Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Menuju Wilayah Selatan


__ADS_3

Kehidupan akademi Langit berjalan seperti biasa, meskipun banyak beredar kabar mengenai kemelut di alam Peri namun lambat laun berita itu pun surut dan akhirnya tak ada lagi yang membicarakan itu selain para tetua Akademi, mereka menyorot lahirnya kaisar Iblis baru, sayangnya tak ada yang tau siapa.


Hari itu tampak seorang gadis duduk termenung sorang diri. Sudah beberapa hari ini dia seperti itu, duduk lalu pergi dan tak lama kemudian kembali lagi ketempat itu. Usia gadis itu sekitar tujuh belas tahun, kecantikannya tak biasa, bila ada seseorang melihatnya dari dekat dan dalam waktu yang lama, maka dia pasti menyadari rambut gadis itu berwarna merah atau kadang terlihat berwarna merah, meskipun tipis.


Gadis itu adalah Yue, gadis yang sudah Ye Chen anggap adik sendiri. Sejak Ye Chen pergi dia seperti kehilangan sesuatu, entah apa.


Hampir semua tempat yang pernah Ye Chen singgahi di Akademi telah didatanginya namun jawaban dari orang-orang di tempat itu tetap sama, tak tau kemana Ye Chen pergi dan hari itu adalah puncak dari kekesalan hatinya.


"Kakak Chen, sebetulnya kamu ini pergi kemana? kau sangat jahat, meninggalkan aku sendiri." gumamnya sambil menopang dagu.


Setelah lama duduk dan seperi berpikir, Yue akhirnya bangkit dan berkata dalam hati.


"Kakak Chen, aku sudah menunggumu lama tapi kau tetap tidak muncul, padahal aku hanya ingin berpamitan. Kakak Chen aku harap kita akan bertemu kembali."


Lalu Yue pun pergi, langsung menuju gerbang akademi.


"Tuan putri, akhirnya anda keluar dari akademi." seorang pria menghadang jalan Yue.


Yue tidak kaget, tidak juga berusaha menghindar. Ia malah tersenyum riang dan berkata, "Salah sendiri, kenapa kalian tidak masuk dan menjemputku."


Pria itu tersenyum masam, siapa pun tau, tidak boleh ada seorang pun yang berani masuk akademi dan membawa pulang salah satu murid di sana tanpa izin.


"Jadi untuk apa tuan putri memanggil kami?"


"Pulang?"


"Tentu saja, kau pikir kemana lagi? apa kalian tidak bosan di sini? apakah istrimu atau pacarmu atau mungkin selingkuhanmu tidak ingin kau temui."


Yue memang lain, dia akan mengucapkan kata-kata yang ada di kepalanya tanpa berpikir itu pantas atau tidak.


"Masih diam di sini? aku, kalau tidak kasihan pada kalian semua, sudah pergi tanpa memberitahumu. Heh akan kulihat bagaimana ayah menghukum kalian jika aku pulang tanpa kalian."


Setalah itu Yue berjalan pergi, tak memikirkan pria itu lagi.

__ADS_1


"Tunggu apalagi! cepat siapkan perahu terbang!" pria itu lalu berbalik dan berteriak marah. Seketika itu juga, dari samping jalan tampak banyak bayangan melesat ke satu arah. Sementara pria itu berlari mengejar Yue. "Tuan putri tunggu! tunggu sebentar."


"Tuan putri, perahu terbangnya ke arah sini, silahkan."


"Tunggu sebentar, aku akan membeli sesuatu."


Yue melesat pergi tanpa menunggu pria itu, dan tentu saja pria itu juga pergi menyusul Yue.


Yue ternyata pergi ke sebuah rumah makan untuk membeli makan, membungkus hanya satu jenis makanan dan membeli satu guci penuh bumbu makanan.


Di perahu terbang.


Yue membuka makanannya, itu adalah sayur campur-campur yang biasa Ye Chen bawa pulang untuknya kalau sedang keluar akademi.


"Perhatikan baik-baik, jangan terbang lewat lewat laut, terbanglah di atas daratan dan harus berhenti jika menemukan kota."


"Tapi perjalanan kita akan bertambah lama."


Untuk pulang ke tempat Yue, setidaknya butuh satu bulan penuh menggunakan perahu terbang dengan kecepatan maksimal dan itupun dengan mengambil jalur di atas laut, kalau melalui daratan yang seperti Yue inginkan, waktu yang dibutuhkan menjadi dua kali lebih lama.


"Baik tuan putri."


Pria itu mengangguk tak berdaya. "Jangan sedih begitu, kalian kan perlu makan juga. Nah begini saja, setiap ada kota, kalian bebas dua hari, pergilah bersenang-senang setelah membelikan keperluan ku."


"Asala kalian tau, wanita di daratan ini tidak kalah cantik dengan yang ada di tempat kita. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? mungkin seumur hidup kalian tidak akan pernah kembali ke sini lagi."


Yue mengatakan ini dengan sangat jelas dan bergema ke seluruh perahu kapal. dan berhasil membuat mereka yang berjumlah lebih dari dua puluh orang itu tersipu.


"Tuan putri, ini tidak pantas." kata pria di depannya.


"Tidak pantas untukmu, tapi orang lain cukup pantas." gumam Yue, lalu suaranya kembali bergema. "Aku akan meletakkan kristal roh di ruang utama, siapa saja yang mau berlibur dua hari, ambil uang dan pergilah tapi ingat jangan terlambat pulang atau kau akan ditinggal."


Yue benar-benar melakukan apa yang Ia katakan, meletakkan kristal roh yang sangat banyak di ruang utama perahu terbang.

__ADS_1


Suasana kembali tenang. Perahu terbang melesat cepat membelah awan di angkasa, meninggalkan daratan yang menjadi tempat tinggal Yue selama ini.


"Kakak Chen, aku pulang. tidak tau kapan bisa bertemu lagi."


...


Desa Ye.


"Tuan Ye, ayolah aku sudah lama keluar... Aku bosan si sekte terus."


Sepanjang pagi Xiao Yun terus merengek ingin ikut pergi bersama Ye Chen. Bukan apa-apa, kalau Ia meluluskan permintaan Xiao Yun maka pasti yang lain juga ingin ikut.


Ye Chen berencana pergi ke daerah Selatan, daerah yang masih liar. Bahkan sejak sebelum perang besar terjadi, daerah itu tidak tersentuh dan tidak ada informasi apapun dari sana.


Alasan Ye Chen ingin ke sana adalah untuk memenuhi pesan Ayahnya yang disampaikan A Kiu dan terkahir raja Iblis Mema juga mengatakan hal yang sama.


"Bagaimana dengan sekte dan panglima Du? bukan aku tidak mau tapi tanpa izin darinya, aku tidak bisa."


Xiao Yun tiba-tiba tersenyum, lalu berkata, "Aku sudah mendengarnya, tidak boleh ingkar lagi."


Melihat gelagat Xiao Yun ini, firasat Ye Chen mengatakan ada seuatu yang salah dan benar saja, panglima Du muncul di sana. "Tuan Ye, apa kabar?


"Hais, Aku ingatkan sekali lagi, aku tau bahaya apa yang akan kita hadapi nanti. Jadi tolong hati-hati dan jangan bertindak sendiri.


Ye Chen tak bisa berkata apa-apa lagi, sekali lagi dia kalah. kemudian...


"Kakak Chen, kau melupakan kami."


Dari jauh terdengar suara yang sangat Ye Chen kenali, Gu Xia. Rupanya Ia baru saja tiba, dia sangat sibuk sehingga baru bisa datang. Lalu berturut-turut datang lagi Lu Jia Li dan Lu Jiao, dua wanita yang masih terhitung saudara jauh.


Lu Jiao berjodoh dengan Cia Sun, dan mengurus wilayah barat. Cia Sun sendiri tidak bisa datang karena sibuk.


"Giro, tolong pergi ke wilayah atas, katakan pada pengrajin Mingdi untuk meminjam perahu terbang.

__ADS_1


Orang sebanyak itu tak mungkin menggunakan pedang terbang semua, Ye Chen, Giro dan pasukan seratus tentu saja bisa terbang tanpa bantuan pedang.


__ADS_2