Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ruoyi dan Ayahnya


__ADS_3

Tak ada ruang bagi bagi orang yang membuat Ye Chen kesal, penjahat ini pun sebelah kakinya patah. Ye Chen menarik rambut dan menyeretnya sampai ke pintu dan melemparnya begitu saja. Rintihan nya seolah nyanyian merdu di telinga Ye Chen.


"Tuan, tuan yang ramah, kuat dan baik, tolong selamatkan kami ayah dan anak. Bantu kami membunuh mereka." kata pria di samping si gadis.


Tapi apa yang terjadi sungguh membuatnya bingung, Ye Chen menamparnya.


"Tidak usah berlebihan, kalian juga keluar dari sini."


"Cepat! atau kau mau kuseret juga?" kata Ye Chen lagi ketika ayah dan anak itu belum pergi juga.


"Tuan, maafkan ayahku," yang berbicara ini adalah si gadis. "Namaku Ruoyi, anda bisa memanggilku Yiyi. aku murid akademi, ketika hendak kembali dari rumah mereka menangkap dan menyekap kami."


"Kalian sudah bebas, sekarang pergilah." kata Ye Chen dingin. Meski begitu, Yiyi tidak mendendam karena Ye Chen menampar ayahnya, Ia tau betul sifat ayahnya yang suka memerintah seenaknya karena merasa lebih tinggi dari orang lain.


"Akan kubayar berapapun, antar kami sampai kerumah."


"Ayah!?"


Ayah Rouyi seakan belum sadar, Ia malah meminta dikawal dengan memberikan imbalan.


"Nona, katakan pada ayahmu itu. Kalau ini terjadi di luar kediaman ini, mulutnya itu sudah pasti kurobek.


Ye Chen berkata kesal. Ia memang sangat ingin membunuh atau paling tidak menyiksa mereka, sayangnya ini berada di kediaman Peri dan Ia tak mau membuat masalah bagi Lin Yungtao.


Ruoyi memandang Ye Chen dengan kagum, baru kal ini Ia bertemu seorang pria yang tegas yang tak ragu bertindak. Yang lebih penting lagi, Ye Chen sama sekali tak tergoda dengannya. Jangan tertarik, melirik saja tidak, padahal Ia termasuk gadis cantik dan banyak pria yang tertarik padanya.


"Tuan, ini tanda pengenal tempat kami. Kalau ada waktu, mampirlah, aku akan dengan senang hati menjamu anda." Ruoyi mengambil sebuah benda yang menjadi mata kalungnya namun hanya Ia letakkan di tanah karena Ye Chen tidak mau mengambilnya.


Ayah Ruoyi yang melihat ini sedikit tidak senang, tatapan matanya terhadap Ye Chen sudah mengartikan semua.

__ADS_1


"Pak tua, sekali lagi kau melihatku seperti itu, aku tak akan segan menumpahkan darahmu." suara ini Ye Chen kirim melalui telepati, langsung ke dalam kepala ayah Ruoyi.


"Tidak tuan, tidak, maafkan aku," ucapnya dengan wajah ketakutan. "Ini, ambillah. Anda adalah tamuku juga mulai sekarang." Ia meloloskan sebuah cincin dari jarinya.


Kediaman itu kembali sepi, baik penjahat maupun ayah dan anak itu telah pergi. Tidak berselang lama, Lin Yungtao akhirnya kembali dan menemukan Ye Chen yang masih berdiri di luar.


"Saudara Chen, kenapa anda di luar? dan eh, ini apa?" mata Lin Yungtao tertumpu pada dua benda di tanah. "Ruo... bukankah ini tanda keluarga Ruo?" gumamnya sambil terus membolak-balikkan dua benda di tangannya.


Karena didesak terus, akhirnya Ye Chen menceritakan kejadian tadi. "Kalau saja ini bukan kediamanmu, sudah kurobek dan kucabut gigi orang tua sialan itu, seenaknya saja menyuruhku membunuh dan kau tau? dia mau membayarku untuk mengawalnya sampai kerumah." Ye Chen yang masih tidak bisa menyimpan kekesalannya.


Lin Yungtao hanya berdiri dalam diam, entah dia harus senang atau sedih ketika mendengar Ye Chen menampar ayah Ruoyi.


"Saudara Chen, apa kau tau rumah Ruoyi?"


"Apa kau pikir untuk apa aku masih di luar? asal kau tau, aku ini sedang menunggunya pergi jauh dari sini dan ketika saat itu datang, aku akan pergi menemuinya."


"Jangan bilang kau hendak membelanya." sahut Ye Chen dengan tatapan dinginnya. Ia benar-benar tidak terima dengan ucapan ayah Ruoyi.


"Panglima muda, kau harus betul-betul mengawasi tuan Chen, anak itu mempunyai bakat masalah. dimana dia berada, pasti disitu ada masalah." Lin Yungtao masih ingat betul pesan Paman, dan belum ada satu hari Ia meninggalkan Ye Chen sendiri, sudah ada satu masalah.


"Sudahlah saudara Chen, begini saja, aku akan mengajakmu makan, aku tau di sekitar sini ada rumah makan yang terkenal dengan olahan sayuran dan kacang."


Ye Chen melupakan semuanya saat menyantap hidangannya, campuran bermacam sayuran dan telur lalu disiram dengan kuah kacang yang ditumbuk halus kemudian ditambah kecap manis dan taburan bawang goreng benar-benar sangat nikmat. Baru kali ini Ia mencicipi hidangan istimewa itu. "Kalau ada nasi hangat, pasti lebih nikmat." ucap Ye Chen dalam hati.


"Kau memang yang terbaik panglima muda, terima kasih hehe...." puji Ye Chen yang masih meminta dibuatkan beberapa lagi untuk dibawa pulang.


"Ketua, itu orangnya."


Saat berjalan pulang kembali, Ye Chen dan Lin Yungtao dihadang tiga orang, yang mengenali Ye Chen barusan adalah penjahat yang sebelah kakinya patah.

__ADS_1


"Coba lihat, inilah yang sering aku katakan. Jangan memberi ampun musuhmu, kalau tidak dia akan membuat masalah lagi di lain waktu."


"Jadi ini orangnya yang menculik nona Ruoyi dan ayahnya? rasanya aku pernah mengenal kelompok ini." Gumam Lin Yungtao. Ia mencoba mengingat kembali orang-orang di depannya.


Tanpa mempedulikan Lin Yungtao, Ye Chen berjalan mendekati tiga orang di depannya. Melihat ini, pria yang kakinya patah itu mundur ke belakang.


Ye Chen berdiri tepat di depan penjahat itu. "Saudara Chen, tunggu sebentar." Lin Yungtao tau yang ingin memastikan identitas mereka menahan Ye Chen.


"Sesukamulah, aku dalam suasana hati yang baik. Aku malas meladeni mereka." sahut Ye Chen. Ia lalu berjalan pergi.


"Hei tunggu! aku belum selesai." hardik salah satu dari dua ketua penjahat.


"Tuan, perlahan dulu," kata Lin Yungtao menahan gerakan mereka. "Saudaraku sudah menceritakan kejadiannya, dan itu kediamanku. Aku minta penjelasan, siapa dan darimana kalian." lanjut Lin Yungtao lagi.


"Kau terlalu sopan." Ye Chen mengirim suara kepada Lin Yungtao, yang hanya ditanggapi dengan senyuman.


Lin Yungtao tidak seperti Ye Chen. Sebagai seorang panglima muda, Ia memang tegas tapi juga pandai membaca situasi, Ia tak akan mengambil tindakan tanpa memikirkan resikonya.


Namun yang didapatnya bukan jawaban melainkan hinaan. "Hahaha jadi kau pemilik kediaman itu? asal kau tau, kami sudah memeriksa semua tempat itu. Nah kami sudah di sini, apa yang akan kau lakukan pemuda manis? hahaha."


Lin Yungtao mengernyit, mungkin saudara Chen benar, pikirnya.


"Kakak, biar aku yang mengurus yang di sana itu. Heh ikut aku." seorang dari mereka lalu mengejar Ye Chen dan mengajak pria yang jalannya pincang.


Syuut...


Syuut...


Dua belati kecil melesat cepat ke pinggang Ye Chen. "Mati kau! itu balasan karena telah mencampuri urusan kami." katanya dengan angkuh ketika melihat Ye Chen jatuh tersungkur dengan dua belati menancap dalam di pinggangnya. Ia lalu menghampiri Ye Chen Untuk memastikan kematiannya.

__ADS_1


__ADS_2