
Perahu terbang yang besar dan kuat datang dan tentu saja pengrajin Mingdi juga ikut serta karena dialah yang akan mengemudikan perahu terbang itu.
Saat Ye Chen pertama kali menginjak tangga, Ia terdiam, untuk sesaat Ia teringat kembali kepada Baojing, pelayanan sekaligus sahabatnya berjuang bersama di alam langit. "Baojing, semoga kau baik-baik saja di sana." ucapnya dalam hati.
Karena Ye Chen adalah orang pertama yang naik maka otomatis semua orang yang ada dibelakangnya juga berhenti dan memandang aneh.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, aku hanya mengingat sebuah kenangan." sahut Ye Chen dan mulai melangkah ke atas perahu.
Giro hanya tersenyum, "Tuan apakah saat aku mati nanti kau akan tetap mengingatku, sama seperti saudara Baojing?" Giro bergumam sangat pelan, lalat yang menempel di mulutnya pun mustahil bisa mendengarnya.
Tapi suara Ye Chen menyadarkannya. "Jangan berpikir macam-macam, kau tidak akan mati secepat itu, ayo naik."
Giro lupa kalau Ye Chen yang sekarang bukanlah Ye Chen yang dulu. Sekarang Ye Chen adalah Kaisar Iblis, selangkah lagi akan menembus Dewa Iblis. Memang Ia tidak bisa mendengar suara hati tapi suara paling kecil pun dalam radius tertentu akan sangat jelas di telinganya.
"Hehe baik tuan."
Giro pun naik, disusul oleh lebih dari seratus orang. Pasukan seratus yang jelas berjumlah seratus, Xiao Yun dan panglima Du, Song Fei, Lu Jia Li, Lu Jia dan Gu Xia.
Perahu terbang melayang di udara dan bergerak menuju selatan.
"Kak Chen, sekarang kultivasimu di tingkat apa?"
"Kak Chen, apakah ini perahu terbang milikmu?"
"Kak Chen, bisakah kamu mengirim pasukan seratus membantu wilayah barat?"
"Kak Chen... "
Wanita-wanita itu mulai mengerubungi, bertanya hal-hal tidak penting yang membuat Ye Chen pusing. Apalagi ketika Xiao Yun tanpa ragu ingin minta satu perahu terbang untuk sekte Du dan seperti sudah bisa ditebak selanjutnya, ketiga wanita itu minta hal yang sama keculai Song Fei yang memang tinggal di desa Ye.
"Hais kalian ini, memang kalian pikir perahu terbang itu seperti membeli kacang di pasar?"
Kalau semurah itu maka sudah pasti di alam Langit akan sangat banyak perahu terbang berseliweran.
__ADS_1
"Eh tuan Ye anda marah?"
"Tidak!"
"Iya kakak Chen, kenapa kamu marah? tinggal bilang saja tidak bisa, tidak perlu berbicara keras.
Lu Jia ikut menimpali. Lalu Lu Jia Li juga ikut berkata, "Sepertinya dia sudah lupa dengan kita?"
Hanya Gu Xia dan Song Fei yang tetap diam. Song Fei tidak tertarik dengan perahu terbang, baginya memiliki Angsa Pelangi sudah cukup tapi Gu Xia berbeda, di berjalan mendekati Ye Chen dan berkata, "Kalian jangan begitu, kak Chen, pasti kamu pusing kan? nah sini aku pijit." ucapnya sambil tersenyum sembari mengedip-ngedipkan matanya.
kepala Ye Chen berkedut. Beruntung saat itu seseorang menghampiri mereka dan berkata perahu terbang sudah memasuki langit berkabut, mungkin ini adalah batas terluar wilayah selatan.
Pengrajin Mingdi menambah ketinggian perahu terbang, harapannya agar terbebas dari kabut itu namun kabut itu seperti dinding besar yang sangat tinggi.
"Perkuat pertahanan kapal."
Perintah Ye Chen, lalu menghampiri Giro. "Ada masalah?"
"Tidak ada tuan, aku tidak mendeteksi apa yang ada di bawah sana."
Giro tidak menunggu lama, Ia segera melakukan perintah. Sementara Ye Chen kini sudah memeriksa lagi, jangkauannya diperluas sampai satu kilometer ke depan.
Yang Ye Chen lihat adalah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dan tampak sangat kokoh, itulah kenapa dia meminta perisai depan lebih kuat lalu tepat di bawah perahu, dan tepat di bawah perahu Ye Chen melihat tumbuhan seperti bunga mawar namun sangat besar dan menghadap ke atas.
Bunga itu menguncup lalu mekar kembali sambil mengeluarkan gas. Gas inilah yang kemudian naik ke atas dan berkumpul menjadi kabut.
Ye Chen sedikit membuka perisai dan menghirup kabut, "Ini beracun." gumam Ye Chen.
Satu jam kemudian kabut tipis itu mulai menipis, pemandangan dari atas mulai terlihat jelas.
Bukk...
Bukk...
Terdengar seperti sebuah ketukan di lambung kapal. Ketika diperhatikan lagi, ternyata itu adalah bola api seukuran buah apel.
__ADS_1
Bola api sebesar itu tentu saja tidak akan berpengaruh sama sekali. Namun yang terjadi selanjutnya membuat seisi kapal mulai waspada, bola api yang sebesar apel tadi kini berganti menjadi sebesar semangka.
"Kakak Chen, apa yang terjadi?"
Lu Jia dengan dan yang lain menghampiri Ye Chen, kapal mulai terasa ada getaran-getaran kecil dari benturan bola api dengan perisai kapal.
Sementara Ye Chen tidak langsung menjawab melainkan menunjuk ke bawah.
"Tidak mungkin!"
Di bawah sana, ratusan atau mungkin ribuan kadal besar menembakkan bola api dari mulut mereka yang terbuka. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah tembakan bola api itu tidak ada yang meleset, semua mengarah langsung ke kapal. Seolah memang sengaja menyerang.
Kadal api gurun yang berada di bawah kapal akan mengenai lambung kapal sedangkan yang berada agak jauh menembak bola api ke sisi kapal. Hanya bagian atas kapal saja yang aman.
"Kak Chen, bagaimana ini? apakah perisai akan rusak?"
"Kak Chen, lakukan sesuatu."
Kedua wanita bermarga Lu itu sedikit panik, bukan takut mati tapi membayangkan jatuh dari ketinggian membuat mereka merasa ngeri.
"Kita belum masuk wilayah selatan, kenapa kalian sudah begitu takut? lihat, cuma kalian berdua saja begini." Ye Chen.
"Xia, Fei, apa kalian tidak merasa mengerikan jatuh dari langit? bukan itu saja, sesampainya di bawah, kadal-kadal itu akan menyerang dan menjilat kulit kalian dengan lidahnya yang panjang dan kasar. Belum lagi kulitnya yang kasar, aih apa kalian tidak merasa ngeri?"
Lu Jia memang pandai berbicara, dalam waktu singkat Gu Xia dan Song Fei dapat Ia pengaruhi pikirannya dengan hal-hal yang yang paling ditakuti seorang gadis.
"Kakak Chen lakukan sesuatu."
ujar mereka berdua hampir berbarengan.
Ye Chen menyerah, tidak mau berdebat lagi. Ia lalu berkata, "Ini Kadal api gurun, dan termasuk hewan iblis yang kekuatannya setara dengan kulitivator tingkat Bumi."
"Coba perhatikan mata mereka, yang bermata merah itu. Kecuali tidak yang bermata hitam, maka biarpun diserang selama satu tahun penuh, kapal ini tidak akan hancur."
Namun baru saja Ye Chen selesai berbicara, dari tempatnya berdiri muncul sebuah bola api yang memiliki kilatan hitam. "Sial! apakah ucapanku ini adalah doa?" umpat Ye Chen dalam hati.
__ADS_1