Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Desa Bunga


__ADS_3

"Song Fei... Saudara Song, apa kau mendengarku? bisakah kau membelikan sesuatu untuk dimakan...?"


"Song Feiiii...."


"Soong Feeeii...."


Suara-suara yang sedikit aneh terngiang-ngiang terus di kepala Song Fei. Mengganggunya saat sedang berkultivasi.


"Chu Xiooong...."


"Chuuu Xiiiiooong...."


Suara aneh yang memanggil-manggil namanya juga mengganggu Chu Xiong. Suara ini tidak berhenti, terus-menerus berkumandang di kepalanya.


Chu Xiong segera keluar dan bertemu dengan Song Fei.


"Apa kau mendengarnya juga?" tanyanya kepada Song Fei yang hanya mengangguk.


Tiga pemburu lain juga bergabung karena mendengar suara yang memanggil-manggil mereka.


Semakin lama suara ini semakin membuat merinding, terasa dingin.


Di dalam kamar, Ye Chen yang semula hanya ingin mencoba tehnik yang baru di kuasainya melakukan eksperimen. Ia sedikit menambah aura intimidasi di dalam getaran suaranya, tanpa Ia sadari tehnik ini tidak lagi mengirim suara ke pikiran orang lain tapi malah mengirim getaran intimidasi yang kuat, yang masuk ke dalam jiwa.


Di luar, Chu Xiong dan para pemburu terpaksa duduk mencoba mengatur jiwanya yang terganggu. Hanya Song Fei yang mencoba berjalan sambil menahan getaran di jiwanya. Ia berjalan menuju kamar tempat Ye Chen berlatih.


"Tuan muda...!"


Song Fei mengumpulkan semangatnya dan berteriak memanggil Ye Chen.


"Eh kenapa kalian?"


Ye Chen yang keluar setelah mendengar panggilan Song Fei bertanya melihat mereka duduk sambil berkeringat.


"Oh aduh maaf... maaf, aku hanya ingin mencoba tehnik telepati," kata Ye Chen yang segera mengerti keadaan. "Ini telanlah."


"Song Fei, bagaimana kau tau ini perbuatan tuan muda?" tanya Chu Xiong heran.


"He mana ada suara penjahat yang meminta makan." jawab Song Fei lalu menambahkan lagi bahwa tiga hari yang lalu Ye Chen mempelajari tehnik telepati dari gulungan pemburu.

__ADS_1


Keadaan semua orang kini sudah normal kembali. Mereka yang awalnya merasa ketakutan dan ingin protes kini berganti dengan rasa kagum mengetahui Ye Chen berhasil menguasai tehnik telepati ini, terutama para pemburu.


Mereka saja tidak bertelepati dengan berbicara banyak, paling hanya bisa mengeluarkan kata seperti "aku ke kiri." atau "aku menjaga atas." Kata-kata sederhana yang singkat.


Sedangkan Ye Chen bukan hanya berbicara dengan kalimat yang panjang tapi dari suaranya, Ia bisa dengan kuat mengintimidasi orang lain.


"Baiklah... baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi pada kalian kecuali terpaksa. Nah sekarang, bisakah tolong sediakan makanan? aku lapar hehe...."


Enam orang tampak menuntun kuda berjalan keluar dari pemukiman pemburu.


Ye Chen yang berjalan berdampingan dengan Chu Xiong tiba-tiba saja berbalik arah kembali ke pemukiman.


"Ada apa dengan tuan muda, apakah ada yang terlupa?" tanya Song Fei pada Chu Xiong.


"Entahlah, tadi tuan muda hanya bertanya tempat pemburu yang menjual hewan buruannya." jawab Chu Xiong lalu mengatakan pesan Ye Chen yang akan menyusul nanti.


Ye Chen tadi teringat dunia dimensi cincinnya, Ia ingat semua hewan di dalam sana sudah habis, harus di isi kembali.


Ye Chen membeli semua hewan yang ada di pemukiman pemburu dan mengaturnya di dalam dimensi cincin, hampir lima ratus keping emas Ye Chen habiskan kali ini.


...


"Lalu kenapa kalian meninggalkan desa, kenapa tidak membantu saudara-saudaramu yang lain?" Ye Chen bertanya sedikit kesal. "Orang seperti kalian ini tidak pantas hidup."


Bukan hanya Ye Chen tapi semua yang ada juga tidak suka dengan orang-orang yang memilih melarikan diri daripada ikut berjuang bersama.


"Tinggalkan mereka!"


Ye Chen memacu kudanya dengan cepat di ikuti yang lain. Menurut keterangan orang yang melarikan diri ini, desa Bunga di serang sekelompok hewan liar. Mungkin sekarang kondisi desa sudah porak poranda akibat serangan ini.


"Toloooong...!"


Belum jauh memacu kudanya, Ye Chen dan yang lain mendengar suara meminta tolong di belakang mereka.


"Tuan muda, mereka sepertinya di serang siluman hewan di hutan belakang sana. Apa kita tidak menolongnya?" kata salah pemburu dari desa Bunga. Meskipun mereka juga sangat menyayangkan perbuatan mereka tapi sebagai sesama penduduk desa, para pemburu ini tentu tidak bisa diam saja.


"Biarkan saja," ucap Ye Chen dingin. "Itulah akibat dari orang-orang pengecut yang lebih mementingkan diri sendiri."


Tidak ada yang protes lagi, mereka dengan cepat memacu tunggangannya masing-masing.

__ADS_1


"Berapa jauh lagi desa kalian dari sini?" Ye Chen bertanya saat mereka sedang istirahat. Sudah dua hari mereka memacu siluman kuda tanpa henti, bisa-bisa tunggangan mereka mati kelelahan jika terus dipaksa berlari.


"Dari sini masih butuh dua hari perjalanan lagi." jawab Song Fei.


"Aku pergi lebih dulu, kalian bisa menyusul jika sudah cukup istirahat," kata Ye Chen. "Nah ambil ini." Ye Chen memberikan pil pemulih pada mereka.


Kwaakkk...


Suara Rajawali menggema keras di kejauhan, samar-samar terlihat seseorang berdiri di atasnya.


Sambil menenangkan siluman kuda tunggangannya yang ketakutan mendengar pekikan rajawali, Chu Xiong bertanya. "Apa itu tuan muda?"


"Sepertinya iya, aku ingat pertemuan pertama kami dengan tuan muda. Saat itu kami melawan rajawali miliknya." sahut Song Fei.


Chu Xiong menatap rajawali yang makin mengecil terbang jauh dengan takjub. "Tidak semua orang bisa melihat sang rajawali, tuan muda bahkan bisa menjadikannya tunggangan. Hebat, sungguh sangat hebat." gumamnya lalu duduk bersama Song Fei dan yang lain.


"Saudara Chu, sepertinya aku pernah mendengar nama anda," tanya salah seorang pemburu. "Maaf bila pertanyaanku menyinggungmu." Lanjutnya lagi.


"Tidak masalah, kita sekarang adalah teman seperjalanan terutama Song Fei, kami bahkan kini bisa dibilang rekan."


Chu Xiong lalu menceritakan kisahnya yang berasal dari wilayah utara. Setelah perang besar berakhir, Ia pergi dan menjadi salah satu tetua perampok.


Chu Xiong juga menceritakan pengalamannya saat pertama kali bertemu Ye Chen. Waktu itu Ia terluka parah dan dirawat oleh sampai sembuh.


Sambil mendesah Chu Xiong berkata. "Sekarang aku berbeda, aku akan melayani tuan muda dan meninggalkan kehidupanku yang dulu."


Begitulah, kelima orang ini beristirahat sambil berbincang-bincang menceritakan riwayat masing-masing.


Kita kembali kepada Ye Chen yang masih berdiri di atas punggung rajawali. Dari jauh sudah terlihat asap membumbung tinggi, Ye Chen menduga asap ini berasal dari desa Bunga.


Sampai di atas desa, Ye Chen tidak segera turun, Ia hanya meminta rajawali berputar mengitari desa sambil mengamati keadaan dari atas.


Ye Chen curiga ada yang mengatur hewan-hewan buas ini menyerang desa.


"Sebaiknya nanti saja, lebih baik mengusir hewan-hewan ini dulu." ucap Ye Chen dalam hati, hitung-hitung mencoba tehnik baru miliknya.


"Hujan Api Phoenix...."


Ye Chen membentangkan tangannya kesamping, titik-titik api kecil berwarna biru bermunculan dan jatuh seperti hujan, menghanguskan apapun yang disentuhnya.

__ADS_1


"Eh, siluman ular itu kuat juga," gumam Ye Chen ketika melihat ada satu siluman ular yang bisa menahan tehniknya. "Nah coba kau tahan ini." lanjutnya lagi.


__ADS_2