
Karena tidak ingin mengecewakan kebaikan Ruoyi, Ye Chen akhirnya memilih sebuah kotak kecil yang ada di sudut lemari, itu terlihat seperti benda yang terlupakan. Ia mengambil sembarang saja meskipun banyak barang berharga lain seperti senjata, artefak maupun sumber daya namun tidak ada yang menarik minatnya.
"Eh apa itu? coba lihat." bahkan Ruoyi sendiri tidak tau benda apa yang Ye Chen ambil.
Ruoyi mengamati kotak kecil ditangannya, lalu berusaha membukanya tapi sekeras apapun Ia mencoba, tetap tidak bisa terbuka.
"Aduh saudara Chen, ini tidak baik. Cepat pilih lagi, masa benda tidak jelas begitu yang kau pilih?"
"Tidak masalah, ini juga cukup."
"Jangan, kalau begitu biar aku yang memilihkan untukmu. Hmm, karena kultivasimu masih di tingkat Suci, jadi kurasa ini akan sangat berguna untukmu." Ruoyi memberikan sebuah pil yang diambilnya dari dalam sebuh kotak kaca.
"Terima kasih."
"Itu adalah pil pembuka, kultivasimu akan naik jika kau meminumnya."
"Terima kasih." ucap Ye Chen lagi, langsung menyimpan pil itu. Pil yang dalam pandangan Ye Chen cukup bagus, Ia akan meleburnya nanti dan membuat pil pembuka yang lebih baik.
Tidak sampai disitu saja, Ruoyi juga memberikan satu tehnik milik ras atau suku cahaya. Ketika Ye Chen bertanya kenapa tidak dipelajari sendiri, Ruoyi berkata bahwa Ia hanya bisa mahir di bagian pertama, selanjutnya sangat sulit.
Ye juga menerimanya, kalau benar seperti yang Ruoyi katakan, maka mungkin Ia bisa menggabungkannya dengan tehnik langkah angin.
"Nona Ruo, hari sudah siang. Aku lapar, bagaimana kalau kita makan saja?"
"Oh benarkah? baik, aku tau sebuah tempat yang makanannya enak dan penuh vitalitas.
"Ini tempatnya." Rouyi memperlihatkan token murid akademi. Melihat token ini, pelayan dengan cepat memanggil memanggil pemilik rumah makan untuk melayani mereka.
"Oh ini adalah token akademi, dan kau lihat tanda ini? ini artinya murid dalam. Token ini dipakai di seluruh alam ini dan pemegang token ini sudah pasti sangat dihormati." kata Rouyi bangga sekaligus mengobati rasa penasaran Ye Chen.
"Saudara Chen, terima kasih telah mengantarku." kata Ruoyi ketika kembali kembali ke akademi.
"Jangan dipikirkan, aku juga sekalian ingin melihat-lihat saja." Ruoyi sangat senang, perasaan hatinya terpancar jelas di matanya tapi lain lagi dengan Ye Chen, niatnya hanya ingin menemui pelayan tempo hari.
__ADS_1
Mungkin karena memang jodoh atau kebetulan saja, pelayan itu juga keluar tak lama setelah Ruoyi masuk. Pelayan itu hendak menyelesaikan misinya, tapi kali ini Ia pergi sendiri karena empat temannya masih dalam proses pemulihan.
"Nona, nona perlahan dulu." Ye Chen memanggil pelayan yang berjalan keluar.
"Eh tuan...
"Aku Ye Chen." kata Ye Chen mengenalkan diri.
"Oh tuan Chen, ada apa? maaf aku tak bisa menemani anda kalau ingin berkeliling."
"Tidak, bukan itu." sanggah Ye Chen cepat. "Aku hanya ingin tau, apakah menyelesaikan misi?" sambungnya. Gadis pelayan itu mengangguk. "Boleh aku ikut? aku merasa bosan sendirian."
"Tapi tuan, rasanya ini tidak pantas."
"Tidak masalah, kau bisa menganggap aku kakakmu, bagaimana?"
Nona pelayan itu tidak menolak, Ye Chen juga bersikap sopan dan keamanannya bisa terjamin jika pergi bersama dibandingkan jika bepergian seorang diri.
"Ah Yue... baiklah, kemana kita akan pergi?"
"Sebelah timur." jawab Yue singkat.
Ada yang berbeda dari Yue, gadis yang masih berusia enam belas tahun itu terasa sedikit akrab. Paling tidak itulah yang Ye Chen rasakan.
Setelah cukup jauh berjalan, mereka sampai di sebuah kota kecil. Ye Chen memutuskan untuk singgah sebentar dan Yue juga tidak menolak.
"Kita makan dulu." ajak Ye Chen memasuki rumah makan kecil yang ada di sana. Selesai bersantap dan beristirahat sebentar, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Adik Yue, apakah tempatnya masih jauh?"
"Ngg, aku rasa sudah dekat." jawab Yue sambil memegang sebuah peta di tangannya. "Dari sini lurus saja." sambungnya lagi.
"Kakak Chen, kenapa kau selalu saja minta istirahat? kalau tidak cepat, kita bisa terlambat, aku hanya punya waktu tiga hari saja." kata Yue dengan kesal.
__ADS_1
"Sabarlah, hari sudah malam begini, lebih baik istirahat dulu. Kau terlihat lelah."
"Adik Yue, tidurlah...." Ye Chen yang sudah tidur terbangun ketika melihat Yue masih saja duduk ditempatnya.
"Aku tidak ngantuk, lagipula kuktivator seperti kita ini mana ada bisa tidur begitu saja."
Ye Chen tersenyum, lalu bangun dan duduk di samping Yue. "Adik Yue, aku tau aku hanya tidak mau kau terlalu terburu-buru. Ingatlah, apap pun jika dikerjakan dengan tanpa pertimbangan, hasilnya tidak akan memuaskan. Nah kau tidurlah, aku akan menjagamu."
Ye Chen sangat perhatian dengan adik barunya ini, mungkin karena tidak pernah memiliki seorang adik perempuan maka perasaan melindungi dan mengayomi sebagai kakak muncul begitu saja. Sedangkan Yue sendiri merasa sangat nyaman, baru kali ini Ia merasa ada yang perhatian padanya, sebagai kakak tentunya.
Yue pun mengangguk, tak lama kemudian ia tertidur pulas. "Rahasia apa yang kau sembunyikan?" ucap Ye Chen dalam hati.
Paginya mereka melanjutkan perjalanan lagi dan berhasil menemukan lubang hitam yang dicari.
Yue tampak senang sekali, dengan tenang Ia mendekati lubang hitam itu. Ye Chen yang paham betul tentang lubang hitam tidak sempat melarang, detik berikutnya Ia dibuat heran dengan tindakan Yue. Betapa tidak, biasanya lubang hitam akan menyerap semua benda yang ada di depannya tapi tidak dengan Yue.
Bukan saja tidak terpengaruh dengan daya sedotnya, Yue bahkan dengan berani memegangnya, seperti memeriksa apa yang ada di dalamnya.
"Adik Yue... kau tidak apa-apa?" tanya Ye Chen sambil mendekati Yue.
"Kakak Chen, awas! hati-hati, kau bisa tersedot." seru Yue, Ia tampak sangat khawatir melihat Ye Chen yang berada di sampingnya. Tangannya Ia rentangkan untuk menghalangi Ye Chen agar tidak melangkah lebih dekat.
Ye Chen sangat senang melihat ini, perbuatan Yue ini tampak sangat tulus di matanya dan memang Yue sendiri spontan berbuat demikian.
Tukk...
Ye Chen menyentil kening Yue. "Apa kau kira kakakmu ini selemah itu?" kata Ye Chen, Ia lalu menepis tangan Yue. "Nah sekarang ceritakan apa yang barusan kau lakukan."
Yue tampak ragu, Ia masih belum mengatakan apa-apa. Ia masih diam sambil terus menatap Ye Chen. "Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa tapi katakan saja apa yang kau cari." kata Ye Chen lagi.
Setelah Ye Chen merubah pertanyannya, Yue akhirnya mau bercerita.
Menurut pengakuan Yue, ada dua yang Yue cari. Yang pertama adalah sebuah makam kuno dan yang kedua adalah sebuah portal untuk kembali pulang.
__ADS_1