Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Gulungan Peta


__ADS_3

Hari yang ditunggu Ye Chen telah tiba, hari ini adalah hari dimana para pemburu datang dan berkumpul di pemukiman.


Song Fei mengajak Ye Chen ke aula pemukiman, tempat yang biasanya dipakai para pemburu berkumpul dan melakukan transaksi kecil.


Ye Chen yang melihat para pemburu mulai berdatangan dan memperlihatkan hasil buruan mereka terlihat kecewa.


"Apa hanya ini yang mereka punya." gumam Ye Chen. Sama sekali tidak ada yang menarik perhatiannya di antara semua sumber daya di depan matanya.


Song Fei yang mendengar mendekat ke arah Ye Chen dan berkata. "Tuan muda, biasanya mereka menyimpan yang paling berharga sampai menemukan harga yang cocok kalau tidak akan dibawa untuk dijual sendiri.


Betul juga pikir Ye Chen, tidak mungkin mereka memperlihatkan sumber daya berharga begitu saja.


Ye Chen mendekat lagi ke arah Song Fei yang kembali menjauh. Sampai tidak sadar berdiri tepat di sampingnya.


"Bagaimana sebaiknya, apa kita melakukannya di sini?" tanya Ye Chen.


"Maksud tuan muda?" jawab Song Fei sembari mengambil jarak sedikit mendengar pertanyaan yang sedikit ambigu Ye Chen.


"Hais kenapa sih kau ini, sini..!" Ye yang tak sabar melihat Song Fei selalu mundur menarik pelan tangannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Song Fei, dan berbisik.


Ye mengernyit mencium aroma Song Fei yang menurutnya terlalu harum bagi seorang pria, tapi ia mengindahkannya dan berkata.


"Maksudku, bagaimana selanjutnya, apa aku mengeluarkan saja kantung penyimpanan biar mereka melihatnya atau bagaimana..?"


Hembusan nafas Ye Chen yang hangat menerpa halus telinga Song Fei saat Ye Chen berbisik. Ini membuat wajahnya memerah, sambil menunduk, Song Fei kembali mengambil jarak dan berkata dengan gugup, hatinya berdebar-debar.


"Tu... tuan muda, tuan muda bisa mengeluarkannya. Nanti, nanti tunggu saja reaksi mereka. Aku yakin mereka pasti sangat tertarik," kata Song Fei. "Aku pergi dulu."


Tidak menunggu jawaban Ye Chen, Song Fei dengan cepat pergi dan menghilang dari aula pemukiman.


Ye Chen yang ditinggal sendiri hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aneh." gumam Ye Chen.


Mengikuti saran Song Fei, Ye Chen mengeluarkan kantung penyimpanannya, dan benar saja, para pemburu mulai menawarkan sumber daya simpanan mereka namun tidak satupun yang menarik perhatian Ye Chen.


Dengan wajah lesu Ye Chen berjalan keluar aula tapi seorang pria tua memanggilnya.


"Tuan muda, aku punya sesuatu yang mungkin membuat anda tertarik." kata pria tua ini sambil berjalan mendahului Ye Chen.


Ye Chen yang penasaran segera menyusul pria tua di depannya yang membawanya ke sebuah rumah. Setelah masuk, pria tua memberikan sebuah gulungan tua dan berkata.


"Ini aku temukan di sebuah makam kuno, lihatlah dulu, aku yakin anda akan tertarik."


Ye dengan seksama membaca gulungan di tangannya yang meskipun sangsi dengan lokasi makam tua tapi Ye Chen cukup tertarik, ternyata ada juga hal semacam ini, pikirnya.


"Kalau anda sendiri menemukan ini di makam tua, itu artinya anda sudah ke sana. Jangan main-main pak tua, kantung penyimpananku tidak cukup berharga jika dibandingkan dengan sebuah makam kuno." kata Ye Chen sedikit mengeluarkan aura naga yang menekan.


Karena kesulitan bernafas, pak tua ini berkata dengan nafas tersendat.


"Tu... tuan, tuan muda salah paham, makam ini tidak seperti makam kuno lain yang tersembunyi. Semua pemburu juga tau, tapi hanya aku yang tau ada tempat lain di dalam makam kuno ini."


Ia lalu menjelaskan bahwa gulungan yang Ia berikan adalah peta lokasi dimana terdapat tempat lain Ia maksud.


Pria tua ini juga mengatakan sudah pernah kesana tapi entah kenapa Ia tidak melihat apa-apa selain tebing tinggi yang terjal.


"Lalu untuk apa gulungan ini kalo hanya ada tebing terjal saja?" tanya Ye Chen.


Di tanya seperti ini, pria tua di depan Ye Chen juga bingung harus bicara apa. Akhirnya Ia hanya diam, sampai terdengar helaan nafas Ye Chen dan berkata terima kasih atas niat baiknya.

__ADS_1


Ye Chen kemudian memberikan satu kantung penyimpanan berikut gulungan petanya.


"Tidak, tidak tuan, jangan begini..."


"Simpanlah, aku hargai niat baikmu." kata Ye Chen.


Tapi pria tua itu, yang merasa tidak enak melihat ketulusan Ye Chen memanggilnya.


"Tuan muda, baiklah...," katanya menghela nafas lalu mengeluarkan dua buah benda dari sakunya. "Tebing itu adalah pintu masuk ke tempat lain di makam kuno, ini adalah token untuk masuk ke dalam sana benda yang ini adalah artefak penahan panas."


Di dalam sana, suhunya sangat dingin dan berkat artefak ini Ia bisa melawan hawa dingin, meskipun hanya sebentar saja.


Yang Ia lihat di dalam sana adalah sebuah tempat seperti istana yang menyimpan banyak kepingan emas dan perak. Namun Ia belum tau pasti apa yang menyebabkan hawa di dalam sana begitu dingin.


Awalnya Ia hanya ingin memberikan gulungan peta kepada Ye Chen dan menukarnya dengan kantung penyimpanan.


Ia tidak kuatir Ye Chen bisa masuk karena menurutnya hanya pemakai tokenlah yang bisa masuk.


Setelah berhasil mendapat kantung penyimpanan, Ia akan masuk dan menguras isi istana lalu keluar dengan cepat. Keterbatasan artefak penahan dinginlah sehingga Ia tidak bisa berlama-lama di dalam.


Terakhir pria tua ini meminta maaf karena berniat menipu Ye Chen.


"Sekali lagi aku minta maaf. Ini kukembalikan kantung penyimpanan anda dan gulungan, token dan artefak ini biarlah tuan ambil." katanya dengan tulus.


Ye Chen mengernyit, dalam hati ingin rasanya memotong orang di depannya ini. Tapi hanya di hati saja karena melihat ketulusan dan kejujurannya.


"Simpanlah kantung penyimpanan itu, kuharap saja ceritamu ini bukan omong kosong. Kalau itu sampai terjadi, jangan harap bisa melihat matahari lagi." ancam Ye Chen.


Ye Chen tidak berkata apa-apa lagi, Ia melangkah pergi, tidak mengindahkannya lagi.


Selepas Ye Chen pergi, seseorang mendekati pria tua itu dan bertanya tentang Ye Chen padanya.


"Hah anda sudah tidak seperti dulu lagi, terlalu lemah. Lihat saja akan kubawa semua anggota kita, akan kubunuh dia begitu keluar dari sana."


"Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," kata pria tua itu lagi. "Dan katakan padanya ketua, mulai sekarang aku mengundurkan diri, aku sudah lelah."


Tiba di rumah pemburu dari desa Bunga, Ye Chen yang mencari-cari Song Fei namun tidak menemukannya. Menurut rekannya, Ia sudah dari tadi masuk kamar dan tidak pernah keluar.


Ye Chen pun memutuskan untuk pergi sendiri mengikuti jejak yang ada di gulungan peta di tangannya.


"Bahkan ini tidak lebih dingin dari energi Naga itu." gumam Ye Chen begitu merasakan hawa dingin saat tiba di tempat tujuannya, Ia bahkan tidak memakai artefak.


Menelusuri peta di tangannya, Ye Chen akhirnya sampai juga di depan sebuah bangunan yang begitu megah. Tak pernah Ia melihat bangunan seindah dan sebesar ini.


Kubah besar dengan dua pilar sebagai penopang, di setiap sudut bangunan terdapat menara-menara menjulang tinggi.


Masuk ke dalam bangunan utama, Ye Chen suguhi ruangan yang sangat luas berlantai keramik putih bersih. Benar-benar sebuah istana yang indah pikirnya.


Semakin jauh Ye Chen berjalan, hawa dingin Teresa semakin kuat. Sampai tibalah Ia di sebuah ruangan yang menjadi sumber dari hawa dingin di istana.


Breess...


Hawa dingin menerpa tubuh Ye Chen ketika pintu ruangan terbuka. Kalau itu orang lain, orang itu pasti sudah membeku, tapi tidak bagi Ye Chen yang di dalam tubuhnya mengalir inti kehidupan Phoenix api.


Kraakk...


Sebuah benda sebesar genggaman tangannya melayang dari sebuah peti kecil yang Ye Chen buka.


Penasaran, Ye Chen mengambil benda ini dan menyerap hawa dinginnya.

__ADS_1


Tapi itu tidak lama. Hanya sesaat setelah hawa dingin di serap habis, benda di tangan Ye Chen ini mengecil dan merubah aura di istana menjadi lebih mencekam.


"Eh, apa yang terjadi? kenapa bisa begini?" gumam Ye Chen heran dengan perubahan aura di sekitarnya, yang anehnya Ia merasa begitu akrab dengan aura ini.


Tidak mau ambil pusing, Ye Chen mengambil semua yang ada di dalam ruangan. Kepingan emas dan perak lenyap tak tersisa.


Kretakk...


Tembok-tembok di dalam ruangan retak di susul bergetarnya seluruh istana.


Gawat pikir Ye Chen sembari berlari keluar dari dalam istana.


Blaammm...


Braakkk...


Ye memandangi satu persatu tembok istana yang runtuh. Benda yang Ye Chen ambil ternyata adalah energi penunjang bangunan istana.


"Sayang sekali, padahal aku berencana memasukkan istana ini ke dimensi cincin." Ucap Ye Chen sambil menggeleng dan melangkah pergi.


"Berhenti di sana!"


Lima belas orang berdiri di depan Ye Chen, salah satu dari mereka membentak menyuruh Ye Chen berhenti.


"Pergilah, aku sedang terburu-buru." ucap Ye Chen mencoba mengambil jalan lain.


Orang yang membentak Ye Chen berpikir Ye Chen takut sehingga mengambil jalan lain semakin berani.


Ia bergerak cepat kembali menghadang Ye Chen.


"Haha aku tau kau dari mana, serahkan semua yang ambil di tempat itu kalau kau masih sayang nyawa."


"Pekikan Phoenix..."


Kwaaaaak....


Ye Chen berteriak keras meniru suara Phoenix, salah satu tehnik yang Ia warisi. Teriakan ini langsung ditujukan kepada orang di depannya.


Deg...


Di serang secara langsung membuat pria ini berdebar sangat hebat, berkeringat dingin dengan tubuh seperti di paku ke tanah.


Ye Chen hanya berjalan santai ke arah anak buah pria ini dan mulai membantai mereka semua.


Mereka ini rata-rata berada ditingkat Emas awal, tentu saja bukan tandingan Ye Chen.


"Hehh merepotkan saja," kata Ye Chen.


"Hoi orang bodoh, jangan terlalu senang, sekarang giliranmu."


Jleebb...


Pedang hitam menembus tubuh pria ini. Tak ada kata ampun.


Bagi Ye Chen, cukuplah tadi Ia mengalah mengambil jalan lain.


Dari jauh, terlihat seorang pria tua mendesah pelan melihat ini lalu melangkah pergi tapi Ia salah, dari jauh Ye Chen melempar sebuah pisau Qi kecil yang terbuat dari api.


Aaahh...

__ADS_1


__ADS_2