
"Cepat...."
Pak tua yang terluka, masih sempat menyuruh seorang pekerja yang selamat untuk berjalan mengikutinya dengan suara lemah. Pintu keluar dimensi memang sudah tidak bisa digunakan lagi, pemimpin dimensi yang masuk ke dalam dipastikan tidak dapat keluar lagi melalui pintu yang sama.
"Pak tua, apakah anak muda itu bisa keluar?"
"Semoga saja Ia masih sempat, ayo cepatlah, bisa celaka kalau ada anak buah pemimpin itu yang menyusul kita."
Kedua orang ini lalu berjalan menyusuri hutan lebat, mencari tempat perlindungan sementara untuk menghindari pengejaran dan mengobati luka-luka mereka.
Di dalam dimensi, Ye Chen yang sudah menguras semua kristal roh yang ada kembali masuk ke dalam ruangan tempat akar abadi berada. Lalu memasang aray berlapis menutup jalan masuk. "Eh, kau masih hidup? kuat juga." ucap Ye Chen dengan senyumnya sambil memandang penjaga yang menjadi mata-mata.
"Jangan melihatku begitu, nikmati saja apa yang para pekerja rasakan karena ulah kalian." lanjut Ye Chen lagi sambil mengumpulkan kristal roh ungu yang berserakan.
"Kau mau apa lagi?" penjaga yang melihat Ye Chen kembali berkata dengan lemah.
"Maaf aku berubah pikiran." tanpa berkedip, Ye Chen membunuhnya dan kembali memasang aray berlapis, kali ini Ia menambahkan kristal roh ungu sebagai untuk menambah daya tahan aray. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika Ia terus menunda waktu.
"Rupanya kau di sini." ucap Ye Chen memandangi akar abadi di depannya. Semakin mendekat, kristal roh ungu semakin banyak bertumpuk berkilauan di sekitar akar abadi.
Ye Chen melepas semua aura hitamnya, menutup seluruh tubuhnya dengan kabut hitam tipis guna menghindari daya sedot yang secara alami dimiliki akar abadi.
Di tangannya, akar abadi ini bergerak lembut, bentuknya seperti timun berukuran sedang dengan banyak akar menjuntai. "Seperti yang kuharapkan. Esensimu, biarpun tidak banyak lagi tapi kurasa cukup." Ye Chen duduk memangku akar abadi, mengatur kristal roh ungu di sekelilingnya dan mulai berkultivasi, menyerap semua esensi.
Tepat setelah Ye Chen duduk, pemimpin dimensi tiba di depan tambang. Berulang kali memukul aray, mencoba menghancurkannya. "Siaal kenapa juga aku terburu-buru masuk sendiri." ucapnya dengan kesal karena tau tidak ada jalan keluar lagi.
__ADS_1
Waktu berlalu, tak terasa hampir tujuh hari lamanya Ye Chen berkultivasi, kristal roh ungu sudah habis terserap tak tersisa sedangkan akar abadi juga tersisa sepotong kecil. Belum ada tanda-tanda Ye Chen akan menerobos tingkat Suci.
Menyadari ini, dengan cepat Ye Chen mengeluarkan sepuluh inti siluman tingkat Dewa. Ternyata esensi akar abadi ikut terserap oleh aura hitam sehingga tidak cukup membantunya menerobos, hanya bisa menerobos tahap puncak saja.
Dua hari setelah Ye Chen menyerap sepuluh inti siluman ringkat Dewa, terjadi ledakan kecil di dantiannya diikuti suara retakan. Langit diluar tambangpun mulai gelap, bersiap menyambut kedatangan seorang tingkat Suci.
"Apakah di dimensi ini petir itu juga akan muncul?" batin Ye Chen sambil bersiap menerima ujiannya. Sementara di luar, pemimpin dimensi telah sampai di lapis terakhir dari aray. Selama ini Ia terus berusaha menghancurkan aray berlapis yang Ye Chen buat.
Jdeerrr...
Petir menyambar turun menghantam area tambang, tepat di atas kepala Ye Chen yang sudah bersiap menerima nya. Tidak terlalu kuat karena Ye Chen bukan hanya menerimanya saja tapi menyerap esensi petir sampai langit cerah kembali.
"Hehe akhirnya, tingkat suci." Ye Chen bangkit dari duduknya dengan luapan energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tepat saat Ye Chen akan menstabilkan energinya, pemimpin dimensi telah berhasil menghancurkan aray terakhir dan langsung menyerang Ye Chen tanpa basa basi.
Ye Chen terpental menghantam dinding tambang yang sudah hancur oleh petir kesengsaraan. dadanya sesak akibat pukulan telak yang Ia terima. Kalau saja Ia sudah menstabilkan energinya, serangan bukanlah apa-apa meskipun pemimpin dimensi berada di tingkat Suci tahap tengah.
Ye Chen menusuk pedang hitam yang telah Ia keluarkan ke tanah, membantunya untuk berdiri sambil terus mencoba menstabilkan energinya yang masih kacau karena baru melakukan terobosan. Setiap kultivator harus menstabilkan energinya terutama untuk beradaptasi dengan besarnya energi yang baru saja masuk dan mengalirkan enrgi ini ke semua meridian di dalam tubuh.
"Sial kalau begini terus aku bisa celaka." gerutu Ye Chen sambil menyeka darah di mulutnya. Sudah beberapa kali Ia terkena serangan telak dari lawannya.
"Tehnik Tarian Pedang...."
Ye Chen hanya bisa mengandalkan tehnik ini, ditambah ketahanan tubuhnya untuk berusaha melawan dan terhindar dari cedera serius.
"Ayo keluarkan semua tehnikmu, kuakui kau cukup cerdik bisa menghancurkan dan membunuh semua anak buahku tapi kau terlalu ceroboh."
__ADS_1
Bukk...
bakk...
Pemimpin dimensi terus menghajar Ye Chen sampai seluruh tubuhnya kesakitan, seperti sengaja ingin menyiksanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Sayangnya karena terlalu sombong dan merasa di atas angin, pemimpin dimensi ini lupa satu hal, Ia melupakan kecerdikan Ye Chen yang tadi diakuinya sendiri.
"Sedikit lagi...." batin Ye Chen sambil terus menahan sakit. Jika diperhatikan, akan terlihat jelas kalau Ia sengaja memberikan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya untuk dipukuli. Pukulan-pukulan pada titik tertentu ini membantunya membuka meridian yang tersumbat yang menghalangi Qi mengalir. Yeah meskipun memang kadang pukulan ini tidak tepat sehingga membuatnya harus menahan sakit.
Ye Chen kembali terduduk, Ia mengacung-acungkan pedangnya tak berdaya.
Trang... Trang...
Pemimpin dimensi memukul pedang Ye Chen dengan pedangnya tanpa banyak tenaga, setiap terpukul, lengan Ye Chen terkulai lemah dan terlihat sulit sekali mengangkatnya lagi. "Sekarang...." batin Ye Chen mengumpulkan kekuatan untuk berdiri dan berlari.
"Hahaha kau mau lari kemana hah! riwayatmu akan tamat di sini." kata pemimpin dimensi lalu melesat mengejar dan memukul Ye Chen dari belakang.
Ye Chen terhuyung lalu mengelak keep samping, membiarkan pukulan ini dengan telak menghantam pundaknya.
"Eh apa yang terjadi?" pemimpin dimensi bingung, Ia melompat menjauh.
Di depannya, Ye Chen berdiri dengan penuh vitalitas energi, ditambah uap hitam tipis di seluruh tubuhnya. Pukulan terakhir tadi adalah titik terakhir yang menyumbat meridiannya. Saat ini Ye Chen telah menstabilkan energinya dan mengukuhkan diri menjadi kultivator tingkat Suci tahap awal. Sama dengan pemimpin dimensi.
"Tehnik Tapak Jiwa...."
"Gawat!" seru pemimpin dimensi yang dengan cepat menangkis tapak Ye Chen dengan kekuatan penuhnya.
__ADS_1
Ledakan keras terdengar, pemimpin dimensi terlempar jauh kebelakang sementara Ye Chen hanya terseret beberapa langkah saja akibat pertemuan dua kekuatan ini. Tambang kristal roh yang tadinya berada di bawah tanah hancur dan nampak terbuka dari atas.
"Oh jadi ini kekuatan tingkat Suci," gumam Ye Chen sambil melihat telapak tangannya. "Nah kita coba lagi." lanjutnya lalu mengarahkan tapaknya dan memukul dengan kekuatan penuh.