Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Membersihkan Gedung Paviliun Teratai


__ADS_3

"Dialah orang yang menjadi wakil paviliun kita dari kota Kenanga, paman Gu Yong Zheng yang merekomendasikannya."


"Aku ingat, dulu pernah ada pesan dari pamanmu. Orang itu, aku tidak akan memaafkannya." Gu Liang teringat pada pelindung paviliun yang berhianat padanya.


"Ayah istirahatlah." ucap Gu Xia lagi kemudian pamit mengundurkan diri setelah menyampaikan pesan Ye Chen bahwa jangan pernah meninggalkan ruangan ini sebelum Ia kembali.


"Putriku, apa kau suka pada anak itu?" mendapat pertanyaan yang tiba-tiba ini, Gu Xia yang sudah berbalik hendak pergi berhenti.


"Ayah aku pergi." sahutnya lalu bergegas meninggalkan kamar. Ia tidak mau ayahnya melihat wajahnya yang memerah.


Gu Liang hanya terkekeh pelan, Ia sangat mengenal putrinya.


Sementara itu di ruang bawah tanah tempat para penjaga terkapar, Ye Chen terlihat mengumpulkan apa saja yang Ia menurutnya berguna.


Sayang sekali orang-orang ini tidak mempunyai cincin penyimpanan atau kantung penyimpanan pikir Ye Chen.


"Nah kakak dan komandan, jaga diri kalian baik-baik yah. Aku pergi dan terima kasih untuk senjata kalian hehe..." Ye Chen meninggalkan ruang tahanan ini di iringi tatapan membunuh namun tidak berdaya.


"Oh aku lupa," kata Ye Chen sebelum pergi "Arak yang kalian minum sudah kucampur dengan racun pelumpuh syaraf, jangan samakan dengan racun yang kalian berikan pada para tawanan itu. Racun ini sepuluh kali lebih kuat."


Ye Chen kembali ke kamar Gu Xia, hari sudah hampir pagi. Ia ingin sedikit bernostalgia di kamar ini. Tak butuh waktu lama, Ia pun tertidur dengan pulas.


Ye Chen tidak kuatir Gu Xia akan datang, Ia telah menyuruhnya untuk mengambil semua keperluannya dan melarangnya untuk kembali, paling tidak untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman.


Sebetulnya Ye Chen bukannya sengaja masuk ke kamar Gu Xia sampai berpikiran aneh-aneh. Tujuannya adalah Ia sangat ingin masuk ke ruang pribadi ketua Gu Liang, Ia memiliki rencananya sendiri.


Pernah sekali waktu Ia membuka ruangan itu yang memang tidak pernah di kunci, hanya sayang Ia mendengar langkah seorang penjaga yang datang sehingga Ia mengurungkan niatnya.


"Mungkin inilah saatnya," gumam Ye Chen saat memastikan keadaan aman. "Semoga saja ruangan tidak dikunci juga."


Dan benar saja, ruangan ketua Gu Liang tidak dikunci sehingga Ye Chen dengan bebas dapat masuk ke dalam.


Dengan sabar Ye Chen memeriksa setiap sudut ruangan tapi tidak ada petunjuk yang berarti.


Sebelum pergi, Ye Chen meletakkan seguci kecil arak beracun. "Wahai arakku, tunjukkan pesonamu jangan mengecewakanku." ucap Ye sambil tertawa kecil, lalu kembali ke kamar Gu Xia.


Brakk...


Ye Chen yang memang sudah waspada mendengar suara meja di pukul keras sampai hancur.

__ADS_1


Lapat-lapat Ia masih mendengar suara seperti memaki dan memgumpat kasar.


"Kurang ajar! dasar tidak berguna! untuk apa aku membayar mahal kalian hah." teriak suara dari ruangan ketua Gu Liang.


"Pergi! cari sampai dapat, bunuh saja kalau perlu." Dua bayangan melesat pergi. "Dan kau, bunuh semua sampah penjaga itu." Satu bayangan lagi melesat dari ruangan ketua Gu Liang.


Prank...


Brakk...


Hancur, semua barang-barang di ruangan ketua Gu Liang hancur pecah berantakan.


Dia adalah pelindung paviliun Teratai yang berhianat. Ketika Ia kembali dan memeriksa tawanan yang akan dibawa, Ia sangat kaget dan marah.


Semua tawanan lepas dan para penjaga tergeletak tidak berdaya, dugaannya mengarah pada Ye Chen sesuai ciri-ciri yang penjaga tawanan katakan.


Masih belum puas, pelindung paviliun Teratai ini mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat sampai dapat di rasakan Ye Chen.


Ketika amarahnya sedikit reda, mata pelindung paviliun tertuju pada guci kecil yang ada di antara serpihan meja yang Ia hancurkan.


"Apa ini, seingatku tak pernah ada benda ini di sini," ucapnya lalu membuka tutup guci.


Brukk...


Suara inilah yang Ye Chen tunggu, Ia keluar dari persembunyiannya dan masuk ke dalam ruangan ketua Gu Liang.


"Hehe... cukup lama juga aku menunggumu jatuh." kata Ye Chen yang tanpa ragu mengambil cincin penyimpanan pelindung paviliun Teratai.


"Kau...."


"Apa kau," Ye Chen memotong perkataan pelindung paviliun. Gerakan Ye Chen selanjutnya sangat cepat, Ia menotok urat di leher pelindung paviliun ketika melihat sebuah bayangan di depan pintu yang terbuka.


"Hei ada apa ini." kata seorang pria yang batu masuk.


"Tuan tolong, tuan pelindung sepertinya terluka." Ye Chen sambil pura-pura memeriksa.


"Minggir!" bentak pria ini lalu memeriksa keadaan pelindung paviliun. Ia tak lagi memperhatikan Ye Chen yang tersenyum tipis.


Crass...

__ADS_1


Ye Chen memotong pria ini menjadi dua, darah memenuhi wajah dan pakaian pelindung yang memang berada dekat.


Dua bayangan melesat lagi, pria pertama adalah anak buah pelindung paviliun yang Ia tugaskan membunuh para penjaga sedangkan dua bayangan lain yang baru datang ini adalah anggota yang sebelumnya Ia tugaskan melacak keberadaan para tawanan dan Ye Chen.


Dengan gerakan seadanya, Ye Chen menyerang dua orang ini yang tentu dengan mudah dapat mereka hindari.


"Apa-apaan ini?" kata salah satu dari mereka.


Kembali bersandiwara, Ye Chen berkata. "Maaf aku kira musuh yang datang, lihatlah, ketika datang kesini dia mereka telah terbunuh.


Tanpa curiga sama sekali, kedua orang ini dengan cepat memeriksa rekannya yang tewas tapi naas nasib merekapun sama, tewas dengan tubuh terpotong. Ye Chen tidak peduli apa yang Ia serang, yang penting musuh di depannya ini tewas, itu saja.


"Beres! nah sekarang giliranmu." kata Ye Chen pada pelindung paviliun yang telah dibebaskan dari totokannya.


"Kurang ajaaar!!" dengan emosi yang meluap, pelindung paviliun memaki Ye Chen.


tenang saja kau pasti akan bernasib sama, kata Ye Chen sambil menginjak-injak kepala pelindung paviliun dengan santai.


Uhh...


"Eh kau belum mati?" ucap Ye Chen melihat asal suara, Ia melihat satu anak buah pelindung paviliun belum mati. Ini karena Ye Chen menyerang asal dan hanya memotong sebelah pundak dan tangannya.


Ye Chen kembali mengeluarkan pedang hitamnya dan membelah begitu saja pria yang kesakitan ini. "Nah sudah mati."


Begitu Ye Chen berbalik melihat pelindung paviliun, Ia tersenyum tipis.


"Sekarang katakan, siapa ketuamu dan kenapa kau mau membunuhku."


"Kau bunuh saja aku."


"Baik." tanpa ampun Ye Chen menusuk perut pelindung paviliun dan membunuhnya dengan sadis.


"Salahmu sendiri yang terlalu percaya dengan kemampuanmu, bodoh." kata Ye Chen yang tersenyum puas melihat isi cincin penyimpanan pelindung paviliun.


Ye Chen memeriksa seluruh ruangan di lantai dua, Ia membunuh siapa saja yang Ia temui tidak peduli orang itu minta ampun atau tidak. Ye Chen menganggap semua orang ini satu komplotan.


Di lantai satu, Ye Chen menunggu sampai hari gelap dan paviliun tutup sebelum membantai semua yang ada di sana.


Tidak lupa Ia menyegel gedung paviliun agar orang-orang tidak ada yang datang lagi. Lalu Ye Chen kembali ke penginapan menemui ketua Gu Liang tanpa mengganti pakaiannya yang penuh noda darah.

__ADS_1


__ADS_2