
Dengan demikian, maka kompetisi pun berakhir dengan menyisakan dua puluh kandidat. Seperti yang sudah di umumkan sebelumnya, hanya sepuluh yang bisa maju untuk kemudian diterima sebagai murid langsung tetua sekte.
Satu yang cukup disesalkan adalah berkurangnya peserta yang dianggap mempunyai kekuatan dan bakat lebih, yakni tiga puluh yang di eliminasi oleh Ye Chen.
Perlu diketahui, semua yang gagal ini bisa dikatakan ahli formasi karena mereka sanggup memecah sedikit formasi sehingga tidak terlalu berpengaruh pada kekuatan spiritualnya.
"Hehe itu salahmu sendiri, tapi kau cukup beruntung bocah itu tidak menghabisi peserta andalanmu."
Tuan Tang berbicara acuh tak acuh pada Yun Shan yang kembali menemuinya setelah memberikan pengumuman pada peserta untuk segera menyelesaikan ujiannya.
"Tuan, apakah anda akan muncul di ujian seleksi terakhir?"
"Tidak, tapi lakukan ujian hari ini juga, keadaannya sudah sangat mendesak. Kemudian, umumkan bahwa hanya akan ada lima peserta yang lolos."
Tuan Tang berkata dengan sedikit kekhawatiran di wajahnya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, Yun Shan juga tidak banyak bertanya, dia segera mengumumkan apa yang tuan Tang katakan.
Hari masih sore saat ujian mengambil gulungan selesai, ketika ujian selanjutnya diumumkan kembali, para peserta yang berjumlah dua puluh orang mau tidak mau terkejut juga tapi tidak mengurangi antusiasme mereka.
Karena sekte hanya membutuhkan lima orang, maka peserta yang masuk sepuluh besar akan bersaing lagi merebut lima tempat.
"Baiklah, silahkan ambil nomor kalian masing-masing, yang memiliki nomor yang sama akan bertarung satu sama lain."
Yun Shan kali ini bertindak sebagai wasit dan berdiri di lapangan, menunggu peserta yang akan bertarung.
Yang pertama maju adalah Qin Zhu, lawannya adalah seorang yang bisa alkimia, sama seperti dirinya.
"Ingat! dilarang membunuh dan menggunakan pil. Jika ada yang menyerah atau keluar dari arena maka itu adalah kekalahan."
Yun Shan melambai setelahnya, dan sebuah aray pelindung berbentuk kubah pun muncul di sekitar arena.
Qin Zhu, tanpa banyak bicara mencabut pedangnya. Setelah ini, akan ada babak kedua untuk menentukan lima teratas, tak ada jeda. Siapa pun yang berhasil mengalahkan lawan dengan cepat tanpa cedera adalah pilihan terbaik.
Sabetan pedang meninggalkan aura panas membara, lawan Qin Zhu yang membawa pedang pun sama, auranya mengandung inti api. Sebagai alkemis muda, dua orang ini sama-sama menggunakan energi aura panas.
Bumm!
__ADS_1
Suara bergema keras membawa panas yang menyengat saling bertubrukan.
Kekuatan mereka ternyata berimbang, namun perbedaan Qin Zhu terlihat lebih unggul ketika dia mulai melancarkan serangan kedua. Tak akan ada kesempatan kedua, bagi nya sekarang adalah menang atau kalah.
Seluruh pedang Qin Zhu kini diselimuti oleh api tipis sementara tubuhnya samar-samar terlihat aura api yang juga sekaligus menjadi perisai tubuh.
Begitu Qin Zhu melompat dan menebas lawannya, aura api di tubuhnya pun melonjak semakin kuat, membawa panas menyengat yang bersatu dengan selimut api di bilah pedangnya bahkan suhu udara di dalam arena sedikit mengganggu aray pelindung, aray pelindung tampak bergetar.
Lawan Qin Zhu berseru kaget, apa yang ditampilkan oleh Qin Zhu adalah salah satu teknik api yang kuat, dia tidak menyangka kekuatan api Qin Zhu begitu kuat.
Namun, dia juga seorang alkemis dan kekuatan pengendalian api adalah hal yang harus dikuasai oleh seorang alkemis.
"Majulah!"
Serunya dengan keras, pedangnya juga diselimuti api tipis namun itu sedikit lebih lemah dari Qin Zhu.
Bamm!
Ledakan keras kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras dan kuat dari bentrokan pertama. Percikan api seperti hujan memenuhi arena.
Usaha Qin Zhu tidak sia-sia, lawannya terlempar keluar arena dan pingsan. Dengan demikian, Qin Zhu dinyatakan sebagai pemenang dan berhak maju ke babak selanjutnya.
"Kak Chen, bagaimana? aku hebat kan?"
Sosok Ye Chen memang membuatnya kagum sejak dari kota Siang sampai, dia mengatakan ini saat Ye Chen membantunya turun dari arena.
"Lumayan, cepat istirahat masih satu pertandingan lagi."
Sahut Ye Chen pelan, melalui pengamatannya, dia tau Qin Zhu tidak akan sanggup bertarung lagi. Luka akibat bentrokan terakhir tadi cukup serius, membutuhkan lebih dari satu bulan untuk pulih.
"Kamu harus menang," ucap Qin Zhu lirih. "Oh ya siapa lawanmu?"
"Lei Songi, ini sudah dikonfirmasi."
"Bagus! kakak Chen, hajar dan jangan beri ampun bocah sombong itu."
__ADS_1
Qin Zhu tampak bersemangat. Sikap Lei Songi di babak pertama membuatnya kesal.
Ye Chen mengantar Qin Zhu ke tempat peristirahatan khusus bagi peserta. Karena ini adalah pertandingan sampai final maka peserta yang lolos sepuluh besar harus memulihkan diri di tempat. Kalau dia tidak pulih sampai gilirannya tiba maka otomatis namanya akan gugur.
"Zhu'er, hais kamu terlalu memaksakan dirimu sendiri."
Seorang tetua terlihat menghampiri Qin Zhu dan Ye Chen.
"Kakek... untuk apa anda di sini?"
Tanya Qin Zhu ketika mengenali siapa yang datang.
"Anak bodoh, kau lupa siapa kakekmu ini?"
"Hehe maaf, maaf. kakek, kenalkan, ini temanku Ye Chen, kami berdua adalah wakil dari kota Siang."
Qin Zhu berkata sambil tersenyum, bukannya dia tidak tau kalau kakek di depannya ini adalah salah satu tetua di sekte Pengobatan Ilahi namun kedatangannya yang tiba-tiba membuatnya kaget.
Ini adalah Qin Lei, masih terhitung sebagai kakek Qin Zhu. "Aku tau. Anak muda, aku dengar lawanmu adalah Lei Songi, berhati-hatilah, yang aku tau kekuatannya sangat kuat dan dia bahkan sanggup melawan tingkatan di atasnya." kata Qin Lei.
Setelah mengucapkan ini, dia memberi pil ke pada Qin Zhu sambil mengomel karena Qin Zhu terlalu memaksakan dirinya. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi tetap menggeleng sedih.
Melihat ini, Qin Zhu berkata, "Kakek, tidak apa-apa, aku sudah sangat puas berada di posisi ini. Lagipula aku juga ingin mencoba sampai dimana batasku."
"Pemain nomor delapan, naik ke panggung!"
Dari arena tiba-tiba terdengar suara keras, Ye Chen melirik. "Ini giliranku." katanya.
"Kak Chen, kamu harus menang!"
Ye Chen sekali lagi mengangguk, dan memberi hormat pada Qin Lei lalu berbalik pergi ke arena pertandingan.
"Zhu'er, temanmu ini tidak biasa. Aku pikir dia akan menang."
"Tentu saja! kak Chen pasti menang," seru Qin Zhu. "Kakek aku mau lihat ke arena." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Ayo." Qin Lei juga mengangguk setuju, ada sesuatu tentang Ye Chen yang membuatnya penasaran, perasaan yang sama yang tuan Tang rasakan sampai Ia memilih Ye Chen di antara semua kandidat.