
Seluruh arena bergoncang keras karena pertemuan dua kekuatan besar, goncangan ini bahkan terasa sampai keluar arena. Arena pertandingan juga hancur berantakan menyisakan puing-puing yang berserakan.
Untungnya tidak korban jiwa di antara penonton karena sudah sejak tadi mereka keluar, hanya penonton yang kultivasnya tinggi saja masih ada di sana.
Ye Chen terlempar, memuntahkan seteguk darah kental berwarna hitam. "Hah orang tua itu sangat kuat," batinnya sambil menelan pemulih lalu kembali memantapkan posisinya, bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya.
"Anak muda, kau hebat bisa menahan seranganku." puji patriark Jun yang sama sekali tidak terluka. Tentu saja Ia bukan tandingan Ye Chen.
Ia lalu melirik tetua yang kini terbaring di tanah. "Bawa dia pergi." perintahnya, kemudian seorang tetua lain muncul dan membawanya pergi.
"Nah anak muda, sekarang katakan, apa maumu dan kenapa kau menyerang orangku?" tanyanya dengan aura intimidasi yang kuat sehingga Ye Chen harus menggigit bibirnya berusaha menahan tekanan ini.
Ye Chen yang berusaha tetap tenang kemudian berkata, "Jangan pura-pura bodoh pak tua, sama sepertimu, akupun tak mau ada yang mengganggu orangku." Ia tak harus bersopan santun, diam-diam Ia mempersiapkan segala kemungkinan dengan memasang perisai. Ini adalah lawan terberatnya jika harus bentrok.
Patriark Xiao mengernyit, "Hoho kasar sekali, tidakkah kau tau dengan siapa kau berbicara?"
"Aku tak tau dan tidak mau tau. Sudahlah pak tua, lekas katakan maksudmu."
"Aku tak bisa melepasmu. Hm, begini saja, kau hadapi orangku dan aku akan membebaskanmu." Setelah berkata demikian, Ia lalu memanggil tetua luar untuk menghadapi Ye Chen.
Tetua luar, kultivasinya berada di tingkat Suci tahap tinggi, dua tahap di atas Ye Chen yang masih di tahap awal.
Di tantang begini, Ye Chen tetap diam. Mungkin Ia bisa menang kalau perbedaannya hanya satu tahap saja tapi ini dua tahap, sungguh merepotkan. Pikirannya bekerja, lalu tiba-tiba Ia tersenyum "Mungkin aku harus mencobanya lagi."
"Oh jadi ini yang telah membunuh wakilku," ucap tetua luar. Ia telah menyelidiki semua peristiwa hilangnya wakil dan muridnya, mustahil rasanya sekte sebesar sekte Pedang Langit tidak mengetahui hilangnya salah satu tetua mereka. "Hari ini kau harus membayarnya dengan kepalamu."
__ADS_1
Dari pinggir lapangan, patriark Jun berkata, "Sekte Pedang Langit tidak mencampuri perkelahian ini."
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan patriark Jun, tetua luar langsung menerjang. Ia memegang pedang dengan niat membunuh yang besar. Ye Chen hanya menghindar saja, sesekali Ia terlihat menangkis.
Tetua luar bergerak terus, sementara patriark Jun terus mengawasi. Entah apa yang Ia pikirkan, sesekali Ia tersenyum puas tapi tak jarang Ia memasang raut kecewa.
Ye Chen mulai terdesak, hanya langkah angin ketiga yang membuatnya bisa menahan tekanan lawan tapi sayangnya tehnik puncak ini tak bisa terus digunakan dalam pertarungan karena membutuhkan energi yang besar. Semakin kuat suatu tehnik maka energi yang dibutuhkan akan semakin besar juga.
"Kalau tetuanya saja sekuat ini, bagaimana dengan orang tua itu." batin Ye Chen yang mau tidak mau harus mengakui kekuatan sekte Pedang Langit yang memiliki banyak tetua ditingkat Suci.
Pertarungan berjalan semakin liar, arena yang sebelumnya telah hancur bertambah rusak. Tak ada lagi yang namanya tribun utama, semuanya telah rata dengan tanah.
Sementara itu Ye Chen yang saat ini telah melepas semua kekuatannya di tingkat Suci awal terus terdesak, beberapa pil pemulih telah Ia konsumsi. Rencana awalnya adalah Ia ingin memaksa kultivasinya naik dengan metode yang sama dengan yang dilakukan oleh senior He tapi sesuatu yang lain menarik perhatiannya.
Dalam pandangannya, setiap tetua luar berhasil menekannya, ada semacam uap hitam yang sangat halus yang juga ikut menekannya. Mulanya Ia ragu, tapi setelah memastikannya dengan berpura-pura terjatuh sehingga tetua luar berhasil memukulnya, akhirnya Ia yakin.
Masalahnya sekarang adalah tak mungkin tetua luar hanya sendiri, pasti ada yang lain yang mungkin lebih kuat. Aku tak boleh menggunakan aura itu kalau tak mau ketahuan, akan kucoba memancingnya menjauhi arena ini pikirnya.
Bicara memang mudah namun kenyataannya sangat sulit, rencana awalnya yang sudah cukup matang dan harus berubah di tengah jalan terdengar gampang tapi jangankan menjauhi arena, bahkan mendesaknya saja sudah sulit.
"Tehnik Pedang Petir."
Tetua luar mulai membuka tehniknya, tampak biasa bagi yang sudah pernah melihat tehnik milik sekte Pedang Langit ini tapi Ye Chen tau betul ada aura hitam tipis di sana.
"Itu dia." gumam Ye Chen sambil tersenyum, tak kusangka peluang itu akhirnya muncul pikirnya lalu melompat jauh dan berlari meninggalkan arena.
__ADS_1
Bahkan patriark Jun juga tertipu, "Dia melarikan diri?"
"Bisa jadi, ayo kita ikuti." ajak patriark Xiao tapi patriark Jun menolaknya. "Berarti dia tak cukup jika kabur, sudah biarkan saja biar tetua luar yang mengurusnya." ucap patriark Jun tak acuh.
"Hehehe mau lari? tak semudah itu." tetua luar mengejar Ye Chen sambil melepas tehniknya, menghujaninya dengan pedang petir yang tak pernah habis.
"Kurasa ini cukup." Ye Chen yang berada jauh di depan tiba-tiba berhenti setelah merasa cukup jauh.
Dengan cepat Ye Chen membuat segel, "Hehe kau sudah terpojok, kau tak akan bisa lari dariku." dengan gayanya, tetua luar berkata sesumbar. Ia melangkah mendekati Ye Chen tanpa peduli segel formasi yang mulai terbentuk ketika Ia masuk.
"Mau mengancamku dengan formasi rendahan? hahaha mampus kau!"
Slash...
Pedang Qi melesat dengan kuat, membelah udara, langsung menuju Ye Chen yang hanya berdiri dengan senyuman.
trakk...
"Eh, apa yang terjadi?" tetua luar heran serangannya membentur sesuatu, barkali-kali Ia mencoba tapi hasilnya tetap sama.
"Kurang ajar...! cepat lepaskan segel ini atau aku akan menghancurkanmu." tetua luar mulai panik.
Ini adalah segel formasi waktu, dalam waktu singkat Ye Chen berpikir dan ingin mencoba formasi waktu dan hasilnya sungguh luar biasa. Tetua luar terjebak tanpa bisa berbuat apa-apa, sementara Ye Chen dengan santainya mengirim belati Qi dari luar aray, selalu mengincar bagian terlemah dari setiap gerakan tetua luar.
Karean waktu di dalam formasi lebih cepat dengan waktu tempat Ye Chen berdiri, maka dengan sendirinya tetua luar akan lebih cepat lelah. Sampai suatu ketika, saat tetua luar mulai menunjukkan identitas aslinya.
__ADS_1
Dari tubuhnya keluar uap hitam tipis, yang perlahan berubah menjadi kabut hitam. "Sekarang!" Ye Chen berseru, Ia melompat ke dalam aray, pedang hitam di tangan kanan sedangkan belati iblis di tangan kiri.
Ini seperti dua kekuatan iblis yang saling berlomba untuk mengalahkan musuhnya.