Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Tingkat Langit di Desa Ye


__ADS_3

Ketua Song dan yang lain berjalan ke bukit, hanya bibi Xiao yang tidak ikut. Tampak panglima muda Du juga hadir, Ia baru saja tiba dan langsung di ajak ketika mendengar kedatangan Ye Chen.


Ye Chen sangat senang melihat banyak yang datang, apalagi membawa makanan kesukaannya. Hukumannya telah Ia lupakan, Ia tidak ambil pusing lagi, toh itu juga untuk keperluan desa.


"Panglima Du, wah anda juga datang."


"Tuan Ye apa kabar." ucap panglima Du.


"Hahaha baik... baik, lama tidak bertemu kau semakin hebat saja. Jadi ingat dulu, saat kita bertiga bersama nona Xiao." ucap Ye Chen sambil senyum-senyum melihat ke arah Xiao Yun. "Ini karena kau tidak membelaku tadi." batin Ye Chen.


Xiao Yun mulai panik. "Gawat, tuan muda mulai kumat." pikirnya. Sementara yang lain ikut senyum-senyum melihat ini.


Untungnya ketua Song bertanya apa yang Ye Chen lakukan selama ini di bukit. Mengalihkan pembicaraan. Ye Chen ini kalau dibiarkan, bisa merembet kemana-mana, bisa-bisa dia nanti kena sendiri.


"Nanti, kita makan dulu. kalian semua pasti kaget."


Selesai makan Ye Chen membawa mereka melihat kebun tanaman herbal dan tempat latihan. "Nona Ong, coba lihat." ucap Ye Chen menunjuk tanaman herbal yang tumbuh lebat dan cepat dari sebelumnya.


"Hebat...."


"Jangan terlalu memujiku, kau tau aku tak terlalu suka dipuji." kata Ye Chen tapi matanya mengatakan ingin dipuji.


Sampai di tempat latihan, semua orang lebih terkesan lagi dan tanpa sadar duduk berkultivasi menyerap energi yang sangat padat. Mau tak mau mereka memuji Ye Chen, tak ada tempat lain di seluruh benua yang seperti tempat ini.


Ye Chen memilih keluar, Ia membiarkan semua berkultivasi dan tidak ingin mengganggu.

__ADS_1


"Itu dia!" tanpa sadar Ye Chen melompat senang, rahasia dimensi gurunya akhirnya berhasil Ia pecahkan secara tidak sengaja.


Ini terjadi ketika Ia berjalan keluar dari tempat latihan. Seperti diketahui, tempat latihan ini bisa dikatakan sebuah dimensi karena terpisah dari dunia luar. Ye Chen yang berjalan melewati batu hitam sebagai gerbang masuk menyadari jarak antara batu hitam.


Ia terlalu fokus mengikuti letak posisi batu hitam sebelumnya, tentu saja tidak berhasil karena kultivasinya masih sangat rendah. Seharusnya Ia memperkecil jarak gerbang masuknya seperti di dimensi latihan dan kultivasi. Ye Chen mencoba membuat dimensi baru dengan mendekatkan jarak antar batu hitam dan berhasil, hanya saja ini masih terlalu kecil, masih belum sempurna karena belum bisa menembus dunia tempat hewan atau siluman yang dulu dilihatnya.


"Baiklah, saatnya menaikkan kultivasi." ucap Ye Chen kembali bersemangat.


Ye Chen tidak segera berkultivasi, Ia membiarkan ketua Song dan yang lain selesai baru Ia masuk ke ruang latihan. Selama menunggu, Ia meracik pil khusus tingkat Langit.


Dua hari kemudian ketua Song dan tetua Kam keluar, esoknya yang lain menyusul. Tak ada yang menerobos, hanya energi mereka saja yang meluap. Semua takjub dengan hasil yang mereka dapat, tiga hari di dalam, membuat Qi di dalam dantian meluap-luap, hanya sedikit lagi pasti bisa menerobos tingkat Langit.


Ye Chen mengerti, oleh sebab itu Ia meracik pil dan memberikan pil pembuka tingkat Langit. Harapannya adalah setiap tetua di desa harus berada di tingkat Langit puncak. Dengan mengekstrak inti siluman, rencana ini bisa dengan mudah dilaksanakan.


Sebulan berlalu kembali, wajah desa Ye kembali berubah. Terutama kemampuan para kultivatornya yang semakin tinggi. Semua anggota alkemis sudah naik ke tingkat Langit. Xiao Yun, Qin Gang, Sun Yi dan Sun Li juga telah menerobos dan telah keluar dari pelatihannya. Hanya Ye Chen yang masih berlatih, berusaha menembus tahap puncak. Saat ini Ia sudah naik lagi ke tahap tinggi.


"Kakek Song," kata Ye Chen suatu hari setelah keluar dari latihannya. Ia yang belum menembus tahap puncak memutuskan berhenti berlatih. "Mungkin aku akan pergi, ada yang harus kulakukan."


Ketua Song mengangguk, Ia mengerti apa yang Ye Chen akan lakukan. Esoknya Ye Chen memanggil semua untuk berpamitan. Tampak Chu Xiong sedikit khawatir, tidak ingin Ye Chen pergi sendiri.


"Tuan muda, jangan pergi sendiri, aku siap menemani anda." ucap Chu Xiong.


"Itu benar saudara Chen, akupun sama, ingin bersama." Cia Sun.


"Kami juga siap, matipun tidak masalah."

__ADS_1


Ye Chen terdiam. "Aku tidak meragukan kalian, tapi perjalanan kali ini menurutku sangat berbahaya." sahut Ye Chen, Ia lalu menceritakan dunia yang pernah Ia lihat sebelumnya. Dunia diluar dimensi batu jajar, dimana terdapat siluman yang bisa berbicara yang tidak mungkin bisa dikalahkan seorang yang masih di tingkat Langit.


"Tuan Ye, kapan anda akan berangkat?" tanya tetua Kam.


"Lebih cepat lebih baik, besok setelah semua beres." jawab Ye Chen lalu meminta tetua Kam dan kelompok alkemis untuk tetap tinggal. "Tetua Kam, nona Ong, semuanya, aku meminta untuk tetap di sini karena ingin memberikan ini untuk kalian pelajari." lanjut Ye Chen menyerahkan sebuah gulungan.


Gulungan ini berisi tehnik alkimia untuk mengekstrak inti siluman tingkat dewa yang memang sudah Ye Chen persiapkan. "Dengan begini, aku harap suatu saat nanti akan ada tingkat suci dari desa kita."


Dalam keterkejutannya, tetua Kam bertanya masalah sumber daya. Pernah Ia melihat inti siluman tingkat dewa tapi itu sudah lama sekali.


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkannya," Ye Chen memberikan inti siluman tingkat dewa. "Sumber daya yang lain telah aku tanam di kebun herbal. Nah aku berangkat, jaga diri kalian dan bertambah kuatlah"


"Ah bukankah anda akan pergi besok?" tanya tetua Kam penasaran.


Ye Chen menggeleng. "Kalau aku bilang akan pergi sekarang, pasti ada yang memaksa untuk ikut. Tetua Kam, aku mengandalkanmu. Selamat tinggal."


Tetua Kam dan yang lain hanya bisa menatap kepergian Ye Chen, lalu menghela nafas. "Tuan Ye, berhati-hatilah." Bersama kelompok alkemis, tetua Kam pergi ke kebun herbal dan memeriksa tanaman sumber daya yang Ye Chen tinggalkan.


"Tetua, bukankah ini...?" tanya nona Ong agak ragu dengan pohon besar di depannya.


"Anda benar, ini apel Ungu. Kalau tidak salah tuan Ye memenangkannya di rumah lelang. Tapi sudah sebesar ini dan sebentar lagi mungkin berbuah."


"Tetua, dimana selama ini tuan muda menanamnya?"


Tetua Kam menggeleng pelan. "Hanya dia yang tau, aku sendiripun tidak bisa menebaknya."

__ADS_1


__ADS_2