
Dimensi sekte kegelapan tidak terlalu luas, di dalamnya hanya ada bangunan utama dan dua bangunan lain di samping kiri dan kanannya serta sebuah bangunan lain yang panjang yang berfungsi sebagai asrama anggota sekte.
Sekte ini lumayan besar, jumlah mereka sekitar dua ratusan saja tapi sebagian besar berada di tingkat Bumi.
Patriark atau ketua sekte berada di tingkat Langit tahap tinggi, Ia dibantu oleh dua tetua yang berada di tingkat Langit tahap menengah.
Bukan lawan yang mudah bagi Ye Chen, itulah sebabnya Ia sangat berhati-hati, tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun atau Ia akan mendapat masalah.
"Kakak penjaga, aku datang lagi. aku mau keluar sebentar, ada urusan yang belum selesai." Ye Chen memutuskan keluar untuk memberitahu Cia Sun keadaan sekte kegelapan.
"Hati-hatilah, aku mendengar anggota kita yang hilang telah ditemukan di dekat gua."
Ye Chen mengangguk lalu keluar dan langsung mencari Cia Sun.
"Saudara Cia," sapa Ye Chen yang melihat Cia Sun duduk di dekat kolam. "Aku sudah menyelidiki markas mereka." menceritakan semua yang diketahuinya.
"Apa rencanamu selanjutnya?
" Nanti malam aku akan kembali ke sana, ada sesuatu yang harus kupastikan."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke kota Kenanga, meminta bantuan tuan pelindung."
Mereka kemudian membagi tugas, Ye Chen kembali ke markas sekte kegelapan dan Cia Sun ke kota Kenanga.
Jumlah dan kekuatan sekte kegelapan bisa sangat merepotkan, Cia Sun yang bertindak sebagai utusan kekaisaran tentu saja kuatir.
"Ambil ini," Ye Chen memberikan satu pil kultivasi Bumi pada Cia Sun. "Tergantung keberuntunganmu, semoga kau bisa."
Cia Sun memandang Ye Chen yang pergi, dari mulutnya terdengar lirih "Terima kasih." Lalu terbang dengan pedangnya ke kota Kenanga.
Di dalam markas sekte kegelapan, Ye Chen yang menyamar sebagai anggota sekte memisahkan diri dan mencari titik-titik strategis untuk digunakannya nanti kalau ada sesuatu yang buruk yang mungkin terjadi.
Setelah menemukan satu tempat yang dirasa cocok, Ye Chen lalu duduk dan mengedarkan kesadaran spiritualnya, berusaha mencari informasi lebih jauh lagi terutama tiga gedung utama yang ada di sana.
"Ini... seperti aura Song Fei dan Chu Xiong, mungkinkah...?" Meskipun samar dan tipis sekali, tapi masih bisa rasakan.
__ADS_1
Ye Chen yang baru menyadari jejak aura Song Fei dan Chu Xiong mulai menerka-nerka apa yang terjadi.
"Asalnya dari bangunan di sebelah kiri," gumam Ye Chen yang tidak sempat lagi memeriksa gedung lain karena fokus ke tempat dimana Ia merasakan aura yang dikenalnya.
"Sial tidak masuk lebih jauh lagi."
Di dalam gedung, "Hmm sepertinya ada penyusup," kata seorang pria paruh baya yang memblok Ye Chen saat ingin memeriksa gedung.
Ia lalu melakukan hal yang sama dengan yang Ye Chen lakukan, memeriksa seluruh markas, mencari orang yang mencurigakan.
Sayangnya Ia tidak menemukan apa-apa karena Ye Chen dengan cepat menyembunyikan aura keberadaannya.
"Hampir saja." ucap Ye Chen mengelap peluh di dahinya, Ia tau benar kemampuannya sendiri dan tidak mau mengambil resiko sekecil apapun.
Baru setelah dirasa cukup aman, Ye Chen berani keluar dari persembunyiannya.
Ia berjalan pelan berbaur dengan anggota lain yang memang banyak hilir mudik di dekat gedung yang tadi Ia selidiki. Tujuannya hanya satu, menyusup langsung ke dalam gedung.
"Kakak, ayo kita ke asrama, aku sudah lelah dari tadi bekerja terus." ajak Ye Chen kepada anggota sekte lain di dekatnya.
Ye Chen menunduk, Ia sedikit kesal, dia kesini bukan untuk bekerja tapi harus terus kerja, biarpun hanya membantu sedikit seperti memasang lampu atau memegang kayu tapi ini sungguh membosankan.
Akhirnya waktu istirahat tiba, posisi Ye Chen kini digantikan oleh yang lain.
"Kakak, kapan pesta pernikahan ketua dilaksanakan?" tanya Ye Chen sambil berjalan ke asrama.
Pria di samping Ye Chen menjawab dengan tidak sabar, "Seminggu lagi, sudahlah apa kau tidak lelah dari tadi bertanya terus?"
Sampai di asrama, Ye Chen sedikit heran melihat anggota sekte yang langsung tidur setelah meminum segelas air di pintu masuk asrama.
"Kakak, apa mereka mati?"
"Mati kepalamu, mereka itu hanya tidur. Sudah cepat minum dan tidur, setelah ini kita keluar dari markas."
Ye Chen yang bingung hendak bertanya lagi tapi Ia urungkan karena anggota sekte di sampingnya segera minum air dan tidur.
__ADS_1
Ia lalu mengambil sedikit air dan mencobanya, "Obat tidur yang kuat." gumamnya.
Ye Chen yang hanya minum sedikit air yang dicampur obat tidur ikut berpura-pura tidur tapi suara kelompok anggota pertama tidur lebih dulu sudah bangun dan keluar dari asrama. Ye Chen tentu saja ikut.
Tidak lupa mengambil segelas air dan menyembunyikannya.
Di luar markas, "Hei cepatlah, pulihkan tenaga kalian." teriak seorang anggota sekte yang ternyata adalah ketua kelompok.
Ye Chen baru tau, ternyata mereka sengaja minum obat tidur karena di dalam markas sangat susah untuk beristirahat, walau hanya sebentar tapi itu sudah cukup.
Begitu bangun, kelompok yang sudah tidur akan keluar markas untuk memulihkan Qi.
"Kakak, kenapa semua anggota kita seperti sangat lelah jika telah selesai bekerja?" tanya Ye Chen yang penasaran, mana ada kultivator bisa lelah hanya dengan bekerja seperti itu.
"Kau pasti anggota baru," Ye Chen mengangguk "Sebelum bekerja, kita akan masuk dulu ke gedung utama untuk menyalurkan Qi ke sebuah artefak, kita hanya menyisakan sedikit saja untuk dipakai bekerja"
"Artefak apa?"
"Oh itu artefak tuan pangeran kegelapan, junjungan kita."
Ye Chen tidak bertanya lebih jauh, takut dicurigai. "Kalau begitu aku masuk dulu, aku takut dihukum karena belum bertemu tuan pangeran kegelapan."
Anggota ini mengangguk, kecurigaannya yang tadi sempat terlihat kini hilang. "Ya cepatlah."
Ye Chen segera pergi tapi tidak ke markas sekte, Ia kembali ke taman belakang desa. Ia sudah mendapatkan ide untuk menghadapi anggota sekte, paling tidak, separuhnya bisa Ia taklukkan nanti.
Di tepi kolam taman, Ye Chen memperhatikan segelas air di tangannya, air yang bercampur obat tidur. Ia menyesapnya sedikit, lalu menggeleng, lalu menyesapnya lagi sampai habis setengah.
"Sial aku tak memprediksi herbal yang terkandung di dalamnya." katanya dengan mata yang mulai sedikit menyipit, sudah terpengaruh obat tidur yang kuat.
Ye Chen mengoyang-goyangkan kepalanya mencoba mengusir rasa kantuk.
"Jangan sekarang, tunggulah sebentar lagi." gumamnya tapi tetap tidak bisa dan akhirnya tertidur juga.
Ye Chen terbangun dari tidurnya sembari menggerutu kesal, "Huff... untung saja tidak terjadi apa-apa." ucapnya lalu mengeluarkan tungku pil.
__ADS_1
"Baiklah saatnya bekerja." Ye Chen yang tidak bisa mengenal herbal pembuat obat tidur memutuskan untum memisahkan saja air dan kandungan obat yang terkandung di dalamnya.