Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Pelajaran Untuk Murid Dalam


__ADS_3

Hari itu Ye Chen sedang berada di dapur seperti biasa, sudah beberapa hari ini dia menerima tamu dari murid-murid kelas sebelumnya yang menganggapnya sebagai senior mereka. Tujuan meraka datang mencari Ye Chen adalah untuk meminta masukan mengenai teori pelatihan.


Namun hari itu, tak ada yang datang lagi dan dapur pun sepi karena entah ada urusan apa sehingga murid-murid yang biasa bertugas di dapur, satupun tak ada.


"Kurang ajar sekali para murid dalam itu, wakil murid luar benar-benar dihabisi."


"Hah sayang sekali, tak ada murid luar yang berhasil."


"Apa kalian merasa murid dalam sangat keterlaluan?"


Satu persatu murid dapur masuk, mereka tampak asik membicarakan sesuatu.


"Oh ada senior Chen." ucap salah satu dari mereka yang menyadari kehadiran Ye Chen di dapur.


"Ada apa, kalian tampak sedang kesal." tanya Ye Chen.


"Itulah senior, kami baru kembali dari kompetisi akademi."


"Kompetisi akademi?"


"Apa senior tidak tau?" tanya salah satu dari mereka. Ye Chen menggeleng. "Aduh senior Chen, padahal acara ini satu tahun sekali. Begini, kompetisi ini khusus untuk murid luar yang ingin menjadi murid dalam."


Ye Chen ingat, tetua Lan pernah mengatakan tentang ini kepadanya. "Lalu kenapa kalian terlihat marah dan kecewa?"


"Kau tidak tau senior, hari ini adalah puncak kompetisi dan tak satupun murid luar yang berhasil menjadi murid dalam. Menurut kami semua, para murid dalam itu sangat keterlaluan karena membantai semua murid luar."


Membantai disini artinya menghabisi kesempatan murid luar. Jadi sistemnya adalah murid luar berhadapan langsung dengan murid dalam untuk mengambil satu tempat.


"Oh ya bukankah senior Chen juga murid luar? kenapa tidak ikut kompetisi?"


'Aku tidak tertarik." jawab Ye Chen singkat. "Oh ya menurutku jangan salahkan siapa-siapa, salahkan murid luar itu yang tidak cukup kuat." sambung Ye Chen lagi.


"Kalau itu, kami juga tau, tapi masalahnya murid luar terlalu keras, itu saja."


"Sudahlah, toh kompetisinya juga sudah berakhir, masih ada tahun depan untuk mencoba lagi." kata Ye Chen.


"Memang benar tapi yang membuat kami semua marah adalah ucapan beberapa wakil murid dalam, terutama orang itu. Ia berkata murid luar tidak ada yang berguna dan menantang siapa pun untuk melawannya dimana saja dan kapan saja."

__ADS_1


"Ia juga akan memberikan seluruh hartanya dan memanggil senior kepada siapa saja yang bisa mengalahkannya. Sombong sekali." murid itu mengakhiri ceritanya. Ye Chen hanya menggeleng saja, sama sekali tidak tertarik dengan cerita itu.


Ye Chen lalu pergi ke divisi informasi, Ia berencana akan mengambil misi baru lagi karena misi sebelumnya dinyatakan gagal karena melewati batas waktu yang ditentukan.


"Hei minggir! beri jalan...!"


Ye Chen yang sedang memasuki aula utama divisi informasi mengernyit ketika mendengar bentakan keras di belakangnya. Tampak beberapa murid berjalan sambil mendorong siapa saja yang ada di depannya.


"Apa kau tuli? minggir!" kata salah satu murid itu sambil mendorong Ye Chen.


Krekk...


Tangan yang mendorong itu patah sebelum menyentuh Ye Chen. Teman-temannya yang menyaksikan kejadian itu terdiam, tak menyangka ada yang berani mematahkan lengan murid dalam.


"Apa yang kalian tunggu, cepat habisi dia.!" teriak pria yang lengannya patah. Mendengar ini, mereka bergerak dan mengepung Ye Chen dan tanpa ragu mengeroyoknya.


"Kalian tidak pantas." kata Ye Chen. Ia hanya menunggu serangan datang lalu menghadiahi satu pukulan kepada mereka semua dan membuat mereka pingsan dengan dada remuk.


"Hei kau sini." Ye Chen memanggil salah satu murid yang tadi di dorong. "Lempar mereka semua keluar."


"Se-senior... aku tidak, tidak berani?" ucapnya dengan ketakutan,


"Oh adik Yue, kebetulan, lempar sampah-sampah ini keluar."


Murid-murid luar yang saat itu berada di sana terkejut dengan panggilan Yue.


"Kakak Chen...? mungkinkah dia senior Chen?"


"Aku baru ingat, ya, betul dia orangnya, senior Chen."


Murid luar serasa mendapat angin, tak ada murid luar yang tidak mengenal nama senior Chen, hanya saja sangat sedikit yang pernah melihatnya.


"Biar aku saja." kata seorang murid yang dengan berani maju untuk melempar murid dalam yang pingsan.


"Nah kau lihat kan adik Yue, aku tidak bersalah, mereka yang lebih dulu menyerang ku dan aku hanya membela diri saja." kata Ye Chen kepada Yue. Sebelumnya Ia bertanya dulu kepada semua penonton untuk manjadi saksi.


Yue hanya mengangguk, Ia juga tau Ye Chen tak mungkin memukul mereka begitu saja. "Senior Chen, yang ini belum pingsan." seru murid yang maju tadi.

__ADS_1


"Se-senior Chen...? tu-tunggu dulu, kenapa kau disini." yang berbicara ini adalah murid dalam yang lengannya patah tadi. Ia menatap Ye Chen yang kini berdiri di depannya.


"Aku bebas berada dimana saja." kata Ye Chen dan kembali memukul pingsan pria itu. "Nah sekarang kau bisa melemparnya."


"Tunggu, yang ini biar aku saja." Yue datang, entah kenapa Ia jadi ikut bersemangat. "Aduh, berat sekali." keluh nya ketika menarik pria itu.


"Tendang saja." kata Ye Chen dan Yue pun menendangnya tapi hanya sampai dekat tangga saja. Yue bukan tidak bisa menendang kuat, Ia hanya tidak tega saja.


Bugg...


Ye Chen bergerak, Ia menendang pria itu jauh keluar halaman. "Nah itu baru namanya menendang." katanya sambil tersenyum.


Mungkin karena kompetisi yang baru saja terjadi sehingga banyak murid luar yang tidak suka kepada murid dalam yang sombong sehingga tidak ada rasa kasihan melihat murid dalam itu. Sebaliknya, mereka kagum dan hormat kepada Ye Chen yang menurut mereka sangat berani.


"Senior Chen, yang ini... apakah tidak terlalu... dekat? Tiba-tiba seorang murid menunjuk murid luar yang sudah dilempar, yang posisinya masih di dekat tangga.


"Ya, kau benar, lempar lagi saja, ah bukan, tendang saja sampai dekat yang disana itu." maksud Ye Chen adalah pria yang Ia tendang.


"Senior, yang ini masih terlalu dekat."


"Ini juga senior."


"Kau ini bagaimana, seperti tidak makan saja. Lihat, begini caranya menendang.


"Hei jangan jauh-jauh, aku juga mau menendang."


Bukan hanya satu orang yang menendang tapi hampir semua ikut menendang, rasa puas terpancar dari wajah masing-masing murid luar. Kondisi murid dalam itu jangan ditanya lagi, tidak ada anggota tubuh mereka yang patah hanya tulang yang retak dan tubuh yang lebam-lebam.


"Senior semua sudah beres." lapor murid luar itu.


"Bagus, seharusnya kalian begitu. Jangan takut, hak kita disini sama, hanya beda murid luar dan dalam saja" kata Ye Chen.


"Ta-tapi senior, mereka itu sangat kuat dan kultivasi mereka...."


"Kenapa, takut mati? asal kalian tau, aku juga takut mati tapi kalau harus mati, aku lebih memilih mati secara terhormat dan gagah daripada hidup diinjak."


Ye Chen berbicara lantang, auranya sebagai raja Iblis sangat berwibawa, membuat semua yang ada disana semakin kagum tak terkecuali Yue.

__ADS_1


"Kakak Chen...." gumam Yue sambil menatap Ye Chen, entah apa maksud dari tatapannya itu.


__ADS_2