Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ada Apa Dengan Peta?


__ADS_3

"Senior, apa yang terjadi, siapa yang bertempur di dalam?" Jiang Kun yang juga berada di kota yang sama bertanya pada seorang pria yang berdiri di depan penginapan.


"Aku dengar ada seorang pemuda di keroyok di dalam sana." jawabnya.


"Apa senior tau penyebabnya?"


"Dia mencoba mencari informasi, kabarnya Ia hendak membeli sebuah peta. Hah dia pastilah seorang mata-mata."


"Oh begitu, pantas saja. Tapi apa senior sadar? tak mungkin ada seorang mata-mata yang akan membongkar penyamarannya sendiri kan." ucap Jiang Kun yang disetujui lawan bicaranya.


Kota ini tidaklah terlalu besar sehingga apa yang terjadi di penginapan dengan cepat tersebar luas. Meskipun perkelahian sampai memakan korban tewas adalah hal yang biasa, tapi kali ini tidak, kali ini beritanya adalah seorang mata-mata yang dikeroyok sehingga menarik penduduk ataupun pengunjung di kota ini datang mendekat.


Di dalam, Ye Chen mengamuk. Tak ada satupun yang Ia biarkan lolos kecuali orang yang tidak menyerangnya, bahkan jika ada yang hanya mengirimkan sinyal kepada rekannya yang sedang bertarung, Ye Chen juga akan menghabisinya tanpa ampun.


Musuh masih cukup banyak membuat Ye Chen sedikit tidak sabar dan terpaksa melepas energi tingkat Langit puncak.


Jiang Kun yang berdiri di luar berlari masuk ke dalam. "Ternyata benar dugaanku." ucapnya setelah melihat Ye Chen membantai lawannya. darah menggenang di seluruh ruangan, yang paling merusak pemandangan adalah potongan anggota tubuh yang berserakan sampai keluar.


"Tuan... hentikan." seru Jiang Kun tak tahan melihat pemandangan di depannya.


Ye Chen yang mendengar suara yang samar-samar dikenalnya ini tidak langsung berhenti, baru setelah Ia membunuh lawan terakhirnya dia berhenti dan berbalik menghadap Jian Kun.


"Oh kau rupanya, apa kabar?" ucap Ye Chen ramah. Sama sekali tidak nampak seperti orang yang baru saja membantai lusinan orang dengan sadis.


Jiang Kun tidak bisa berbicara, yang Ia lihat, Ye Chen ini seperti bukan manusia saja, membunuh orang tanpa ampun tapi masih saja tersenyum sangat ramah.


Pertempuran berhenti, Jiang Kun yang masuk ke dalam membuat beberapa penonton yang juga penasaran ikut masuk dan terkejut melihat seorang pemuda dengan pakaian penuh darah berdiri di tengah korbannya yang tewas. "Sadis." ucap salah satu dari mereka.


Dari kerumunan penonton yang masuk, seorang pria dengan aura membunuh tiba-tiba saja berteriak ingin membunuh Ye Chen, Ia tak terima melihat ada saudaranya yang tewas.


"Kubunuh ka... ...

__ADS_1


Jleebb...


Sayangnya kata-katanya terhenti ketika Ia maju selangkah, sebilah pedang besar menembus dadanya disusul pedang lain yang menembus perut dan kepalanya. Ia tewas dan tumbang begitu saja.


Semua terdiam, tak ada lagi yang berani membuka mulut. Hanya terdengar suara Ye Chen dan Jiang Kun yang terdengar. "Jadi tidak ada yang selamat, lalu kemana pak tua itu pergi?" tanya Ye Chen yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan.


"Tuan, sebaiknya jangan di sini." ucap Jiang Kun yang merasa tak nyaman. Sebagai kultivator, Ia tentu sudah terbiasa melihat kematian, tapi yang ini berbeda, mereka yang tewas seperti baru saja bertarung dengan binatang buas.


"Tunggu sebentar," kata Ye Chen lalu memanggil pelayan. "Hitung semua kerugianmu, aku akan menggantinya sekalian urus sampah-sampah itu."


Pelayan yang sejak tadi tidak berani bergerak berkata tidak ingin Ye Chen mengganti kerugian tapi Ye Chen memaksa. Akhirnya atas saran dari Jiang Kun Ye Chen memberikan lima ratus kristal roh sebagai biaya pengganti. Jumlah yang cukup banyak tentunya.


Tapi Ye Chen bukan langsung keluar setelah memberikan biaya ganti rugi. Ia berjalan mendekati korbannya yang belum mati lalu membunuhnya begitu saja memastikan tak ada yang hidup.


"Sadis...."


berkali-kali terdengar suara bergumam dari setiap orang, Ye Chen mengacuhkannya. Baginya, selama orang itu tidak berniat apa-apa terhadapnya, maka Ia pun tidak akan berbuat apa-apa.


Dari kerumunan penonton terlihat seorang pria tua, Ia mengirim telepati kepada orang di sampingnya yang terlihat akan bergerak.


"Tapi paman...." balasnya.


"Diam dan perhatikan baik-baik, kau tidak akan bisa menang melawannya."


"Bukannya ada paman di sampingku?" bantahnya.


"Kau ini, mungkin aku bisa mengalahkannya tapi tidak semudah itu dan lagi ini bukan urusan kita, masih ada tugas yang lebih penting." ucap pria tua ini tegas, tak ingin dibantah lagi.


"Baik paman...." ucapnya sambil menunduk.


Saat ini Ye Chen telah berdiri di luar, pedang hitamnya masih Ia genggam dengan erat. Matanya terpejam dengan mulut tersenyum tipis seolah menanti sesuatu.

__ADS_1


Ini seperti bersiap menghadapi segala kemungkinan, sama seperti Ia membunuh salah satu orang dari kerumunan yang mencoba menyerangnya. Bisa dibilang masih dalam mode on.


Bersamaan dengan menghilangnya aura ancaman dari orang di atas, Ye Chen pun secara perlahan membuka matanya melempar pedangnya ke atas dan menghilang begitu saja lalu berjalan menyusul Jiang Kun yang menunggunya.


"Ada apa, kenapa tadi anda berhenti?" tanya Jiang Kun penasaran.


"Ah tidak, hanya menunggu sesuatu," ucap Ye Chen santai sambil mengangkat kedua bahunya. "Kita kemana?" tanyanya kemudian.


"Di hutan sebelah sana ada sungai yang jernih, sebaiknya ke sana saja. Tuan harus ganti pakaian dulu."


Ye Chen mengangguk, mengikuti Jiang Kun dari belakang. "Tadi itu siapa kira-kira." batin Ye Chen masih mengingat aura ancaman yang biarpun tidak masih lemah tapi membuatnya berdebar-debar. Seperti ada kekuatan besar di balik ancaman itu.


"Tuan, tuan... kita sudah sampai." Jiang Kun berulang kali memanggil Ye Chen yang masih saja melamun.


"Oh... ah baiklah, tunggu sebentar." sahut Ye Chen. Tanpa menunggu segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


"Tuan, namaku Jiang Kun. Seperti kukatakan sebelumnya, aku kultivator bebas tidak terikat sekte manapun." kata Jiang Kun memperkenalkan diri dan menceritakan keadaan setelah keluar dari dimensi kristal roh sekaligus berterima kasih.


"Lalu dimana pak tua itu sekarang?"


"Maksud anda He Liang, Ia kembali ke sektenya. Oh ya untuk apa anda mencari peta?"


"Sudahlah aku tak membutuhkannya lagi, tadi itu hanya mau tau saja eh tidak taunya malah menjadi masalah. Tapi aku ini baik lho mau mengganti semua kerugian di tempat itu."


Hais baik apanya, mana ada orang baik membantai dengan sadis lusinan orang pikir Jiang Kun. "Tuan, kalau anda masih menginginkan sebuah peta, aku rasa senior He Liang bisa membantu."


"Benarkah? tapi lupakan saja aku tak mau dibilang mata-mata lagi. Sebenarnya ada apa dengan peta itu, kenapa orang-orang ini menuduhku yang bukan-bukan?"


"Tuan, peta itu sangat penting, hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Orang yang mencari peta biasanya memang mata-mata yang ingin mencari informasi daerah tertentu."


"Aneh." ucap Ye Chen.

__ADS_1


__ADS_2