Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kerja Sama Yang Gagal


__ADS_3

"Saudara Chen, maaf menunggu lama." Seorang pria paruh baya datang menyapa Ye Chen pada keesokan harinya.


"Anda...?"


"Oh maaf aku Gu Liang, Gu Yongzheng adalah adikku. Aku sudah mendengar pesan dari Gu Yongzheng dan dari surat yang Ia titipkan padamu."


"Silahkan ketua Gu, aku mendengarnya." ucap Ye Chen.


Ketua Gu Liang lalu melanjutkan, "Saudara Chen, anda tau ekonomi sekarang sedikit sulit. Aku terus terang saja, aku tidak bisa mengabulkan permintaan saham sebesar dua puluh persen."


"Anda salah paham ketua Gu," kata Ye Chen. "Aku sama sekali tidak pernah meminta saham paviliun anda, ketua Gu Yongzheng sendiri yang memberikan tawarannya. Anda pasti sudah tau."


Pembicaraan semakin alot, ketua Gu Liang sebagai pemimpin pusat dari paviliun Teratai hanya bersedia memberikan saham sebesar lima persen, itupun jika Ye Chen berhasil menjuarai turnamen dan menjadi wakil kekaisaran di benua Utara nanti.


Ye Chen menggeleng pelan. "Baiklah, kalau begitu kesepakatan kita hanya sampai di sini saja. Maaf mengganggu waktu anda." Sebisa mungkin Ye Chen bersikap sopan.


Ye Chen berdiri menangkupkan tinjunya dan pamit mengundurkan diri.


Karena kesepakatan di antara mereka gagal, Ye Chen tidak mungkin lagi untuk tinggal di paviliun. Ia memutuskan bermalam di penginapan. Kepingan emas yang diberikan Gu Yongzheng padanya tetap Ia simpan. Dua juta keping emas, jumlah ini tentunya tidak sedikit.


"Saudara Chen tunggu sebentar, aku sungguh menyesal kerja sama ini gagal," ucap ketua Gu Liang, mengambil kantong penyimpanan di cincinnya dan memberikan pada Ye Chen. "Ini sebagai permintaan maaf dariku."


Ye Chen menatap kantung penyimpanan di tangan Gu Liang. "Tidak perlu, dan jangan sungkan begitu, simpan kembali uang anda."


Sebetulnya ketua Gu Liang sangat ingin menjadikan Ye Chen wakilnya, tapi Ia juga sangat sayang memberikan saham paviliun kepadanya. Berbeda dengan Gu Yongzheng yang tidak ragu dengan Ye Chen.


Satu yang Gu Liang tidak sadari adalah Ye Chen sama sekali tidak peduli dengan saham paviliun Teratai, Ia hanya mengikuti arus saja.


Di desa Ye juga ada paviliun alkemis, dalam hal pembuatan pil saja sudah jelas nona Ong dan yang lain lebih hebat dari alkemis paviliun Teratai.


Jangankan menyentuh kantung pemberian ketua Gu Liang, melirik saja Ye Chen malas.


Hal ini membuat gusar pelindung paviliun Teratai pusat ini, tanpa di duga Ia mengeluarkan aura penindasan terhadap Ye Chen.


Sedikit gusar karena mendapat tekanan dari tingkat Langit tahap tinggi, Ye Chen berkata kepada ketua Gu Liang. "Ketua Gu aku menghargai anda sebagai saudara tua ketua Gu di kota Kenanga, tapi anda harus tau aku tidak takut." Ye Chen melindungi diri dengan memasang perisai tubuh.


"Katakan pada orang di sebelahmu, aku siap mengadu tinju kapan saja Ia mau."


Ketua Gu Liang yang tidak menyangka situasi jadi berkembang jauh mengangkat tangannya, meminta pelindung paviliun menghentikan perbuatannya.


"Saudara Chen, maafkan pengawalku ...

__ADS_1


Ye Chen sudah tidak peduli, Ia meninggalkan ketua Gu tanpa menunggunya menyelesaikan ucapannya.


"Tuan, biar kuberi pelajaran padanya." kata seseorang yang muncul dari bayangan gelap di sisi ketua Gu.


"Jangan, biar bagaimanapun Ia adalah utusan dari adikku lagipula pelindung kota Kenanga mengenalnya sebagai peserta turnamen."


Pelindung paviliun Teratai ini masi tidak terima, menurutnya Ye Chen tidak menghargai niat tulus ketuanya.


Ini wajar bahkan kaisar pun harus menaruh hormat pada ketua Gu Liang. Paviliun Teratai bukanlah tempat setiap orang bisa berbuat seenaknya.


Keesokan harinya Ye Chen yang bermalam di sebuah penginapan kecil di pinggiran kota terbangun mendengar suara ribut-ribut di bawah.


Ternyata beberapa orang pria yang merasa tidak puas dengan pelayanan di penginapan.


Salah satu pria menunjuk Ye Chen yang baru turun dan mendapat pelayanan terlebih dahulu.


"Hei pelayan!" kata seorang pria lagi sembari memukul meja. "Aku lebih dulu di sini, kenapa kau melayaninya terlebih dahulu, hah?"


Tergopoh-gopoh si pelayan menghampiri pemuda yang marah-marah. "Tuan, tuan itu adalah tamu di penginapan kami, bukan kami mendahulukannya tapi hidangan untuknya memang telah kami sediakan sebagai layanan penginapan."


"Tidak peduli, aku tidak terima. Cepat sediakan sarapan untuk kami dan ingat aku tidak mau membayar sepeserpun hidangan kami."


"Jangan begitu tuan, lihatlah tempat kami, kasihanilah tuan." si pelayan berusaha membujuk dengan takut.


"Apa kau yakin dia orangnya?" bisik salah satu pria.


"Seratus persen yakin, aku mengikutinya dari kemarin, tak mungkin aku salah."


"Ayo ikuti dia. Kali ini kita harus berhasil."


Keempat pria ini lalu mengikuti Ye Chen dengan tetap menjaga jarak.


Ye Chen berjalan ke sebuah jalan sepi, menunggu dengan tenang di sana sampai empat pria yang mengikutinya juga sampai.


"Hehe... mau lari kemana kau?"


"Kakak jangan main-main, kita serang saja."


"Kau benar adik." kata pria yang dipanggil kakak itu lalu mengeluarkan senjatanya di ikuti yang lain.


"Ayo kita selesaikan, jangan ragu. kalau dia melawan, bunuh saja." ucapnya lagi.

__ADS_1


Ye Chen yang dari tadi hanya diam melihat mereka juga mengeluarkan pedang hitamnya, tak mau mengaggap remeh musuhnya, meskipun empat orang di depannya sama-sama berada di tingkat Bumi tengah yang bisa dengan mudah Ia kalahkan.


Dua orang sekaligus maju menyerang, menghunus pedang menusuk dada dan perut Ye Chen.


Ye Chen mendengus menangkis tusukan di perutnya dan melompat ke belakang menghindari tusukan di dadanya.


Dua pria lain tidak tinggal diam, begitu melihat Ye Chen melompat, dua pria lain ini bergerak cepat ke belakang Ye Chen, mencoba menusuk punggung Ye Chen dan membabat kakinya.


Trang...


Ye Chen menangkis pedang yang mengincar kakinya lalu berguling menjauh menghindari tusukan di pundaknya.


Pertarungan Ye Chen melawan empat orang berlangsung sengit, setiap serangan yang dilancarkan empat orang ini dengan mudah dapat Ye Chen hindari.


Sebenarnya ada beberapa lowongan yang bisa Ye Chen manfaatkan tapi Ia masih ingin melihat gaya bertarung musuhnya.


"Tinju Penggetar Langit...."


Ye Chen menangkis dengan pedangnya, membelah energi tinju yang menyerangnya.


Berturut-turut tiga tinju lain menyerang Ye Chen dari sisi lain yang dengan agak susah Ye Chen hindari.


Serangan gabungan empat tingkat Bumi menengah memang tidak main-main, apalagi empat orang ini tampaknya telah terbiasa bertarung bersama.


Ye Chen melompat menjauh, Ia kini mulai serius, selapis aray tipis menyelimuti Ye Chen.


Dengan menggengam erat pedangnya, Ye Chen melesat mengejar musuh terdekat dan...


Crass...


Jleebb...


Dua musuh tumbang, yang satu tersungkur dengan luka lebar di dadanya dan yang satu lagi langsung tewas, perutnya tertembus pedang hitam yang Ye Chen lempar.


"Bangsaaa**t kau membunuh saudarakuu! akan kubelah tubuh jelekmu itu." teriak pria tertua sambil melihat Ye Chen memungut pedang hitamnya.


"Langkah angin kedua...."


Traangg...


Crass...

__ADS_1


Hanya sempat menangkis tusukan pertama, serangan kedua berhasil memotong kaki pria lain.


"Nah sekarang giliranmu," ucap Ye Chen dingin sembari menatap pria tertua yang mulai mundur-mundur menjaga jarak. "Ayolah kak, kesinilah biarkan aku membelah tubuh jelekmu itu." lanjut Ye Chen meniru ucapannya.


__ADS_2