
Tap...
Ye Chen menangkap tangan orang itu saat hendak menyentuhnya, sambil terus memegang pergelangan tangan itu Ia berdiri. "Kau tidak berpikir mainanmu ini membunuhku kan?" tanya Ye Chen, sebelah tangannya lagi terdapat dua belati kecil. Ternyata Ye Chen hanya pura-pura saja tertusuk belati.
"Kurang ajar! cepat lepaskan, atau kau akan menyesal."
"Jangan buru-buru dulu, tenang saja," sahut Ye Chen. Ia mengeraskan tangannya sehingga membuat penjahat itu sangat kesakitan, ditambah hawa panas membakar yang diam-diam Ye Chen salurkan melalui tangannya. "Jadi tadi kau mau menusuk pinggang ku ya... baiklah."
Clebb...
"Aaaakh...
Satu belati yang panjangnya sejengkal itu Ye Chen tusukkan dengan dingin ke pinggang pria itu.
Plakk...
Krekk...
Pria yang menahan rasa sakit itu tiba-tiba menggerakkan sebelah tangannya yang bebas, memukul dada Ye Chen dengan kuat. Sayangnya Ye Chen yang sudah waspada sejak awal melihat ini dan meninju bahunya sampai remuk dan patah, membuat tangannya terkulai lemas sebelum sempat menyentuh dada Ye Chen.
"Satu lagi, sabar ya...."
Ucap Ye Chen yang kembali menusuk belati lain ke pinggang pria itu.
"Nah selesai." kata Ye Chen lagi. Terakhir, Ia meninju bahu lain dari pria itu sampai patah dan membuatnya terkulai dan jatuh ke tanah saat Ye Chen melepas pegangan tangannya.
Sementara itu, Lin Yungtao yang berhadapan dengan penjahat yang satu lagi kini bertarung sengit. Kelihatannya mereka seimbang karena baik kekuatan dan tingkat kultivasi mereka sama, hanya saja Lin Yungtao kalah pengalaman bertarung. Lawannya adalah salah satu ketua penjahat yang telah mengalami banyak pertarungan sedangkan Lin Yungtao lebih banyak mendalami seni berperang.
Perlahan tapi pasti perbedaan ini mulai terlihat, beberapa pukulan mendarat di tubuh Lin Yungtao.
Saat tengah terdesak itu, Ye Chen datang. "Mau kubantu?" katanya sambil berjalan mendekat diselingi makian dan teriakan kesakitan.
Makian dan teriakan itu berasal dari pria yang menjadi lawannya tadi. Ye Chen berjalan sambil menyeretnya, memegang pergelangan tangannya. Bisa dibayangkan rasa sakit yang dialaminya ketika bahu yang remuk patah saling bergesekan. Belum lagi belati yang masih menancap di pinggangnya, Ye Chen tidak peduli ketika gagang belati itu bergesekan dengan tanah. Ia bahkan sesekali menghentakkan tarikannya ketika gagang itu tersangkut di batu atau lubang kecil.
__ADS_1
"Kau terlalu lembut." lanjutnya lagi dan sekali mengayunkan tangan, pria yang diseretnya terbang jauh menabrak lawan Lin Yungtao.
"Adik!" teriak kakak dari pria yang dilempar, Ia menangkap dan memeluk tubuh adiknya yang hampir mati. Namun karena daya lempar Ye Chen yang kuat, keseimbangannya terganggu sehingga kedudukannya goyah dan limbung.
Yang sama sekali tidak Ia sangka adalah bayangan lain yang datang tepat setelah adiknya dilempar. Bayangan itu adalah Ye Chen yang juga ikut terbang ke arahnya.
Clebb...
Pedang hitam menembus punggung adiknya dan terus menembus dadanya. Dan Dengan mengerahkan sedikit tenaga, Ye Chen menarik pedang ke atas dan tembus melewati kedua bahu kakak beradik itu. Mereka berdua pun tewas di tempat.
"Ketua...." gumam pria yang pincang dari jauh, Ia benar-benar tak menyangka ketua yang hendak membalas dendam tewas mengenaskan. Terutama adik ketua, Ia bahkan tak tega melihatnya. "Aku harus segera melapor." batinnya. Pelan-pelan Ia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan pergi.
"Tu-tuan Chen... terima kasih?" Lin Yungtao. Nafasnya masih terengah-engah karena pertempurannya dan luka pukulan yang membuatnya sesak. Matanya tak berhenti menatap Ye Chen dan dua sosok yang tergeletak di depannya. "Mereka sudah tewas, jangan bilang anda masih ingin membunuhnya lagi." lanjut Lin Yungtao ketika melihat Ye Chen menghampiri jasad itu.
"Aku tau, kau kira aku ini maniak pembunuh?" sahut Ye Chen, Ia telah mengambil cincin penyimpanan dan memeriksanya. "Tidak buruk. Aku yang membunuhnya jadi semua ini milikku." ucapnya lagi.
Lin Yungtao hanya tersenyum masam. "Eh kau mau apa lagi?" Ia bertanya lagi ketika melihat Ye Chen memungut batu sebesar kepalan tangan. "Apa kepalamu kena pukul juga? sedikit-sedikit bertanya. lihat saja."
Usai berkata seperti itu, Ye Chen melempar batu ke arah pria pincang yang berjalan pelan menjauh.
Batu itu tepat mengenai bahunya, retak. Tapi Ia tak berhenti berjalan, Ia takut kalau berhenti Ia akan tewas juga.
"Bukankah kau bilang jangan mengampuni musuh karena bisa menimbulkan masalah?" Lin Yungtao kembali bertanya heran.
"Hais kau ini. Heh Lin Yungtao, kau ini panglima muda, masa iya tidak bisa membuat rencana? sudah tenanglah dan lihat saja, lebih baik kita pulang, aku ngantuk."
Ye Chen memang sengaja tidak membunuh pria pincang, Ia tau pria itu pasti kembali melapor dan dengan begitu Ia bisa tau markas mereka. Ide itu tiba-tiba muncul di benaknya ketika memeriksa cincin dua kakak adik itu, isinya lumayan banyak, dari yang Ia dengar, mereka berdua adalah salah satu ketua. Ye Chen sudah membayangkan berapa harta yang akan dia dapat kalau bisa membunuh mereka semua.
"Hehe...."
"Tuan Chen ini sudah tidak waras." gumam Lin Yungtao, dari tadi Ia melihat Ye Chen selalu saja tersenyum.
"Aku masih mendengarmu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
"Ah Lin Yungtao... kau tidak mengerti hehe."
Lin Yungtao benar-benar dibuat bingung, baru kali ini Ia bertemu dengan orang seperti Ye Chen ini. Tapi sudahlah, yang penting masalah sudah beres, pikirnya.
Apakah asalah sudah beres? tidak, justru masalah akan semakin besar mulai dari sini. Seperti yang sudah dikatakan di awal, mereka adalah perkumpulan penjahat yang sering menculik dan memeras keluarga korban, tapi bukan hanya menculik saja. Mereka juga menerima pesanan untuk membunuh. Jadi siapa saja, asalkan punya uang, bisa mendapat pelayanan dari kelompok ini.
Banyak pihak yang memburu kelompok ini, begitu juga dengan akademi Langit. Ada misi khusus yang diperuntukkan untuk murid-murid inti, namun semua usaha yang dilakukan menemui jalan buntu. Tak ada yang tau persis dimana markas kelompok ini.
Keesokan harinya, Ye Chen dan Lin Yungtao sarapan bersama. Hanya teh dan makanan ringan sederhana saja, Ye Chen sempat mengumpat karena melupakan makanan yang dibawanya pulang dari rumah makan. Makanan itu sudah basi, memang jenis makanan ini tidak tahan lama.
"Sudahlah saudara Chen, nanti akan kubelikan yang baru." kata Lin Yungtao yang karena tidak tahan mendengarnya.
"Kau sendiri ya yang bilang begitu."
"Iyaa tenang saja, kau ini kalau masalah makanan tidak bisa diam. Daripada itu, akan kuceritakan tentang keluarga Ruo padamu."
Keluarga Ruo adalah salah satu keluarga terpandang di alam Langit. Usaha utamanya adalah sumber daya, dan kepala Ruo, begitu biasanya orang-orang memanggilnya adalah ketua salah satu perkumpulan dagang yang ada di alam Langit.
"Berapa banyak perkumpulan dagang di sini?" tanya Ye Chen.
"Tepatnya aku tidak tau, yang aku tau ada sekitar tiga atau empat saja dan salah satu yang terbesar adalah milik kepala Ruo itu."
"Pantas saja mereka jadi sasaran penculikan," sahut Ye Chen. "Tunggu, atau mungkin bukan sasaran penculikan tapi menjadi target penculikan. Bisa saja lawan usahanya yang ingin menjatuhkannya."
"Kau benar saudara Chen, aku tidak berpikir sampai ke sana."
"Tentu saja, aku ini cerdas hhaha... coba saja kau pikir, mana ada orang sepenting itu tidak dikawal?"
"Kau benar."
"Kan sudah kukatakan, aku ini cerdas."
__ADS_1
Lin Yungtao hanya bisa menggeleng, sisi lain Ye Chen ini membuatnya yak habis pikir. "Aku keluar sebentar, jangan kemana-mana kalau tak mau makanan campur-campurmu itu basi lagi."
"Siap panglima! tolong sekalian ayam panggangnya ya hehe...."