
Belati Iblis di tangan Ye Chen bergerak berkali-kali ke tubuh pria itu sampai hampir tewas dan terakhir Ia membelah kepalanya lalu memotongnya. Gerakan ini sangat cepat sampai tidak terlihat oleh pengunjung lain, mereka baru menyadarinya ketika melihat kepala pria menggelinding di lantai dengan otak yang berhamburan.
Di dunia kultivator, membunuh dan terbunuh itu adalah yang biasa. Pembunuhan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, yang kuat tentu akan dengan senang hati dan bangga menekan yang lebih lemah. Namun apa yang dilakukan Ye Chen ini sungguh diluar nalar, mungkin hanya dia saja yang melakukan pembunuhan dengan caranya.
"Hais, padahal aku sudah tidak mau membunuh. pakaianku jadi kotor lagi." kata Ye Chen sambil melihat pakaiannya yang bernoda darah.
"Pendekar Sadis...."
Gumam sebagian pengunjung, desas desus adanya seorang kultivator yang kerap menyiksa lawannya sudah tersebar luas. Pemilik rumah makan sendiri kembali ketakutan, ini kali kedua Ye Chen membunuh ditempatnya.
"Paman... ah sudahlah, terima kasih resepnya." Ye Chen pun meninggalkan rumah makan itu dengan hati senang karena telah mendapat resep kesukaannya.
"Senior Lin, tenanglah... sebentar lagi temanmu pasti datang." seorang murid lain menegur Lin Yungtao yang terus saja mondar-mandir di depan gerbang akademi langit.
"Ah kau tidak mengerti. Aduh kemana juga anak itu, bukankah aku sudah mengirim surat untuk datang hari ini." gerutu Lin Yungtao.
"Apa kau sudah mengirim surat pendaftarannya?" tanya murid itu lagi.
"Sudah dari beberapa hari yang lalu."
"Ini sudah terlambat, senior Lin maaf aku duluan."
Belum beranjak dari tempatnya, dari jauh sebuah bayangan muncul. Berjalan dengan santai.
"Nah itu dia!" seru Lin Yungtao. Murid itu tidak jadi pergi, Ia juga penasaran siapa yang Lin Yungtao tunggu sampai begitu gelisah.
"Saudara Chen cepatlah, hais malah jalan santai." Lin Yungtao lagi-lagi menggerutu. Ia lalu menoleh ke murid itu dan berkata, "Jangan menyinggungnya, ingat itu baik-baik." Murid hanya mengangguk heran.
"Saudaraku Lin Yungtao, apa kabar? apa kau menjemputku? terima kasih, terima kasih...." kata Ye Chen tanpa dosa.
__ADS_1
"Kenapa kau terlambat? lihat babak penyisihan sudah dimulai. Dan eh? kenapa juga dengan pakaianmu ini...."
"Oh ini, tadi sarapan sebentar, ada yang menggangu ku... jadi ya kubelah saja kepalanya dan kupotong dan...
"Sudah, sudah ayo kita masuk." Lin Yungtao memotong ucapan Ye Chen, kalau tidak, pasti Ia akan menjelaskan dengan rinci cara lawannya tewas.
"Apa aku harus berganti dulu?" tanya Ye Chen lagi, Ia juga tak nyaman ikut seleksi dengan pakaian penuh bercak darah. Makanya Ia tidak mau meladeni pria di rumah makan itu.
"Tak ada waktu lagi, ayo cepat."
Murid yang menemani Lin Yungtao diam saja tak tau harus berkata apa, tadinya Ia juga hendak mengingatkan keterlambatan Ye Chen tapi tak tau harus mulai dari mana. "Senior Lin, orang macam apa yang kau bawa ini?" ucapnya dalam hati, Ia yakin apa yang Ye Chen katakan itu benar adanya.
Sesuai petunjuk Lin Yungtao, Ye Chen harus menyerahkan surat pendaftaran itu pada panitia yang ada di pintu masuk arena seleksi. Dia sendiri tidak ikut karena hanya calon pendaftar saja yang boleh masuk, Ia dan murid yang menemaninya mengambil posisi di bangku penonton.
Ajang seleksi murid baru memang selalu menarik perhatian, seperti hiburan bagi semua penghuni akademi. Para guru biasanya akan mencari bibit yang berbakat untuk dijadikan murid.
"Kau terlambat, datang lagi tahun depan." kata panitia yang bertugas.
"Oh sudah terlambat...?" kata Ye Chen seolah tanpa beban, kalau tidak bisa ya sudah tidak jadi saja, pikirnya.
"Heh tunggu," seru panitia itu lagi ketika Ye Chen yang tenang berbalik dan berjalan pergi. "Begitu saja? apa kau tidak memohon atau meminta keringanan?" tanya panitia itu lagi, Ia merasa heran, baru kali ini ada calon murid yang datang terlambat dan tidak mengatakan apa-apa, langsung pergi tanpa meminta keringanan. Apakah menjadi murid akademi langit sudah tidak populer lagi? pikirnya.
Ye Chen menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri panitia, "Memangnya boleh?" tanyanya.
Panitia itu jadi bingung sendiri harus berkata apa, ini adalah kasus yang baru pertama kali terjadi sejak akademi berdiri.
"Menarik... bagaimana menurutmu?" Tampak di tribun utama seorang pria tua yang merupakan salah satu tetua bertanya pada tetua lain di sampingnya.
"Bakatnya cukup bagus, tapi aku sedikit sangsi masalah kedisiplinan." sahut tetua yang lain itu.
__ADS_1
Salah satu tetua lagi ikut berkata, "Dia hanya tingkat Suci, masih bisa diajari."
Salah satu tetua itu lalu mengirim pesan kepada panitia penerima murid baru agar membiarkan Ye Chen masuk dengan syarat harus membereskan satu arena.
"Begini, kau akan diterima jika membereskan salah satu arena di sana." kata panitia itu.
Ye Chen yang tak mengerti maksudnya bertanya maksud perkataan panitia. "Kau lihat arena itu? nah bereskan semua peserta di sana sampai minimal hanya ada tiga orang termasuk kau sendiri. Bagaimana, apa kau sanggup?"
"Oh itu, baik akan kucoba," kata Ye Chen, namun sebelum pergi Ia bertanya lagi. "Apa aku bunuh semuanya dan menyisakan dua orang saja?"
Panitia itu kaget, tak menyangka ucapan itu keluar dari mulut Ye Chen. "Dilarang membunuh." katanya sambil menggeleng kepala.
Sebelum pergi ke arena, Ye Chen menatap tribun utama sebentar lalu tersenyum.
"Eh? apakah dia tau kita di sini?" ucap tetua di tribun utama, "Tidak mungkin, tribun ini tertutup, mustahil Ia menyadari keberadaan kita." sahut tetua yang lain.
Babak penyisihan calon murid akademi langit dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok akan di tempat di salah satu arena dan bertarung sampai menyisakan dua puluh orang saja.
Arena yang Ye Chen masih tersisa seratus orang, artinya sembilan puluh tujuh orang lagi harus tersingkir dari sana.
Tapp...
Ye Chen menaiki arena. mendeteksi semua yang ada di sana. "hm, sulit juga." gumam Ye Chen yang tidak mau memperlihatkannya kekuatannya. Tiba-tiba Ia mendapat ide. "Saudara-saudara maaf datang terlambat." katanya, dan membuat pertarungan di atas arena terhenti.
Tak ada yang mengira Ye Chen juga salah satu peserta karena datang terlambat.
"Aku membawa arak untuk kalian semua, tenanglah, tak usah banyak curiga. Memang ini salah satu tradisi di sini." Ye Chen diam sebentar, mengatur seguci arak dan mencampurnya dengan obat bius lalu memberikannya pada mereka bersama satu buah cawan kecil.
"Ini tradisi baru, tenang saja ini bukan racun, atau kalian lemah terhadap racun?" sambung Ye Chen lagi ketika salah satu peserta mengatakan tahun lalu tak ada tradisi seperti itu.
__ADS_1