
Chu Xiong masih menimang tombak yang berada di tangannya, Ia sebenarnya sangat tertarik tapi tidak berani menyatakannya langsung. Ia menunggu Ye Chen, apalagi Ia sendiri tau tombak ini adalah salah satu item yang akan di ikutkan dalam lelang nanti.
"Tuan Chen, sepertinya tuan Chu tertarik dengan tombak ini, kenapa anda sendiri tidak mencobanya?" Ketua Gu yang melihat ini mencoba meyakinkan Ye Chen.
Chu Xiong yang melihat Ye Chen mengangguk lalu menyerahkan tombak.
Wuungg...
Suara berdengung kecil terdengar halus ketika Ye Chen mengalirkan sedikit Qi. "Tombak yang bagus, ini memang cocok untuknya." gumam Ye Chen tersenyum puas.
"Bagaimana tuan Chen? jika anda cocok silahkan, ini adalah kehormatan bagi paviliun Teratai kami." Kata-kata ketua Gu memang tidak terkesan menjilat tapi terdengar ada sedikit pamrih di sana dan tentu saja Ye Chen tau benar akan hal ini. Tidak mungkin senjata sebagus ini Ia berikan begitu saja.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya?" Tanpa basa basi, Ye Chen bertanya langsung.
"Ah tuan Chen, anda terlalu sungkan. Kami tidak menginginkan apa-apa dari anda, hanya sedikit bantuan saja dan aku jamin anda tidak akan dirugikan sama sekali."
Ketua Gu lalu mengutarakan maksudnya, Ia meminta Ye Chen mengambil satu tempat sebagai wakil paviliun Teratai di turnamen antar benua nanti.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Ye Chen yang sedikit malas, tidak mau repot dengan urusan turnamen segala. Kalaupun Ia ikut, Ia tidak akan mewakili siapa-siapa.
"Tuan Chen jangan buru-buru dulu, coba lihat ini." kata ketua Gu menyodorkan selembar kertas.
Setelah membaca, Ye Chen sedikit tersenyum. Isinya menyatakan, jika Ye Chen akan mendapat sepuluh persen saham di paviliun Teratai jika berhasil menjuarai turnamen antar benua.
"Berapa wakil yang anda kirim?"
Dengan wajah sedih, ketua Gu berkata. "Dari kota ini, kami tidak memiliki satu orangpun yang bisa memenuhi syarat."
"Hha, jadi hanya aku sendiri...?" kata Ye Chen sembari menunjuk hidungnya. "Apanya yang mengambil satu tempat sebagai wakil." gumam Ye Chen kemudian yang cukup terdengar jelas.
"Tuan Chen, anda setuju kan?" ketua Gu berkata seolah tidak mendengar gumaman Ye Chen. "Anda tidak harus memenangkan turnamen, yang penting anda bersedia saja."
Mengambil bagian di acara turnamen merupakan kesempatan yang sangat bagus, bukan saja bisa mengangkat nama paviliun Teratai tapi juga sekaligus sebagai ajang promosi.
__ADS_1
Nama paviliun Teratai akan semakin terkenal, dan tentu saja pelanggan akan semakin banyak.
"Tawaranmu masih kurang menarik buatku, maaf ketua Gu."
Bahkan Chu Xiong masih tidak mengerti jalan pikiran Ye Chen, hanya di minta ikut berpartisipasi saja sudah mendapat saham sepuluh persen, jumlah ini sangat banyak.
Tidak mau melepas Ye Chen, ketua menambahkan syaratnya lagi. "Atau begini saja tuan Chen, aku akan memberikan sepuluh persen saham lagi dan aku tidak akan mengambil sepeserpun hadiah turnamen."
"Anda tenang saja, ayahku pasti menerima usul ini, nanti aku akan mengirim pesan padanya." lanjut ketua Gu lagi.
"Lalu bagaimana kalau ayah anda menolak?" pancing Ye Chen.
"Tidak mungkin, dia pasti setuju." Ketua Gu meyakinkan Ye Chen.
"Kalau ketua Gu memaksa, apa boleh buat dengan terpaksa aku harus menerimanya hehe...." kata Ye Chen seolah terpaksa. Chu Xiong yang dari tadi hanya diam hanya menggeleng melihatnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Ketua Gu tenang saja, aku pasti membayar tombak itu dengan harga yang pas." Ye Chen lalu pergi bersama Chu Xiong.
Di tepi telaga, Chu Xiong bertanya, "Tuan muda, apa anda serius ikut turnamen itu? dengan kemampuan tuan, pasti tidak akan sulit menjuarainya."
"Tuan memang hebat, saham dua puluh persen itu sangat banyak."
"Aku juga tidak terlalu tertarik dengan itu, nanti kau akan paham kalau suatu saat berada di desa Ye," kata Ye Chen "Sudahlah, jangan ganggu aku, kita masih butuh pil untuk lelang nanti."
Ye Chen mulai meracik pil, yang pertama ia buat adalah pil Langit lalu pil Bumi serta beberapa pil Emas tingkat puncak.
Dua hari Ye Chen baru memanggil Chu Xiong, "Nah sepasang pil Langit ini berikan kepada ketua Gu, katakan ini sebagai pengganti tombak yang ia berikan."
Ye Chen juga memberikan sepasang pil Langit kepada Chu Xiong, dan pil Bumi. "Kuharap dengan pil ini kau juga bisa menerobos ke tingkat Langit."
Sisa sepasang pil Langit, khusus untuk di ikutkan di acara lelang dan pil Bumi tahap tinggi dan puncak masing-masing dua.
Chu Xiong yang juga mendapat pil Langit terdiam, tidak tau harus berkata apa lagi. "Tuan muda...
__ADS_1
"Sudahlah...," Ye Chen memotong ucapan Chu Xiong. "kau hanya harus berusaha untuk tambahan kuat saja."
"Oh ya katakan kepada ketua Gu, dua hari lagi aku sendiri yang akan datang."
"Bagaimana dengan lelangnya tuan?"
"Tentu saja kau yang harus hadir. Seperti yang kau dengar sendiri, aku sudah harus pergi sebelum lelang dimulai. Kalau ada sumber daya langka di pelelangan nanti, beli saja asal uangnya cukup."
...
Hari keberangkatanpun tiba, tampak Ye Chen sedang berbincang-bincang dengan ketua Gu. "Tuan Chen, aku telah mengirim pesan ke pusat paviliun di ibukota kekaisaran. Sesampainya di sana, akan ada yang akan melayani anda. Dan aku ucapkan terima kasih yang sangat dalam atas pemberian tuan Chen."
"Anggap saja itu sebagai pengganti tombak yang berikan." balas Ye Chen.
"Tuan Chen, mana bisa begitu... pil itu jauh lebih berharga ratusan kali. Ini ambillah." ucap ketua Gu lagi memberikan cincin penyimpanan berisi dua juta keping emas.
Ye Chen tentu saja menerimanya dengan ikhlas.
"Oh ya tuan Chen, ada perubahan rencana, maaf sekali baru memberitahukannya."
Menurut keterangan ketua Gu, rombongan anggota dari kota Kenanga akan berangkat bersama dengan paviliun Teratai.
Tadinya paviliun Teratai yang diwakili Ye Chen akan berangkat sendiri menggunakan siluman burung milik paviliun tapi kebijakan pemimpin kota mengharuskan setiap peserta untuk berangkat bersama dengan dipimpin langsung oleh pelindung kota, Lu Peng.
Di balai kota semua peserta telah berkumpul, setelah sambutan singkat dari pemimpin kota. Rombongan akhirnya berangkat.
Lima ekor siluman burung membawa lima belas orang termasuk pengantar yang mengendalikan siluman burung.
Ye Chen bersama dua orang pemuda, "Chu Xiong aku berangkat, aku tunggu di ibukota."
"Baik tuan, hati-hati."
Pelindung kota berdiri di atas siluman burung, "Berangkaat...!"
__ADS_1
Satu persatu siluman burung terbang di iringi sorakan dari penduduk kota yang mengantar kepergian mereka.