
Ye Chen merubah titik-titik api kecil menjadi seperti jarum-jarum kecil yang tajam dan panas lalu melemparnya ke siluman Ular.
'Eh masih kuat juga, padahal Ular itu... ... Oh benar juga hehe." Ye Chen menyadari sesuatu ketika menyebut kata Ular. "Bukankah Burung adalah musuh alami Ular?"
Aura Phoenix Api yang Ye Chen keluarkan menekan dengan kuat, membuat siluman Ular lari menjauh memasuki hutan yang ada di sekitar desa.
Melihat ini, Ye Chen yang memang sengaja mengendurkan auranya diam-diam mengikuti siluman Ular dari atas.
"Seperti dugaanku, memang ada dalang di balik semua peristiwa ini." Ye Chen tiba di sebuah tanah lapang di tengah hutan, di sana terlihat seorang pria tua duduk di kelilingi banyak sekali hewan liar dari berbagai jenis.
Di desa Bunga, Chu Xiong dan rombongan yang baru saja memasuki desa mengernyit melihat pemandangan di luar desa.
Samar-samar masih tercium bau gosong menyengat dari bangkai hewan liar yang berserakan di mana-mana bercampur dengan penduduk desa yang menjadi korban.
Tiga pemburu berlari menghambur ke dalam desa, mereka kuatir dengan sanak keluarga yang ditinggalkan.
Sementara Song Fei yang tidak memiliki keluarga pergi menemui pemimpin desa. Hanya Chu Xiong yang masih berada di luar desa sambil sesekali melihat korban dari penduduk desa yang mungkin masih bisa diselamatkan.
...
"Oh jadi rupanya ini yang menjadi biang kerok penyerangan di desa." Ye Chen yang sudah turun dari tunggangannya berjalan pelan mendekati tanah lapang tempat pria tua duduk.
"Hahaha... aku akui nyalimu sungguh besar anak muda, tapi sayang sekali, kau menyia-nyiakan umurmu dengan datang kesini." kata pria tua di depan Ye Chen.
Sebagai jawaban, Ye Chen mengeluarkan aura naga yang merembes keluar dari tubuhnya.
Merasa terancam dan takut, semua hewan-hewan liar yang mengelilingi pria tua ini menundukkan kepala, tidak berani bergerak.
Aura naga, meskipun hanya sedikit yang bisa Ye Chen gunakan tapi itu sudah cukup untuk menundukkan mereka.
Yang berada dekat dengan Ye Chen tentu saja sudah hangus terbakar oleh api biru.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan! berani kau membunuh peliharaanku ha..! lihat saja akan kuhancurkan mukamu itu." bentak pria tua yang tidak terima beberapa hewan ini hangus terbakar.
"Mau membunuhku? tidak segampang itu orang tua." balas Ye Chen yang terus mendekat sambil sesekali melempar api birunya.
Bau daging terbakar semakin menusuk hidung, Ye Chen yang tidak ingin berlama-lama di sini bergerak cepat ke depan, memukul dada pria tua itu sampai remuk.
"He berani menghancurkan mukaku, mati saja masih untung bagimu." Ye Chen memanggil Rajawali turun, menyuruhnya membawa pria tua yang sekarat ini terbang tinggi lalu melepaskannya.
"Bagus, kau ternyata mengerti," kata Ye Chen sambil mengusap-usap leher sang Rajawali. "Nah itu hadiahmu, makanlah sepuasmu." Lanjut Ye Chen mengeluarkan pedang dan terbang kembali ke desa Bunga, meninggalkan Rajawalinya memangsa hewan-hewan liar yang masih di sana.
Saat kembali ke desa, Ye Chen bertemu Chu Xiong yang berada di pintu gerbang. Tumpukan bangkai hewan dan penduduk yang jadi korban sudah dibersihkan.
"Kau sudah di sini, di mana yang lain?" tanya Ye Chen kepada Chu Xiong," dan kenapa kalian terlihat berjaga, apa masih ada yang menyerang desa?"
"Sampai hari ini keadaan sudah aman, tidak ada lagi yang datang menyerang desa." jawab Chu Xiong. "pemimpin desa hanya kuatir dengan seekor siluman burung."
Ye Chen tersenyum dan berkata. "Tidak usah kuatir, Rajawali itu milikku dan dalang penyerangan ini sudah aku bunuh."
"Tuan muda, tidak ada alkemis di desa ini, belum lagi bahan makanan sangat sedikit. Takutnya penduduk desa bukan mati karena luka tapi karena kelaparan." ucap Chu Xiong.
"Sepertinya aku harus menunda istirahat dan makanku." gerutu Ye Chen. "Kita ke aula desa." ajak Ye Chen.
Di aula desa, Ye Chen memberikan lebih dari separuh persediaan pilnya. Ye Chen juga memberikan satu kantung penyimpanan berisi lima ratus keping emas untuk membantu membangun ulang rumah-rumah yang hancur.
Lesu, bukan tidak ikhlas tapi jujur ini sangat berat bagi Ye Chen. Belum lagi hampir semua hewan yang Ia beli di pemukiman pemburu juga Ia berikan untuk sumber makanan penduduk.
Ye Chen duduk santai di bawah pohon di depan aula desa sembari menghitung sisa kepingan emasnya. "Ini tidak akan cukup membeli tiket Song Fei ke benua Timur." batin Ye Chen.
"Tuan muda, anda di sini." sapa pemimpin desa Bunga "Kalau tidak keberatan, aku ingin mengajak anda berkeliling desa." lanjutnya lagi.
"Oh tentu, silahkan..." sahut Ye Chen ramah.
__ADS_1
Pemimpin desa Bunga membawa Ye Chen mengunjungi aula tempat pengobatan korban luka-luka. Hampir semua penduduk desa mengenal Ye Chen, satu persatu dari mereka menyapanya dengan rasa hormat.
Entah kapan dan siapa yang memulai, para penduduk desa kini memanggil Ye Chen dengan sebutan pemimpin Ye tapi ada juga yang hanya menyebutnya pemimpin.
"Pemimpin," kata pemimpin desa Bunga. "lewat sini, aku akan menunjukkan sesuatu."
Ye Chen berpaling melihat pemimpin desa Bunga. "sebenarnya siapa di sini yang pemimpin? kenapa jadi aneh begini sih." ucap Ye Chen dalam hati sambil menggeleng.
Pemimpin desa Bunga membawa Ye Chen ke sebuah taman yang, jauh di belakang desa. Taman ini tertutup rapat, bahkan bagian atasnya juga dipasangi atap.
Di tengah taman terdapat kolam besar.
Ye Chen bertanya-tanya dalam hati, untuk apa Ia dibawa kesini. Belum sempat bertanya, mata Ye Chen menangkap sebuah bayangan di atas kolam.
"Eh, apakah itu siluman Angsa Pelangi?"
Siluman Angsa Pelangi adalah jenis siluman yang biasa di pakai sebagai alat transportasi. Yang membedakannya dengan siluman Angsa lain adalah ekornya yang panjang seperti burung Elang dan berwarna seperti pelangi.
"Memang benar itu adalah siluman Angsa Pelangi tapi sayangnya dia saat ini sedang terluka," kata pemimpin desa Bunga. "Lihat saja gerakannya, sangat lambat."
Pemimpin desa Bunga lalu berkata akan memberikan siluman Angsa Pelangi ini pada Ye Chen sekaligus minta maaf karena Angsa Pelangi ini sedang terluka.
"Apa anda yakin?" tanya Ye Chen, Ia tau siluman Angsa Pelangi ini sangat mahal di pasaran.
"Tentu saja, ini bahkan tidak sebanding dengan apa yang pemimpin lakukan untuk desa ini."
"Baiklah kalau anda memaksa, aku akan menerimanya." ucap Ye Chen dengan wajah pasrah padahal dalam hatinya berteriak senang.
Ye Chen mengedarkan kekuatan jiwanya mencoba mencari penyebab sakitnya siluman Angsa Pelangi.
"Racun..." gumam Ye Chen.
__ADS_1
"Pemimpin, bisakah anda menunjukkan tempat anda menemukannya?" tanya Ye Chen. "Angsa Pelangi ini sepertinya terkena racun."