Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Memilih Teknik Pertempuran


__ADS_3

Dengan kecerdasan dan pemahamannya yang yang mendalam tentang teknik kultivasi, Ye Chen tidak perlu repot-repot membawa semua buku. Dia cukup membaca garis besarnya saja, diam sebentar untuk melakukan simulasi di dalam pikirannya dan selesai.


Garis besar sebuah teknik kultivasi sudah melekat di dalam benaknya, apalagi semua teknik ini adalah teknik yang menggunakan elemen api, elemen yang sangat akrab dengannya.


Ye Chen berputar sekali lagi untuk memeriksa kembali, takut ada yang terlewat.


Ini adalah kesempatan, bukan setiap saat dia bisa datang ke sini dan memang keberuntungan memihak padanya, sebuah kitab lusuh muncul dalam pandangan nya.


Kitab itu berada di tempat terpencil, kalau tidak diperhatikan dengan seksama, itu tidak akan terlihat. Ye Chen mengambilnya tanpa pikir panjang dan segera turun dari lantai tiga dan keluar dari perpustakaan.


Ya, dia harus membawa satu kitab seperti yang ketua Bong katakan.


"Senior Ye, kitab apa yang anda bawa?" tanya ketua Bong saat melihat Ye Chen keluar. Ye Chen lalu menyerahkan kitab yang diambilnya dengan santai.


Dia hanya mengambilnya karena tertarik.


"Tunggu sebentar, aku akan melaporkannya." kata ketua Bong lagi.


...


"Tetua Bong, haha apakah anda meminjam buku lagi? Sudah kukatakan, percuma saja, murid terluar itu punya bakat yang biasa-biasa saja, tidak akan ada perubahan."


Ketua Bong tidak menanggapi ucapan tetua yang menjadi petugas perpustakaan, Ia hanya melangkah pergi setelah tetua itu mencatat buku yang dibawanya.


"Huh menjadi murid dalam, sungguh mimpi yang berani." celoteh tetua itu lagi.


Ye Chen yang melihat semua ini mengernyit, bukan apa-apa tapi perilaku tetua yang menjaga perpustakaan itu, ketika Ia bertanya kepada ketua Bong, ketua Bong hanya diam sambil menggeleng.


Belakangan Ye Chen mengetahui bahwa ketua Bong, meskipun suka memanfaatkan posisinya namun sebetulnya dia sangat peduli dengan para murid terluar. Ia sangat berharap ada murid terluar yang bisa masuk menjadi murid dalam suatu hati nanti, bukan sekedar menjadi murid luar saja.


Upaya yang sering Ia lakukan adalah masuk ke perpustakaan murid dalam untuk mencari teknik kultivasi yang cocok untuk murid terluar yang menurutnya cukup berpotensi.

__ADS_1


Namun sayang usahanya sia-sia, banyak dari mereka yang hanya bisa menjadi murid luar.


Murid terluar itu datang ke sekte dengan harapan tinggi, biar bagaimana pun mereka juga termasuk jenius dari tempat asalnya dan membawa doa dan semangat dadi orang-orang terdekatnya. Yah, memang bakat adalah faktor paling utama seorang kultivator menjadi lebih kuat.


"Ketua Bong, memangnya murid dalam itu sangat kuat? ataukah teknik untuk murid dalam itu begitu hebat?"


"Menurutku murid terluar juga tidak begitu buruk, asalkan diberi kesempatan, aku yakin bukan hanya murid luar saja yang bisa kalah tapi murid dalam juga."


Ketua Bong berhenti, pandangan nya mengedar ke sekeliling sebelum berbalik ke arah Ye Chen yang menatapnya bingung. Kemudian Ia berkata, "Senior Ye, kita masih di area murid dalam, bisakah anda mengecilkan suara sedikit?"


Tidak sama dengan ketua Bong atau pun tetua sekte yang lain, pandangan Ye Chen tentang kultivasi dan bakat benar-benar berbeda.


Menurutnya bakat memang penting untuk seorang kultivator menapak jalan kesuksesan tapi terkadang, orang yang hanya memiliki sedikit bakat akan bisa disamakan dengan yang berbakat bahkan mungkin bisa mendahului nya.


Ada juga orang yang berbakat tapi akhirnya tidak bisa berbuat banyak, salah satu faktor penyebab nya adalah orang tersebut sudah puas dengan capaiannya dan salah satu yang lain adalah karena terus menerus didukung tanpa ada usaha nyata dan kerja keras dari dirinya sendiri.


Seperti murid terluar, jika diberikan hak yang sama atau perhatian yang sama dari sekte, dia yakin akan ada seseorang yang akan muncul yang akan membuat terobosan baru.


"Senior Ye, murid sekte sangat banyak, tidak mungkin sekte bisa memperhatikan mereka satu persatu. Mereka seharusnya berlomba dalam kompetisi untuk kemajuan sendiri."


"Ini... "


Ketua Bong tak bisa berkata apa-apa lagi, memang aturan nya dari dulu seperti itu. Jika kamu tidak bisa bersaing dan mengambil peluang, maka jangan harap bisa terus berkembang.


"Sudahlah, ayo kita kembali dulu. Nanti aku ceritakan lebih jauh."


Ketua Bong Se tidak mau berlama-lama berada di sana, bukan takut tapi membawa seorang murid terluar ke dalam perpustakaan murid dalam juga bukan hal yang baik. Dia sendiri biasanya akan pergi sendiri tapi kali ini Ia membawa Ye Chen karena menginginkan Ye Chen mengambil sendiri teknik pilihannya.


Namun baru beberapa langkah meninggalkan perpustakaan, sebuah suara menghentikan mereka lalu terlihat beberapa murid dalam datang mendekat, mereka didampingi seorang tetua.


"Ketua Bong Se... kita ketemu lagi hehe."

__ADS_1


Seru tetua yang membawa sekelompok murid dalam, mereka yang hendak masuk ke perpustakaan terganggu dengan ucapan Ye Chen, jelas terlihat dari raut muka mereka yang tampak tidak senang.


"Aku tak sengaja mendengar murid terluar ini menyinggung murid dalam. Ketua Bong, katakan, apa aku salah dengar tadi?"


"Tetua Kun Tao, salam." sapa Ketua Bong. Tetua Kun Tao adalah salah satu tetua yang murid dalam. "Anda pasti salah dengar, kalau begitu aku permisi."


Tetua Kun berpaling kepada rombongan yang dibawanya, "Apa kalian juga mendengar nya?"


"Ya kami mendengar nya."


"Sangat jelas."


"Dia juga menantang murid dalam."


"Aku juga mendengar dia berkata murid dalam lemah."


Satu persatu rombongan murid dalam itu mengatakan hal yang memang berlebihan, apalagi kalau bukan bermaksud mencari masalah. Ketua Bong dan Ye Chen sangat jelas perihal ini, sementara tetua Kun tetap diam sambil tersenyum sesekali.


"Ketua Bong, anda tidak bisa mengelak, banyak saksi yang mendengar nya."


"Tetua Kun, jangan berlebihan, ini tidak bai tapi kalau memang begitu perkiraan mu aku bersedia meminta maaf dan ... "


"Oh jadi kalian murid dalam?" Ye Chen yang menekan kultivasinya sampai ke tingkat Surgawi angkat bicara. Memotong ucapan Ketua Bong.


"Senior Ye, ini bukan tempat yang baik, kita pulang saja." bisik ketua Bong.


Bukan mengkhawatirkan Ye Chen, justru dia khawatir akan tetua Kun dan rombongannya.


"Tidak apa-apa, memang mulut murid dalam harus sesekali disumbat." sahut Ye Chen. "Tetua Kun, jujur aku tak bermaksud apa-apa tapi kalau anda punya maksud lain, katakan saja."


"Bagus! aku akui kau sangat berani. Kau, majulah. Buat secepat mungkin, kita tidak ada waktu banyak."

__ADS_1


Seorang murid dalam bergegas maju setelah mendengar ucapan tetua Bong. Sayang nya, baru dua langkah dia bergerak, dia langsung tumbang dengan muka dengan wajah pucat"


"Jangan maju sendiri, kalian tidak akan sanggup. Sebaiknya maju bersama saja biar aku tidak terlalu repot." ucap Ye Chen sambil senyum main-main.


__ADS_2