Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Song Fei Yang Harum Mewangi


__ADS_3

"Racun ini menyerang organ dalam, terutama hati. Tidak berbahaya tapi bila terkena racun ini, seluruh kemampuan yang dimiliki akan tidak berguna."


"Apakah tuan muda bisa menyembuhkannya?" tanya pemimpin desa Bunga yang merubah panggilannya setelah Ye Chen mengatakan lebih senang jika dipanggil pemimpin.


Bisa menyembuhkan? Ye Chen juga ragu. "Mungkin saja, untuk itu aku harus melihat tempat pertama Ia ditemukan, mungkin ada petunjuk di sana."


"Anda bisa pergi bersama Song Fei, waktu itu dia juga ikut bersama pemburu lain saat menemukan Angsa Pelangi. Maaf aku tidak bisa mengantar tuan muda, masih banyak tugas yang harus selesaikan." kata pemimpin desa Bunga.


"Tidak masalah, aku mengerti." balas Ye Chen dan meminta Song Fei mengantar ke taman. Ye Chen sendiri ingin memeriksa lebih jauh kondisi siluman Angsa Pelangi.


Tidak berapa lama, Song Fei datang menemui Ye Chen dan pergi bersama menuju tempat pertama kali siluman Angsa Pelangi ditemukan.


Perjalanan ini tidak butuh waktu yang lama, menjelang malam mereka akhirnya tiba di sebuah telaga berair jernih.


"Di tepi telaga inilah kami menemukannya, waktu itu kondisinya sangat payah. Separuh badannya tenggelam dalam air."


Aura dingin dari telaga masih bisa dirasakan Ye Chen meskipun sangat tipis, mungkin inilah penyebabnya pikir Ye Chen.


"Kita istirahat dulu, besok kita lanjutkan kembali." Ucap Ye Chen, Song Fei hanya mengangguk dan mulai membangun dua tenda untuk bermalam.


"Hei kenapa kau membangun dua tenda? satu tenda saja sudah cukup untuk kita berdua tidur bersama." Kalau saja Ye Chen bisa melihat wajah Song Fei yang memerah mendengar ucapannya, mungkin Ia akan lebih heran lagi.


Tidak menggubris ucapan Ye Chen, Song Fei mempersilahkan Ye Chen mengambil satu tenda.


Ye Chen membuat api dan memanggang ayam hutan yang masih tersisa di dalam dimensi cincinnya.


"Nih ambillah!" Ye Chen melempar paha ayam bakar untuk Song Fei yang segera Ia makan.


"hm... lagi-lagi bau ini." Ye Chen melirik Song Fei dan merasakan angin berhembus dari arahnya. "kenapa anak ini, wanginya seperti perempuan saja, apa jangan-jangan dia ini termasuk penyuka batangan...? hii...." Ye Chen buru-buru masuk ke dalam tendanya, Ia tidak peduli lagi dengan sisa ayam yang belum Ia habiskan.


Hari ketiga, tampak Ye Chen memulai lagi pencariannya. Selama dua hari ini Ia tidak menemukan apa-apa selain tanaman herbal kelas rendah yang memang bertipe es tapi tidak seberapa dingin untuknya dan juga untuk Song Fei.


Hewan air seperti ikan dan belut yang banyak di telaga ada juga yang dagingnya dingin. Ini wajar, karena mungkin saja mereka memakan herbal yang tumbuh subur di telaga. Sama sekali tidak ada yang aneh di tempat ini.

__ADS_1


Menjelang sore saat Ye Chen selesai memanggang ikan besar yang menjadi menu makan mereka selama di telaga sedikit heran dengan Song Fei yang sejak pagi tidak keluar tenda.


"Apa dia sakit?" batin Ye Chen. "Ah mungkin dia sedang berkultivasi." pikir Ye Chen lagi lalu masuk tendanya, mengekstrak tanaman herbal dan meminumnya.


Bukan iseng, hanya penasaran saja. Mungkin bisa menemukan sesuatu dari tanaman bertipe dingin ini. Ye Chen juga tidak kuatir, Ia yakin tidak akan terpengaruh dengan racun yang dingin ini.


"Ah anak ini membuat orang kuatir saja." gerutu Ye Chen yang tidak bisa berkonsentrasi mengingat Song Fei. Rasa penasarannya melebihi kengeriannya berdekatan dengan penyuka batangan.


Ye Chen menyibak tenda Song Fei dan bertanya keadaannya. "Apa kau baik-baik saj... a...?"


Song Fei tergeletak di lantai, Ye Chen yang semula bertanya merasakan sesuatu yang tidak beres.


Ia menepuk-nepuk pipi Song Fei sambil berkata, berusaha menyadarkannya.


"Song Fei... Hei bangunlah apa yang terjadi?" Tidak ada respon dari Song Fei.


Dingin, Ye Chen kaget ketika ingin membantu Song Fei naik ke pembaringan, tubuhnya dingin. "Jangan-jangan Ia terkena racun, tapi kapan?"


Ye Chen duduk di belakang Song Fei mencoba mengusir dingin dengan mengalirkan energi panas ke dalam tubuhnya. Merasa cukup, tubuh Song Fei Ia bopong ke pembaringan lalu membuka kancing bajunya.


Perlahan baju Song Fei terbuka, Ye Chen berniat mengalirkan langsung hawa panas melalui dantian Song Fei dan ini harus di lakukan langsung menyentuh kulit.


"Harum...." batin Ye Chen ketika membuka baju Song Fei. Ia tidak menggubris pakaian Song Fei yang berlapis.


"Ini... ... "


Ye Chen kehabisan kata-kata, kini Ia bisa melihat dengan jelas seluruh tubuh bagian atas Song Fei yang putih mulus.


Yang paling membuat Ye Chen terpesona adalah sepasang bukit kembar yang berdiri kokoh di balik kain yang menutupinya.


Reflek, jari telunjuk Ye Chen menusuk-nusuk bukit kembar Song Fei.


Tsuk... tsuk...

__ADS_1


Kenyal dan padat, bukit itu hanya bergoyang sedikit lalu diam. Terakhir, Ia memegang puncaknya.


"Ini asli...."


"Aduh apa yang kulakukan ini?" Wajah Ye Chen memerah, tangannya bergetar, dadanya naik turun menahan sesuatu yang aneh dari dalam.


"Siaaal... kenapa jadi begini, kenapa juga aku tidak tau kalau saudara Song Fei... ah bukan, nona Song Fei adalah wanita." Ye Chen berusaha tenang, Ia mulai mengatur nafas membuang semua pikiran aneh.


Ini adalah kali pertama Ye Chen melihat tubuh seorang wanita dan membuatnya memiliki dorongan hasrat.


Setelah pikirannya tenang, Ye Chen kembali mendekati Song Fei yang masih terlentang. Telapak tangan perlahan Ia letakkan di atas perut Song Fei, di bawah pusar untuk mengalirkan hawa hangat.


Cukup lama sampai Ye Chen bisa tenang.


"Selesai, sekarang tinggal menotok tiga titik itu." batin Ye Chen dengan tangan gemetar.


Titik pertama di atas pusar, dua titik lainnya adalah dada sebelah atas kiri dan kanan. Ini artinya Ye Chen harus memegang dua bukit kembar itu, Ia harus meraba untuk menemukan titik dengan akurat.


Akan mudah jika bisa melihat langsung tapi tidak mungkin juga Ye Chen membuka penutup dada itu.


Titik pertama selesai, tangan Ye Chen masuk dari bawah penutup dada. Ingin rasanya meremas ketika tangannya melewati bukit.


Wangi harum tubuh Song Fei yang begitu dekat membuat tangannya beberapa kali menyenggol puncak bukit.


"Tidak... aku bukan pria mesum." Ye Chen memantapkan hati dan mulai mencari titik kedua dan ketiga dan menotoknya.


Terakhir, Ye Chen memasukkan sebutir ke mulut Song Fei. Song Fei melenguh kecil.


"Gawat...." Ye Chen baru sadar, Song Fei tidak boleh melihatnya di sini. Ia bergegas keluar tenda dan membuang nafas lega.


"Aduh, lupa..." Ye Chen kembali masuk ke tenda dan merapihkan kembali pakaian Song Fei.


Setelah memastikan tidak ada yang salah, barulah Ye Chen keluar dan masuk ke tendanya sendiri.

__ADS_1


Song Fei yang melenguh kecil mulai sadar, rasa dingin dan menusuk yang Ia rasakan sebelumnya mulai hilang berganti dengan rasa hangat. Perlahan Ia membuka matanya dan mengedarkan pandangannya sampai menyadari dirinya berada di pembaringan.


Wajah Song Fei memerah dan panik tapi hatinya lega setelah memeriksa pakaiannya.


__ADS_2