
Panglima besar Lin bergerak cepat, semua yang harus di ungsikan sudah di ungsikan. Pasukan bantuan yang terdapat di luar istana sudah dikumpulkan dan di kirim ke istana, sedangkan sebagian lain ditempatkan diluar di belakang pasukan menteri Kun.
Bahkan setelah berhasil mengumpulkan pasukan di luar Istana, jumlahnya masih belum menyamai jumlah pasukan menteri Kun.
Lebih dari setengah pasukan membelot, ditambah pasukan Sirio dan makhluk terkutuk. Jika dijumlah totalnya maka lebih dari lima ratus ribu sedangkan pasukan Istana hanya tiga ratusan ribu, ini sungguh pertempuran yang sulit.
Hasil rapat darurat militer kemudian memutuskan serangan dibagi menjadi dua, dari Istana dipimpin langsung oleh Kaisar dan panglima besar Lin sedangkan pasukan yang dukungan dari luar Istana dipimpin oleh Paman dan Lin Yungtao sebagai panglima muda yang berpusat di hutan kediaman Paman.
Di bukit Nannan terlihat cukup sibuk, kehadiran Ratu dan keluarga Istana yang diungsikan membuat bukit Nannan lebih hidup dari biasanya.
"Ibu, bagaimana dengan tempat ini? kakak Chen adalah pemiliknya."
"Aku tau, tak kusangka tempat ini ternyata cukup baik."
Ibu Ratu dan putri Jia tampak berjalan-jalan di sekitar. "Oh ya kapan dia akan datang? lihat, sudah beberapa hari sejak kita di sini, dia belum juga datang menyapa. Apa dia tidak menganggapku?"
"Bu, kakak Chen pasti sibuk."
"Aku tau." kata Ibu Ratu sambil tersenyum. Ia sangat mengenal putrinya ini, sikapnya dingin dan selalu menurut namun saat ini... "Kalau kita berhasil memenangkan pertempuran ini, jasanya pasti sangat besar." lanjut Ibu Ratu lagi. bahasa tubuhnya mengisyaratkan dukungan untuk putri Jia.
Saat kembali, putri Jia menemukan Ye Chen yang sedang duduk bersama Giro.
"Kakak Chen, apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan minat.
"Adik Jia, kemarilah. Aku ingin bertanya padamu, apakah kau ingin mengambil peran dalam peperangan ini?"
"Tentu saja." sahut putri Jia yakin.
Ye Chen terdiam beberapa saat lalu berkata, "Kalau begitu, kau harus selalu berada di dekatku atau Giro, satu lagi, sore besok kita latihan untuk mematangkan teknik kabut es."
"Eum." putri Jia mengangguk ringan, "Tapi sebelum itu bisakah kita bertemu Ibu? Ibu menanyakanmu." putri Jia tampak ragu saat mengucapkan ini, tapi dari sinar matanya tampak Ia sangat berharap.
"Tentu saja, malam nanti kita akan menemui Ibu Ratu." sahut Ye Chen tersenyum lembut.
__ADS_1
"Terima kasih kakak Chen, kalau begitu aku pergi dulu." putri Jia.
Sepeninggal putri Jia, Ye Chen berkata kepada Giro untuk bersiap dan sekaligus memintanya untuk menyiapkan pasukan seratus yang menjadi pilar bukit Nannan.
Mereka adalah seratus prajurit istana yang dulu mengundurkan diri dan bergabung dengan bukit Nannan. Setelah pelatihan singkat dan bantuan pil dari Ye Chen, mereka berhasil menerobos tingkat Surgawi dan menjadi pelindung.
"Baik tuan." Giro pun pergi dan sesuai pengaturan yang dibuat Ye Chen, Ia menemui pasukan seratus untuk membagikan segala keperluan pada peperangan nanti. Salah satunya adalah memberikan artefak perlindungan fisik dan artefak api tingkat tinggi.
Malam segera tiba, Ye Chen yang tak mau membuat putri Jia dan Ibu Ratu menunggu lama segera datang menemui mereka.
"Ibu, ini kakak Chen." putri Jia mengenalkan Ye Chen pada Ibu Ratu.
Ye Chen yang duduk di depan Ibu Ratu tampak santai, sama sekali tidak merasa rendah diri atau malu-malu. Sikapnya tegas namun tetap sopan. "Salam Ibu Ratu." ucapnya sambil menunduk sedikit.
Ibu Ratu menilai sekilas, "Anak ini cukup baik dan berwibawa." batin Ibu Ratu, setidaknya itulah kesan pertama saat bertemu Ye Chen. Dulu memang Ia pernah bertemu saat Ye Chen menerima bukit Nannan sebagai hadiah di Istana tapi itu dulu dan dalam acara resmi kekaisaran.
"Sudah berapa lama kau mengenal Jia'er?" lanjut Ibu Ratu lagi dengan tenang sementara putri Jia yang duduk di sampingnya terus memegangi lengan Ibunya. Putri Jia terlihat sesekali menarik lembut lengan Ibu Ratu kalau pertanyaannya lebih berat.
"Aku mengerti." Ibu Ratu tampak puas dengan sikap dan jawaban Ye Chen. "Oh ya bagaimana persiapannya, apakah semua baik-baik saja?" maksudnya adalah persiapan menggempur kekuatan menteri Kun.
"Hufff..."
Ye Chen membuang nafas lega setelah pertemuan ini berakhir, Ibu Ratu telah masuk ke dalam sedangkan putri Jia masih menemani Ye Chen.
"Hais tekanan ini terlalu berat." ucap Ye Chen yang masih belum sepenuhnya bisa melepas ketegangan barusan.
"Kakak Chen, tehnya." Putri Jia yang terkenal dingin menuangkan dan memberikan tehnya yang disambut dengan senyum lembut oleh Ye Chen.
"Terima kasih."
"Kakak Chen, semua akan baik-baik saja hehe."
"Aku tau hehe, kalau begitu aku pergi dahulu jangan lupa besok kita latihan. Tidurlah lebih awal."
__ADS_1
"Eum, kakak Chen juga jangan terlalu memaksakan diri."
Kedua pasangan ini lalu berpisah dengan senyum manis di hati masing-masing.
"Ibu... terima kasih. Aku sayang Ibu."
"Jia'er apa kau yakin?" Ibu Ratu bertanya sambil mengelus rambut purti Jia yang berada di pangkuannya.
"Ibu.... "
"Baiklah... baiklah, Ibu tak akan bertanya apa-apa lagi. putri Ibu sudah besar sekarang, mungkin sebentar lagi perempuan tua ini tak bisa memeluk putri kecilnya lagi."
Melihat ibunya terlihat sedih, putri Jia bangkit lalu memeluknya erat. Tak ada kasih sayang yang lebih erat dibanding hubungan antara Ibu dan anak.
Hari yang ditunggu telah tiba, putri Jia yang selalu berlatih juga telah mematangkan teknik kabut es dan sudah siap.
Serangan pembuka akan dimulai dari Istana, setelah itu pasukan luar yang dipimpin Paman dan panglima muda Lin Yungtao akan menyerang dari belakang sementara pasukan seratus dipimpin oleh Giro dan putri Jia yang bertugas mengacau pasukan menteri Kun dalam.
Sedangkan Ye Chen bergerak sendiri. Ia akan memantau pergerakan Sirio dan sesuai permintaannya saat menyusun strategi, Sirio adalah bagiannya.
"Menteri Kun! aku masih memberimu peringatan, bertaubatlah. Aku berjanji akan meringankan hukumanmu."
Kaisar Peri berteriak dengan gagah dari punggung kuda perangnya.
Melihat menteri Kun tetap diam, Kaisar Peri berteriak lagi, "Wahai prajuritku, inikah balasan kalian setelah bertahun-tahun dipelihara negara? apa kalian tau kalau berkhianat adalah perbuatan paling hina?"
"Tapi aku, sebagai kaisar masih memberi kalian kesempatan. Tinggalkan menteri pengkhianat dan kembalilah."
Ini serangan mental. Dengan kata-kata ini, kaisar menyerang titik lemah prajurit yang khianat, berharap bisa mengendurkan semangat mereka.
"Jangan dengarkan! kita pasti berhasil, jumlah mereka bahkan tidak sampai setengah kekuatan kita."
Untuk pertama kalinya menteri Kun bersuara. Para prajuritnya tampak mulai bimbang setelah mendengar janji kaisar.
__ADS_1