Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Leluhur Ras Peri Muncul


__ADS_3

Saat ini Ye Chen berada di pada puncak momentumnya, awalnya Ia hanya ingin membunuh orang yang bergerak di dalam Istana namun seiring waktu berjalan, Ia terus mengonsumsi rasa dendam dan benci yang ada di sekitar Istana, tubuh Ye Chen seperti sebuah lubang hitam yang terus menyedot kebencian di sana.


Sakit hati dan ketidakpuasan melahirkan kekecewaan dan berujung pada kebencian kemudian lahirlah dendam yang semakin membutakan mata hati. Perang besar yang baru saja terjadi di alam Peri melahirkan rasa ini.


Entah ini keuntungan atau mungkin malapetaka jika Ye Chen terus dalam kondisi ini. Ye Chen bukan lagi Ye Chen seperti sebelumnya, hatinya hampir mati.


"Ka-kaisar Iblis? mungkinkah tuan muda... ah ini tidak baik." Giro berkata dalam hati, dia yang tinggal dalam bayangan melirik Lin Yungtao dan mengirim sebuah pesan suara, "Saudara Lin, apapun yang terjadi, jangan pernah bergerak dari tempatmu. Hilangkan dendam dan benci di hatimu, bersihkan pikiranmu."


Lin Yungtao melirik Giro, "Ap-apa yang terjadi? kenapa senior Chen sangat menyeramkan?" tanyanya. "Bergerak mati! itu bukan sekedar kata, lihat di atasmu."


Lin Yungtao melirik ke atas kepalanya dan keringat dingin membasahi dahinya, sebuah pedang hitam besar telah muncul di sana. Memberinya teror yang sangat menakutkan.


"Katakan kepada yang lain, tunggu sampai tuan muda selesai." kata Giro lagi lalu diam.


"Cih apanya yang bergerak mati, apa kau pikir ...


Jlebb...


Belum selesai ucapan petinggi itu, pedang hitam di atas kepalanya langsung turun dan menusuk kepalanya, sesaat kemudian pedang hitam lain pun melesat dan menancap ke tubuhnya.


Sejak itu tak ada yang berani bersuara lagi.


Ye Chen berhenti, momentumnya perlahan menurun. Giro lagi-lagi melirik Lin Yungtao dan mengedipkan matanya, artinya ini saatnya dia memberitahu putri Jia.


Tadi Giro sempat memberitahu Lin Yungtao untuk menunggu tanda darinya, ketika melihat tanda darinya, Lin Yungtao harus segera memberitahu putri Jia agar memanggil Ye Chen.


Menurut Giro hanya putri Jia yang bisa membawa kembali Ye Chen. Giro tidak bisa memberitahu Putri Jia secara langsung, khawatir putri Jia lebih berduka dan malah mengacaukan semuanya, bagaimana pun juga Giro harus menyingkirkan gangguan sekecil apapun.

__ADS_1


Kuktivasi Ye Chen sekarang sudah di tahap Kaisar Iblis puncak. Jika Ye Chen terus mengonsumsi Qi dalam jumlah besar dan dalam keadaan tidak sadar, maka bisa dipastikan Ye Chen akan berubah menjadi Iblis Darah, Saat itu terjadi, tak ada lagi yang bisa menghentikan Ye Chen dan yang pasti dia akan terus diburu sepanjang hidupnya. Giro tak mau itu terjadi, Giro sudah siap mengorbankan nyawanya untuk itu.


Dengan mata penuh air mata, putri Jia memanggil Ye Chen. Salah sedikit saja atau jiwa Ye Chen merasa terganggu maka pedang hitam yang berada di atas kepalanya akan langsung menembus tubuhnya.


"Kakak Chen..." panggil putri Jia dengan lembut, dalam suaranya sama sekali tak ada rasa takut, benci dan lainnya, itu murni dari hatinya, seolah siap menemani jiwa Ye Chen yang kesepian.


Tubuh Ye Chen bergetar sesaat namun kembali diam, jiwanya bereaksi dengan suara putri Jia.


"Kakak Chen, kembalilah... tunggu aku."


Pedang hitam di atas putri Jia bergetar hebat, sementara Giro yang sejak tadi telah siap bergerak semakin waspada.


"Aku tau... Adik Jia, terima kasih."


Untuk pertama kalinya, Ye Chen bersuara. Ia berbalik dan menatap putri Jia dengan lembut, lalu mengangguk dan berjalan pelan meninggalkan Istana.


Trakk...


"Giro, kita pulang, panggil yang lain. Tinggalkan jika tidak mau."


"Selamat datang kembali tuan." balas Giro. senyum bahagia muncul dari bibirnya. Lalu, tangannya melambai mengajak pasukan seratus untuk kembali. Tidak satupun dari mereka yang tinggal.


Sepanjang jalan sampai keluar dari Istana, ratusan orang tewas terbunuh oleh pedang hitam. Kondisinya sama seperti petinggi di dalam Istana, seluruh tubuh tertancap pedang hitam. Bahkan pedang hitam itu masih terus ada di sana seolah enggan untuk meninggalkan mangsanya. Giro hanya bisa menggeleng pelan, tak ada yang bisa Ia lakukan, baginya keselamatan Ye Chen adalah yang utama.


Di dalam Istana, suasana masih sangat mencekam. Pedang hitam berselimut kabut tipis itu belum juga hilang, tiba-tiba seorang petinggi memaki. "Akhirnya Iblis itu pergi juga, aku ...


Jlebb...

__ADS_1


Pedang hitam kembali bergerak. Perasaan lega ketika Ye Chen pergi seketika hilang, ternyata pedang hitam itu masih aktif. Ini membuat seisi Istana kembali terdiam.


Beberapa pedang hitam itu berubah menjadi bayang-bayang setelah Ye Chen sampai di medan perang sebelumnya, meski begitu, belum ada yang berani bergerak karena mereka masih bisa merasakan kekuatan pedang hitam yang belum hilang sepenuhnya.


Ye Chen yang ingin menggunakan portal di rumah hutan Paman telah sampai di sana, seiring dengan itu beberapa bayangan pedang telah hilang sepenuhnya. Di Istana, Lin Yungtao dan ayahnya, Paman serta Ibu Ratu telah sepenuhnya bebas dari bayangan pedang hitam sementara yang lain masih tertekan.


"Kalian masuklah terlebih dahulu." Ye Chen meminta pasukan seratus untuk masuk ke dalam portal, meninggalkan Ye Chen dan Giro di luar.


"Setelah aku pergi dari sini, kalian tidak akan punya kesempatan lagi." Ye Chen mengirim gelombang suara, tapi cukup jelas sehingga Giro yang disampingnya juga bisa mendengar nya.


"Tuan, ini...."


Giro heran dengan sikap Ye Chen yang membebaskan belati Iblis dan memandang ke langit di atas Istana.


"Kalau aku bergerak, kau pergilah dan hancurkan portal ini." ini jawaban atas pertanyaan Giro.


Namun setelah beberapa saat, suhu yang tadi tiba-tiba dingin perlahan menghilang seiring dengan suara Ye Chen yang mengajak Giro pergi.


Ye Chen juga menghancurkan semua portal yang dibuatnya selama perang, termasuk portal yang ada di Istana, dengan begitu tak ada lagi yang bisa datang ke bukit Nannan. Ye Chen memutus hubungan itu, kecuali putri Jia yang bebas pergi menggunakan token khusus.


Sepeninggal Ye Chen dan Giro, di atas langit muncul bayang-bayang. Awalnya hanya beberapa namun tak lama kemudian muncul satu kelompok yang berbaris rapi dengan pedang terhunus.


"Keturunanmu membuat masalah besar kali ini." kata seorang yang berdiri di depan kepada orang yang ada di sampingnya.


Yang di tanya menghela nafas, dari fisiknya bisa dilihat dengan jelas kalau Ia adalah ras Peri. Tubuhnya tinggi dan tegap, ada semacam aura yang kuat. "Anak bodoh itu." ucapnya dengan geram.


"Tetua, waktu dia melihat kesini tadi, jiwaku langsung bergetar. Kenapa anda tidak turun? atau apakah jiwa anda juga bergetar?"

__ADS_1


"Hah apa kau bodoh? jika aku bergerak, alam ini pasti hancur. Meskipun dia juga tidak akan selamat tapi aku tak mau mengambil resiko itu." kata Tetua Peri itu lagi yang ternyata adalah leluhur dari tas Peri.


"Kau lihat bayangan pedang itu, meskipun tinggal bayang-bayang nya saja tapi itu masih sangat kuat." lanjutnya lagi.


__ADS_2