
Cara kerja kristal hitam adalah menyerap aura hitam yang dimiliki oleh seseorang dari dunia yang sama dengan dunia Ye Chen, kristal hitam akan bergetar dan berdengung jika aura hitam terdeteksi.
Proses penerimaan penduduk baru berjalan lancar, sekitar seratus orang. Senior He lalu membagi mereka menjadi beberapa kelompok. Kelompok kultivator akan bertugas menjaga keamanan sedangkan kelompok lain mengerjakan tugas lain yang ada.
Ketenaran wilayah Ye yang menarik minat banyak kalangan tidak membuat Ye Chen tertarik menambah populasi di wilayahnya. Hanya mereka yang betul-betul tidak ada kepentingan dan mereka yang membutuhkan tempat saja yang diperbolehkan untuk tinggal.
Ia tidak mau menerima orang yang ingin belajar sebuah tehnik atau berguru, meskipun kenyataannya semua yang tinggal di wilayah Ye akan dibebaskan untuk belajar semua pengetahuan yang ada.
Populasi wilayah Ye hanya seratus limapuluh jiwa saja tapi kekuatannya bisa disetarakan dengan sebuah sekte tingkat atas.
Ye Chen saat ini sudah berusia delapan belas tahun. Lebih dari dua bulan Ia menetap di wilayah Ye dan saat ini memutuskan untuk pergi, tujuan utamanya mencari lokasi akar abadi ketiga yang ada di dalam peta dan berkultivasi lalu mengikuti petunjuk di selatan.
"Aku akan pergi bersama Baojing dan wilayah ini aku serahkan kepada kalian, jagalah dengan baik, suatu hari nanti aku akan kembali."
Senior He dan yang lain sedikit kecewa, tujuan mereka adalah mengikuti Ye Chen tapi dia malah pergi.
"Senior He, Jiang Kun, aku telah menyalin beberapa tehnik untuk dipelajari."
"Pengrajin Mingdi, aku juga memperbaiki beberapa formasi yang ada di kitab yang dulu kau berikan."
Selama ini Ye Chen memang tampak biasa-biasa saja tapi sesungguhnya Ia cukup sibuk mempelajari berbagai hal termasuk kitab yang diberikan pengrajin Mingdi. Di dalam kitab itu berisi teori membuat artefak seperti perahu terbang, perahu layar, artefak perisai dan lain-lain, lengkap dengan segel formasi yang digunakan.
"Tuan... bagaimana dengan... Mm, herbal dan...
Suara ini adalah penatua Xiao, entah kenapa Ia merasa seperti dilupakan, mungkin Ye Chen Alan pergi lama, apakah Ia melupakannya sebagai seorang alkemis?
" Penatua Xiao, aku tidak melupakan anda. Wilayah ini sangat membutuhkan anda di sini tapi sebelum itu ada yang ingin aku sampaikan."
Ye Chen terdiam sejenak.
Baojing, penatua Xiao, pengrajin Mingdi, senior He dan Jiang Kun juga terdiam, menunggu apa yang akan Ye Chen katakan.
"Aku akan serius, setelah ini jika di antara kalian yang memutuskan meninggalkan wilayah Ye maka aku meminta jangan pernah membicarakan hal-hal yang pernah anda lihat."
__ADS_1
Ye Chen menutup matanya, dan tiba-tiba suasana menjadi sedikit mencekam. Entah darimana datangnya, angin dingin disertai aura kematian yang pekat meniup mereka semua. Membuat mereka seperti berada di ujung kematian tapi bukan menekan atau berusaha membunuh.
"Aku minta kalian untuk memutuskan hubungan dengan siapapun di luar sana. Tak boleh ada kerja sama dalam bentuk apapun kecuali jual beli dan membantu mereka yang kesusahan."
"Penatua Xiao, hubunganmu dengan ayahmu hanya akan sebatas hubungan ayah dan anak, tidak lebih. Dan satu lagi, aku tak mengizinkan siapapun untuk masuk ke sini."
"Itu saja, nah aku persilahkan kalian yang tidak ingin di sini lagi untuk keluar. Jangan katakan aku kejam, ini tempatku dan ini aturanku. Aku sendiri yang akan memburu siapapun yang melanggar ini."
Hanya Baojing yang mengerti aturan yang Ye Chen buat, bisa berbahaya kalau sampai ada penyusup yang tinggal di sini. Sementara yang lain tidak mengerti.
"Aku Jiang Kun bersedia mengikuti aturan tuan."
"Aku juga." sahut senior He.
Mereka memang tidak memiliki siapa-siapa lagi dan cukup tenang untuk mengambil keputusan.
Pengrajin Mingdi meskipun bekerja sendiri tapi dia masih masih memiliki kerabat jauh dan kenalan yang tak mungkin Ia putuskan begitu saja.
"Aku tidak memaksa kalian berdua dan tentu saja kita masih menjadi kenalan, tentu saja asalkan kalian berdua tidak mengatakan keadaan di sini di luar sana nanti."
"Tuan, ini terlalu berat."
"Silahkan ambil keputusan," ucap Ye Chen tegas. "Aku tidak meminta lebih, hanya menjaga dan memastikan keamanan wilayahku saja." lanjutnya lagi.
"Aku bersedia." sahut pengrajin Mingdi.
"Anda yakin?" Ye Chen ingin memastikannya lagi.
"Sangat yakin." jawabnya penuh keyakinan.
"Bagaimana denganmu penatua?"
Penatua Xiao menundukkan kepalanya, "Maaf aku tidak bisa." ucapnya.
__ADS_1
"Tidak masalah, kita masih bisa berteman, tentu saja kalau anda masih menginginkannya." ucap Ye Chen dengan senyum. "Oh ya ini catatan resep yang pernah anda berikan, aku menulis beberapa saran di sana tapi maaf bila masih ada kekurangan, hanya itu yang bisa kusampaikan."
"Tuan Ye, anda sangat baik. Aku hanya berharap anda mengerti." Penatua Xiao menerima catatan resep lalu menyimpannya. Ia baru saja akan pergi karena tak ada yang bisa Ia lakukan lagi, Ia bukan lagi bagian wilayah Ye ini.
Pengrajin Mingdi ikut berdiri, "Aku akan mengantarmu." katanya lalu meminta persetujuan Ye Chen.
"Silahkan, oh ya jangan lupa sampaikan salamku pada patriark Xiao."
Di pintu keluar.
"Penatua, apa yang membuat anda berubah pikiran?" tanya pengrajin Mingdi, sebelumnya mereka berdua telah sepakat sama-sama menetap di wilayah itu.
"Aku merasa cukup berat."
"Anda salah mengerti maksud tuan Ye. Meminta kita memutuskan hubungan bukan berarti benar-benar harus meninggalkan orang-orang yang kita kenal, hanya saja kita tak boleh menyinggung wilayah ini."
"Aku tidak mengerti."
Pengrajin Mingdi menghela nafas, "Bukankah setiap tanah memiliki aturan sendiri? dan menurutmu, bisakah seseorang bebas menceritakan isi dapur mereka kepada orang lain?"
"Aku mengerti tapi aku masih enggan meninggalkan sekte dan orang-orangku."
"Bukankah kau sendiri yang berkata tidak ingin berada di balik bayang-bayang nama besar ayahmu? lalu kenapa untuk aturan sederhana saja kau sudah menyerah?"
Penatua Xiao tertegun, Ia sudah melupakan tujuan awalnya ketika pergi meninggalkan sektenya. "Biarlah, mungkin tempatku bukan di sini."
"Lalu kau mau kemana? kau sendiri tau tak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini." kata pengrajin Mingdi masih mencoba membujuk penatua Xiao.
"Aku tau, entahlah," penatua Xiao menatap birunya langit, mendesah perlahan lalu berkata lag. "Semoga lain hari tuan Ye masih akan menerimaku."
Pengrajin Mingdi tak bisa berkata. Apalagi setelah penatua Xiao berkata akan keliling dunia untuk membantu sesama seperti pesan Ye Chen sekaligus kembali mencari jejak puterinya yang dulu hilang.
"Selamat tinggal." penatua Xiao memberikan hormatnya lalu melangkah pergi, meninggalkan wilayah Ye, di bawah tatapan iba dari pengrajin Mingdi.
__ADS_1