Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kecewa


__ADS_3

Di depan kamar penginapan, Ye Chen yang sudah kembali melihat Gu Xia berdiri mematung. "Apalagi yang perempuan itu lakukan, bukankah sudah kusuruh jangan kesini lagi?"


"Heh nona Gu kenapa kau kesini lagi? kalau sampai ada yang mengikutimu bagaimana? semua usaha ini akansia-sia, kau tau?" Ye Chen sedikit dongkol juga. Satu orang lagi yang entah siapa masih ada di luar sana, Ye Chen tau pasti identitas orang tersebut tidak sembarangan juga.


"Maaf, jangan marah...."


"Ya sudah ayo masuk." Ye Chen menggandeng tangan Gu Xia dan masuk ke dalam "Saudara Chen, ini aneh kenapa dari tadi aku tidak bisa masuk? seolah ada tembok pemisah di luar pintu."


"Mungkin kau terlalu banyak pikiran," sahut Ye Chen. "Dimana ayahmu, jangan katakan Ia keluar."


"Aku juga tidak tau."


"Tuan, tadi ketua keluar katanya hanya sebentar tapi sampai saat ini belum kembali juga." kata salah satu pengawal yang ada di sana.


"Hais tidak anak tidak ayah, semua merepotkan saja. Bukankah sudah kukatakan jangan keluar dari sini? katakan, siapa lagi yang keluar."


"Hanya ketua saja tuan yang keluar."


"Ya sudah biarkan saja, nanti aku akan mencarinya. Kalian bersiaplah kita akan pergi dari sini. Tempat ini sudah tidak aman lagi."


"Saudara Chen apa anda terluka?" Gu Xia bertanya dengan tatapan kuatir melihat pakaian Ye Chen yang penuh darah.


"Oh ini bukan darahku."


Tanpa sempat mengganti pakaiannya, Ye Chen membawa orang-orang paviliun Teratai ke sebuah gua di luar tembok kota. "Nah di sini kalian bisa aman, ingat jangan ada yang keluar. Di dalam ada sumber mata air, aku keluar sebentar."


Tidak lama Ye Chen kembali membawa beberapa ayam hutan, saat berniat memanggangnya, salah satu anggota paviliun menawarkan diri "Tuan sebaiknya anda membersihkan diri, biar aku yang mengurus ini." katanya.


Waktupun berlalu, hari telah berganti. Pagi ini Ye Chen berniat membuat penawar racun untuk anggota paviliun.


Satu persatu anggota paviliun Ye Chen periksa, "hmm racun ini hampir mirip dengan racun ditelaga itu." gumam Ye Chen yang mengingat racun yang menyerang silumaan Angsa Pelangi dan Song Fei.


"Saudara Chen bagaimana, apakah penawarnya bisa dibuat?"


"Eh kau masih di sini? kukira kau sudah pergi." ucap Ye Chen yang ketika mengetahui siapa yang bertanya.


"Jadi kau mau aku pergi?" protes Gu Xia.


"Tidak, bukan begitu, aku hanya bertanya saja. Atau jangan-jangan kau memang senang yah ada di dekatku?" goda Ye Chen.

__ADS_1


"Dasar mesum."


"Hehe memang susah menjadi pria tampan." ucap Ye Chen tanpa mempedulikan tatapan aneh di sekitarnya.


"Tuan ada orang datang, kata penjaga yang memang di tugaskan Ye Chen memantau keadaan di luar gua"


"Gu Xiaa... keluarlah, ini aku ayahmu." Gu Xia tidak berpikir dua kali mendengar suara ayahnya memanggil.


"Berhenti!" Ye Chen membentak Gu Xia yang sudah berada di mulut gua, "Pastikan dulu, apa kau lupa ayahmu disekap? apa kau pikir mereka akan diam saja? jangan terlalu naif."


Benar juga pikir Gu Xia, Ia lalu berhenti mengamati dari dalam gua.


"Saudara Gu sepertinya anak muda itu memang bisa diandalkan." kata orang yang berdiri di samping Gu Liang yang ternyata adalah Lu Ping, pelindung kota Kenanga. "Ayo kita keluar, supaya Ia tidak curiga."


Berturut-turut keluarlah Gu Liang dan Lu Ping. Di sampingnya berdiri juga Lu Jia Li dan Ma Dong.


"Tapak Jiwa...."


Gumam Ye Chen dari mulut gua, Ia tidak mau mengambil resiko membiarkan orang-orang di depannya mendekat.


Ia tidak kuatir dengan keselamatan ayah Gu Xia, sekilas Ia merasakan aura tingkat Langit di dekatnya.


Awass...


"Hoi saudara Chen, kenapa kau menyerang kami?" teriak Ma Dong dari luar. Ye Chen diikuti Gu Xia juga keluar, "Maaf... maaf tidak kusangka kalian yang datang." kata Ye Chen sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah, lain kali kau harus lebih hati-hati, kalau aku tidak ada mungkin kawanmu sudah terluka. Kenapa kau ada di sini?" tanya Lu Ping.


"Tempat ini memang telah kusiapkan sebagai pelarian," jawan Ye Chen santai. "Dan jujur saja, masih ada tempat lain lagi yang kusiapkan."


"Bahkan kau memikirkannya sampai sejauh ini, hebat, kuakui kecerdikanmu mengatur siasat." sahut ketua Gu Liang. "Oh ya tadi kami beramai-ramai ke gedung paviliun, apa kau yang melakukannya?"


Gu Liang tidak mau panjang lebar, mengingat korban tewas di paviliunnya saja sudah membuatnya merinding. Tidak ada mayat yang masih utuh.


"Ye Chen hanya mengangguk pelan " Dari pada nanti menyusahkan lebih baik kubunuh saja mereka semua."


"Anak muda," kata Gu Liang "Apa kau pernah berpikir tindakanmu terlalu berlebihan?"


"Maksud anda ketua Gu."

__ADS_1


"Maksudku, berilah kematian cepat bagi musuhmu jangan menyiksanya."


"Tapi aku tidak pernah menyiksa mereka, kecuali untuk mengorek informati, ceritanya pasti akan lain." Ye Chen berkilah.


"Memang betul tapi coba lihat korbanmu, aku yakin kau lebih hebat dari mereka, pasti dengan mudah dapat kau kalahkan." sahut Gu Liang.


"Baiklah...." Ye Chen menyudahi percakapan ini yang menurutnya tidak penting ini. "Anggota paviliun anda ada di dalam gua."


Setelah berkata ini, Ye Chen langsung pergi tanpa pamit. Perasaannya sedikit terganggu karena ucapan Gu Liang.


Sialan sudah untung aku bantu, malah menasehatiku dengan segala hal tidak penting. Aku juga tidak mendapat apa-apa, malah banyak berkorban untuk menyelamatkannya, begitulah apa yang ada di pikiran Ye Chen saat ini.


"Saudara Chen tunggu, kau mau kemana? tanya Ma Dong.


"Saudara Chen...."


"Tidak perlu, aku pergi sendiri saja. Ada yang harus aku kerjakan."


"Itu... bagaimana dengan obat penawarnya?" tanya Gu Xia lagi.


Ye Chen berpikir sebentar lalu berkata, "Maaf aku tidak bisa membantu, itu di luar pengetahuanku saat ini." kilah Ye Chen.


Sepeninggal ye Chen, suasana tampak sedikit canggung sampai Lu Ping mengajak mereka semua kembali, termasuk anggota paviliun yang berada di dalam gua.


Kwaaakk...


Saat mereka sedang berjalan kembali, dari atas terdengar suara Rajawali yang sangat memekakkan telinga. Sampai-sampai mereka harus menutup telinga mereka dengan tangan.


"Siluman Rajawali...." kata mereka hampir serempak.


"Bukankah itu saudara Chen." Ma Dong yang merasa mengenali orang yang berdiri tegak di punggung Rajawali.


Yang lain memicingkan mata berusaha melihat dengan jelas tapi tentu saja tidak ada gunanya lagi karena Rajawali terbang dengan sangat cepat.


"Saudara Gu tampaknya anak itu kecewa dengan perkatannmu." ucap Lu Ping di tengah perjalanan.


"Aku rasa juga begitu, tapi apakah salah? ini untuk kebaikannya juga kan... di usianya yang masih sangat muda, Ia sudah sangat sadis dengan musuhnya. Aku hanya kuatir Ia terpengaruh di NASA depan dan menjadi pembunuh berdarah dingin." bantah Gu Liang.


"Perkataanmu ada benarnya juga, sudahlah bagaimana keadaanmu, apa kau bisa membuat penawar racunnya?"

__ADS_1


"Entahlah... kalau boleh jujur mungkin aku sendiri membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya." tiba-tiba Gu Liang mengingat sesuatu, "Putriku apa anak itu tidak mengatakan apa-apa tentang penawar racun?"


"Seingatku tidak ada ayah." jawab Gu Xia.


__ADS_2