
Semakin Ye Chen mendekat ke Phoenix api, semakin berkurang rasa dingin yang Ia rasakan. Ia berhenti tepat di depan sang Phoenix yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan Naga air, sama-sama terlihat sangat payah.
Karena merasa iba Ye Chen berjalan lebih dekat sampai tepat berdiri di dekat kepala sang Phoenix api.
Tanpa sadar didasari rasa kasih yang memang menjadi sifatnya, Ye Chen mengelus kepala Dan leher sang Phoenix.
Jika ada orang lain yang berani mendekat saja ke arah seekor Phoenix, pasti akan berubah menjadi abu saking panasnya, Ye Chen berbeda, inti kehidupan dari sang Naga yang berada di dalam tubuhnya sanggup menetralkan panas dari Phoenix.
"Hatimu bersih," ucap Phoenix api yang merasa nyaman di elus-elus. "Entah apa yang kau lakukan, aku merasa aura energimu sangat halus seperti berbaur dengan semesta terbuka."
Phoenix api lalu menceritakan keadaan dunia tempatnya bersama Naga air.
"Kami adalah hewan legenda kuno, aku, Phoenix yang menguasai elemen api, Naga yang sudah kau lihat menguasai elemen air, Harimau menguasai elemen angin dan kura-kura yang menguasai elemen tanah.
Diantara kami berempat, harus kuakui bahwa aku dan Naga adalah yang paling egois, meskipun kekuatan kami sama tapi antara aku dan Naga tidak pernah ada kecocokan, elemen kami saling melemahkan. Api dan Air tidak akan pernah bersatu."
"Suatu waktu kami berdua bertengkar hebat dan akhirnya bertempur saling serang, hasilnya seperti yang kau lihat sekarang. Tidak ada yang menang atau kalah."
Pertempuran dua hewan kuno ini terjadi ribuan tahun yang lalu. Karena kuatir akan merusak alam maka seorang tua menyegel tempat mereka bertempur.
Sebenarnya bisa saja Phoenix Dan Naga menghancurkan segel di dunia ini dengan menggabungkan kekuatan, tapi tidak mereka lakukan karena sifat mereka yang terlalu angkuh.
"Nah sekarang ceritakan tentang dirimu, kenapa bisa sampai kesini dan metode latihan apa yang kau jalani sampai bisa membuat aura yang halus sekaligus hitam kelam." Phoenix api mengakhiri ceritanya sekaligus bertanya karena penasaran dengan keadaan Ye Chen.
Selama hidupnya, belum pernah Ia melihat kondisi seperti ini. Meskipun Ia sendiri tau Ye Chen memiliki tipe tubuh surgawi langka tapi akan sia-sia kalau tidak mengikuti metode latihan yang tepat.
Ye Chen yang sudah tenang dan mulai percaya pada Phoenix api lalu duduk dan menceritakan kisahnya dari awal sampai Ia akhirnya bisa masuk ke dunia tempat Phoenix dan Naga ini.
Ye Chen menceritakan tentang perang besar di dunia tempatnya tinggal, dan berkelana seorang diri karena tidak mempunyai siapa-siapa lagi.
Ia juga menceritakan saat bertemu dengan gurunya dan pedang hitamnya ini adalah warisan gurunya.
Phoenix memperhatikan pedang hitam di tangan Ye Chen, tiba-tiba Ia mengeluarkan aura membunuh yang kuat membuat Ye Chen melompat menjauh memegang erat pedangnya.
"Bagus! kau tidak lengah, memang begitulah seharusnya se... ...
Belum selesai Phoenix api berbicara, aura hitam yang kuat menekannya. Sama seperti Naga saat mencoba Ye Chen. Sang Phoenix langsung terkulai lemah.
"Naga itu tidak salah." Batin Phoenix api.
"Maaf, aku hanya ingin melihat sesuatu," kata Phoenix api. "Bisakah kau menceritakan gurumu.?"
Ye Chen berjalan mendekat lagi tapi kali ini dengan pedang hitam masih ditangan dan aura dingin menyelimuti tubuhnya.
Melihat Ye Chen sudah bisa mengendalikan aura dingin sang Naga, Phoenix api kaget lalu menganggukkan kepalanya. Memang seorang pewaris pikirnya.
"Sepertinya aku mengenal gurumu itu tapi detailnya aku kurang tau.
__ADS_1
Dari aura yang aku tau tidak secara sadar kau keluarkan saat tertekan dengan auraku. Dan bagaimana dengan metode latihanmu.?" Sang Phoenix yang masih penasaran bertanya lagi.
Ye Chen kembali menceritakan metode latihannya yang secara tidak sengaja Ia lakukan karena mengikut buku.
Ia tidak punya pilihan lain selain bercerita, mana tau setelah bercerita Ia bisa segera keluar dari sini.
"Latihanku biasa saja." Kata Ye Chen memulai ceritanya.
Karena tidak bisa berkultivasi maka sejak kecil Ye Chen mulai gemar membaca, sesekali Ia mencari-cari kitab yang berhubungan dengan kultivasi tapi meskipun sudah banyak metode yang Ia tau, tetap saja Ia tidak bisa merasakan Qi saat mencoba.
Sampai suatu hari Ia membaca kitab yang berhubungan dengan alam sekitar atau semesta raya, di sana tertulis tentang energi dari sang surya yang berhubungan dengan Yang, lalu kemudian energi rembulan yang berhubungan dengan energi Yin.
Hanya pengetahuan biasa dan semua orang juga tau. Yin Yang adalah sebuah konsep atau hubungan yang berlawanan dari dua prinsip namun saling melengkapi. Seperti siang dan malam, pria dan wanita.
Tertarik dengan hal ini, Ye Chen kemudia rajin duduk dibawah matahari pagi dan rembulan.
Udara pagi yang hangat dan rembulan yang dingin lembut membuatnya memahami sesuatu namun sulit untuk Ia sendiri jelaskan.
Sampai suatu ketika Ia berhasil menyerap dua energi ini, mengisi setiap sendi dalam tubuhnya.
"Entahlah aku sendiri tidak tau, meskipun bisa merasakannya mengalir dalam tubuhku tapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan energi ini." Kata Ye Chen mengakhiri ceritanya.
"Kalau guru, aku tidak bisa berkata banyak. aku hanya bertemu dengan pecahan jiwanya saja, itupun hanya sebentar. Maaf aku tak bisa menceritakan lebih dari ini."
Phoenix api terlihat kecewa tapi Ia bisa mengerti, Ia awalnya hanya ingin memastikan sesuatu yang Ia yakini.
"Tidak masalah, tapi sepertinya aku tau siapa gurumu itu. Kalau aku tidak salah menebak dari aura yang menekanku, gurumulah yang membuat segel di dunia tempat kita sekarang."
Phoenix api menggeleng.
"Aku juga tidak tau, yang aku ingat Ia seorang pria tua, seperti itulah Naga itu menyebutnya."
Sang Phoenix lalu menjelaskan bahwa metode latihan yang Ye Chen lakukan bisa dibilang adalah salah satu metode kultivasi.
Berbeda dengan metode lain, metode ini memang bukan untuk menghimpun Qi tapi metode kultivasi untuk menguatkan tubuh.
Aku tebak sekarang ini kau bisa mengalahkan musuhmu yang berada di atas tingkatanmu.
Ye Chen mengangguk paham, memang saat bertempur, kadang Ia tidak gampang lelah seolah Ia bisa menghimpun tenaga sambil bertarung.
Phoenix api juga mengatakan Ye Chen memiliki tipe tubuh surgawi yang memang sangat cocok untuk metode kultivasi yang Ia lakukan.
"Kau sangat beruntung bertemu kami di sini," ucap Phoenix api lagi. "dengan kedua inti kehidupan kami, kau akan menjadi tak tertandingi tapi itu tergantung nasibmu nanti, apakah kau bisa menggunakannya atau tidak."
"Adakah cara untuk menyembuhkan lukamu?" tanya Ye Chen.
"Kalaupun ada, aku juga tidak mau lagi. Aku sudah cukup bahagia bisa mati bersama dengan sahabat terbaikku, si Naga bau itu," kata Phoenix api tersenyum mengenang kembali masa-masa dulu bersama sang Naga.
__ADS_1
"Jika kau tidak keberatan, saat nanti kau bertemu dengan anak keturunanku, bantulah mereka jika memang harus dibantu. Sebaliknya, jika mereka menyimpang, hancurkan saja. Aku tidak mau melihat ada garis keturunanku yang mengikuti jejakku bersikap angkuh sampai akhir."
Wuuss...
Sebuah bola cahaya melesat menembus dahi Ye Chen. Ia bisa melihat banyak sekali tehnik beladiri milik Phoenix api.
"Nah sekarang kau mengerti, itu adalah segala pengetahuan yang kumiliki bersama Naga bau itu. Jangan heran aku mengetahui tehniknya, sudah kukatakan kami ini sebenarnya sangat akrab, hampir semua jurusnya aku tau begitupun sebaliknya," ucap sang Phoenix. "Nah sekarang bersiaplah."
Sama seperti sang Naga, Phoenix api juga berubah menjadi cahaya kecil yang memadat lalu masuk ke tubuh Ye Chen.
Ye Chen biasa saja saat inti kehidupan Phoenix masuk ke tubuhnya, tidak seperti waktu inti kehidupan Naga yang membuatnya sangat menderita.
Tapi Ye Chen tau pasti akan terjadi hal yang lebih buruk, dan benar saja. Tidak lama kemudian Ia menggigil kedinginan tapi hanya sesaat lalu berganti lagi menjadi panas membara.
Pakaiannya sudah tidak ada lagi, berikut rambut yang ada di tubuhnya, semua habis terbakar akibat panas.
Ye Chen tidak peduli Ia masih duduk mencoba menangkan dua inti kehidupan yang saling bertentangan ini.
...
Di dunia dimensi kekaisaran, hari terakhir sebelum dimensi tertutup.
"Nona Xiao, apa kau tau kemana tuan muda pergi?" tanya Sun Li pada Xiao Yun mengingat Xiao Yun lah yang pertama kali tiba di tempat awal mereka.
Saat mereka semua kembali dari misi untuk menghancurkan anggota sekte Racun Darah, mereka tidak menemukan jejak Ye Chen di sana.
Jejak aura yang Ye Chen tinggalkan, yang mereka ikuti berakhir di sebuah lembah tapi jejak itu hilang begitu saja.
Saat tiba di lembah yang sama, kabut tebal yang menyelimuti lembah sudah hilang. Yang ada hanya lembah kecil biasa.
"Aku hanya menemukan kantung penyimpanan ini di sini, lihatlah. Yang ini mungkin untukku." Xiao Yun menunjuk satu kantong penyimpanan yang terpisah dan ada nama Xiao Yun di meja tempat kantung itu di letakkan.
Kantung ini ada delapan belas, hanya ada tulisan bagikan di meja tempat kantung diletakkan.
Mereka menatap panglima Du, karena jumlah mereka sembilan belas termasuk dia.
"Aku sudah punya cincin dimensi, lihat." Panglima Du memperlihatkan cincinnya yang terselip di jari.
"Eh, kenapa aku tidak melihat apa-apa di dalam sana? dan sepertinya ini hanya kantung biasa," ucap Xiao Yun yang memeriksa dan mencoba memasukkan sesuatu ke dalamnya.
"Nona Xiao, sepertinya anda melupakan sesuatu," sahut Sun Li. "Coba tereskan sedikit darahmu." Sambungnya lagi.
Xiao Yun yang baru sadar langsung meneteskan darahnya dan tebukalah kantung penyimpanan yang isinya membuat Xiao Yun semakin menghormati Ye Chen.
Semua anggota desa Ye juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Xiao Yun rasakan.
Di dalam kantung mereka terdapat lima pil penempa tubuh dan dua puluh pil kultivasi. ratusan token teleportasi jarak dekat dan seratus keping emas.
__ADS_1
Khusus untuk Xiao Yun, kepingan emasnya ditambah dengan kepingan emas yang mereka temukan bersama di gua.
Lalu ada secarik kertas di sana, Xiao Yun mengambil dan membacanya.