
Tak ada yang bisa dilakukannya lagi, terlambat. Dengan wajah memerah karena marah, wakil patriark sekte teratai menatap Ye Chen.
"Dosamu yang lalu belum terhapus kau sudah berbuat dosa yang lebih besar. Kau harus membayarnya dengan darahmu." serunya marah lalu melepas aura tingkat Suci tahap awal untuk menindas Ye Chen.
Dari arah lain, aura yang sama juga datang menindas. Ini adalah wakil tetua luar sekte pedang langit.
"Ini akan merepotkan." gumam Ye Chen tetap tenang sambil menyiapkan belati hitam di balik lengannya.
Ia tak perlu repot-repot bertanya siapa dan apa urusan mereka datang. Baginya, jika ada yang datang mengganggunya, apalagi dengan niat membunuh maka tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Ye Chen tidak perlu menunggu diserang, Ia mengambil serangan pertama.
Berada di tingkat yang sama, tidak membuat Ye Chen kewalahan. Andai saja hanya seorang dari mereka, Ye Chen tidak harus mengeluarkan semua potensinya untuk dapat melumpuhkan lawannya.
"Langkah angin ketiga."
Ye Chen menghilang dari tempatnya, dan langsung berada di depan wakil tetua luar. Ia memilih musuh yang terdekat dengannya.
Wakil tetua luar hanya bisa bertahan dengan memasang perisai, menghadang hantaman keras tapak milik Ye Chen.
Blamm...
Hantaman pertama mendarat sempurna, berhasil diredam oleh perisai. Sayangnya wakil tetua luar tidak mengetahui cara Ye Chen bertarung, dia berpikir Ye Chen akan menarik diri dan bersiap lagi setelah melakukan serangan pertama.
Tapi Ia salah, Ye Chen sama sekali tidak mundur. Begitu serangan pertama menemui sasarannya, serangan kedua telah menyusul kembali.
Wakil tetua luar yang kaget, buru-buru menguatkan perisainya yang tadi sempat Ia kurangi untuk balas menyerang.
"Terlambat." ucap Ye Chen sambil tersenyum bahagia melihat kecerobohan lawannya.
Blaarr...
__ADS_1
Tubuh wakil tetua luar terlempar setelah ledakan keras yang menghancurkan perisainya.
"Masih kurang." Ye Chen melesat lagi, kali ini Ia menggunakan ujung pedang mengincar titik lemah di tubuhnya saat melayang.
Tapi tidak percuma wakil tetua luar menjadi salah satu orang penting di sektenya. Bahaya yang mengancamnya Ia hindari dengan cara memutar badannya lalu berguling ketika kakinya menyentuh tanah.
"Kau masih terlalu muda untuk mengalahkanku." ucapnya menyombongkan diri. Ye Chen hanya menanggapinya dengan senyuman sambil menunjuk ke pinggangnya.
Spontan wakil tetua luar melihat arah yang Ye Chen tunjuk, tawa sombong sebelumnya hilang seketika saat melihat sebuah Qi berbentuk belati hitam kecil menancap dalam di pinggangnya.
"Apa ini...?" rasanya tidak sakit tapi Ia tau ini tidak bagus. Hatinya mulai khawatir, Ia terlalu mengganggap remeh lawannya sampai tak tau kapan Ye Chen berhasil menancapkan belati Qi padanya.
"Dasar tidak berguna." wakil patriark berseru dari arah lain. Sama seperti wakil tetua luar, Ia juga memandang remeh Ye Chen.
Di dalam wilayah Ye.
Patriark Xiao yang mendengar suara pertempuran segera keluar diikuti yang lain. Ia cukup terkejut melihat wakil tetua luar ada di sana. "Ternyata dia yang ada di sini." gumamnya.
Aahh...
Teriakan kesakitan wakil tetua luar baru terdengar, darah mulai terlihat mengalir keluar tanpa dapat Ia hentikan.
Ye Chen tersenyum, kembali mengangkat tangannya dan melepas dua belati Qi yang langsung menusuk masuk ke pinggang wakil tetua luar, tempat yang sama dengan belati Qi sebelumnya. Serangan ini membuatnya jatuh terduduk, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ia hanya bisa melihat Ye Chen dengan tatapan aneh, Ia mulai khawatir apalagi melihat Ye Chen berjalan ke arah muridnya yang pingsan.
Kemudian sebuah tusukan memanjang dari perut sampai ke pundak mengakhiri hidupnya. Wakil tetua luar hanya bisa memandang dengan mata terbelalak menahan marah.
Tapi itu tidak lama, begitu selesai dengan muridnya, Ye Chen melambai ke arahnya dan mengirim beberapa belati Qi, kembali menembus pinggangnya dan sebagian lain menghunjam di beberapa bagian tubuhnya. Begitu saja sampai Ia tewas kehabisan darah.
Tak boleh ada yang lolos, semua menerima hukumannya. Tewas seperti seperti habis bertarung dengan hewan buas.
__ADS_1
Di pinggir lapangan, patriark Xiao dan yang lain terkesiap, sama sekali tidak pernah menyangka Ye Chen yang terlihat baik dan ramah akan membunuh dengan kejam. Bahkan patriark Xiao yang notabene adalah orang terkuat di antara mereka tak sempat bereaksi mencegahnya.
Kecuali patriark Hauw, Ia sebelumnya telah bertarung bersama Ye Chen jadi tak kaget lagi meskipun Ia tetap saja merinding melihatnya. Sebagai patriark sebuah sekte di kota Shinyang, kota para penjahat, Ia tentu tak asing dengan pembunuhan. Tapi mungkin Ia sendiri tak akan menghabisi musuhnya yang pingsan dengan mencabiknya.
"Jangan samakan aku dengan orang bodoh itu." wakil patriark sekte Teratai berkata dengan angkuh, bersiap menggempur Ye Chen dengan kekuatan penuhnya.
Mengandalkan tehnik Teratai miliknya, Ia kemudian melesat dengan pedang di tangan. Hawa dingin menekan di setiap sambaran pedangnya, belum lagi perisai berbentuk Teratai yang sangat kuat menjaga tubuhnya dari serangan lawan.
Sayangnya Ye Chen telah melihat tehnik ini sebelumnya ketika bertarung dengan He Liang. Memang kali ini jauh lebih kuat karena di tangan seorang wakil patriark tapi dasarnya tetap sama dan Ia sudah tau kelemahannya.
Ye Chen diam menunggu, serangan pertama yang datang dihindari begitu saja, begitu juga dengan serangan kedua dan ketiga. Hanya serangan keempat yang Ia terima.
"Tidak buruk." gumam Ye Chen sambil menyeka darah dari sudut bibirnya.
"Tuan Ye, hati-hati." patriark Hauw yang melihat ini berkata dengan khawatir.
Patriark Xiao berpandangan lain, Ia tau Ye Chen sengaja menerima pukulan itu. Entah apa maksudnya tapi ini tindakan gila kecuali Ia sudah memperhitungkan sebelumnya. Hal ini dikatakannya kepada yang lain.
"Tapi ayah bagaimana mungkin, lihat, dia saja terluka." penatua Xiao mencoba membantah ayahnya karena melihat Ye Chen mengusap darah.
"Itulah kenapa aku katakan dulu bahwa kau tidak akan menang melawannya." ucap Patriark Xiao sambil menggeleng.
Merasa sudah merasa menang karena serangannya berhasil, wakil patriark menjadi sombong. "Hahaha kini kau rasakan sendiri, teruslah tersenyum sampai kau tak bisa tersenyum lagi."
"Langkah angin ketiga."
"Tehnik yang sama tidak akan menipuku. Jangan samakan aku dengan si bodoh itu." Ye Chen tidak menggubrisnya.
Serangan pertamanya hanya berupa tusukan yang dapat dihindari wakil patriark. Serangan kedua dan ketiga juga dapat dihindari tapi serangan keempat sudah tidak dapat Ia hindari.
Semua sama persis, bedanya wakil patriark terpental jauh. "Apakah barusan Ia menggunakan tehnikku?" gumamnya bingung.
__ADS_1