Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kemenangan Istana


__ADS_3

Memang tidak mudah untuk membunuh seorang kultivator kuat dengan mengandalkan bola Qi.


Kultivator akan mengandalkan perisai tubuh dan mungkin beberapa artefak pelindung lain sebagai harta pribadi, ditambah lagi dengan adanya pil pemulih yang sudah pasti mereka miliki. Apalagi seorang menteri Kun dan panglima, mereka tak mungkin hanya mengandalkan kultivasi semata.


Namun itu semua tak berguna dalam hujan bola Qi yang terus datang dari segala arah.


Mungkin menteri Kun dan yang lain masih bisa bertahan tapi kekuatan mereka juga ada batasnya. Setelah semua penunjang itu habis, mereka akan juga akan habis tak tersisa.


Lain halnya dengan kubah pelindung yang dibuat oleh ahli formasi, bola Qi yang menyentuh kubah pelindung akan langsung diserap dan dinetralkan, tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Sayangnya menteri Kun tidak menyadari ini dan tewas dalam angan-angan dan impian semu menjadi Kaisar alam Peri.


Perang ini hampir dipastikan siapa yang menjadi pemenang, Kaisar sangat puas.


Sekarang adalah babak akhir sebelum deklarasi kemenangan. Ini bukan lagi bagian dari para prajurit tetapi menjadi bagian dari para pemimpin untuk bergerak.


Tak ada strategi atau taktik perang lagi, yang ada hanyalah kata bunuh dan musnahkan.


Dari Istana, melesat bayangan Kaisar disamping panglima besar Li, diikuti panglima-panglima perang.


Dari timur dan barat juga melesat beberapa bayangan, mereka adalah Paman, panglima muda Lin Yungtao dan putri Jia.


Sedangkan Giro serta pasukan sudah sejak tadi bergerak dalam medan perang. Karena menggunakan artefak pelindung, mereka tidak akan pernah terluka oleh bola Qi maupun panah-panah itu.


Pertempuran-pertempuran kecil dengan cepat terjadi di banyak tempat.


Sementara itu Ye Chen juga sudah turun kembali, saat ini Ia sudah berhadapan lagi dengan Sirio dan para pembantunya.


"Jadi ini rencana sampai-sampai harus lari dari pertempuran?" ejek Sirio. "Sebaiknya kau pergi saja dan laksanakan semua rencanamu baru kau kesini dan jangan khawatir, aku tidak akan pergi. Ada yang harus kuambil darimu." lanjut Sirio lagi, masih dengan tatapan merendahkan."


Serangan brutal barusan memang hampir tidak berpengaruh pada Sirio, hanya bawahannya saja yang terlihat cukup menderita. Rupanya Sirio menggunakan mereka semua sebagai tameng.

__ADS_1


Ye Chen menghitung sisa pembantu Sirio, masih ada sepuluh tapi mereka bukan lagi lawan yang seimbang, vitalitas mereka sudah hampir habis karena digunakan oleh Sirio.


Pedang hitam di tangan Ye Chen mulai bergetar, sudah waktunya mengakhiri Sirio.


"Langkah Cahaya."


Ye Chen sudah siap, tak mau membuang-buang waktu lagi. Sasaran pertama adalah Sirio, cukup membuatnya melompat jauh saja untuk mengalihkan perhatiannya, lalu membunuh lima pembantu nya.


Dengan tebasan pedang yang kuat, Ye Chen membelah udara di depan Sirio, sementara Sirio yang mengenal bahaya membuang tubuh ke belakang sambil memukul.


Sayangnya pukulan Sirio ini hanya menghantam udara kosong karena dengan cepat Ye Chen berlari ke arah lima pembantu Sirio dan langsung membunuh mereka.


"Sekarang tidak ada penghalang lagi." Ye Chen akhirnya bersuara, dia berdiri tegak di depan Sirio.


"Hahaha ayo!" teriak Sirio. Kabut hitam melesat cepat, mengurung Ye Chen dalam kegelapan. Sirio mengeluarkan kemampuan terbaiknya.


Kalau dibandingkan dengan tingkat kultivasi, Sirio jelas lebih unggul setingkat tapi karena Ye Chen ini menjadi raja Iblis melalui jalur pengorbanan maka kekuatan kegelapan dalam dirinya jauh di atas Sirio, hanya saja Ye Chen masih muda dan belum banyak mengalami pertarungan dengan Iblis tingkat tinggi.


Kabut hitam yang menyelimuti pertarungan Ye Chen dan Sirio semakin meluas, tidak ada yang berani mendekat karena begitu mereka tersentuh kabut itu, maka tubuhnya akan langsung terbakar menjadi abu. Bisa dibayangkan bagaimana kekuatan orang yang sedang bertarung di dalamnya.


"Seraaang! hancurkan pengkhianat...!"


Tiba-tiba dari arah hutan tempat Paman berjaga muncul sorakan keras, satu persatu bayangan melompat dari sana dan langsung menyerbu ke medan perang.


Melihat ini, Giro yang selalu berada di dekat putri Jia berkata, "Tuan putri, sepertinya bantuan sudah datang. Anda akan aman sekarang, aku akan melihat keadaan tuan muda."


Putri Jia menggigit bibirnya, matanya seolah berkata untuk menjaga Ye Chen. "Tenang saja, tuan muda pasti akan baik-baik saja." kata Giro lalu melesat pergi diikuti pasukan seratus yang juga melompat dari setiap sisi medan perang.


Pasukan yang dimaksud Giro adalah kultivator alam Peri, mereka di pimpin sendiri oleh Ibu Ratu.

__ADS_1


Ye Chen yang saat itu bertemu Ibu Ratu di bukit Nannan lah yang meminta Ibu Ratu mengumpulkan bantuan. Hal ini juga diketahui jelas oleh putri Jia karena Ia juga ada di sana.


"Ibu, kakak Chen ada di sana...."


Putri Jia yang melihat Ibunya langsung menghampiri.


"Aku tau, tapi bukankah kau harus menanyakan keadaanku terlebih dahulu?"


"Ibu...."


"Iya aku tau." Ibu Ratu tersenyum sambil mengelus pipi putri Jia, dia merestui hubungan ini. Mungkin tidak ada yang pantas bersama putrinya selain Ye Chen. Tapi dia juga melihat hubungan ini tidak akan semudah itu, ada sesuatu yang mengganjal dan Ibu Ratu tau betul apa itu.


Sementara itu situasi di medan perang sudah mulai terkendali, kedatangan pasukan bantuan itu benar-benar membuat perbedaan kekuatan yang sangat besar. Ribuan kultivator dari seluruh alam Peri bergabung, tak ada lagi pengkhianat yang tersisa, semua tewas terbunuh.


Satu-satunya pertempuran yang tersisa adalah pertempuran antara Ye Chen dan Sirio. Tak ada yang berani mendekat dalam radius seratus meter kecuali Giro dan pasukan seratus, mereka terus berada di sana.


Bahkan teriakan menyayat hati maupun lolongan seperti serigala Iblis yang terdengar dari dalam kabut hitam sangat menyiksa. Bagi yang terlalu lemah pasti akan mengalami syok berat, mereka akan berdiri mematung dengan tatapan kosong, seolah jiwa mereka telah tersedot masuk ke dalam kabut hitam.


Kaisar lalu mendekati Ibu Ratu dan para tetua yang ada di sana. Mereka akhirnya tau apa arti pertarungan di depan sana, yang lebih penting adalah status Ye Chen sudah terungkap.


"Kaisar, kalau tidak ada Ye Chen, aku ragu kita masih bisa tetap berdiri sekarang." Ibu Ratu mencoba menyebut jasa Ye Chen. Hanya itu yang bisa Ia lakukan saat ini.


"Yang mulia...."


Paman dan panglima besar Lin juga berbicara, hampir serempak.


"Aku tau." sahut Kaisar tapi dengan wajah yang sangat sungkan. Ini bisa terlihat jelas.


Atmosfer ditempat itu segera berubah, tapi atmosfer ini tidak dirasakan oleh para tetua dan yang lain. Mereka semua tau jasa Ye Chen dalam pertempuran ini tapi tudak terlalu mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2