Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Mencari Jejak Aura Raja Iblis


__ADS_3

Karena puteri Jia menolak dengan keras dan mengancam akan pergi dari istana, maka akhirnya pernikahan akan dibatalkan. "Jia'er, itu hanya penetapan pernikahan saja, bukan menetapkan siapa yang akan menjadi pasanganmu." ibu ratu masih mencoba menyadarkan puteri Jia.


"Ibu, itu sama saja. Sudahlah Ibu jangan memaksaku lagi." rengek puteri Jia dalam tangisnya. Bukan saja hatinya telah tertambat pada Ye Chen tapi kebebasannya akan terbatas setelah menikah nanti.


Akhirnya ibu ratu menyerah dan tidak memaksa puteri Jia lagi. Tapi meskipun pernikahan sudah dibatalkan, namun para pemuda masih saja bersaing untuk mendapatkan perhatian dari puteri Jia.


Suatu hari, karena bosan dengan keadaan ini, puteri Jia yang sedang berlatih berkata kepada Paman. "Aku ingin menyerap kristal inti es."


Paman tidak terkejut dan Ia paham betul kenapa secepat itu puteri Jia ingin meningkatkan kekuatannya, "Anda yakin tuan puteri?" tanyanya menyakinkan puteri Jia.


Puteri Jia hanya mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan mengaturnya, besok temui aku di hutan sebelah selatan. Sebelumnya aku mohon pamit." kata Paman lagi, Ia ingin menemui Kaisara dan Ibu ratu untuk melaporkan hal ini.


Dia sendiri tidak tau berapa lama puteri Jia menyerap kristal inti es. Jadi ini orang tua puteri Jia harus tau agar tidak khawatir.


Keesokan harinya, puteri Jia pergi ke tempat yang ditentukan dan sejak hari itu puteri Jia tidak pernah lagi keluar dari pelatihannya.


...


"Jadi kau membunuh Youpi?" guru Baji seolah tidak percaya apa yang Ye Chen katakan. Ia juga tau bahwa Youpi telah tewas tapi tidak pernah menyangka Ye Chen lah yang membunuhnya.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? apa kau akan mengejar raja Iblis lain?" tanya guru Baji lagi.


Ye Chen buru-buru berkata tidak. Ia yang tadinya sangat ingin bertemu raja Iblis sekarang tidak akan mencari lagi sebelum bertambah kuat.


"Aku jadi ragu, raja Iblis Youpi saja aku hampir tewas. Aku tidak yakin dengan yang lain, apalagi mereka pasti sedang bersiap." kata Ye Chen.


"Kau benar, pasti sekarang Sumo dan Mema meningkatkan penjagaan dan kau hanya akan mengantar nyawamu kalau mencarinya sekarang."

__ADS_1


"Guru Baji...


"Tunggu dulu," potong guru Baji. "Apa setelah Youpi tewas kau menemukan sesuatu? itu seperti bola kecil berwarna hitam."


Ye Chen menggeleng, "Dimensi itu hancur, aku juga hampir saja tewas kalau tidak cepat lari." Ye Chen bukan mau berbohong atau sengaja menyembunyikan sesuatu. Instingnya mengatakan untuk tidak memberitahu siapapun perihal benda yang Ia temukan.


"Huff sayang sekali, itu adalah inti kehidupan Youpi. benda itu bisa membantu kultivasi."


Ye Chen yang melihat kekecewaan pada wajah guru Baji sempat terdiam sejenak, baru kali ini Ia melihat ketidakpuasan pada guru Baji. "Keputusanku sudah tepat." ucap Ye Chen dalam hati.


"Sudahlah, apa yang ingin kau tanyakan."


Ye Chen melihat guru Baji sebentar, hatinya yang sempat waspada buru-buru Ia hilangkan, Ia lalu berkata. "Bisakah anda memberitahu tentang Ibuku?"


"Oh itu, hanya tau sedikit." jawab guru Baji, Ia lalu menceritakan apa yang Ia tau.


"Ayah dan Ibumu tidak sengaja bertemu. Waktu itu mereka sama-sama menuntut ilmu di akademi alam atas. Sayangnya akademi itu sudah lama hancur dan tidak pernah dibuka kembali."


"Kalau begitu Ibu sangat kuat."


"Ingat, Ibumu telah di usir dan haknya sebagai seorang Peri telah dicabut. Kau tak bisa pergi ke alam Peri begitu saja dan mengaku sebagai putera Ibumu."


Guru Baji mendekati Ye Chen, Ia berkata setengah berbisik. "Ikuti jejak aura bayangan Sumo dan Mema kalau kau ingin ke tempat mereka. Kau ingat waktu keluar dari sini dan mendapat serangan mereka? nah itu adalah pecahan jiwa yang bisa menuntunmu."


Selesai mengucapkan ini, guru Baji berbalik dan pergi. "Oh ternyata begitu." gumam Ye Chen yang kemudian pergi kembali ke alam atas semu mencari jejak aura Sumo dan Mema sekaligus akan menyerap inti kehidupan raja Iblis Youpi.


Ye Chen terus berkonsentrasi mengikuti jejak aura raja Iblis Sumo dan Mema, aura itu sudah sangat tipis sehingga Ia butuh energi yang lebih besar. Tidak lama kemudian Ia berhasil menemukan dan menandainya lalu memutuskan untuk kembali ke wilayah Ye.

__ADS_1


Wilayah Ye, dulunya adalah kota Shinyang. Kini berkembang jauh lebih pesat. Pasar gelap yang dulu identik dengan kota Shinyang kini tak ada lagi. Diganti menjadi pasar umum. Bisa dibilang tempat ini telah menjadi pusat dari alam semu.


Ye Chen tidak terburu-buru, Ia ingin singgah sebentar melihat-lihat kota dan mencicipi masakan rumah makan yang memang banyak di sana. Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah rumah makan dengan menu andalannya adalah mie kuah.


"Ketua, apa anda yakin dengan rencana ini?"


Tak jauh dari meja Ye Chen, duduk sekelompok orang yang sedang berdiskusi tentang sebuah rencana, awalnya Ye Chen tidak peduli tapi ketika mendengar mereka menyebut wilayah Ye dan menyinggung namanya, Ia menjadi penasaran.


"Apanya yang tuan Ye, hah kalau dia sekarang berada di sini akan kupatahkan kakinya hahaha...."


Ini adalah ketua sekelompok orang itu, mereka datang dari jauh karena mendengar tentang wilayah Ye yang makmur dan berniat meminta separuh dari wilayah Ye.


"Ketua, mereka datang." seorang anak buahnya datang melapor, yang datang adalah Jiang Kun yang mewakili wilayah Ye. Ia datang bersama dua orang pelindung.


"Jiang Kun." gumam Ye Chen, Ia segera menghilangkan auranya keberadaannya, ingin melihat lebih jauh masalah apa yang sekarang terjadi.


"Tak usah banyak omong! kukatakan sekali lagi, aku ingin separuh wilayah ini menjadi milikku." kata ketua itu, Ia menggertak dengan aura tingkat Surgawi.


Bress...


Aura yang kuat merembes, membuat Jiang Kun dan pengawalnya serta orang-orang di rumah makan itu jatuh terduduk.


"Tingkat Surgawi menengah. Ini menarik." ucap Ye Chen dalam hati, belum pernah bertemu tingkat Surgawi kecuali Paman dari alam Peri.


"Bagaimana? apa kau mau aku ke tempatmu dan menghancurkan seluruh wilayahmu?" ketua sesumbar lagi sambil menarik kembali auranya.


Jiang Kun tak berkutik, Ia hanya diam tak berani mengambil keputusan. Ia tak mungkin setuju tapi kalau tidak, semua orang akan tewas. Benar-benar sebuah pilihan yang sulit.

__ADS_1


"Jiang Kun,sepertinya kau dalam masalah."


"Tu... tuan Ye, anda di sini?" Jiang Kun kaget sekaligus senang, di depannya, Ye Chen berdiri dengan tersenyum ramah. Ia kemudian bersoja dan berdiri di belakang Ye Chen diikuti dua orang pengawalnya.


__ADS_2