
Han Le tidak bisa berbuat apa-apa ketika Ye Chen pergi, disatu sisi Ia merasa ditampar karena ada orang berani menghajar orangnya di rumah sendiri. Di sisi lain Ia pun sadar orang itu tidak sepenuhnya salah. "Hais tetua Ong, anda terlalu ceroboh." batinnya. Lalu meminta seseorang membawa tetua Ong ke balai pengobatan.
Tetua Ong sendiri masih belum sadar, seluruh tubuhnya dipenuhi luka bakar yang walaupun tidak membahayakan hidupnya tapi untuk sembuh total masih memerlukan waktu yang tidak sedikit, ditambah lagi dengan luka patah kakinya. Kali ini tetua Ong benar-benar ketemu batunya.
Ye Chen yang tadinya ingin bertanya informasi tentang sekte kegelapan kepada Han Le, jadi malas karena insiden dengan tetua Ong.
Tampak Ia berjalan sendiri saja, biasanya Ia akan terbang keliling dengan Rajawali jika merasa bosan seperti sekarang ini. Sayang Rajawalinya Ia tinggalkan untuk tunggangan Chu Xiong dan yang lain.
Oh Iya, Chu Xiong dan yang lain kenapa lama? mungkinkah mereka tidak berhasil menerobos? pikir Ye Chen mengingat mereka yang sampai sekarang belum muncul juga.
"Kakak Ye...!"
"Eh, siapa? gumam Ye Chen menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tak mungkin ada yang memanggilnya di kota ini.
"Kakak Ye tunggu sebentar, kau mau kemana?" di depan Ye Chen berdiri seorang gadis cantik yang Ia ingat adalah orang yang melawannya di arena akademi.
"Siapa?" tanya Ye Chen. Ia merasa tidak ada kepentingan dengan gadis ini.
"Kakak Ye apa kau lupa padaku?"
"Aku ingat, hanya saja untuk apa kau memanggilku." jawab Ye Chen acuh.
"Kau mau kemana?"
"Makan."
Han Meilan benar-benar tak tau harus bilang apa lagi, biasanya para pemuda berlomba-lomba menarik perhatiannya .
Tapi Ye Chen ini berbeda, bukan hanya tidak memandangnya bahkan Ia juga tidak peduli sedikitpun padanya. Dengan sedikit kesal, akhirnya Han Meilan mengikuti Ye Chen yang berjalan santai menuju sebuah rumah makan.
Ye sendiri bukan tidak tertarik dengan keindahan, hanya saja belum ada yang benar-benar membuatnya tertarik.
Han Meilan memang cantik, puteri kaisar, tapi itu belum cukup membuatnya tertarik, sama seperti gadis-gadis yang selama ini Ia kenal.
"Kakak Ye biar aku yang traktir." kata Han Meilan yang sudah berdiri di samping Ye Chen, di depan rumah makan.
__ADS_1
"Tuan puteri," sapa pelayan yang memang mengenal Han Meilan. "Silahkan... silahkan masuk, merupakan kebanggaan kami bisa melayani tuan puteri.
Tanpa sungkan, Ye Chen memesan semua hidangan yang ada, dan tentu saja melahap semua tanpa sisa. Sesekali Ia melirik ke arah dua pria yang duduk tidak jauh darinya.
"Tuan muda, satu perintah saja dari anda, kami akan langsung membunuh pria tak tau malu itu"
"Tidak, jangan sekarang, di sana masih ada puteri Han Meilan." jawab si pemuda.
Dua pria inilah yang sejak Ye Chen dan Han Meilan masuk rumah makan terus saja memperhatikan mereka, terutama sikap Han Meilan terhadap Ye Chen yang terlihat sangat akrab.
"Kakak Ye, ada apa? kau sepertinya memperhatikan pemuda itu? apa kau mengenalnya juga?"
"Eh apa kau mengenalnya?" tanya Ye Chen.
Han Meilan mengangguk. "Tentu saja aku mengenalnya, dia anak salah satu menteri di istana, juga salah satu jenius di akademi."
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Mungkin," tapi aku tidak menyukainya. Terlalu manja. Lihat saja, kemana-kemana harus dikawal."
Duduk menopang dagunya, Han Meilan berpikir pertemuan tadi dan makan bersama. "Hais kenapa juga aku memikirkannya terus." batinnya dengan wajah yang memerah.
"Adik Meilan," suara dari depan mengejutkan Han Meilan yang melamun. "Aku lihat kau sangat akrab dengan pria itu, dia itu siapamu?" dia adalah pemuda yang duduk di seberang, setelah Ye Chen pergi, Ia menyuruh pengawalnya juga pergi sedangkan Ia sendiri menghampiri Han Meilan dan bertanya dengan muka tidak senang.
"Hah memangnya kau siapa, untuk apa kau mencampuri urusanku?" Han Meilan menjawab dengan nada kesal.
"Adik Meilan, aku hanya memperingatkanmu, pria itu tidak pantas untukmu."
"Aku yang memutuskan siapa yang pantas untukku, bukan kau." sahut Han Meilan sambil berlalu pergi tanpa mempedulikan lagi pemuda di depannya yang masih berdiri dengan
...
Ye Chen berjalan pelan, niatnya ingin kembali ke rumah lelang terhenti karena dihadang dua pria, salah satu dari mereka adalah orang yang sebelumnya berada di rumah makan.
"Berhenti di situ!"
__ADS_1
Ye Chen berhenti, tidak berbicara apa-apa sampai dua orang lagi muncul di depannya. Salah satunya adalah anak menteri yang sebelumnya bersama Han Meilan.
Sambil tersenyum Ye Chen berkata. "Nah kalau begini sudah lengkap, sekarang katakan kematian yang bagaimana yang kalian inginkan."
"Sombong sekali, tuan muda ijinkan aku...."
si pemuda mengangkat tangannya lalu berkata pada Ye Chen. "Kau tidak perlu tau namaku, yang perlu kau ketahui adalah Han Meilan itu milikku."
Ye Chen yang bingun hanya menatap saja, Ia tidak menyangka kalau ini hanyalah masalah si puteri itu. "Oh begitu." ucapnya tanpa melihat lagi, Ia lalu berjalan melewati mereka dengan acuh.
"Berani kau mengabaikan tuan muda." salah satu pengawal berteriak marah. Dengan niat membunuh, Ia menyerang Ye Chen yang berjalan di dekatnya.
Craas...
Tanpa menoleh, Ye Chen yang memang sudah waspada memotong tangan yang memegang pedang dengan belatinya. Tapi bukan Ye Chen namanya kalau hanya memotong tangan orang yang berniat membunuhnya, dengan cepat Ia menendang keras dadanya hingga terpental dengan tulang patah-patah. Terakhir, belati iblis melesat menembus kepalanya.
Yang lain tidak langsung bereaksi dengan kematian temannya. Apalagi tuan muda ini, dia hanya melirik saja seolah hidup pengawalnya tidak berarti baginya.
"Tuan muda...." ucap seorang pengawal yang terkuat di antara mereka, tingkat Langit tahap awal. Ia merasa setingkat dengan Ye Chen dan dengan bantuan dua rekannya, Ia merasa Ye Chen ini bukanlah lawannya.
"Jangan dibunuh, patahkan saja kakinya. Aku tak mau Han Meilan marah karena membunuh temannya." kata si pemuda dengan penuh keyakinan.
"Bagus, kesinilah," ucap Ye Chen. Meski begitu, dialah yang maju bukan menunggu lawannya maju.
Tak ada yang berkutik, satu persatu lawannya tumbang dengan kepala berlubang. Mereka ini masih terlalu lemah bagi Ye Chen, perbedaan tahap kultivasinya masih jauh lebih tinggi.
Sekarang hanya tersisa si tuan muda yang gemetar ketakutan. "Jangan, jangan mendekat, kau akan menyesal." ucapnya sambil berjalan mundur.
"Kenapa, bukankah tadi kau ingin mematahkan kakiku? nah ini ambillah." balas Ye Chen, mengangkat kaki dan menendang keras perut su pemuda.
Hueek...
"Ayahku menteri Wu, kau tidak akan bisa lari dari sini." ucapnya lagi dengan mulut penuh darah sembari terus berteriak keras karena Ye Chen mematahkan sebelah kakinya dengan injakan keras.
"Aku tidak akan membunuhmu, hanya mematahkan kakimu seperti yang kau katakan."
__ADS_1
Tak ada suara kesakitan lagi, pemuda putera menteri ini pingsan tepat setelah Ye Chen meraih tangan kanannya dan mematahkannya.