Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Dia Keponakanku


__ADS_3

"Sudahlah, atur saja pasukanmu." Paman tau, wakil komandan itu hendak menyangkal Ye Chen adalah keponakannya, tidak ada bangsa Peri yang bertempur seperti Ye Chen. Bukan masalah membunuh, semua prajurit tak pernah takut membunuh hanya saja semua korban Ye Chen tewas mengerikan.


"Baik Paman, oh ya siapa nama anak muda itu?"


"Oh tuan, eh? Mm namanya Chen, panggil saja saudara Chen." sahut Paman, hampir saja Ia mengatakan tuan Chen. Mana ada seorang paman yang memanggil keponakannya dengan sebutan tuan.


"Tuan Chen... baik, terima kasih sebelumnya sudah membantu." wakil komandan itu lalu pergi setelah mewakili pasukannya mengucapkan terima kasih.


Entah siapa yang memulai, di tengah pertarungan itu nama tuan Chen atau saudara Chen terdengar. Hampir semua prajurit sudah mengenalnya dan tau siapa Ye Chen.


Sementara itu, ditempat lain, Ye Chen yang tengah memperhatikan pertempuran antara panglima muda bersama empat komandan pasukan dan Kirin terlihat beberapa kali memejamkan matanya dan menelan pil pemulih. Ini karena klonnya bertempur dengan brutal namun Ye Chen menikmatinya, tak ada rasa lelah atau menyesal karena ikut membantu pasukan Peri.


Sampai ketika Paman datang dan menghampiri klon Ye Chen. "Tuan Chen, istirahatlah dan obati dirimu, lihat tubuhmu penuh luka." kata Paman yang mengkhawatirkan keadaan Ye Chen. Sayangnya itu hanya klon dan klon tidak bisa berbicara.


"Aduh Paman, kenapa juga di harus datang." gerutu Ye Chen yang asli, Ia masih belum mau memperlihatkan tehnik itu pada siapapun.


Klon Ye Chen terdiam sebentar, melihat Paman dengan tatapan kosong lalu berbalik pergi ke belakang pasukan, dari sana klon ini tiba-tiba saja lenyap. Paman hanya menggeleng lalu mengangkat bahunya. Ia tidak tau klon itu telah pergi, yang Ia tau Ye Chen mendengar perkataannya dan pergi beristirahat.


Sedangkan Ye Chen yang memanggil kembali klonnya berdiam diri, menstabilkan kekuatannya kembali. Ketika Ia membuka matanya, pertempuran dengan panglima dan Kirin masih terus berlangsung. Kini hanya panglima dan komandan pasukan yang masih bertahan, dua komandan lain telah pergi untuk memulihkan diri karena terluka.


Ye Chen mulai gelisah, tatapannya mulai berubah, ada sedikit niat membunuh di sana. "Jadi apa yang aka kulakukan? apakah kubunuh saja komandan itu dan membantu Kirin mencabik-cabik tubuh panglima? atau membunuh Kirin terlebih dahulu dan memenggal kepala komandan?" berbagai pertanyaan muncul di benak Ye Chen, Ia bingung yang mana dulu yang harus Ia bunuh.


"Hais, bagaimana ini?"


Ye Chen pusing sendiri, Ia memang sangat ingin menghancurkan kepala komandan yang tadi ingin membokong dan membunuhnya dan memberi pelajaran kepada panglima muda agar tidak terlalu sombong tapi di sana ada Kirin, Ia tak mau Kirin itu kabur ditambah lagi waktu yang semakin mendesak, mungkin sebentar lagi Paman atau prajurit lain ada yang akan datang.

__ADS_1


Dan benar saja, tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara prajurit yang datang.


"Sial mereka datang." Ye Chen mengumpat, mau tidak mau Ia keluar dari persembunyiannya dan menyerang Kirin, membantu panglima dan komandannya.


"Hei hati-hati, lihat di sekitarmu kalau mau menyerang." teriak si komandan. Untuk melampiaskan kekesalannya, Ye Chen memang sering sekali melempar bola api ke arah komandan yang memang sudah sangat letih.


Sementara panglima muda itu hanya diam saja, bukan tidak sadar akan perbuatan Ye Chen tapi untuk mencegahnya juga sudah tidak mungkin lagi. Apalagi Ye Chen juga membuatnya seperti tidak sengaja.


"Lihat, itu tuan Chen."


"Saudara Chen, ternyata kau di sini."


Beberapa prajurit yang datang sangat senang ketika melihat Ye Chen membantu panglima mudah dan komandan. Berturut-turut datang juga Paman dan dua komandan lain dan tak lama kemudian tempat itu sudah dikepung oleh seluruh pasukan Peri. Tak ada jalan lain bagi Kirin.


Kirin berteriak marah, Ia sungguh tidak menduga hal ini akan terjadi, awalnya Ia merasa sanggup membunuh panglima dan komandan tapi karena Ye Chen tiba-tiba saja muncul, rencananya langsung gagal.


"Awaass...! menjauh dari sana."


Paman yang melihat dan menyadari ini, berteriak keras namun sudah terlambat bagi panglima muda dan komandan untuk lari.


"Tuan Chen, selamatkan panglima. Cepat, sebelum terlambat."


Paman kembali berteriak, Ia tau dengan jelas Ye Chen dapat menyelamatkan panglima dan komandan. "Paman ini merepotkan, atau sebaiknya kubunuh saja?" ucap Ye Chen dalam hati, tapi Ia cepat menepis pikiran ini. Paman adalah guru puteri Jia, tak mungkin Ia membunuhnya begitu saja.


"Heh panglima muda sialan, aku ingat ucapanmu pada komandanmu itu, bersyukurlah kau hanya ingin memberiku peringatan dan tidak berniat membunuhku seperti komandamu itu." kata Ye Chen dengan sinis.

__ADS_1


"Tu-tuan Chen, aku benar-benar minta maaf." ucap panglima muda, Ia sangat menyesal. Orang yang tidak begitu Ia suka ternyata adalah orang yang menjadi harapan terakhirnya untuk hidup.


"Bisakah anda menyelamatkannya ju-ga... aaahh...


"Berterima kasihlah pada Paman." ucap Ye Chen lalu dengan kuat menendang dada panglima muda sampai terlempar jauh ke arah Paman.


Saat itu Kirin sudah hampir meledak, panasnya sampai terasa ditempat Paman berdiri. Si komandan itu sudah dari tadi terbakar dan menjadi abu, Ye Chen sama sekali tidak berniat menolongnya.


Jangankan tingkat Surgawi, tingkat Dewa awal saja pasti akan menjadi abu. Untungnya Ye Chen telah menstabilkan kekuatannya dan juga sudah menyerap inti Kirin sebelumnya sehingga panas dari api itu tidak akan berpengaruh tapi lain cerita jika Kirin itu meledak, Ia pun pasti akan menjadi korban.


"Heh, mau meledakkan diri? tidak semudah itu wahai daging rebusku." kata Ye Chen sambil mengibaskan tangannya, membuka penjara kegelapan untuk Kiri.


"Hahaha matilaaah...." teriak Kirin yang sebelum meledak. "Eh? dimana ini... apa aku sudah mati, inikah dunia bawah itu?" Kirin menjadi bingung, Ia tadi hendak meledakkan diri tapi tiba-tiba Ia sudah berada di dalam kegelapan, Ia sendiri tidak tau apa sudah tewas meledak atau belum.


"Tenanglah di sana, kalau banyak bergerak, nanti dagingmu keras dan alot hehe...."


"Si-siapa, cepat tunjukkan dirimu."


Bukan jawaban yang Kirin terima melainkan siksaan yang tidak pernah Ia bayangkan, Ia dibakar hidup-hidup dan direndam dalam es yang sangat dingin. Begitu terus sampai Ia tewas di dalam penjara kegelapan.


Setelah memastikan kematian Kirin, Ye Chen yang dari tadi menutup matanya karena ingin konsentrasi penuh membunuh Kirin kini membuka matanya. "Selesai." ucapnya dengan senyum puas.


"Tuan Chen, kemana Kirin itu? apakah sudah tewas atau dia berhasil kabur?" tanya Paman yang datang mendekati Ye Chen.


"Dia telah kembali ke alamnya." jawab Ye Chen singkat.

__ADS_1


"Hidup tuan Chen...."


"Hidup saudara Chen...."


__ADS_2