
"Tuan muda, apakah kita akan langsung menyerang markas mereka?" Tanya Sun Yi.
Ye Chen dan rombongannya kini berada di depan sebuah bangunan yang menjadi markas para perampok.
Tidak tahan dengan siksaan yang di lakukan Ye Chen membuat tawanan yang di tangkap Sun Yi akhirnya mengatakan dimana para tawanan yang akan dijadikan budak-budak iTunes dibawa pergi.
Ye Chen yang kembali mengedarkan kekuatan spiritualnya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Sun Yi.
"Hati-hati, perhatikan baik-baik langkah kalian. Tidak usah menahan diri." Kata Ye Chen datar, Ia sendiri tidak ikut masuk.
Sun Yi dan yang lain lalu bergerak cepat menerobos masuk ke dalam markas perampok.
Pasukan ini dibagi menjadi dua, Sun Yi memimpin sepuluh orang yang bertugas melakukan serangan langsung dan Sun Li memimpin lima orang bertugas mencari tempat para tawanan yang disekap.
"Berhenti!! siapa ka...
Belum sempat penjaga gerbang bertanya, sebatang pedang sudah menembus dadanya. Rekannya yang berdiri disamping juga tak sempat memberikan reaksi karena sebatang pedang lain menembus dadanya.
Sun Yi dan kelompoknya masuk terlebih dahulu, mengamankan area dekat pintu gerbang. Setelah aman barulah Sun Li dan kelompoknya masuk lalu berpencar menjadi kelompok kecil yang terdiri dari dua orang.
Serangan ini di lakukan di siang hari, bukan karena Ye Chen ceroboh atau memandang enteng lawan tapi Ia tak merasakan aura yang kuat dari dalam markas ketika mengedarkan kekuatan spiritualnya.
Ye Chen juga tak hanya diam saja, Ia ikut masuk memeriksa. Bisa jadi ada ketua atau pemimpin para perampok ini menyembunyikan auranya.
Trang.. trang...
Suara beradunya senjata mulai terdengar, pertarungan terbuka sudah di mulai. Sun Yi dan kelompoknya tidak mendapat masalah yang berarti, berada di tingkat Bumi awal membuatnya sangat mudah menghabisi lawan yang sebagian besar hanya di tingkat emas awal.
Kelompok Sun Yi merangsek masuk ke bagian utama markas musuh, mereka di hadang oleh sekelompok orang dengan pakaian yang sama.
"Berhati-hatilah, orang-orang di depan kita ini tidak sama dengan orang-orang diluar tadi. Mereka lebih kuat," kata Sun Yi kepada kelompoknya. "Yang paling depan bagianku, dia bukan lawan kalian." Ucapnya lagi.
"Berani sekali kalian menyerang tempat ini, apa kalian tau ini tempat apa, ha?" Orang yang berdiri paling depan membentak marah ke arah Sun Yi dan kelompoknya.
"Aku datang mencari temanku yang kalian tawan." Ucap Sun Yi.
Pria yang menjadi pemimpin di markas ini mengernyit, dengan cepat Ia menganalisa siapa yang Sun Yi maksud.
Di antara semua tawananya, hanya ada satu yang tidak seperti yang lain. Seorang kultivator wanita yang cantik, dari penampilannya sudah terlihat dia bukan orang biasa, tapi Ia tidak takut.
"Oh rupanya kalian ini teman wanita itu hahaha... , kalian akan terlambat jika tidak cepat menolongnya, saat ini Ia sedang bersama ketua kami, kuakui racun kami tidak berpengaruh banyak padanya, tapi jangan sebut kami sekte Racun Darah kalau tak mampu meracuninya haha..." Kata pria di depan Sun Yi.
Dari jauh Ye Chen yang mendengar ini sempat kaget, ternyata sekte Racun Darah, pantas saja mereka masih berani menculik orang-orang untuk dijadikan budak pikir Ye Chen.
"Nona Xiao, bertahanlah..." Ye Chen mengedarkan kekuatan spiritualnya mencari ruangan tempat Xiao Yun disekap. Sayangnya Ia tidak menemukan tempat yang Ia cari.
Berpikir sebentar, Ye Chen memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan besar di tengah markas sekte Racun Darah.
Suasana begitu sunyi saat Ia masuk, hanya terlihat ruangan yang kosong.
"Tuan muda, anda di sini?" Sun Li muncul, di pikirannya Ye Chen tidak akan masuk ke sini.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Ye Chen.
"Di sini tidak ada apa-apa, aku menemukan sebuah ruangan namun sayang kami tidak bisa masuk. Ruangannya di segel tuan." Sun Li berkata sambil berjalan ke ruangan yang dimaksud.
__ADS_1
Di depan pintu ruangan yang kokoh telah menunggu kelompok Sun Li.
"Tuan muda..." Sapa mereka serempak.
Ye hanya mengangguk dan melangkah mendekati pintu ruangan itu. Pantas saja aku tidak bisa memprediksi ruangan ini, rupanya ada segel formasi yang menguncinya.
Braakk..
Ye Chen mendobrak pintu setelah melemahkan segel formasinya.
Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan lain yang seperti penjara. Ruangan-ruangan ini penuh terisi orang-orang yang diculik.
Mereka dipisahkan berdasarkan usia dan jenis kelaminnya. Anak-anak, wanita dewasa, pria dewasa, di tahan dalam ruangan yang berbeda.
Ruangan yang kotor, lembab dan berbau dipenuhi oleh wajah-wajah yang tidak memiliki semangat hidup lagi.
Sungguh membuat hati sakit melihat ini.
"Kalian pergilah bantu Sun Yi, biar yang di sini aku bereskan." Kata Ye Chen.
Tidak menunggu perintah dua kali, Sun Li bersama kelompoknya pergi meninggalkan Ye Chen.
Di ruangan paling ujung, Ye Chen tersenyum menemukan apa yang Ia cari, nona Xiao. Aura kehidupannya sangat kecil, inilah kenapa Xiao Yun sangat susah di temukan.
Ye Chen membuka jeruji ruangan tempat Xiao Yun disekap dengan mudah.
Ruang penyekapan yang lebih mirip penjara ini memang tidaklah terlalu ketat, bukan hanya penjaganya yang sedikit tapi ruang penyekapan juga tidak dikunci.
Selama ini tidak ada yang berani mengusik sekte Racun Darah, jadi untuk apa menguncinya, pikir mereka
Tapi mereka membuat kesalahan yang besar, menangkap Xiao Yun berarti berani menyinggung Ye Chen.
Hari ini sekte Racun Darah akan menerima nasibnya.
"Nona Xiao telanlah dulu pil ini." Dengan lembut Ye Chen memasukkan pil kedalam mulutnya dan menyalurkan Qi untuk membantu penyerapan pil.
Xiao Yun membuka matanya, begitu melihat Ye Chen duduk di sampingnya Ia langsung menghambur memeluk Ye Chen sambil menangis.
Sempat gugup karena ini adalah kali pertama Ye chen begitu dekat dengan seorang wanita, Ye Chen menenangkan hatinya dan mengelus punggung Xiao Yun.
"Sudah... tenanglah nona Xiao, ada aku di sini, tidak akan terjadi apa-apa padamu." Ucap Ye Chen masih sedikit berdebar.
Dengan pelan Xiao Yun melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipinya dan berkata.
"Terima kasih sudah datang."
Ye seolah enggan melepaskan pelukan yang membuatnya berdebar ini, tersenyum dan berkata.
"Kalau kau masih ingin memelukku, aku tidak keberatan. Ternyata enak juga yah dipeluk olehmu nona Xiao."
"Tuan muda... maaf... ..." Xiao Yun hanya bisa tertunduk dengan muka merah, malu dan memilih tidak melanjutkan kata-katanya.
Ini juga kali pertama Xiao Yun memeluk seorang pria, meskipun itu adalah Ye Chen yang notabene adalah tuannya, tetap saja hatinya sedikit berdebar apalagi Ye Chen ini sangat tampan dengan mata hitamnya yang teduh.
"Nah sekarang ceritakan bagaimana kau bisa ada di sini." Pinta Ye Chen yang ingin mendengar kisah Xiao Yun.
__ADS_1
"Setelah aku kembali dari ke desa sesuai permintaan tuan muda, aku kembali ke tempat kita bertemu." Xiao Yun memulai ceritanya.
Tidak menemukan Ye Chen dan rombongannya, Xiao Yun akhirnya memutuskan mengikuti jejaknya dan mengambil jalan yang salah.
Perlahan Ia semakin jauh dari rombongannya Ye Chen.
Sampai suatu ketika Ia bergabung dengan rombongan pengungsi yang cukup banyak yang ingin pergi ke kekaisaran Ye.
Suatu hari rombongannya ini dihadang oleh sejumlah perampok dan karena kalah jumlah maka mereka semua akhirnya ditawan.
Hanya Xiao Yun yang sanggup memberikan perlawanan tapi akhirnya Ia takluk juga setelah menghadapi dua kultivator tingkat Bumi, yang satu berada di tahap awal dan yang satu lagi di tahap menengah yang adalah ketua dari perampok.
Melihat kecantikan Xiao Yun, ketua perampok merasa tertarik dan mencoba menggoda Xiao Yun dan karena tidak mendapat respon, sang ketua marah lalu menyiksa Xiao Yun.
Berulang kali Xiao Yun mendapat pelecehan dari si ketua, meski tidak menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif tapi ini benar-benar membuatnya marah dan entah apa yang akan terjadi padanya jika hari ini Ye Chen tidak datang menolong.
"Tuan muda, ketua keparat itu berada di dalam kamar paling ujung disebelah kiri. Dia membawa salah satu tawanan kesana dan malam nanti adalah giliranku katanya." Mata Xiao Yun berkilat penuh dendam saat mengatakan ini.
"Tuan muda... bisakah kau keluar sebentar?" Dengan malu-malu Xiao Yun meminta Ye Chen keluar.
"eh, memangnya ada apa nona Xiao, apakah kau terluka, kau sakit?" Ye Chen yang tidak mengerti malah semakin mendekat dan meraba dahi Xiao Yun memeriksa suhu tubuhnya.
"Tidak panas." Gumam Ye Chen dan kembali memegang pundak Xiao Yun memeriksa apakah Ia terluka
Ketika akan memeriksa perutnya, tangan Ye Chen ditahan oleh Xiao Yun.
"Tuan muda, aku tidak sakit.. tolong berbaliklah." Pintanya memohon dengan sangat canggung.
"Oh baiklah, aku hanya kuatir kau terluka atau masih ada sisa racun ditubuhmu." Ucap Ye Chen lalu membalikkan badan, tidak mengerti sikap Xiao Yun.
"Apakah tuan muda masih menyimpan pakaian atau kain?"
Degg...
Ye Chen yang baru sadar, kondisi Xiao Yun saat ini. Pakaiannya sudah tidak utuh lagi, beberapa tempat dibajunya telah robek. Ye Chen juga masih ingat dengan jelas betis putih mulus yang dipegangnya tadi.
"Aduh kenapa aku sampai lupa begini, nona Xiao ini kan wanita... eh, wanita cantik, ..."
Plak...
Ye Chen memukul jidatnya sendiri.
"Apa yang kupikirkan ini." Ucapnya dalam hati.
Ye Chen mengeluarkan satu stel baju dari cincinnya, memberikan pada Xiao Yun lalu melangkah keluar.
"Maaf nona Xiao hanya itu yang aku punya."
Xiao Yun hanya diam termangu menerima baju dari Ye Chen, Ia baru sadar saat Ye Chen tidak berada disitu lagi. Dengan cepat Ia mengganti bajunya, baju yang melekat di tubuhnya Ia buang. Baju itu sudah beberapa hari tidak diganti.
Baju yang diberikan Ye Chen adalah bajunya sendiri, tampak kebesaran di badan Xiao Yun. penampilan fisik Ye Chen memang berbeda dari usianya, Ia tampak seperti pria dewasa dengan tubuhnya yang kekar.
"Tuan muda..."
Xiao Yun tersenyum kecil lalu duduk dan memulihkan diri. Tidak butuh waktu lama, Ia keluar menemui Ye Chen yang melihat ke ruangan tempat ketua perampok berada.
__ADS_1