda kaya, pikirnya.
"Ayo kita makan." Ajak Ye Chen kepada Sun Yi.
Sun Yi hanya menggangguk, dan ikut menyantap hidangan bersama.
Belum selesai menyantap hidangan, Sun Li datang dan bergabung. Ye Chen mengangkat tangannya, menyuruh Sun Li makan dulu.
Hampir setengah dari semua hidangan disikat habis oleh Ye Chen.
Sambil mengelus-elus perutnya yang penuh, Ye Chen mempersilahkan Sun Li berbicara.
"Tuan muda, kamar penginapan ini tidak cukup untuk menampung kita semua, aku dan yang lain akan bermalam di penginapan sebelah." Kata Sun Li memulai laporannya.
Masih menurut Sun Li. Untuk keperluan desa, harus ke kota yang letaknya sekitar dua bulan perjalanan dari sini karena di sini tidak banyak yang bisa mereka beli.
__ADS_1
Sun Li hanya bisa membeli beberapa hewan ternak dan menitipkannya, mengambil kembali nanti saat pulang ke desa.
"Saat aku mencari informasi kekaisaran Ye, aku mendengar sepintas percakapan dua orang di dekatku. Menurut mereka beberapa hari yang lalu lewat sebuah rombongan berjumlah kurang lebih sepuluh orang membawa kerangkeng budak." Lanjut Sun Li lagi.
"Biarkan saja, tidak usah mencampuri urusan orang lain. Kecuali mereka mengganggu kita." Kata Ye Chen.
"Tadinya akupun berpikir demikian tuan muda, tapi saat mereka menyebutkan ciri-ciri dari salah satu budak-budak itu, aku jadi tertarik," ucap Sun Li. "Ciri-ciri ini sangat mirip dengan nona Xiao tuan."
"Hah benarkah?" Ye Chen tampak mulai tertarik.
"Aku sendiri belum memastikannya, tapi aku sudah tau kemana mereka membawa budak-budak ini." Sahut Sun Li.
Dari hasil penyelidikan Sun Li, budak-budak ini dibawa ke sebuah rumah yang cukup besar, yang Sun Li tidak adalah tempat adalah cabang dari kelompok perampok dan penculik budak.
"Tuan muda, bagaimana pendapat anda? Tanya Sun Yi yang dari tadi hanya diam.
"Besok kita kesana, bawa semua orang. Kalau benar yang mereka tawan adalah nona Xiao, hancurkan mereka semua berikut markasnya," ucap Ye Chen. "Tapi aku hanya akan menjadi penonton, ini tugas kalian."
Keesokan harinya, bersngkatlah Ye Chen dan rombongan menuju sarang penculik budak.
"Mintalah baik-baik, tanyakan apakah mereka menawan nona Xiao, kalau mereka menolak langsung habisi saja." Mana ada perampok mau ditanya baik-baik, Ye Chen tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Sun Yi tentu saja tau maksud dari Ye Chen, meski begitu Ia juga setuju. Pasukan yang bersamanya harus banyak berlatih dan ini waktu adalah waktu yang tepat.
"Hei berhenti di situ!" Salah satu penjaga menahan Sun Yi yang hendak masuk ke markas mereka.
"Aku hanya ingin bertanya, temanku terpisah di dalam hutan, apakah ada yang melihat?" Tanya Sun Yi yang terlihat tidak sabar.
Sraatt...
"Katakan! apa kau melihat temanku?" Tanya Sun Yi lagi pada penjaga yang lain.
Penjaga yang melihat kepala temannya terpisah dari badan gemetar ketakutan.
"Maaf tuan kami sungguh tidak tau, kami hanya penjaga di sini." Jawabnya dengan suara takut-takut.
Start...
Satu lagi kepala melayang.
Sun Yi masuk ke dalam merkas yang sekarang tanpa penjaga lagi. Markas ini sepi saja hanya beberapa orang saja yang ada di sini.
"Hei siapa kau!" Teriak salah satu dari mereka ketika melihat Sun Yi. "Sialan apa yang di lakukan penjaga bodoh itu, kenapa membiarkan orang lain masuk." Gumamnya.
Diluar markas
"Hais lama sekali.. " Gumam Ye Chen yang sudah tidak sabar.
Ye Chen yang mengedarkan kekuatan spiritualnya menyadari bahwa tempat ini tidak ada orang lain selain para penjaga ini.
Mendengar ini, Sun Li berinisiatif masuk melihat ke dalam.
__ADS_1
"Lakukan dengan cepat, bunuh saja. Orang-orang seperti mereka tidak pantas dikasihani." Ucap Ye Chen.
Berbeda dengan Sun Yi, Sun Li ini begitu masuk ke dalam Ia langsung menyerang siapa saja yang Ia curigai sebagai komplotan perampok.
"Saudara Sun Yi, tuan muda menyuruh kita cepat bertindak." Kata Sun Li saat nelihat Sun Yi yang masih berdiri berhadapan dengan salah satu perampok.
"Baiklah, kita sisakan yang ini saja." Selesai berkata, Sun Yi langsung menyerang dan melumpuhkan perampok di depannya.
Sementara Sun Li bergerak mencari penjaga lain di sekitar markas. Tidak lama kemudian Ia kembali ke tempat Sun Yi berada setelah tidak menemukan siapa-siapa lagi.
"Sepertinya mereka telah pergi dari sini, kita bawa orang ini, biar tuan muda yang menanyainya. "Ucap Sun Yi merasa sedikit kesal karena penjaga yang Ia tawan ini tidak mau memberikan informasi.
Ye Chen tampak tersenyum saja melihat tawanan yang dibawa Sun Yi terlihat babak belur.
"Jadi dia tidak mau mengatakan siapa mereka?" Tanya Ye Chen kepada Sun Yi yang hanya mengangguk canggung.
"Tenang saja biar aku yang tanya..."
"Siapa sebenarnya kalian dan kemana orang-orang yang kalian tawan itu dibawa pergi?" Tanya Ye Chen.
"Percuma, biarpun aku kalian bunuh, aku tak akan pernah mengatakan apa yang kalian mau." Jawab si tawanan. Paling aku hanya dipukul saja, aku akan membalasmu nanti bersama ketua. pikirnya.
Ye Chen mendekat, meminjam pedang salah satu bawahannya.
Crass...
Aaaahh....
Lengan kiri tawanan terpotong sebatas siku, di babat pedang Ye Chen.
Tak berhenti disitu, Ia juga melukai seluruh tubuh si tawanan, hanya goresan kecil dan tidak terlalu dalam.
Teriakannya masih terus terdengar ketika Ye Chen menarik rambutnya dan menyeretnya dijalanan tanah. Luka-lukanya si tawanan semakin bertambah perih.
Tanpa rasa kasihan sedikitpun, Ye Chen menjambak rambut si tawanan dengan lebih keras lalu melemparnya ke batang pohon yang ada di delay mereka.
Hueekk...
Darah segar menggenag di kaki tawanan. Pandangannya kabur. Ye Chen mengambil ancang-ancang lalu melempar pedang di tangannya.
Wuss... cleepp...
pedang Terbang melayang dan menusuk bahu kanan si tawanan, memakunya di pohon.
Tak ada yang berbicara melihat ini, Ye Chen juga hanya tersenyum.
Benar-benar cara menyiksa yang hanya sanggup di lakukan oleh tuan muda saja, pikir mereka.
"Nah sekarang pergi, aku rasa sekarang Ia sudah mau membuka mulutnya." Ucap Ye Chen.
Sun Yi melesat ke arah tawanan yang terlihat sudah sangat payah.
__ADS_1