
Karena Ye Chen adalah murid luar, maka kelas yang Ia masuki ini pun terdiri dari murid-murid luar dan yang menjadi instrukturnya adalah murid dalam. Sangat lazim ditemukan dimana saja yang menganut sistem senioritas, dimana yang senior akan menindas juniornya dan itu terjadi juga di akademi langit ini.
Hari ini kelas yang Ye Chen ikuti adalah kelas kultivasi. Ia datang terlambat dan kebetulan sekali hari itu tetua atau wakil tetua tidak hadir sehingga yang manjadi instruktur sementara adalah seorang dari murid dalam.
"Kau berdiri di sana," perintah instruktur itu pada Ye Chen. Ia lalu menerangkan titik-titik yang Ia maksud sambil menusuk tubuh Ye Chen secara sembarang saja.
"Apa kalian mengerti? atau mau diulang lagi?" seru instruktur tadi yang dijawab dengan anggukan mengerti.
"Lebih baik di ulang sekali lagi saja, biar lebih paham hehe." Yang bicara ini adalah salah satu murid dalam lain, yang juga menjadi instruktur.
"Senior, kami sudah mengerti."
"Betul sekali, tak perlu mengulangnya lagi."
Murid-murid luar tentu saja mengetahui tujuan instruktur melakukan itu pada Ye Chen tapi tak punya kuasa untuk menolong, hanya bisa mengatakan mengerti saja agar instruktur tidak mengulangnya lagi.
"Tidak bisa, harus di ulang. Pelajaran ini sangat penting jangan sampai salah." kata instruktur itu dan melakukannya sekali lagi, menusuk tubuh Ye Chen seenaknya.
"Selesai, kau masuklah ke barisanmu." Ye Chen lalu bergabung dengan murid lain.
"Saudara, kau tidak apa-apa? cih mereka memang sengaja, dia pikir kita tidak tau titik penting di tubuh?" kata seorang murid gusar.
"Kemarin dua di antara kami harus di rawat karena pingsan karena dia menusuk titik-titik sembarang saja." sahut yang lain.
"Eh? apakah boleh begitu, apakah tidak ada yang melarang atau memperingati mereka?" Ye Chen diam-diam kesal juga, Ia tau dengan pasti, jika salah menekan titik penting maka akan berakibat fatal.
"Mana ada, mereka beralasan bahwa kita salah latihan dan itu sudah cukup untuk membebaskan mereka."
Mendengar ini, Ye Chen berteriak kepada instruktur, "Instruktur, boleh aku mencoba belajar melihat titik itu?"
"Apa yang kau lakukan? cepat duduk, kau cari penyakit saja."
"Tenang saja, aku akan membalaskan sakit hati kalian." kata Ye Chen tenang dan berjalan ke depan kembali. "Bagaimana, tidak mungkin kan kalian takut? aku juga tau kalian pasti sangat kuat."
__ADS_1
Pancingan Ye Chen berhasil, dengan yakinnya instruktur itu membiarkan Ye Chen menekan titik di tubuhnya. "Wah instruktur, aura anda sangat kuat, pasti andalah yang terkuat di antara murid dalam. Oh ya, boleh aku mencobanya lagi dengan temanmu?"
"Hahaha tentu saja, hei kalian semua, ini baru namanya murid berbakat."
Ye Chen tersenyum senang, "Baiklah, aku mulai." katanya sambil berdiri di depan dua instruktur.
Mula-mula Ye Chen menekan titik syaraf di leher mereka berdua agar tidak bisa bersuara, lalu titik di bahu untuk membuat tangan lumpuh kemudian di pinggang agar kedua instruktur itu tidak jatuh.
"Teman-teman, lihat lah, ini adalah titik yang disebut titik pembalik, tekan sekali dengan sedikit Qi maka aliran darah akan terbalik. Tekan lagi untuk menormalkan nya." seru Ye Chen yang berlagak seperti instruktur.
"Ini titik tertawa, ini titik air mata." Begitu terus, sampai Ia merasa bosan sendiri.
"Bagaimana, apa kalian mengerti?"
"Mengerti... kata mereka semua serempak."
"Senior, aku masih kurang paham mengenai titik pembalik tadi." kata salah satu murid.
Tidak hanya menekan titik pembalik saja, tapi titik-titik berbahaya di tubuh mereka, Ye Chen hanya mengurangi tenaga saja agar mereka tidak mati. "Jangan pernah muncul lagi di depanku."
"Sial, kenapa ada murid luar yang mengerikan begini." ucap mereka dalam hati. Mereka tau Ye Chen tidak main-main dengan ucapannya, ini karena jiwa mereka ikut bergetar akibat ucapan Ye Chen.
Brukk...
"Apakah tidak masalah?"
"Bagaimana kalau kita dihukum karena ini?"
"Sudah, tenang saja, itu pantas untuk mereka. Serahkan semua kepadaku." kata Ye Chen menenangkan murid-murid itu.
Tak lama setelah itu, wakil tetua yang bertugas hari itu datang. Ia terkejut melihat dua orang yang biasa menjadi instruktur tergeletak di tanah.
"A-apa yang terjadi? kenapa bisa begini?" Wakil tetua itu terlihat panik. Bagaimana tidak, kulit dua instruktur itu mulai pucat, darah juga sudah mulai keluar dari hidung, mata dan telinganya bahkan ada titik-titik merah keluar dari pori-pori kulitnya.
__ADS_1
"Cepat katakan!" teriaknya gusar. "Tak perlu berteriak begitu kami tidak tuli," kata Ye Chen. "Aku yang melakukannya, aku hanya belajar titik-titik seperti yang mereka ajarkan saja."
"Kau mau membunuhnya? lihat, dia bisa mati kalau aku tidak cepat datang."
"Tapi mereka tidak mati." Ye Chen terus membantah, dalam hati Ia berpikir untuk memberi pelajaran kepada wakil tetua itu kalau Ia mendekat.
"Kenapa kau tidak cepat melapor?"
"Karena aku tidak mau dan tidak peduli," kata Ye Chen jujur. "lagipula aku juga tak tau kalau mereka akan terluka, meraka yang mengajarkan ini pada kami semua. Bukan begitu teman-teman?"
Wakil tetua terdiam, semua murid membenarkan ucapan Ye Chen. Ia pun sebenarnya sudah tau kelakuan dua orang instruktur itu tapi Ia tidak begitu peduli. "Kau akan di sidang!" serunya dan membawa kedua instruktur sendiri.
"Hebaat... aku kagum padamu."
"Namaku Ye Chen."
Satu persatu murid itu lalu mengenalkan diri. "Saudara Chen mulai saat ini, kau adalah senior kami semua." kata salah satu murid itu yang diamini oleh yang lain.
"Terserah kalian saja, aku pulang duluan." kata Ye Chen.
"Tapi ini belum waktunya pulang."
"Lalu untuk apa tetap di sini? instruktur sudah tidak ada, wakil tetua juga pergi."
"Betul kata senior, aku juga akan oergi."
"Aku juga."
"Tunggu, aku juga."
Lapangan latihan pun kosong, semua mengikuti Ye Chen pergi. Ini membuat wakil tetua yang kembali lagi bertambah gusar, dengan kesal Ia mendatangi divisi hukum akademi dan melaporkan kejadian ini. Tapi ada satu yang Ia lupakan yakni nama Ye Chen, Ia bahkan tak tau siapa dan dari mana Ye Chen ini.
Murid yang lain pun sama, hanya tau nama Ye Chen tapi tak tau tinggal dimana dan sejak hari itu Ye Chen juga tak pernah datang lagi. Sampai berita ini menguap begitu saja, sementara Ye Chen sendiri sibuk di dapur dan perpustakaan tanpa tau divisi hukum akademi sedang mencarinya.
__ADS_1