
Keberhasilan Jiang Ji sampai ke babak final menarik perhatian petinggi beberapa sekte selain sekte Pedang Langit sendiri. Banyak yang bertanya-tanya dan mulai memperhatikan wilayah Ye, bukan sekte, perguruan ataupun sebuah kota yang biasa mengirim wakilnya.
Bukan kultivasinya yang menjadikan Jiang Ji menjadi perhatian karena banyak anak yang seusianya yang sekarang berada di tingkat Bumi tapi tehnik yang digunakannya.
Bagi mata para senior, tehnik itu adalah tehnik tingkat tinggi, tehnik yang hanya mungkin diajarkan di sekte-sekte utama.
Di atas tribun utama, patriark sekte Pedang Langit bertanya kepada patriark Xiao yang penasaran dengan wilayah Ye.
"Saudara Jun," panggilan patriark sekte Pedang Langit. "Wilayah Ye berada di kota Shinyang, pemimpinnya seorang pemuda berbakat yang jenius."
"Apa anda mengenalnya?"
"Tentu saja," sahut patriark Xiao yang merasa sedikit bersalah tidak mencegah wakil tetua luar sekte Pedang Langit tewas beberapa hari yang lalu. "Aku mengenalnya dengan sangat baik, aku bahkan telah berkunjung ke sana."
"Lihat anak itu sudah memasuki arena." sambil menunjuk ke arena final. "Oh ya aku tertarik menjadikan anak itu muridku, apakah mereka bersedia ikut?"
Patriark Xiao menggeleng, Ia ingat betul ucapan Ye Chen yang tak akan mau bergabung atau mengirim orang wilayah Ye ke sekte manapun. "Soal itu anda bisa tanyakan langsung padanya nanti, tapi jangan terlalu berharap."
Di arena pertandingan, Jiang Ji sudah bersiap, lawannya kali ini adalah salah satu jenius dari sekte Pedang Langit. Usianya dua tahun di atas Jiang Ji dan kultivasinya di tingkat Emas tahap tinggi sedangkan Jiang Ji masih di tingkat awal.
Perbedaan kekuatan yang cukup jauh tidak membuat Jiang Ji risau, Ia tau sampai dimana batasnya sendiri dan yang lebih penting adalah keberanian dan mental bertarung. Selama masih di tingkat yang sama maka peluang itu tetap ada.
Perisai perlindungan terpasang untuk menghindarkan penonton dari serangan kesasar.
"Mulai...!" seru wasit pertandingan.
Pedang Qi tiba-tiba saja melesat menghantam Jiang Ji yang masih berdiri, bukan tidak siap tapi kali ini Ia merasa tidak percaya diri. Memang bukan pertandingan pertama tapi tetap saja Ia sedikit canggung.
Blaarr...
Jiang Ji terpental tapi menghantam batas perisai sampai berdengung, beruntun itu hanya serangan pembuka saja dari lawannya.
__ADS_1
"Hahaha hanya segitu saja perlawananmu? sungguh mengecewakan. Kau tak pantas berada di sini."
Jiang Ji hanya diam, tak peduli ucapan provokasi lawannya. Ia mulai mengatur nafas dan mencoba menenangkan diri.
"Tehnik Langkah Angin."
Meskipun baru menguasai tahap pertama tapi itu sudah cukup bagi Jiang Ji untuk sedikit mendesak lawannya. "Tetaplah fokus pada lawanmu, tidak usah banyak bicara saat bertarung, jangan pernah menganggap remeh lawanmu, gerakan selemah apapun harus tetap diwaspadai." Nasihat Ye Chen terus terngiang di kepalanya.
Sekte Pedang Langit, seperti namanya mengandalkan pedang dalam pertarungan. Muridnya kali ini juga menggunakan pedang yang terus berputar menjadi perisai tubuh yang tak bisa ditembusi oleh tombak milik Jiang Ji.
"Sial, anak ini seperti tidak pernah kehabisan energi." murid sekte Pedang Langit ini tampak gusar. Meskipun tombak Jiang Ji tidak dapat menembus pertahanannya tapi Ia juga terdesak dan terlebih lagi tak dapat membalas.
"Saudara Jun, muridmu terlalu berhati-hati." patriark Xiao di tribun utama.
"Tapi pertahanannya bagus," bantah Patriark Jun sambil terus mengamati Jiang Ji. Ia sendiri tak begitu mengenal murid sektenya karena urusan itu di atur oleh tetua dalam.
"Ah dia akan kalah." ucapnya kemudian sambil memasang wajah kecewa melihat permainan muridnya yang mulai kacau.
Tehnik yang Ia mainkan adalah tehnik tarian tombak, tehnik hasil gubahan Ye Chen setelah mempelajarinya dari tehnik tombak keluarga Jiang. Ini sangat menguras tenaga, apalagi dialah pihak yang menyerang. "Itu dia!" batinnya saat melihat kesempatan datang.
Lawannya membuat gerakan aneh, bukan salah perhitungan atau lengah tapi murid sekte Pedang Langit ini merasa bosan terus bertahan, Ia ingin memperlihatkan kepandaiannya. Ketika itu Ia tiba-tiba saja melompat mundur dan mengangkat pedangnya menunjuk langit, "Tehnik Pedang Petir."
Langit sedikit mendung dengan awan hitam menggumpal disertai suara seperti aliran listrik. Itu adalah petir yang sedang bersiap menghantam Jiang Ji.
"Lihat, itu tehnik pedang petir." ujar salah satu penonton dengan antusias.
"Hebat, diusia semuda itu sudah berhasil menguasai tehnik tinggi."
"Hah lawannya pasti akan kalah."
Penonton saling sahut, memuji murid sekte Pedang Langit. Sementara murid itu sendiri tidak segera melepas tehniknya, Ia menikmati pujian dari para penonton yang hadir. "Kini kau paham perbedaan kekuatan kita." gumamnya sambil terus tersenyum bangga.
__ADS_1
Saat inilah Jiang Ji berseru senang, Ia melempar tombaknya, lurus ke depan lalu menerjang dengan telapak tangan terbuka.
"Tehnik Tapak Teratai."
Wuss...
Angin dingin berhembus lembut, perlahan tapak Qi yang dikelilingi teratai kecil terbentuk.
Murid sekte Pedang Langit melihatnya, tapi belum juga melepas tehniknya. Ia hanya menepis terjangan tombak tanpa kesulitan tapi segera melompat mundur ketika menyadari sebuah tapak Qi bergerak cepat ke arahnya.
"Murid tidak berguna." di tribun utama, patriark Jun menghempaskan tubuhnya di kursi, benar-benar sangat kecewa dan malu. Bisa-bisanya murid jenius sektenya akan kalah dengan murid yang tak jelas dari mana.
Tapak Qi menghantamnya, petir menghilang karena kontrolnya telah terlepas.
Aaaakh...
Ia berteriak keras, mencoba menahan tapak Jiang Ji, sayang energinya telah terkuras saat mengeluarkan tehniknya sendiri sehingga tak sanggup lagi untuk bertahan.
Tapak teratai membuatnya terlempar jauh menabrak batas perisai. teratai kecil mengelilingi tubuhnya seperti selimut tebal.
Tak ada jalan lain selain menyerah kalah.
"kau curang, itu adalah tehnik sekte Teratai." teriak seorang tetua dari dari sekte Pedang Langit. Ia tak terima muridnya kalah dari orang yang kultivasinya lebih rendah.
Penonton juga terdiam, tak ada yang mengira wakil sekte Pedang Langit akan kalah. Sungguh mencoreng nama besar sekte terkuat di alam atas.
Jiang Ji belum dinyatakan menang, Ia yang sangat lelah hanya bertahan beberapa saat lalu tumbang dan pingsan. Wasit yang sejak tadi berdiripun seakan enggan mengumumkan kemenangan ini bahkan menghampiri Jiang Ji yang pingsan juga tidak, hanya tetua sekte Pedang Langit yang memeriksa keadaan muridnya saja dan membawanya turun.
Yang tampak gelisah adalah Jiang Kun, puteranya tumbang. Belum diketahui bagaimana keadaannya, tergeletak begitu saja di atas arena. Ia sendiri tak punya cukup keberanian untuk langsung turun.
Tiba-tiba langit gelap, ketika melihat ke atas tampak sebuah perahu terbang mewah. Di atas geladak seorang terlihat berdiri dan melompat.
__ADS_1