
Semua yang melihat ini menggelengkan kepalanya, "Katakan, apa permintaan terakhirmu." kata Ye Chen.
"Tuan... Ye, tolong jaga Xiao Yengfeng untukku, dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri." kata pria yang terbaring di tanah yang tak lain adalah patriark Xiao, ayah dari penatua Xiao.
Pria si sebelahnya adalah patriark Jun, mereka bukanlah ras Iblis melainkan manusia yang tamak akan kekuasaan dan kekuatan sampai menghambakan diri pada Iblis.
Ye Chen masih bersikap sedikit lunak, Ia mengenal dua orang ini dengan cukup baik terutama patriark Xiao. Setelah bertanya pada patriark Xiao, Ia juga memberikan kesempatan pada patriark Jun untuk mengatakan keinginan terakhirnya.
Semua selesai, Ye Chen meminta yang lain untuk menghancurkan pilar segel. Kecuali Baojing yang masih terus berada di dekat Ye Chen.
"Tuan, apakah sudah saatnya?" tanyanya dengan sedikit ragu.
"Belum, ini masih awal, kita ke desa Ye. Aku sangat yakin keadaan di sana sama seperti di sinu."
"Tapi bagaimana dengan semua yang di sini?"
Baojing bertanya lagi. Masih menurut guru Baji, pengorbanan harus dilakukan segera jika tidak, semuanya akan sia-sia.
"Aku punya solusinya," kata Ye Chen. Tangannya kanannya ke atas, "Masuk...." seketika jiwa semua yang terbunuh diserap masuk ke dalam telapak tangan Ye Chen, sempat limbung sebentar tapi itu tidak mempengaruhi prosesnya.
"Ini... apakah tuan menyimpan semuanya? tapi bagaimana bisa...." kata Baojing yang melihat semua proses ini.
Ye Chen kembali berdiri tegak, memejamkan matanya, berusaha meredam apa yang ada dalam tubuhnya. "Selesai, ayo kita pulang." ajak Ye Chen.
__ADS_1
Di wilayah Ye semua berkumpul bahagia, ancaman telah lewat dan untuk pertama kalinya Ye Chen berdiri di depan semua penduduk. Menyatakan permintaan maafnya karena tidak bisa datang saat malapetaka menimpa.
Semua terharu, apapun itu, pemimpin mereka telah datang dan menyelamatkan mereka.
Penduduk kota Shinyang telah habis berikut kotanya. Sehari kemudian, tak ada lagi kota Shinyang, yang ada adalah wilayah Ye. Patriark Hauw sendiri yang mengikarkannya.
"Karena semua telah berkumpul, akan kuceritakan sedikit kisahku. "Aku tidak berasal dari alam ini, aku berasal dari alam yang biasa disebut alam rendah."
Ye Chen mengatakan niatnya untuk pergi ke alam rendah, karena khawatir dengan orang-orang yang ada di sana. Tadinya banyak yang ingin ikut tapi Ye Chen menolaknya dengan alasan masih banyak yang harus dibenahi di wilayah ini.
Keesokan harinya, setelah membuat portal baru untuk menghubungkan wilayah Ye dan desa Ye, Ye Chen bersama Baojing berangkat menggunakan perahu terbang ke tempat pertama kali Ye Chen datang, di dekat dimensi kristal.
"Tuan kenapa tidak langsung saja membuat portal dari wilayah kita ke sini? bukankah lebih menghemat waktu?" tanya Baojing yang sedikit heran.
"Di sini tidak aman, aku hanya membuat tanda saja. Nantinya kita bisa kembali ke sini melalui portal yang ada di wilayah."
Ada artefak yang bisa mengendalikan api, seperti yang Ye Chen gunakan saat membakar gerombolan yang hendak merampoknya saat masih di kota Shinyang. Gerombolan itu sendiri sekarang telah menjadi kelompok Suci yang bergabung dengan wilayah Ye.
Ada juga artefak yang digunakan untuk bergerak cepat dan paling banyak adalah artefak untuk menahan serangan lawan. Seperti rompi baju.
"Tuan ada satu yang membuatku khawatir, yaitu tehnik yang tuan gunakan, menurutku tehnik itu masih belum terlalu efektif." kata Baojing yang merasa tehnik tapak semesta masih ada yang kurang. Bukan kurang kuat tapi daya kontrolnya yang masih lemah.
"Aku tau, memang tehnik itu masih banyak kekurangan, justru itu aku memberikan cincin itu padamu." ucap Ye Chen lalu menjelaskan rencananya.
__ADS_1
Ini tugas yang cukup berbahaya, Baojing diminta menanam semua artefak jenis api di wilayah musuh dan harus selesai dalam satu malam. "aku akan membuat lebih banyak lagi, terbanglah dengan kecepatan penuh." kata Ye Chen sebelum masuk ke ruangan dalam perahu terbang.
Membutuhkan waktu dan sumber daya yang banyak jika ingin membuat sebuah artefak yang kuat, tapi karena Ye Chen hanya membuat artefak skala kecil yang tidak begitu kuat maka pembuatannya tidak butuh banyak waktu dan sumber daya. Sampai mereka tiba, semua persiapan telah selesai.
"Aku tidak tau kita terlempar kemana, tapi semoga saja tidak terlalu jauh dari desa." kata Ye Chen lalu membuat portal dan masuk bersama Baojing.
Nasib baik masih menaungi mereka, Ia muncul di atas bukit Ye, tempat dimana dimensi batu jajar berada. Benar-benar sebuah keberuntungan, pikir Ye Chen saat mengenali tempat Ia berada.
Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, begitu pula dengan Ye Chen, ia sangat senang. Ia bahkan melompat dan berlari tanpa mempedulikan Baojing yang melihatnya dengan bingung, yang mulutnya terbuka seperti tidak percaya. "Bukan main," gumam Baojing. "Orang yang begitu sadis terhadap musuhnya, calon raja Iblis sejati yang di dalam tubuhnya tersimpan jiwa-jiwa yang dibunuhnya berlarian dan melompat senang."
Mau tidak mau Baojing terbawa suasana, ia ikut berlari mengejar Ye Chen yang sekarang berada di kebun tanaman herbalnya. "Wah kalian tumbuh subur sekali. Bagus! tp eh? sepertinya banyak yang kurang, apa nona Xiao baru saja memanennya?" gumam Ye Chen.
"Tuan, anda tampak denang."
"Oh kau, lihat, ini semua aku yang tanam dan bukit ini, adalah rumahku, tempatku sejak aku kecil."
Ye Chen sedikit menceritakan kisahnya. "Kau lihat rumah yang di sana itu? itu rumahku." lanjutnya sambil menunjuk satu-satunya bangunan yang ada di sana.
Kediaman Ye Chen sepi, seharusnya ada penatua Xiao dan yang lain yang selama ini berada di sana untuk meracik pil Suci. Tapi hari ini mereka semua turun karena membahas pasukan musuh yang kian hari bertambah banyak.
"Tuan, ada orang." kata Baojing yang merasakan ada pergerakan dari dalam rumah.
Ye Chen mempercepat langkahnya, ingin tau siapa yang ada di dalam. "Tetua Kam... anda di sini?" tanya Ye Chen ketika mengenali siapa yang di dalam rumah.
__ADS_1
"Tuan Ye, anda pulang. Selamat datang, aku akan memberitahu yang lain." kata tetua Kam yang senang melihat kedatangan Ye Chen dan hendak ke bawah, tapi Ye Chen mencegahnya. "Nanti saja, aku ingin menikmati keadaan ini dulu." ucap Ye Chen sambil menggeleng dan tersenyum.
Pasti ada lagi yang anak ini rencanakan, pikir tetua Kam. "Baiklah, oh ya selama anda di sini, aku akan menceritakan keadaan di sini." katanya lalu menceritakan semua yang terjadi di alam rendah.