Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Tehnik Langkah Cahaya


__ADS_3

Kediaman keluarga Ruo tampak sepi saat Ye Chen tiba, bukan karena tidak ada orang di sana tapi kepala Ruo sedang memimpin rapat dengan aliansi dagang yang dipimpinnya.


Hanya ada lima dari sepuluh pedagang yang datang kali ini, dari hasil laporan penyidik aliansi, lima orang ini tidak ikut rapat bukan karena sakit atau ada urusan lain yang mendesak tapi karena takut dengan ancaman.


Situasi ini membuat kepala Ruo pusing, satu persatu anggota aliansinya mundur. Yang hadir sekarang pun meskipun masih setia namun ada sinyal yang mengisyaratkan untuk mundur juga.


"Sial sepertinya ada yang menjadikan kita target, apa ada di antara kalian yang tau siapa orangnya?" kepala Ruo.


Masing-masing anggota mengemukakan pendapatnya, namun tidak ada yang jelas karena memang tak ada bukti yang nyata, bahkan penculikan atas kepala Ruo dan puterinya juga masih menjadi misteri. Satu-satunya yang menjadi kenyataan dan dapat terlihat jelas adalah menurunnya pasokan sumber daya dari para anggota. Ada yang dirampok ditengah jalan, ada yang hilang atau terbakar di gudang dan alasan lainnya.


Rapat akhirnya ditutup dengan keputusan menambah penyidik untuk masalah ini, setiap anggota aliansi diwajibkan menyetor uang untuk biaya para penyidik. Jumlahnya tidak main-main, itu bahkan cukup untuk membangun sebuah desa kecil di alam langit.


"Tuan kepala, ada seseorang yang mencari anda. Katanya dia adalah teman nona." kata seorang pelayan melapor.


"Taman nona?"


"Benar tuan." jawab pelayan itu lagi.


"Minta Ia untuk menunggu sebentar." kepala Ruo merapikan tempatnya lalu keluar menemui Ye Chen.


"Tuan Chen, benar?" Ye Chen mengangguk. "Yiyi sudah menceritakannya dan sekali lagi aku minta maaf untuk kesalah pahaman tempo hari."


"Lupakan saja. Kedatanganku kali ini sebenarnya ingin meminta sesuatu tapi sepertinya waktunya tidak tepat."


Kepala Ruo membuang nafasnya, dengan singkat Ia menceritakan keadaan aliansi dagangnya kepada Ye Chen. Ia tidak menawarkan untuk jadi penyidik, tidak mau membuat Ye Chen marah lagi seperti dulu.


"Ah maafkan aku, sampai lupa menjamu anda tuan Chen." kepala Ruo lalu memanggil pelayan untuk menyiapkan hidangan untuk Ye Chen. "Nah apa ada yang bisa kubantu? katakan saja, aku pasti menyiapkannya."


"Aku butuh sebuah kitab terjemah bahasa." jawab Ye Chen.

__ADS_1


"Oh itu, aku pikir tentang apa. Sudah kusiapkan, Anda tenang saja. Yiyi yang memberitahu untuk mencarinya, aku sudah menyuruh orang untuk membawanya ke kediaman anda yang dulu tapi tidak pernah bertemu lalu kuputuskan untuk menyimpannya saja. Tidak tau anda datang sendiri."


Kepala Ruo kemudian kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil kitab terjemahan dan menyerahkannya pada Ye Chen sekalian mengajaknya untuk mencicipi hidangan di ruang makan.


"Aku akan mengabari anda jika menemukan informasi masalah anda." kata Ye Chen sebelum pergi.


"Terima kasih, terima kasih," jawab kepala Ruo senang. "Memang kami sedang mencari tenaga penyidik tambahan, kalau tuan Chen bisa...


"Aku tidak menjanjikan apa-apa, kita lihat nanti saja." Ye Chen cepat memotong ucapan kepala Ruo. Ia tidak mau menjadi penyidik tapi kalau menemukan sesuatu, tentu saja Ia harus membantu. Paling tidak bisa membalas kebaikan Ruoyi.


Ye Chen telah pergi, kepala Ruo dengan cepat memanggil bawahannya, memberikan sebuah kotak kecil dan menyuruhnya membawa kotak itu ke kediaman Ye Chen. "Ingat, jangan pergi kalau kau tidak menyerahkannya langsung pada tuan Chen." pesan kepala Ruo.


Sementara itu Ye Chen yang tengah dalam perjalanan kerumahnya, melewati rumah makan tempatnya memesan makanan campur-campur bersama Lin Yungtao. Hatinya tergerak untuk berhenti sebentar sekalian membaca kitab terjemahan dan mencocokkan nya dengan gulungan tehnik cahaya.


Waktu untuk menyelamatkan Yue sudah Ia perhitungkan, Ia akan pergi setelah Senior juga datang. Menurut perkiraannya, setelah menerima pesan dari pimpinan penjahat, Senior akan segera pulang. Masih ada waktu untuk belajar tehnik cahaya, pikirnya.


Dengan santai, Ye Chen mengambil gulungan dan meletakkannya di atas meja, tangannya memegang kitab terjemahan. Tampak Ia sesekali bergumam.


"Coba lihat lagi. Benar sekali, memang rejeki tak dapat ditolak hehe."


Dari sudut rumah makan, terlihat ketua pertama bersama anak buahnya. Mereka mengenali Ye Chen yang sedang serius dan berniat menangkap atau membunuhnya untuk mendapatkan hadiah dari pimpinan.


Brakk...


"Hei apa kau tau ini tempat makan dan bukan tempat belajar?"


Anak buah ketua pertama menghampiri Ye Chen, dengan kasar Ia menggebrak meja.


Ye Chen sengaja membiarkannya. Ia malas meladeni orang itu.

__ADS_1


Brakk...


Kali ini gebrakan di meja lebih keras sehingga membuat gelas minum Ye Chen yang masih di atas meja sedikit menumpahkan isinya dan membasahi pinggiran gulungan tehnik cahaya.


Ye Chen mengangkat kepalanya. Melihat orang itu sambil tangannya bergerak menyimpan kitab terjemahan dan gulungan tehnik cahaya. Ketika matanya tertuju pada tangan orang itu yang masih berada di atas meja, Ye Chen mengambil gelas minumnya lalu dengan cepat memukul tangan orang itu dengan keras.


Krekk...


Tangan orang itu hancur tanpa peringatan, tapi gelasnya masih utuh. Ye Chen lalu bangkit dari duduknya dan kembali menghantam pundak orang itu sampai remuk hancur.


"ketua! tolong aku... ahh ketua....!"


Teriakan terakhir itu sekaligus mengantar jiwanya menuju peristirahatan terakhir. Dia jatuh tersungkur dengan dada yang remuk hancur.


"Hahaha ternyata kau memiliki kemampuan sehingga berani menantang kami." kata sang ketua. Sayangnya, itu juga ucapan terakhirnya karena tepat setelah Ia selesai bertanya, Ye Chen sudah berada di dekatnya, menyumpal mulutnya dengan kasar menggunakan gelas minum yang masih Ia pegang.


Hmmpp... hmmppp


Ketua pertama tidak bisa berbicara, mulutnya hancur karena Ye Chen terus saja mendorong gelas itu ke dalam mulutnya. Ketua itu lalu jatuh akibat dorongan ini, Ia tersungkur dengan posisi terbentang, melihat ini, Ye Chen memukul gelas didalam mulut Ketua sampai hancur dan melompat di atas dada ketua.


Ye Chen terus saja melompat, dari dada sampai perut ketua. Jangan ditanya lagi bagaimana nasib tulangnya, pasti semuanya hancur. kalau saja mulut ketua pertama itu bisa berbicara, Ia sudah pasti akan berteriak kesakitan dan meminta ampun, sayangnya itu tidak mungkin, hanya air mata dan darah yang terus menetes dari mata dan mulutnya.


Ketua pertama akhirnya tewas. Rumah makan yang semula cukup ramai itu kini menjadi sepi, semua pengunjungnya pergi karena takut terlibat, Mereka hanya melihat apa yang Ye Chen lakukan dari jauh.


Ye Chen mengambil cincin penyimpanan ketua pertama dan mengambil beberapa uang untuk rumah makan sebagai biaya ganti rugi.


"Ambil ini dan bungkus beberapa makanan untukku," kata Ye Chen kepada pelayan yang gemetar ketakutan. "Oh ya apakah ada tehnik khusus agar makan ini tidak cepat basi?" sambung Ye Chen, Ia teringat makanan yang dibawanya dulu.


"Bum-bumbunya... di, dipisah tuan...."

__ADS_1


"Oh ya sudah, pisah saja."


"Adik Yue bersabarlah sedikit lagi, lihat aku membawakanmu makanan." Ye Chen tersenyum, Ia sudah membayangkan Yue yang makan dengan lahap sambil mengomel karena tidak cepat datang.


__ADS_2