
Dalam suratnya, Ye Chen mengatakan sengaja membagikan semua apa yang Ia punya untuk keperluan desa, dan juga membeli barang yang mereka suka.
Di sana tertulis juga cara untuk mengkonsumsi pil.
Satu pil penempa tubuh dan lima pil kultivasi untuk tahap tengah dan tahap tinggi, dan sisanya untuk tahap puncak.
Ye juga menerangkan gulungan tehnik pedang terbang yang telah Ia gubah sedikit sehingga lebih untuk dipelajari dan berharap agar semua kultivator desa bisa menguasai tehnik ini.
Xiao Yun membaca surat ini di depan semua anggota desa, orang luar desa hanya panglima Du.
"Nona Xiao, apa tuan muda tidak berkata menulis sesuatu tentangku?" kata panglima Du yang sedikit iri mendengar isi surat di tangan Xiao Yun.
"Sepertinya ada," sahut Xiao Yun yang membuat panglima Du bersemangat.
"Nona Xiao, aku titipkan juga pil untuk panglima Du dan kalau Ia mau, salinlah gulungan tehnik pedang terbang untuknya ...
"Tuan muda memang orang paling pngertian sedunia haha..." Panglima Du yang terlalu senang tertawa keras sampai-sampai memotong suara Xiao Yun.
"Ah maaf... maaf, silakan dilanjut," katanya agak malu, Xiao Yun dan yang lain hanya tersenyum. Hanya orang bodoh yang tidak mau naik ke tingkat Bumi puncak.
Selanjutnya Ye Chen meminta menghancurkan ruang teleportasi di gua dan menerangkan bahwa token ditangan mereka hanya bisa menteleport tidak lebih dari seratus kilometer. Harus ditandai dengan setetes darah dulu baru token bisa bekerja.
"Baiklah aku rasa semua sudah cukup, oh ya aku menemukan sesuatu di lembah itu, aku yakin kalian pasti sudah kesana. Oleh sebab itu aku kembali dan menulis surat ini, aku ragu bisa pulang bersama kalian."
Pesan untuk nona Xiao:
"Nona Xiao, bisakah kau bersabar dan menungguku? jangan menikah sebelum aku kembali. Tapi kalau sudah tidak tahan, apa boleh buat hehe...."
Membaca pesan ini, Wajah Xiao Yun memerah sambil melirik panglima Du.
Yang lain kecuali enam orang pertama heran, ketika tiba-tiba Xiao Yun menunduk dengan muka merah setelah membaca diam-diam pesan untuknya.
"Oh begitu..." Yang bersuara ini adalah Sun Yi yang tanpa sengaja mengikuti lirikan Xiao Yun ke arah panglima Du.
"Ketua...." salah satu dari enam orang pertama yang berkenalan dengan panglima Du berkata pelan mengingatkan Sun Yi.
Langit dunia dimensi kekaisaran tiba-tiba menjadi gelap, seperti akan ada badai yang datang.
"Sepertinya waktu di sini sudah habis," kata panglima Du "Oh ya aku mengundang kalian semua ke istana, biarkan aku menjamu kalian sebagai saudaraku."
"Eh kenapa kalian malah melihatku?" kata Xiao Yun ketika melihat yang lain menatapnya.
"Kami semua ikut saja sesuai keputusan nona." kata Sun Yi mewakili teman-temannya.
"Bagaimana nona? jangan kuatir masalah sekte Racun Darah, ini adalah tugasku sebagai panglima, kita akan bersama-sama menghapus nama mereka." ucap panglima Du.
"Tapi...." Xiao Yun masih agak ragu. "Kami masih ada kepentingan lain selain itu."
Xiao Yun lalu menjelaskan tujuan awal mereka keluar dari desa, tak lup juga menceritakan tentang pemukiman sementara yang dibangun para bekas tawanan sekte Racun Darah.
__ADS_1
"Oh masalah itu kalian tenang saja, nanti orangku yang akan mengurusnya. Biarkan aku yang menanggung semua biayanya. Dan kalian bisa berkultivasi untuk sementara ditempatku."
"Baiklah tapi masalah biaya, kami yang akan membayar semuanya." bantah Xiao Yun.
"Ayolah nona, biarkan aku berbuat sesuatu untuk tuan muda. Aku bahkan tidak menyumbang satupun sumber daya untuk pil yang tuan muda berikan." Panglima Du masih ingat isi surat Ye Chen yang mengatakan semua pil itu adalah hasil kerja keras mereka mengumpulkan sumber daya di dunia dimensi.
Sebenarnya sumber daya yang paling berharga hanya teratai air saja, yang lainnya tidak begitu bagus jadi Ye Chen mengambil dari kebun herbal miliknya di dimensi cincin hijau untuk bahan utama pembuatan pil Bumi.
Hanya panglima Du yang tidak tau tentang ini, itulah sebabnya mereka semua sangat terharu saat pertama melihat isi kantung penyimpanan.
Mendengar Xiao Yun menyetujui ajakannya, panglima Du sangat senang.
"Aku menunggu kalian semua di pintu gerbang dimensi, kita nanti akan berngkat bersama-sama. Aku harus mengatur pasukan. Selamat tinggal sampai bertemu di luar." Panglima Du lalu melesat pergi.
"Kita juga harus bersiap," kata Xiao Yun.
"Biar aku yang menghancurkan ruang teleportasi," kata Sun Yi yang langsung memecah tokennya tanpa persetujuan yang lain. Tapi sayang token miliknya tidak bisa pecah.
"Ketua, anda lupa, kita harus berada dalam radius gua itu kalau mau menggunakan token." Salah satu dari dua orang yang sudah menggunakan token mengingatkan Sun Yi.
"Cepatlah waktu kita tidak banyak." kata Xiao Yun mengingatkan Sun Yi yang siap pergi setelah diberitahu letak gua.
"Langkah angin kedua... "
Sun Yi melesat cepat.
"Kurasa dimensi itu sudah tertutup, mungkin mereka semua telah kembali ke desa." Ye Chen termenung seorang diri.
"Hais untuk apa juga aku harus memikirkan mereka, nasib sendiri aja belum jelas. Jangan-jangan sampai ubanan aku masih harus di sini." Ye Chen kembali bergelut dengan pikirannya.
Dunia tempat Ye Chen sekarang telah berubah, tidak ada lagi tanah gersang atau tanah yang tertutup es. Semuanya kini nampak hijau sejauh mata memandang.
Aura Ye Chen juga telah berubah, Ia bisa dengan bebas mengatur auranya seperti Naga atau seperti Phoenix. Bisa mengeluarkan energi dingin ataupun panas sesuka hatinya meskipun tidak bisa mengeluarkannya dengan kekuatan penuh. Entah kenapa, lagi-lagi energi ini tertahan. Mungkin karena tingkatannya yang rendah pikirnya.
Berkali-kali Ye Chen mencoba mencari jalan keluar dari dunia ini tapi percuma saja, dunia ini seperti tidak berujung. Ia juga menelusuri tempat pertama Ia datang namun tidak ada tanda-tanda pintu keluar di sana.
Lama termenung sendiri, Ye Chen kemudian memutuskan untuk masuk ke dimensi cincinnya. Ia ingat silumam Kuda bertanduk dua dan benda bulat yang seperti telur yang dulu Ia masukkan.
Begitulah, harinya di sibukkan dengan belajar berkuda dan merawat dunia dimensi di cincin hijaunya.
Sampai suatu hari Ia menyadari sesuatu saat merawat kebun tanaman herbalnya. Waktu itu Ia menanam tanaman herbal yang ditemukan di du dunia dimensi kekaisaran.
Ketika Ia kembali lagi setelah beberapa lama berada di luar, Ia heran melihat tanaman yang ditanamnya belum tumbuh padahal menurut perhitungannya paling tidak tanaman ini sudah tumbuh satu atau dua helai daun.
Ia lalu keluar dan menanam tumbuhan yang sama lalu membandingkannya dengan tanaman di dalam dimensi cincin dan ternyata tanaman di luar lebih cepat besar.
Ia melakukan ini percobaan ini sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama, tanaman di luar lebih cepat besar.
"Oh ternyata di dimensi ini waktu lebih cepat berputar," Ye Chen lalu menghitung lagi. "Berarti satu hari di sini sama dengan satu jam di luar sana. Ini hebat." batin Ye Chen.
__ADS_1
Kalau begitu lebih baik aku berlatih dan mengeluarkan kuda-kuda itu pikir Ye Chen, lalu mengeluarkan semua siluman kuda dan membiarkannya bermain bebas di luar. Soal makanannya, Ye Chen tidak perlu kuatir. Dunia ini dipenuhi rerumputan hijau yang sangat banyak. Ye Chen hanya mengikat pemimpin siluman kuda yang berwarna hitam dan bertubuh paling besar saja.
Sesekali Ia juga menungganginya berkeliling.
"Oh benda ini bergerak, ternyata ini telur tapi telur yang sebesar ini." gumam Ye Chen ketika tanpa sengaja melihat benda yang dikira batu atau apalah itu bergerak.
"Nah kurasa dengan begini telur ini akan cepat menetas." Ye Chen membawa telur keluar dari dimensi cincin.
Kiaak... kiaaak...
Ye Chen memegang seekor hewan sebesar ayam yang Ia tidak tau hewan apa.
Dengan sabar Ye Chen menyuapinya dengan potongan daging kecil, merawat dengan penuh kasih.
Dua tahun berlalu, ini artinya sudah lebih dari satu bulan Ye Chen meninggalkan dunianya.
Banyak hal yang Ye Chen lakukan di dunia barunya. Apinya yang dulu berwarna merah, berevolusi menjadi api biru yang jauh lebih panas dari api merah.
Tehnik api dari Phoenix api sebagian telah Ia kuasai, begitu juga dengan tehnik dari sang Naga terutama tehnik auman Naga.
Ratusan pil penempa tubuh dan pil kultivasi, mulai dari pil Bumi sampai pil Langit menumpuk di dalam cincinnya.
Tahun ketiga, Ye Chen mulai gelisah. Ribuan pil yang sudah dibuatnya menghabiskan hampir seluruh sumber daya di kebun herbalnya. Dan yang paling membuatnya pusing adalah telur yang Ia tetaskan, yang ternyata adalah seekor burung Rajawali hitam yang terus tumbuh besar, Rajawali ini termasuk hewan legenda. Saat ini kekuatannya sudah setara dengan tingkat Bumi awal.
Meskipun Rajawali ini sangat patuh pada Ye Chen tapi nafsu makannya yang besar membuatnya kewalahan.
Semua hewan yang Ia lepas liarkan hampir habis, termasuk siluman kuda yang kini tidak lebih dari lima ekor saja.
Dulu memang Ia sering memasukkan hewan ke dalam cincinnya dan melepasnya kembali, dan berkembang biak dengan cepat akibat perbedaan waktu tapi apa daya semua di lahap si Rajawali.
Ye Chen bersiul memanggil Rajawali, menaiki dan berkeliling. Ini kerap dilakukan Ye Chen jika sedang suntuk.
Suatu waktu Ye Chen meminta burungnya terbang jauh lebih tinggi dari biasanya, ketika sampai di titik tertinggi, Ye Chen melihat satu celah kecil di sana. Begitu diraba, Ia merasakan sedikit getaran.
"eh, mungkinkah ini pusat dari segel formasi dimensi ini?" ucap Ye Chen dalam hati sambil mengingat-ingat kembali bab formasi di kitab peninggalan gurunya.
"Ketemu!" teriak Ye Chen senang lalu menempelkan telapak tangannya di celah pusat formasi.
Seluruh tempat bergetar, Ye Chen melepas tangannya dan, wuungg... Aray besar terlihat samar, berbagai simbol formasi tercetak di sana.
"Mungkinkah ini segel ruang waktu?" Ye Chen mengamati segel-segel pada aray dan mempelajarinya dengan teliti.
"Hahaha.... aku memang jenius." Ye Chen tertawa keras sambil melompat-lompat girang.
Bagaimana tidak, Ye Chen telah berhasil memecahkan misteri ruang waktu dan berhasil membuatnya meskipun hanya bisa memajukan waktu tidak lebih dari tiga hari.
"Saatnya keluar dari sini." kata Ye Chen dengan semangat.
"Kedua guru, terima kasih untuk semua yang anda berikan kepadaku. Aku berjanji menjaga anak keturunan kalian yang bersikap baik." Tanpa ragu Ye Chen bersujud sebuah batu besar yang sengaja Ia buat untuk mengenang dua hewan kuno yang memberi inti kehidupan sekaligus tehnik beladirinya.
__ADS_1