Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Tuan, Anda Harus Berkata "Bangunlah"


__ADS_3

"Yang Mulia, anda membutuhkan sesuatu?" senior He menyapa Ye Chen dengan sangat hormat, ini berbeda dari sebelumnya.


"Tak usah segala Yang Mulia Yang Mulia, kau tau kan aku tidak suka?" tegur Ye Chen.


"Eh itu... huff, baiklah... apakah tuan membutuhkan sesuatu?" senior He mengulang kembali pertanyaannya.


Sudah begini, mau bagaimana lagi, pikir Ye Chen. "Aku hanya ingin bertanya, bagaimana kau akan mengatur kekaisaran ini, tidak lama lagi aku pergi dari sini."


Senior He tidak terkejut, memang Ye Chen sudah mengatakannya berulang kali. "Serahkan padaku, aku jamin semua akan baik-baik saja."


"Baiklah... kalau begitu panggil yang lain, yang kau anggap bisa dipercaya dan berguna."


Senior He beranjak dari tempatnya dan tak lama kemudian Ia kembali lagi bersama pengrajin Mingdi, Jiang Kun, patriark Hauw, tetua Su dan tetua Sam.


"Salam tuan."


Sahut mereka hampir berbarengan, tak ada yang menyebut Yang Mulia lagi.


"Duduklah, aku akan menceritakan sebuah kisah kepada kalian semua. Setelah ini, pikirkan lagi panggilan tentang sebuah kekaisaran."


Ye Chen mulai menceritakan kembali kisahnya, tak ada yang Ia sembunyikan, termasuk prahara menghilangnya kota Shinyang.


"Tak ada ras yang jahat, semua tergantung dari orang itu sendiri. Ras manusia sendiri ada yang lebih kejam dari ras Iblis." tetua Su angkat bicara dan mendapat persetujuan dari yang lain.


Meski tak menyangka asal usul Ye Chen tapi tidak ada yang protes, menurut mereka, Ye Chen baik-baik saja tak seperti ras Iblis pada umumnya, yang pernah mereka dengar.


"Kalau kalian tidak mempermasalahkan hal itu, maka baiklah, sekarang yang kedua...


Ye Chen lalu meminta memperluas wilayah utama, jalan-jalan diperlebar dan ditata ulang. "Pengrajin Mingdi, ambil ini untuk biaya pembangunan." Ye Chen memberikan semua hartanya, harta yang didapatnya dari dimensi kristal roh. "Tetua Su dan tetua Sam, pergi dan ambil semua yang ada di sana." kata Ye Chen lagi sambil memberikan sebuah gulungan peta.


Gulungan ini berisi lokasi dimensi kristal roh, Ye Chen memang telah menemukan lagi lokasinya. Tadinya akan Ia gunakan untuk keperluan lain tapi sekarang lain lagi ceritanya. "Jangan lupa menandai dan menyegelnya setelah kalian selesai."


"Yang ketiga, sebentar lagi aku akan pergi, urusan kekaisaran kuserahkan pada kalian semua. Termasuk mengatur siapa-siapa yang menduduki posisi di kekaisaran. Harap diingat, tidak ada bayaran untuk posisi tersebut jadi berpikirlah baik-baik."

__ADS_1


Rapat kecil pun bubar. Ye Chen masuk ke ruang pribadinya, memasang aray pelindung untuk menyerap inti kehidupan raja Iblis Youpi dan Kirin. Ia harus secepatnya menstabilkan kekuatannya kalau tidak mau mati sia-sia ketika bertemu raja Iblis yang lain.


Di alam langit.


Sebuah cekungan dimensi bergejolak, itu adalah tempat ras Kirin. Tampak pimpinan Kirin sangat gusar dan marah ketika mengetahui salah satu puteranya terbunuh. Hubungannya tiba-tiba saja terputus.


"Tuan pimpinan, hamba juga tidak tau dimana tuan muda pergi. Yang aku tau, tuan muda menemukan sebuah celah dimensi dan langsung pergi." lapor siluman Kerbau yang memang banyak mengabdi di istana Kirin.


"Celah dimensi?"


"Benar tuan pimpinan, tuan muda juga membawa dua anak buahku. Mereka juga telah tewas."


"Jadi tak ada yang bisa kita lakukan?"


"Untuk sementara ini tidak ada tuan."


"Ya sudah pergilah."


"Baik tuan pimpinan." Siluman Kerbau menghormat lalu pergi dari sana.


...


Tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat, puteri Jia telah menyerap semua energi dari kristal inti es. Uniknya, kristal itu tetap tidak berubah, tidak hancur benda lain yang energinya diserap habis. Dengan begitu, Puteri Jia kembali memakainya sebagai mata kalung, tapi kali tidak dengan kotaknya.


"Paman, bagaimana menurutmu?" tanya puteri Jia.


"Bagus, aku tau anda akan berhasil dan selamat karena telah menerobos ke tingkat Surgawi tahap awall." ucap Paman.


"Ah Paman, bukan itu maksudku. Coba lihat kalungku ini." Puteri Jia sedikit kesal.


"Oh itu, hahaha maaf... maaf, kalung itu anda sangat bagus, kristal itu memang cocok dijadikan mata kalung."


"Hehe tentu saja, nah Paman, coba lihat ini." Puteri Jia memperlihatkan tehnik memanahnya yang yang sempat Ye Chen gubah, digabungkan dengan tehnik Panah Surgawi yang Ia berikan pada Xiao Yun.

__ADS_1


Puteri Jia merentangkan tangannya, siluet busur seketika muncul dan begitu Ia menarik tali busur, satu anak panah tiba-tiba muncul dan...


Bress...


Anak panah itu melesat kuat dan cepat, menuju sebuah pohon besar yang cukup jauh dan menancap lebih dari setengahnya. Secara perlahan, pohon itupun membeku, berubah menjadi pohon es.


"Tuan Puteri... anda, wah hebat sekali." ujar Paman dengan kagum.


Puteri Jia tidak berhenti disitu saja, Ia kembali melepas anak panah, kali ini kecil saja, seperti anak belati.


Prangg...


Pohon itu hancur berkeping-keping, "Hebat kan hehe... itu tehnik Panah Surgawi Paman, kakak Chen yang memberikannya padaku."


"Tapi aku masih melihat dasar dari tehnikmu yang sebelumnya."


"Memang benar, dasarnya dari tehnik sebelumnya, kakak Chen yang merubahnya untukku. Katanya itu tehnik Panah Surgawi." jawab Puteri Jia sambil tersenyum, ada rasa bangga dibalik senyumnya.


"Jadi begitu, memang tehnikmu jadi berkali-kali lipat lebih kuat sekarang." Paman ikut senang juga melihat hasil yang didapat Puteri Jia. Kekagumannya bertambah terhadap Ye Chen.


Paman mengajak puteri Jia kembali ke istana, "Anda harus sering berlatih mematangkan tehnikmu puteri, oh ya apa kali ini anda tertarik masuk akademi Langit? kultivasimu yang sekarang sudah memenuhi syarat."


Puteri Jia tidak berpikir dua kali, Ia langsung mengiyakan kata Paman. "Tapi Paman, apa di sana aku bisa bertemu kakak Chen?"


"Tuan Chen tidak berada di alam Langit, tapi mungkin suatu hari Ia akan menginjakkan kakinya di sana." sahut Paman.


"Ah sayang sekali, kalau saja portal itu masih terbuka, aku akan kembali ke sana dan menunjukkan hasil latihanku pada kakak Chen." gumam Puteri Jia.


Yang dimaksud Paman adalah akademi alam Langit, di sana terdapat sebuah akademi yang menerima semua murid dari semua alam, dari semua ras tanpa kecuali. Ada dua kategori usia untuk masuk.


Pertama usia di bawah sepuluh tahun, syaratnya harus sudah di tingkat Langit dan yang kedua adalah usia di bawah dua puluh tahun dengan syarat harus sudah berada di tingkat Suci.


Puteri Jia sebenarnya sudah sejak dahulu memenuhi syarat, tapi Ia enggan untuk pergi namun karena sekarang ayahnya ingin mencarikannya pasangan maka Ia langsung setuju saja, yang penting jauh dari rumah, begitu pikirnya dan Paman tau betul apa yang menjadi keinginan puteri Jia.

__ADS_1


Syarat lainnya adalah selama berada di akademi, semua murid harus dalam wujud manusia. Di larang keras berubah menjadi aslinya.


__ADS_2