
Melihat paman datang, puteri Jia Jia yang sedang melamun segera berdiri. "Tidak baik seorang gadis melamun," tegur paman. "Apalagi seorang puteri seperti anda." lanjutnya lagi.
"Siapa bilang aku melamun, bagaimana apakah tuan Chen sudah menyalin petanya?" tanyanya buru-buru, tak menghiraukan ucapan paman.
Paman memperlihatkan salinan peta di tangannya dan berkata hari ini juga mereka akan segera pergi.
"Paman, pakah tidak terlalu buru-buru? bagaimana kalau nanti-nanti saja?"
"Apanya yang nanti-nanti, hampir dua tahun kita meninggalkan rumah. Kaisar dan yang lain pasti khawatir." bantah paman.
"Tapi paman...."
"Tidak ada tapi-tapi, cepat bereskan barangmu. Oh ya tuan Chen mengucapkan salam."
Mata puteri Jia berbinar, "Apalagi paman, apalagi yang tuan Chen katakan?"
"Hanya salam saja, hati-hati di jalan." kata paman lagi. "Baiklah, baiklah... kita berangkat besok, lagipula hari sudah sore. Kita ketemu tuan Chen terlebih dahulu sebelum pergi."
"Baik paman." Meskipun sedikit kecewa tapi puteri Jia tetap tersenyum, paling tidak sudah lebih baik dari sebelumnya.
Paman hanya menggeleng pelan. Ia sangat mengenal Jia Jia, sejak kecil bisa dibilang dialah yang paling dekat dengannya, sebagai guru dan sebagai keluarga. Puteri Jia lah yang memanggilnya paman dari kecil dan sejak saat itu Ia seolah berganti nama menjadi paman. Kultivasi paman berada di tingkat Surgawai tahap tinggi dan menjadi pengawal sekaligus guru yang ditunjuk oleh istana untuk Jia Jia.
Lahir di keluarga kerajaan dan menjadi puteri satu-satunya tidak membuat Jia Jia besar kepala atau angkuh, Ia terkenal sangat baik dan suka menolong sesama, apalagi ras peri memang pada dasarnya ras yang cenderung selalu berbuat baik dan lembut meskipun tak jarang juga mereka bertarung dengan sesamanya hanya karena masalah sepele.
Kultivasi Jia Jia sekarang berada di tingkat Suci tahap puncak dan menggunakan panah sebagai senjata utamanya.
Keesokan harinya, Paman dan puteri Jia mengunjungi Ye Chen kembali untuk berpamitan.
Saat itu Ye Chen sedang duduk di bawah sinar matahari pagi, bertelanjang dada. Kebiasaan yang sejak kecil sering dilakukannya namun sekarang sudah sangat jarang sekali.
Kondisi Ye Chen saat ini belum sepenuhnya pulih namun sudah jauh lebih baik. Ye Chen duduk sambil mengolah energi di dalam tubuhnya, auranya memancar dengan sangat kuat, sesekali terlihat ada kabut hitam tipis melayang di sana.
Ye Chen terus saja melakukan aktivitasnya tanpa menyadari kehadiran Paman dan puteri Jia. Ye Chen begitu fokus, karena selain memulihkan diri, Ia juga berlatih menyempurnakan tehnik bayangan yang belum lama ini Ia kuasai. Ia juga tidak khawatir akan ada yang mengganggunya, bukankah Paman sudah pergi dan aray pelindung yang terpasang sudah cukup untuk menghentikan bahaya lain.
__ADS_1
''Tuan Chen, anda di dalam?" suara paman terdengar dari luar. Karena tidak ada jawaban, Paman berinisiatif masuk sampai ke halaman belakang dan menemukan Ye Chen sedang berlatih, puteri Jia sendiri berjalan agak jauh di belakang Ye Chen sambil menunduk dan meremas jemarinya.
Paman sempat terpana, bukan karena tubuh Ye Chen yang basah oleh keringat tapi aura yang sangat kuat yang mengelilingi Ye Chen. Sekuat apa orang ini, batin Paman. Ia kemudian menoleh ke Puteri Jia dan melarangnya melangkah lebih dekat.
"Apa yang terjadi paman?" tanya puteri Jia penasaran.
"Tuan Chen sedang berlatih, lebih baik kita tunggu di dalam. Jangan melihatnya."
Biasanya, jika ada suatu larangan, kita akan cenderung melanggar larangan itu karena penasaran, apalagi larangan itu tepat di depan mata dan itu juga yang dirasakan puteri Jia sekarang. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Ye Chen yang bertelanjang dada. Wajahnya memerah seketika, ini adalah kali pertama Ia melihat tubuh seorang pria.
Puteri Jia masih terus melihat Ye Chen, perasaannya campur aduk, selain kagum dengan aura yang Ye Chen keluarkan, Ia juga terpesona dengan keadaan Ye Chen sekarang, sampai mukanya memerah lalu sadar dan berbalik sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Hais, bukankah sudah kukatakan jangan mendekat?" kata Paman sambil berjalan mengikuti puteri Jia kembali ke dalam.
Tak berapa lama kemudian, Ye Chen menghentikan aktivitasnya. Memakai baju dan kembali ke dalam. "Oh rupanya kalian, maaf tidak bisa menyambut, aku pikir kalian sudah pergi sejak kemarin." kata Ye Chen.
"Tidak masalah, oh ya bagaimana kondisi anda, apakah sudah lebih baik?" balas Paman.
"Berkat bantuan Paman dan puteri Jia," kata Ye Chen. "Karena kalian sudah di sini, bagaimana kalau kita sarapan bersama?" ajak Ye Chen sambil tersenyum dan tanpa menunggu persetujuan mereka, Ye masuk ke dalam dan mengambil ayam panggang yang Ia siapkan sebelumnya.
Ucap Paman dan puteri Jia hampir bersamaan. Ye Chen hanya tersenyum melihat ini dan tetap mengatur makanan di atas meja, tidak lupa juga mengeluarkan sebotol kecil arak. "Silahkan, jangan sungkan, oh ya arak ini tidak memasukkan tenang saja."
Makanan sudah siap, arak telah tersaji. Sebagai orang yang mengerti tata krama, tentu saja Paman dan puteri Jia ikut makan juga.
"Wah arak anda sangat harum dan nikmat tuan Chen, tidak tau apakah aku bisa tahan untuk tidak menghabiskannya." puji Paman.
"Hahaha silahkan, silahkan... aku masih ada." balas Ye Chen sambil mengeluarkan tiga botol arak lagi. "Tuan puteri juga harus mencobanya." ucap Ye Chen kepada puteri Jia yang hanya diam.
"Oh ya tuan Chen, di tingkat apa anda sekarang?" tanya Paman, Ia penasaran karena yang Ia lihat, Ye Chen setingkat dengan puteri Jia tapi aura tadi bahkan lebih kuat dari dirinya sendiri.
"Seperti yang Paman lihat." jawab Ye Chen, Ia memang menekan tingkatannya sampai di tingkat Suci tahap puncak, sama seperti puteri Jia.
Paman melirik puteri Jia, Ia tersenyum lalu berkata. "Aku keluar sebentar tuan puteri."
__ADS_1
"Eh, Paman mau kemana? aku ikut."
"Hanya sebentar, tunggulah, aku tidak akan lama." kata Paman lagi dan langsung pergi. Tapi bukan mau pergi, Ia hanya ingin memberikan waktu untuk puteri Jia saja. Ia tau betul apa yang puteri Jia rasakan.
Sepeninggal Paman, meja itu menjadi sunyi. Ye Chen juga tidak tau harus berkata apa.
"Puteri Jia...
"Tuan Chen...
"Oh anda duluan." kata Ye Chen ketika mereka berbicara bersamaan.
"Tidak, anda saja yang duluan." balas puteri Jia.
"Oh itu, baiklah... tuan puteri...
"Bukan, jangan pakai kata itu lagi." potong puteri Jia, Ia merasa enggan dipanggil tuan puteri, rasanya seperti ada jarak yang jauh.
"Nona Jia...
Panggil Ye Chen lagi, tapi melihat puteri Jia masih tidak puas, Ia lalu merubah panggilannya. "Adik Jia... eh, apakah ini boleh?"
Puteri Jia tersenyum, Ia sangat senang.
"Cantik...." gumam Ye Chen yang tak melepaskan pandangan matanya dari puteri Jia.
"eh? apa, barusan kau bilang apa?" kata puteri Jia, bohong kalau Ia tidak mendengarnya.
"Itu... oh tidak, aku tidak bilang apa-apa." kini Ye Chen yang gantian salah tingkah. Hais kenapa jadi susah begini, batin Ye Chen.
......................
Dukung author dengan bintang lima, vote, komentar dan like.
__ADS_1
Terima Kasih 🙏💕